LOGIN“We granted you permission to have her in your . We are the reason you are even with such a perfect woman.” A sly smirk spread across his face. “Permission?” he chuckled. “You have it all wrong. I chose my own fate.” - After a one night stand, Sienna Chae-Soo would have never guessed that we would be dragged out of an abortion clinic by the cold billionaire that knocked her up. She is blackmailed into signing a contract stating they are married and forced to have his baby. As the billionaire warms to her loving touch, Sienna learns the secrets of his past that made him as he is today. Drama, revenge and passion all in one story. Will billionaire Declan Foster ever learn how to love? Only one this is clear, her protection is everything to him.
View MoreSuara pekikan kecil terdengar diikuti oleh suara dentingan piring yang jatuh, membuat suasana pesta menjadi hening.
Ryan Pendragon menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar 10 tahun, berdiri kaku dengan wajah pucat.
Di depannya, seorang pria tinggi besar dengan mata tajam berdiri menjulang, jasnya yang mahal kini bernoda makanan yang tumpah.
"Ma-maafkan saya, Tuan," gadis kecil itu terbata-bata, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Pria itu menatap gadis kecil tersebut dengan tatapan dingin yang menusuk. Tangannya terkepal erat, dan Ryan bisa melihat urat-urat di lehernya menegang karena menahan amarah.
Melihat situasi yang semakin tegang, Ayah Ryan–William Pendragon bergegas menghampiri mereka. Ia berlutut di samping gadis kecil itu, mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Itu hanya kecelakaan," ujar William lembut sambil mencoba membersihkan noda di sepatu gadis itu. Kemudian ia berdiri dan menghadap pria yang terlihat marah itu. "Master Lucas, saya William Pendragon. Mohon maaf atas insiden ini. Biarkan saya membantu membersihkan jas Anda."
Namun, kebaikan William rupanya tidak diapresiasi. Master Lucas menatap William dengan pandangan merendahkan.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya pada William. "Kau pikir sapu tanganmu yang murahan itu bisa membersihkan jas mahalku?!"
William tersentak, "Maaf, saya hanya bermaksud membantu. Mungkin kita bisa—"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. William terhuyung, pipinya memerah akibat pukulan pria itu.
Ryan membeku. Matanya melebar menyaksikan adegan di depannya. Ia ingin berlari, ingin menyelamatkan ayahnya, tapi kakinya seolah terpaku di lantai.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak pria itu lagi. "Berani-beraninya kau menyentuhku dengan sapu tangan kotormu!"
William mencoba menjelaskan, "Tuan, saya hanya bermaksud membantu. Ini hanya kecelakaan kecil dan—"
"DIAM!" Pria itu semakin murka. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram kerah William. "Kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkanmu dan seluruh keluargamu dalam sekejap!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak ada yang berani bersuara, apalagi bergerak untuk membantu William.
Ryan akhirnya berhasil menggerakkan kakinya. Ia berlari mendekati kerumunan, berusaha menembus para tamu yang menonton kejadian itu dengan wajah pucat.
"Ayah!" teriaknya.
Namun sebelum Ryan bisa mencapai ayahnya, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Master Lucas, dengan gerakan yang sangat cepat, menebas leher William Pendragon dengan tangan kosongnya. Seketika itu, kepala William menggelinding, diikuti robohnya tubuh William ke lantai.
"TIDAK!" Ryan berteriak histeris. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia melihat ayahnya roboh ke lantai, darah mengalir deras dari lehernya.
Orang-orang mulai berteriak panik. Beberapa wanita pingsan menyaksikan kejadian berdarah itu.
Namun tak seorang pun berani mendekati William yang telah tewas, ataupun menghentikan pria yang baru saja membunuhnya.
Ryan berlutut di samping tubuh ayahnya, tangannya gemetar memeluk potongan kepala William. "Ayah ... Ayah!"
Ryan meraung, matanya liar mencari-cari bantuan. Ia melihat wajah-wajah familiar di antara kerumunan.
Orang-orang yang dulu selalu memuji keluarga Pendragon, teman-teman lama ayahnya, bahkan pamannya sendiri.
Tapi tak seorang pun bergerak. Mereka hanya berdiri diam, wajah mereka campuran antara ketakutan dan ... penghinaan? Seakan akhir seperti ini sudah sepantasnya diterima oleh keluarga Ryan!
Amarah membakar dada Ryan. Dengan gerakan cepat, ia meraih pisau makan dari meja terdekat dan menyerbu ke arah pembunuh ayahnya.
