Partager

138~BC

Auteur: Kanietha
last update Date de publication: 2025-12-08 22:01:26

“Cia juga ada di sini,” ujar Cinta mengingatkan Bias ketika mereka memasuki kamar hotel, “jadi–”

“Aku tau, aku tau,” putus Bias sambil meletakkan Cibi yang masih terlelap di tempat tidur, “aku sama dia sudah nggak ada apa-apa, jadi nggak usah curiga terus.”

Cinta tidak menjawab. Ia hanya tersenyum miring dan berharap tidak ada drama yang terjadi di pernikahan Altaf nanti malam.

“Aku tinggal ke kamar Altaf bentar nggak papa?” tanya Cinta.

“Tinggal aja, mumpung dia masih tidur.”

“Oke, aku nggak l
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (62)
goodnovel comment avatar
Iin Rahayu
mba beeeeeb bisa kah Altaf sama Dinda sajaaaa, aku kok ikut dag dig dug yaaa. aduuuh bu naifa pingsan sudah biar ga jadi ijab (maaf agak ngotot)
goodnovel comment avatar
Iwan Susy 13
mudah mudahan ibu naifa yg gagalkan pernikahan, karena dia masih setengah hati. jadi kalaupun nanti Altaf sama Dinda, Dinda tidak dianggap pelakor
goodnovel comment avatar
Elly Sunarjati
Altaf .. kamu terlambat merhatiin Dinda
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Bias Cinta   BonChap~11

    “Mami!” panggil Bian sambil berlari menghampiri Dinda yang baru keluar dari lift. Meninggalkan Cinta yang masih duduk santai di sofa lobi begitu saja.Dinda langsung berjongkok. Merentangkan kedua tangan dengan wajah semringah saat menyambut Bian ke dalam pelukan. Jika melihat tingkah Bian yang luar biasa itu, ingin rasanya Dinda kembali menambah momongan. Namun, keinginan itu bisa hilang begitu saja ketika menghadapi Noah, Niel, dan Nia yang terkadang membuat sakit kepala. “Ih! Sudah TK dianya!” seru Dinda saat mendekap Bian dengan singkat ke dalam pelukan. “Coba Mami lihat dulu,” ujarnya menjauhkan tubuh bocah itu lalu memindai penampilan Bian dengan seragam sekolah yang sudah berantakan. “Ian danteng, kan!” serunya dengan senyum lebar dan kedua mata yang berkedip-kedip.Dinda membuka lebar mulutnya. Anak Cinta yang satu ini, memang penuh percaya diri. “Ganteng dong!” pujinya sambil menangkup pipi bulat Bian, lalu menciumnya dengan gemas. “Habis makan cokelat, ya?” tebaknya ketika

  • Bias Cinta   BonChap~10

    “No, Mama. No, no!” Bian menggeleng sambil mengangkat kedua tangannya ke arah Cinta. “Ian dah besal, Ian dak mau ditemani sekola. Ian mau diantal Pak Ian aja. Kayak Kak Ibi, sama Kak Ita.”“Mama nggak nemeni, Mama cuma mau ketemu sama Miss-nya Bian di sekolah,” ujar Cinta kembali merayu putranya. Besok adalah hari pertama Bian bersekolah di Taman Kanak-kanak. Namun, bocah itu hanya mau diantar oleh Tian, sopir yang biasa mengantar jemput kedua kakak perempuannya. Berbeda dengan anak-anak lain yang biasanya ingin ditemani orang tua di hari pertama sekolah, Bian justru menolaknya.Bocah itu berdalih, ia sudah besar dan tidak perlu ditemani seperti anak kecil. “Sudah besar tapi masih bobok sama Mama,” sindir Bias tanpa menatap putranya. Ia sibuk dengan laptopnya, karena ada limpahan kasus yang mendadak harus dipelajari. “Kalau sudah besar itu tidur di kamar sendiri, kayak Kak Cibi sama Kak Bita.”Bian yang tengah duduk di karpet itu lantas berbalik. Menatap sang papa yang duduk di tempa

