LOGINSummer was about to be crowned Luna when she was humiliated by her mate. Shockingly, her step sister was announced as the mate instead of her. Like that wasn't humiliating enough, she was accused of her parent's murder which was allegedly confirmed by her step sister too and soon, everyone in the kingdom turned against her and wanted her dead! But the fickle finger of fate had different plans that unexpectedly turned to her favour. Just when all hope seemed lost, a new player emerged from the shadows: the Lycan King. His imposing presence silenced the tumultuous cacophony of voices, bringing a tense, eerie stillness to the room. She was betrayed by the exchange, sold to the Lycan King where her life actually BEGINS! What did fate have to offer summer? How was life without her mate?
View MoreNada, 28 tahun, seorang asisten pribadi di perusahaan kreatif ternama di Jakarta, tampak sempurna dari luar: karier stabil, penampilan elegan, dan kecerdasan yang memikat. Tapi di balik semua itu, ia menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh—ayah yang meninggalkannya sejak kecil, ibu yang dingin, dan cinta pertamanya yang berakhir tragis.
Hidupnya mulai berubah saat ia terlibat dalam hubungan kompleks dengan atasannya, Reza, seorang duda berusia 38 tahun yang juga menyimpan rahasia besar. Di saat bersamaan, Nada harus menghadapi kemunculan kembali seseorang dari masa lalunya yang membawa kenangan kelam dan pilihan yang sulit. Di tengah tekanan kerja, keluarga yang menuntut, dan cinta yang tak mudah, Nada harus memilih: tetap menjalani hidup seperti topeng yang ia kenakan, atau berani menghancurkan semuanya untuk menemukan dirinya yang sejati. ~ Langit Jakarta masih gelap saat Nada membuka mata. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 04.58. Lima menit sebelum alarm berdering—kebiasaan lama yang sulit hilang, seperti kebiasaan pura-pura kuat. Nada duduk di tepi ranjang apartemennya yang minimalis namun rapi. Matanya menyapu dinding putih, meja kerja dengan tumpukan dokumen, dan blazer abu-abu yang sudah disiapkan sejak semalam. Pagi hari bukan waktu untuk refleksi, tapi pikirannya selalu kembali ke satu titik: hidup yang terlalu cepat berjalan, dan ia masih berdiri di tempat yang sama. Di kantor, ia dikenal sebagai "tangan kanan Pak Reza"—asisten pribadi yang nyaris tak pernah membuat kesalahan. Tak ada yang tahu bahwa di balik sikap tenang dan senyuman sopan itu, Nada menyimpan amarah dan luka. Lift menuju lantai 17 mengantarkannya ke dunia yang berbeda: penuh tekanan, ambisi, dan orang-orang yang pandai menyembunyikan diri di balik jas mahal. Nada menyalakan laptop, membuka email, dan mendapati satu pesan dengan subjek yang membuat jantungnya berdetak tak wajar: "RE: Dari seseorang yang dulu kamu lupakan." Tangannya sempat ragu menekan klik. Tapi ia tahu, pagi ini tak akan berjalan seperti biasanya. ~ Nada menatap layar. Email itu masih terbuka. “RE: Dari seseorang yang dulu kamu lupakan.” Isinya kosong. Hanya satu kalimat di bawahnya: “Aku tahu rahasiamu, Nada. Dan aku belum selesai.” Darahnya dingin. Pikirannya langsung melayang ke nama yang selama ini ia kubur: Damar. “Pagi.” Suara berat itu menyentaknya dari lamunannya. Reza berdiri di depan mejanya, membawa dua gelas kopi. Salah satunya dia letakkan di meja Nada—tanpa bicara lebih. “Terima kasih, Pak,” ujar Nada, sedikit gugup. Jarang sekali Reza membawa kopi untuk siapa pun, bahkan untuk dirinya sendiri. “Mulai hari ini kamu ikut saya ke semua pertemuan. Ada proyek dari HighScope International yang sensitif, dan saya butuh kamu jaga ritme komunikasi.” Nada mengangguk. “Baik.” Mata Reza menatapnya lebih lama dari biasanya, seolah ingin berkata sesuatu. Tapi hanya diam, sebelum berbalik dan masuk ke ruangannya. Nada menarik napas panjang. Dan saat ia duduk kembali, Siska lewat sambil melempar senyum manis yang terlalu manis. “Kopi dari bos? Wah… spesial banget.” Nada hanya membalas dengan anggukan datar, mencoba tak terpancing. Tapi dia tahu betul—Siska selalu memperhatikan hal-hal kecil seperti itu, dan tidak pernah tanpa alasan. Flashback (beberapa tahun lalu) Nada, usia 20, di bangku kuliah. Damar—charming, pintar, dan manipulatif. Mereka pacaran diam-diam, tapi hubungan itu berubah gelap. Cemburu, posesif, bahkan ancaman. Suatu malam, dia menghilang setelah insiden yang tak pernah ia ceritakan ke siapa pun… dan sekarang dia kembali. --- Kembali ke kantor Nada membuka email baru dari HRD. Subject: Penyusunan ulang tim kerja proyek HighScope – Koordinator Keuangan: Damar Cakrawala. Gelas kopinya nyaris terjatuh. Nada berdiri mematung. Nama itu—Damar Cakrawala—masih terpampang jelas di email. Lama dia menatapnya, seolah berharap huruf-huruf itu bisa lenyap begitu saja. Pikirannya berputar cepat, seperti film tua yang diputar ulang. Suara Damar yang dulu selalu terdengar lembut, berubah jadi nada penuh kontrol. Ingatan akan tangan dingin yang menariknya terlalu keras di malam penuh hujan. Terakhir kali ia melihat Damar adalah saat pria itu berdiri di depan asrama, wajah penuh amarah karena Nada menolak pulang bersamanya. Dan sekarang, dia akan bekerja bersamanya—lagi. Di proyek penting, di bawah pengawasan Reza. Nada