"KUBUNUH KAU!" teriaknya, mengayunkan pisau itu sekuat tenaga.
Namun pria itu terlalu kuat. Dengan satu tangan, ia menangkap pergelangan tangan Ryan, menghentikan serangannya dengan mudah.
Ryan menatap mata pria itu. Dingin, tanpa emosi. Seolah membunuh seseorang di depan umum adalah hal biasa baginya.
"Keluarga Pendragon dari Golden River, ya?" Pria itu berkata, suaranya sedingin es. "Kau pikir kau siapa? Bahkan jika kau adalah keluarga yang berada di posisi paling atas, aku tetap bisa membunuhmu dengan menjentikkan jariku!"
Ia melempar Ryan ke lantai dengan kasar. "Dan kau, dasar sampah tak berarti, kudengar kau terkenal di daerah ini karena tidak berguna. Haha, dan kau ingin membunuhku? Bahkan jika aku memberimu seratus tahun, kau tetap tidak berguna!"
Ryan tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar karena shock dan amarah. Ia ingin bangkit, ingin membalas, tapi tubuhnya seolah kehilangan seluruh kekuatannya.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya dengan kuat. Ryan menoleh, melihat ibunya, Eleanor, dengan wajah pucat dan berlinang air mata.
"Ibu?" bisiknya bingung.
Tanpa berkata apa-apa, Eleanor mendorong Ryan sekuat tenaga ke arah jendela besar yang mengarah ke Sungai Emas di belakang Paviliun Riverside.
PRANG!
Kaca jendela itu pecah, dan Ryan merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya tercebur ke dalam air sungai yang dingin.
Sebelum kesadarannya menghilang, Ryan melihat ibunya berlari ke arah pria pembunuh itu, wajahnya penuh tekad ... dan keputusasaan.
Air sungai yang deras menarik tubuh Ryan, menghanyutkannya entah kemana. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa tidak ada yang membantu? Mengapa ibunya mendorongnya?
Dan yang paling penting ... apa yang akan terjadi padanya sekarang?
Entah sudah berapa lama Ryan hanyut, ia tidak dapat menghitungnya. Ketika kesadarannya mulai berangsur menghilang, Ryan merasakan sebuah tangan kuat menariknya ke permukaan. Samar-samar, ia melihat wajah seorang pria tua sebelum semuanya menjadi gelap.
*Lima tahun kemudian*
Angin dingin berhembus kencang di puncak Gunung Langit Biru. Di sebuah gua yang tersembunyi, seorang pemuda berdiri tegak, matanya terpejam dengan konsentrasi mendalam.
"Fokus, Ryan!" Suara serak seorang pria tua terdengar. "Rasakan aliran energi di sekitarmu. Biarkan Teknik Matahari Surgawi mengalir dalam meridianmu!"
Ryan Pendragon membuka matanya. Cahaya keemasan berpendar dari tubuhnya, menerangi seluruh gua.
Dengan satu gerakan tangan, batu-batu besar di sekitarnya terangkat ke udara, melayang seolah tak memiliki bobot.
Pria tua itu tersenyum puas. "Bagus. Kau sudah siap."
Ryan menurunkan batu-batu itu kembali ke tempatnya. Ia berbalik, menatap pria yang telah menjadi gurunya selama lima tahun terakhir.
"Guru," katanya dengan suara dalam. "Apakah ini saatnya?"
Sang guru mengangguk pelan. "Ya, muridku. Kau telah menguasai Teknik Matahari Surgawi dan rahasia alkimia tingkat tinggi. Kini saatnya kau kembali dan menghadapi takdirmu."
Ryan mengepalkan tangannya. Bayangan masa lalu berkelebat di benaknya. Ayahnya yang terbunuh, ibunya yang mengorbankan diri, dan pria itu ... pria yang telah menghancurkan segalanya.
"Akhirnya," ucap Ryan, matanya berkilat penuh tekad, "dendam ini bisa kubalaskan."
Sang guru meletakkan tangannya di bahu Ryan. "Ingat apa yang telah kuajarkan padamu, Ryan. Kekuatan sejati bukan hanya tentang membalas dendam. Tapi tentang keadilan dan melindungi yang lemah."
Ryan mengangguk. Ia telah berubah. Bukan lagi pemuda lemah yang hanya bisa menangis saat melihat ayahnya dibunuh. Kini ia adalah seorang kultivator, sekaligus alkemis yang kuat, menguasai teknik yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Saat fajar menyingsing, Ryan Pendragon melangkah keluar dari gua, meninggalkan kehidupannya selama lima tahun terakhir. Matanya menatap jauh ke cakrawala, ke arah kota Golden River yang tersembunyi di balik awan.