  • Bias Cinta   BonChap~9

    Melalui tatapan matanya, Altaf memberi kode kepada Ranu untuk mengawasi kedua anak mereka yang sedang berenang. Afran bersama pelatihnya, sementara Tara bersama kedua anak Cinta. Sedangkan Bian, lebih suka mengerjai Bias dengan mengajak papanya berlari ke sana kemari. Putra Bias itu, memang tidak pernah bisa diam.“Apa?” tanya Cinta setelah Ranu berpamitan pergi. Melihat gestur Altaf, ia tahu kakaknya itu ingin membicarakan sesuatu dengannya. “Langsung, nggak pake basa-basi.”Altaf berdecak sembari duduk di kursi santai. Tempat duduk Ranu sebelumnya. “Aku sudah sampaikan ke Cia sama Farhan, kalau kita nggak akan menanggung hidup Briana.”Cinta mencebik dan mengangguk. Hal ini memang sudah mereka bahas sebelumnya, tetapi Altaf baru menyampaikan hasil eksekusinya karena mereka baru bertemu saat ini.“Bita dikasih tau Tara, katanya kalian makan-makan dalam rangka menyambut Briana.”Altaf mendengkus. “Yang kamu lihat atau yang kamu dengar, belum tentu seperti kenyataannya.” Altaf menyan

  • Bias Cinta   BonChap~8

    “Cibi!” Farhan tersentak. Hampir melepaskan ponsel di tangan, ketika memutar kursi belajarnya dan mendapati Cibi sedang duduk bersila di tempat tidurnya. “Kalau masuk, ketuk pintu dulu.”“Aku sudah ketuk pintu,” jawab Cibi mengendik cuek. Sejurus itu, tatapannya menyipit tajam pada Farhan. “Tapi Om Ahan nggak denger karena lagi telponan sama cewek.”“Ah … itu.” Farhan gelagapan sendiri, ketika ditodong dan ditatap sedemikian rupa oleh Cibi. Padahal, yang ada di depannya hanyalah gadis kecil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. “Temen. Bukan cewek”“Bukan teman cewek, kok, pake I love you, I love you-an?” Dahi Cibi semakin mengeryit. Memproses jawaban yang diberikan oleh omnya. “Kata Mama kalau bohong itu dosa!”Farhan meletakkan ponselnya, lalu menggaruk kepala. Ternyata, gadis kecil itu sudah menguping pembicaraannya. Karena itu pula, mau tidak mau Farhan tidak lagi bisa mengelak.“Maaf.” Farhan beranjak. Duduk bersila di samping Cibi lalu mencondongkan tubuh. Bicara pelan di de

  • Bias Cinta   BonChap~7

    “Afp … lran!” Bita mengernyit saat mencoba membaca nama bayi laki-laki yang tertempel di salah satu sisi boks bayi. Yakni putra Altaf dan Ranu yang baru lahir kemarin sore di rumah sakit bersalin. “Susah namanya.”“Afran,” ucap Cinta membenarkan karena Bita masih kesusahan menyebut huruf “r”. Meski belum sempurna, tetapi pengucapannya sudah ada kemajuan. “Iya itu Afplran,” ulang Bita masih berusaha menyebut nama sepupunya dengan benar. “Susah.” Bita menatap Ranu dan masih mengernyitkan wajah. “Kayak adekku dong Mama Nu, namanya nggak susah.”Ranu segera menatap Altaf. Suaminya itu hanya bengong, lalu menggeleng samar. Seolah enggan ikut campur dengan protes yang diutarakan keponakannya. Baik itu dari Bita, maupun Cibi yang bisa lebih frontal lagi. Altaf bersikap seperti itu tidak hanya dengan kedua keponakan kecilnya, tetapi juga pada adiknya, Cinta. Sebenarnya, hubungan antara kakak adik itu sudah sangat membaik. Namun, Ranu masih melihat ada segaris jarak yang enggan dilewati ke

  • Bias Cinta   BonChap~6

    “Itu …”“Brondongmu baru pulang, Tante ...” Cinta melanjutkan kalimat yang tidak diteruskan oleh Dinda. Wanita itu menatap motor sport hitam yang berjalan pelan melewati pagar. “Habis nginap di rumah Altaf.”“Farhan?” Senyum Dinda melebar seketika, meski belum melihat wajah Farhan karena masih tertutup oleh helm fullface-nya. “Kok, sudah gede aja? Kayaknya … dulu nggak segede itu.”“Apanya yang gede?” pancing Cinta sambil menyerahkan helm pada Dinda. “Semua-muanya.” Dinda tertawa lepas. Ia menunggu Farhan berhenti di depan garasi lebih dulu dan belum naik ke atas motor matic yang sudah diduduki Cinta. “Mau ke mana, Kak?” tanya Farhan pada Cinta sambil mematikan mesin motornya. Lantas, ia segera beralih pada Dinda lalu mengangguk kecil. “Halo, Kak.”“Halo juga,” balas Dinda tetap dengan senyum, ditambah lambaian kecilnya, “lama nggak ketemu, Han.”Farhan melepas helm dan tertawa kecil menatap kedua wanita yang sudah bersahabat bertahun-tahun itu. “Iya Kak. Sibuk. Jadi, ini mau ke man

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status