meremas jari-jarinya di bawah meja. Ini bukan hanya proyek kerja. Ini adalah labirin baru—yang penuh pantulan masa lalu. --- Pukul enam sore. Kantor mulai sepi. Nada masih di meja, mencoba menyibukkan diri dengan berkas. Tapi pikirannya terus melayang. Saat itulah Reza keluar dari ruangannya, jas di tangan, langkah tenang seperti biasa. “Nggak pulang?” tanyanya, singkat. Nada menggeleng. “Masih mau beresin ini dulu.” Reza menatapnya beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman dalam proyek ini… kamu bisa bilang ke saya. Saya nggak suka kejutan.” Nada menatapnya—ada sedikit kehangatan di balik sikap dingin pria itu. Mungkin ia melihat sesuatu. Atau hanya… terbiasa membaca orang. Nada mencoba tersenyum. “Saya bisa atur, Pak.” Reza mengangguk pelan, lalu berjalan pergi. Tapi sebelum pintu lift tertutup, dia sempat berbalik. “Nada,” katanya. “Jaga dirimu.” Lift menutup. Dan Nada sadar—dunia di sekelilingnya pelan-pelan berubah bentuk. --- Sementara itu, di sudut lain gedung, Siska sedang menelepon seseorang. Suaranya rendah dan dingin. “Iya. Dia udah tau Damar balik. Tinggal tunggu dia retak. Setelah itu, gampang.”The grand hall of the packhouse buzzed with activity as maids hurried about, carrying fabric and ornaments to decorate the space. Davina stood in the center, barking orders with an air of authority."The garlands should hang perfectly centered! No mistakes. And those flowers—make sure they're fresh. This is my wedding to the Alpha, after all," Davina said sharply, gesturing toward a maid struggling to lift a vase.The staff exchanged wary glances, knowing better than to argue. As Davina's voice echoed through the hall, the doors swung open, revealing Alan and his mother, Lady Marissa. Alan's expression was one of confusion, while Marissa looked displeased."What's all this?" Alan asked, his deep voice commanding attention.Davina turned, a wide smile plastered on her face. "Oh, Alan! Perfect timing. I'm organizing the decorations for our wedding. Since you seem reluctant to propose, I thought I'd take the initiative."Lady Marissa raised an eyebrow, crossing her arms. "Davina, don't y
Morning light filtered softly into Summer's room, casting a warm glow over the walls. She awoke feeling a renewed sense of purpose, her determination solidified after her encounter with Jessica. Although threats and resentment still loomed, Summer was ready to face them. Today, the elders would likely call her forward, and she could only imagine the accusations awaiting her.Just as she was gathering her thoughts, a soft knock came at her door. Summer opened it to find Coleman standing there, his expression unreadable."Good morning, Coleman," she greeted, her voice steady but filled with an underlying curiosity.Coleman stepped in, nodding in acknowledgment. "Dominic wanted me to update you on a few things. He's aware of today's meeting with the elders, and he's already put measures in place to ensure your safety."Summer felt a mixture of relief and gratitude. She could feel the protective walls Dominic had built around her, even from a distance. "Thank you, Coleman. I wasn't expect
The dawn broke softly over the Lycan territory, casting a golden glow over the ancient trees surrounding the manor. Summer rose early, her heart still heavy with the events of the previous day. But today, she had a task that gave her purpose—resuming her duties in Elara's chambers. It was a role she was familiar with, and though the weight of recent events lingered, she welcomed the chance to find some normalcy.Dressing swiftly, Summer made her way down the quiet halls, feeling eyes occasionally flicker her way. Whispers and glances from pack members seemed sharper than usual, but she held her head high, reminding herself of Dominic's support. By the time she reached Elara's quarters, she'd steeled herself, ready for whatever lay ahead.Elara welcomed her with a nod of approval, her gaze carrying an unspoken understanding of all that had passed. Without a word, she handed Summer a list of tasks, and they exchanged a brief but comforting smile before Elara left her to begin the day's
Dominic paced in his chambers, feeling the weight of the morning's council meeting. Summer's fierce defense of him had unsettled the Elders, but it had left a different mark on Dominic—pride. Her defiance had stirred something in him, and he knew he had to protect her at all costs.Just then, a knock at the door broke his thoughts. Coleman stepped in, his expression calm but with a hint of urgency."Dominic," Coleman began, closing the door behind him. "The Elders are growing wary of Summer after today. They've seen her loyalty to you, and they're watching her closely. I suspect they'll try to summon her again soon to intimidate her."Dominic's jaw clenched as he felt a surge of anger. He couldn't allow them to harm Summer for simply standing by his side. "They can try," he muttered. "Attend the meeting tomorrow in my place. If they question her, make sure she isn't left defenseless."Coleman nodded, a rare glimmer of approval in his eyes. "I'll make sure she's protected."Dominic dis


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.