"Golden River," bisiknya. "Aku sudah kembali."
They chatted while in the kitchen, and she convinced him to nibble on the chips while they waited. Caleb had never met anyone else like Aideen before; she was bubbly and free with a lot of energy and had so much love to give him. They went to the lounge with the tea, toasted sandwiches and bowl of snacks. Aideen scanned through her movies and asked Caleb if he watched them as she went along. He didn’t have time to watch movies, so he didn’t know most of them. “Choose your favourite and put it on,” Caleb remarked, and Aideen decided to put on Suicide Squad. She was a big DC fan, while Caleb didn’t know which superheroes were DC or Marvel. Caleb hadn’t just sat back and watched a movie in a while; it was extremely relaxing and a good change. Plus, he could cuddle Aideen, and she was super happy, which was a big win. Caleb really enjoyed the movie while munching on chips and sweets. “Do you want to have a family?” Aid
Caleb woke up the next morning to an empty bed. He imagined that Aideen left in the early hours of the morning snuck out while he was asleep. His heart shattered, and he lay in bed disappointed. Last night was amazing. She was exactly the type of woman that Caleb wished he had, one like her that wouldn’t run away. Finally, after Caleb finished sulking, he forced himself out of bed and went to take a shower. The warm water ran over his skin and washed away the smell of Aideen. It was better to not think of her. Caleb knew that being with her was too good to be true. Why did he ever think she would want to be with him? Caleb would always leave when a call came in for a new case, his phone would constantly be ringing, time spent with Aideen would have to be scheduled, and after a hard case, he would come home irritable and seem like a jerk. Caleb would choose to work on a case rather than spend a romantic evening with her because he knows he has responsibilities. The consequences were
“Let’s go,” Caleb stated, his voice deep with arousal. Aideen felt herself being pulled towards apartment 37 and kissed Caleb’s shoulder as he opened the door. “Nice apartment.” She smiled and placed her purse on the kitchen counter as she quickly scanned her surroundings. “Sit.” Caleb beamed and picked her up to sit on the counter; he then undid the buckles of her heels and let them slip off her feet. “You have such tiny feet.” He laughed and held her one foot in his hand. Aideen had a sexy dark purple nail polish on, which matched her dress. “I’m a size 5.” She laughed and wrapped her legs around Caleb, who picked her up and carried her to his bedroom. Caleb carefully placed Aideen onto her feet and unzipped her dress which he then pulled off. Caleb was mesmerised by the gorgeous woman in matching black lace underwear. Her breasts were full of life and firmly held in
After a few minutes of their make-out session, Caleb pulled away and stated, “We better get that coffee, or we won’t be leaving this car.” Which made Aideen laugh. “Hey!” She exclaimed as Caleb walked towards the shop. “What?” He asked, confused and walked back to her. “Come here.” She smiled and stepped forward to place a kiss on his lips. “Oh, you.” Caleb beamed, and Aideen slipped her hand into his as they walked into the Fresh Stop at the Caltex garage. “What would you like, baby?” Caleb asked and hugged Aideen from behind as she read the menu. “Can I please get a hot chocolate? What would you like?” She inquired. “A vanilla freeze, please.” “You can go pay at the counter so long.” The man replied and handed Aideen the receipt. Caleb took it from her hands and walked forward
Caleb chuckled and took the coffee from the Doctor. “Sorry, just part of the job.” Before sipping on the coffee, Caleb shrugged and said, “Thanks”. “Can I ask to hear your evaluation?” Doctor Waba questioned and sat down. “By your bod
Aideen was strong and held her emotions together while she spoke. Caleb admired her for that and watched as her messy bun slowly unravelled and her gorgeous hair fell down to her shoulders. The light reflected against her hair which made it look sleek. The shine made her eyes appear even brighter
Caleb had been in Pretoria his whole life; he visited other places on business but never left South Africa. These business trips were mostly to fetch suspects from other towns, help with different cases and track down the family of the victims. None of the trips allowed him to actually explore th
“Caleb look at this,” Samuel remarked as the car came to a stop. He then pointed to Ryan Hoffman’s name. Ryan was in the same class as Taro.“It’s a small world.” Caleb sighed. They both headed into the Lilia and Jule Steakhouse to meet with






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore