LOGINMy husband called me "clutter" before handing me divorce papers—just to make room for his pregnant mistress. Julian Carter thought he had destroyed me. He thought I’d disappear quietly, with nothing left to fight for. He was wrong. While he was busy cheating in our bed, I was the one keeping his empire from collapsing. And the night I walked away… I didn’t fall. I landed in the hands of the one man who could ruin him with a single word. Lucian Blackwood. My ex-husband’s boss. The city’s most dangerous billionaire. A man who doesn’t believe in love—only control. “One year, Evelyn,” he said, his voice cold enough to freeze promises. “You play my fiancée. You stay by my side. And you don’t walk away until I say you can.” “And in return?” A slow smile. Dark. Certain. “I’ll make sure he loses everything.” The contract was signed in ice. The revenge would be written in blood. Julian wanted me gone? Now he’ll have to watch me rise—and learn exactly who he betrayed.
View MoreSatu-satunya penunjuk waktu yang dipercayai Maorielle saat ini hanyalah jam di pergelangan kirinya yang terus berdetak tanpa ampun. Detaknya beradu dengan suara napasnya yang memburu. Maorielle masuk ke ruang kelas mata kuliah umum bahasa Indonesia dengan langkah berat. Rambutnya yang tadi pagi rapi kini sudah sedikit berantakan.
Matanya menyapu deretan mahasiswa, mencari seseorang. Di barisan tengah, seorang gadis mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi isyarat 'aku ada di sini'.
"Aku hampir menyerah menjaganya untukmu," Erina menyeringai, lalu menyodorkan susu cokelat pada temannya yang sudah duduk di sampingnya. "Ini mata kuliah terakhir. Semangat, semangat!"
Maorielle menerima susu coklat dan segera meminumnya. "Aku harus bertahan," gumamnya pelan lalu menyedot isinya hingga tandas.
Erina terkekeh melihat wajah sahabatnya. "Lagian kamu aneh. Kenapa nekat ambil empat mata kuliah maraton di hari Senin? Kamu mau menguji batas kesabaran nyawamu?"
Maorielle mengembuskan napas panjang, terdengar sangat menderita. "Kamu pikir aku mau? Waktu aku mau ambil kelas yang sama denganmu, kuotanya sudah penuh. Aku terpaksa ambil mata kuliah ketiga hari ini. Jadinya ya begini, terjebak di kampus dari pagi sampai sore tanpa jeda."
Maorielle melirik Erina dengan tatapan iri. "Kamu sih enak bisa pulang ke kos lebih dulu," sindir Maorielle lemas. Ia kemudian teringat sesuatu dan meraih lengan Erina dengan sisa tenaga yang ada. "Mana burger yang aku pesan?" rengek Maorielle.
Sang penyelamat, Erina, akhirnya menyodorkan bungkusan burger hangat yang dipesan. "Cepat dimakan. Kelas dimulai dalam waktu lima menit lagi"
Maorielle menyambar burger itu seolah nyawanya bergantung pada asupan karbohidrat tersebut. "Aku harus makan kalau tidak mau pingsan," gumam Maorielle lemas. Ia segera membuka bungkusan burger itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelaparan.
Aroma daging panggang dan saus barbekyu langsung menyeruak, membuat perut Maorielle berbunyi nyaring seolah memberikan tepuk tangan. Tanpa memedulikan citra dirinya sebagai mahasiswi psikologi yang biasanya rapi, ia menggigit burger itu dengan beringas. Pipinya menggembung penuh. Untuk beberapa detik, ia merasa dunianya kembali berwarna.
"Pelan-pelan, Mao. Nanti tersedak," Erina tertawa kecil sambil menyodorkan air mineral.
Erina melihat ke arah jam tangannya. Sudah pukul 13.00 tepat. "Sudah jam satu. Entah kenapa dosennya belum juga datang. Sepertinya terlambat. Aku lihat di SIAKAD sih dosen senior"
"Siapa pun dosennya aku tidak peduli," sahut Maorielle setelah berhasil menelan gigitan pertamanya. Ia bicara dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian mahasiswa lain. "Jam satu siang di hari Senin begini. Siapa pun yang berdiri di depan sana dengan materi tata bahasa adalah musuhku. Aku cuma ingin makan, checklist presensi, dan kalau bisa tidur."
Di sisi kanan Maorielle, sisi yang bukan ditempati Erina, seorang pria dengan hoodie abu-abu sejak tadi duduk diam dalam tudungnya. Dia tiba-tiba menghentikan gerakan pensil di atas buku sketsanya. Pria itu sedikit memiringkan kepala, melirik ke arah tangan Maorielle yang sedang makan dengan nikmat.
"Kalian tahu siapa dosen mata kuliah ini?" tanya pria itu datar.
Suaranya rendah dan tenang, namun cukup untuk membuat Maorielle tersentak hingga nyaris tersedak potongan acar. Maorielle buru-buru menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu menoleh dengan tatapan heran ke arah pria misterius di kanannya.
"Kami tidak tahu, di jadwal KRS ada namanya. Siapa Erina?" Tanya Maorielle pada Erina agar ikut membantu menjawab.
Erina menghentikan aktivitasnya merapikan alat tulis. Ia ikut menoleh pada pria misterius di sebelah Maorielle. "Ehm, kalau tidak salah namanya Pak Bambang. Kenapa, Mas?" tanya Erina dengan nada penasaran yang kental.
Pria berhoodie abu-abu itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap buku sketsanya yang kini tertutup, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Saya dengar dia orangnya cukup detail. Terutama soal ketertiban kelas," jawab pria itu pendek.
Maorielle yang baru saja berhasil menelan potongan terakhir burgernya, mendengus pelan. "Detail itu bahasa halus untuk 'rewel', kan? Duh, Erina, firasatku makin tidak enak. Sudah jam satu siang, dosen rewel, mata kuliah umum pula. Paket lengkap penderitaan hari Senin."
Maorielle kembali melirik pria di sebelahnya dengan tatapan menyelidik. "Bagaimana kamu tahu? Kamu kenal dosennya?"
Pria itu hanya memberikan gumaman samar yang tidak bisa diartikan sebagai ya atau tidak. Ia kemudian memasukkan buku sketsanya ke dalam tas ranselnya, lalu berdiri. Kursi lipatnya berdentang pelan, menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
"Mau ke mana? Dosennya sebentar lagi masuk, lho," Erina mengingatkan, mengira pria itu ingin bolos sebelum kelas dimulai.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru melangkah tenang ke depan kelas. Maorielle mengawasinya dengan alis bertaut, memperhatikan punggung berbalut hoodie abu-abu itu yang berjalan lurus menuju meja dosen di depan sana.
Begitu sampai depan, pria itu bukan hanya meletakkan tas, tapi juga melepas jaket hoodie-nya dan menyampirkannya di kursi dosen, menyisakan kemeja gelap yang membungkus tubuh tegapnya. Maorielle dan Erina kompak menahan napas.
Ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap seolah oksigen di sana baru saja ditarik paksa. Beberapa orang mengamati apa yang dilakukan pria itu, termasuk Maorielle dan Erina. Mereka penasaran apa yang dilakukannya.
Pria itu melirik jam tangannya dengan gerakan presisi, lalu mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru kelas.
"Sudah pukul 13.05," ujarnya dengan suara rendah yang menggema di ruang yang hening.
"Bisakah kita mulai kelas sekarang, atau masih butuh waktu untuk menyelesaikan urusan pribadi?" lanjutnya.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang bisa diartikan persetujuan untuk memulai kelas. Dia terlihat mengambil spidol hitam, lalu menuliskan satu nama dengan karakter tegas dan besar di papan putih: KHAI.
Dia membalikkan badan, menumpu kedua tangannya di pinggir meja dosen sambil menatap ke arah kerumunan mahasiswa. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan pada satu titik di barisan tengah.
"Selamat siang semuanya," suara rendah dan tenang itu kini bergema melalui pengeras suara ruangan, terdengar jauh lebih berwibawa.
"Saya Khairen, kalian bisa memanggilku Khai. Dosen yang menggantikan pak Bambang mengajar kalian mata kuliah Bahasa Indonesia selama satu semester ke depan."
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan keterkejutan menyelimuti kelas itu selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Semua orang berbisik riuh. Memang benar mereka tidak mengenal dosen bernama pak Bambang karena ini mata kuliah umum. Tapi, penggantinya adalah dosen muda yang terlihat tampan dan menarik.
"Saya mencoba berbaur dengan kalian di kelas pertama ini," ujar Khai sambil mengangguk kecil, seolah sedang mengevaluasi hasil eksperimen sosialnya sendiri.
Khai kemudian melipat tangan di depan dada, menatap deretan mahasiswanya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kelas yang unik," tambahnya singkat.
I snapped the golden locks of my suitcase shut. The sharp click echoed in the quiet bedroom. Last night, Lucian had been painfully well-behaved. We shared the same sprawling mattress, yet he kept a flawless, gentlemanly distance. His deliberate restraint only made things worse for me. The memory of that demanding ride and the lingering heat of his hands on my waist kept my mind racing late into the night. Even as I slept, the scent of cedarwood and the steady rhythm of his breathing seemed to pull at my senses. I smoothed down the lapels of my charcoal blazer, ready to leave this estate behind. A sharp knock broke the morning silence. I opened the door to find Hawthorne standing in the hallway, his posture incredibly stiff. "Miss Evelyn," the butler said, his tone perfectly measured. "The cars will be ready for your departure in forty minutes. Before then, Mr. Edward Blackwood requests ten minutes of your time in the East Wing study.
The scent of fresh hay and oiled leather filled the air of the Blackwood stables. The stable master, a nervous-looking man named Davies, immediately led out a beautiful, docile white mare. He offered the reins with a polite smile, clearly assuming that a woman who spent her life in Manhattan boardrooms would need the gentlest ride available. I politely declined. My attention had already drifted to the back of the stables, where a heavy wooden stall rattled under the force of a massive, restless animal. I walked over. Inside was a purebred black stallion. He was towering, his coat gleaming like obsidian in the dim light, and he was currently stomping his hooves, snorting aggressively at anyone who walked past. I stopped right at the edge of his enclosure. The stallion turned his massive head toward me, letting out a sharp, warning breath. I held my ground. Slowly, I reached my hand over the wooden gate. "
I met her gaze. My fingers tapped the edge of the leather box twice. The quiet sound echoed in the silent library. "He is fiercely territorial," I agreed smoothly, taking a slow sip of my coffee. "Which makes me wonder why you are standing in his private library. Excuse me, and you are?" The polite smile on her face fractured. She lifted her chin, her posture stiffening slightly as she recovered her aristocratic poise. "I'm Isabella Montclair. Our mothers are practically sisters," she said, her voice laced with an effortless superiority. "I've been coming to this estate since I was in grade school. I know my way around." "Then you should also know he doesn't appreciate uninvited guests in his place," I replied calmly, setting the coffee cup down. Isabella’s eyes narrowed for a fraction of a second, but she quickly masked it with a soft sigh. "Victoria sent me to find you. She has tea waiting on the terrace, and we thought you might f
Morning sunlight spilled through the narrow gap in the heavy blackout curtains, casting a single, bright line across the dark carpets of the bedroom. I woke up slowly, my mind drifting out of a surprisingly deep sleep. The air was warm. In fact, it was almost too warm. I shifted slightly, my cheek resting against something solid and steadily rising and falling. My fingers were curled effortlessly against a plane of bare, warm skin. I blinked the sleep from my eyes and slowly looked up. I had completely crossed the center line of the king-sized bed. I was practically plastered against Lucian’s side, my hand resting flat over his heart. Lucian was already awake. He was lying on his side, his head propped up on one hand. He was watching me with dark, clear eyes and a slow, amused smirk playing on his lips. "I see you take your own advice, Evelyn," Lucian murmured, his morning voice rough and impossibly low. "You really do seize unguarde






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.