LOGINBagaimana rasanya punya pasangan tukang selingkuh? Sakit? Tentu saja. Itulah yang dialami Nissa, atau lengkapnya Anissa Fatih Zhakia. Nissa terpaksa bertahan dalam perjodohannya dengan seorang playboy bernama Abyan, demi untuk berbakti pada orang tua. Sakit hati sudah jadi makanan sehari-hari untuk Nissa. Meski sebenarnya, bukan Abyan laki-laki yang Nissa cinta, tapi Raid. Pria bule yang selalu menolak halus cintanya karena alasan perbedaan. Kenyataan itu membuatnya makin merepih, karena merasa tidak berharga di sisi mana pun. Baik Abyan atau Raid. Keduanya seakan tak menginginkan Nissa. Apa kehadiran Nissa memang tidak ada harganya sama sekali? Entahlah. Nissa tidak tahu. Namun, Nissa yakini, dia tidak boleh menyerah, kan? Karena hidup ini adalah sebuah perjuangan. Lalu, sampai kapan Nissa harus berjuang? Nissa sendiri belum menemukan jawaban pastinya. Yang jelas saat ini. Nissa masih bertahan dengan memeluk asanya. Meski mungkin itu hanya hampa semata.
View MorePerlahan, luka yang dulu terasa menghancurkan akhirnya berubah menjadi kenangan pahit yang tak lagi terlalu menyiksa.Nissa dan Raid pun memutuskan kembali ke Indonesia setelah Naira melahirkan anak pertamanya. Berjenis kelamin laki-laki dan wajahnya ... plek ketiplek Darius. Bahkan warna matanya juga sama."Gak adil banget, deh. Padahal gue yang ngandung sampai sembilan bulan lebih, eh pas brojol malah mirip bapaknya. plek ketiplek! Ini sih namanya bukan lagi buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tapi jatuhnya sa'akar-akarnya sampe kebonnya juga," keluh Naira sambil menjawil hidung putranya yang mancungnya sudah tidak diragukan lagi."Alhamdulilah. Masih untung mirip bapaknya, loh. Kalau mirip cowok lain kan berabe, Nai.""Gak gitu maksud gue. Tapi ya ... harusnya ada gitu satu bagian yang mirip gue. Ini gak ada satu pun. Kesel, deh.""Cengengnya mirip kamu," celetuk Raid asal, langsung di hadiahi delikan tajam Naira."Udah, udah. Gak usah sewot gitu ah. Namanya bayi baru brojol mukanya
“Cih!” Naira langsung berdecih begitu melihat Nissa dan Raid keluar bersama dari arah lorong kamar. Wanita hamil itu melipat tangan di dada dengan wajah sengaja dibuat keruh. Namun alih-alih terlihat menyeramkan, ekspresi Naira justru tampak lucu. Apalagi dengan pipi gembulnya yang makin bulat akibat kehamilannya saat ini. “Ini yang katanya masih trauma? Masih sakit hati? Gak mau lihat muka laki-laki itu masih butuh waktu entah sampai kapan?” omelnya sambil menyipit tajam ke arah Nissa. “Ujung-ujungnya luluh juga.” Nissa langsung salah tingkah. Sementara Raid di sampingnya malah tampak santai sekali. Bahkan pria itu tanpa rasa bersalah melingkarkan tangannya di pundak Nissa possessive. Seolah sengaja memperjelas jika ia telah memenangkan keadaan. Naira langsung mencibir. “Hih! Dasar bucin!” Raid tersenyum kecil penuh kemenangan. Nissa yang sadar sedang digoda langsung menyikut pinggang suaminya pelan. “Abang, ih.” “Abang kenapa? Abang diem aja kok,” jawab Raid santai, padaha
Malam itu, setelah kejadian dengan Nichole, Nissa sama sekali tak bisa tidur.Ia berbaring menatap langit-langit, tapi yang terlihat justru wajah Raid — pria yang paling ingin ia lupakan, sekaligus yang paling tak bisa ia lepaskan.Suara tawa itu, cara Raid memanggil namanya dengan lembut, bahkan aroma tubuhnya yang dulu menenangkan… semuanya masih lekat, menolak pergi.Nissa menutup mata, menggigit bibir bawah, mencoba menahan sesak yang menumpuk di dada.“Kenapa sih aku masih begini…” bisiknya pelan.Ia memutar tubuh, tapi semakin mencoba melupakan, bayangan itu malah kian jelas. Pelukan yang dulu membuatnya tenang kini justru menjadi luka yang paling menyakitkan.Malam terasa panjang. Di tengah kesunyian, hanya satu kenyataan yang sulit ia tolak: ia merindukan suaminya.Dan rindu itu membuat dada terasa sesak — campuran antara cinta dan benci yang sama-sama menyiksa.Setiap kali mengingat tatapan penyesalan Raid di depan ruang rawat dulu, Nissa merasa seperti diremas dari dalam.Ia
Raid keluar dari kamar rawat dengan langkah berat. Di luar, Darius dan Naira masih menunggu. Wajah Naira masih penuh amarah, tapi ia tidak mengatakan apa-apa."Kamu diusir?" tebak Darius, menepuk bahu Raid.Raid tidak menjawab, hanya mengangguk pelan."Bagus," Naira mendengus. "Harusnya dia usir kamu lebih jauh lagi."Raid mendongak, menatap Naira tajam. Tapi ia tidak dalam posisi untuk membalas. Apa pun yang dikatakan wanita itu benar."Aku akan menunggu." Hanya itu yang Raid ucapkan sebelum berjalan pergi.Naira mendengus muak. "Terserah."Hari-hari berikutnya, Raid tetap setia di rumah sakit. Ia tidak masuk ke kamar Nissa, tapi ia selalu ada di luar, setia menunggu. Setiap kali dokter atau perawat keluar dari kamar itu, Raid akan bertanya tentang kondisi istrinya itu dengan detail sekali. Sementara itu, seiring hari berganti Nissa sendiri semakin pulih secara fisik, tapi tidak untuk hatinya. Sebongkah daging dalam dadanya itu masihlah sangat terluka. Wanita itu masih belum bisa m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore