登入"Paling satu jam."
Cuma satu jam. Agaknya mudah dilewati Bita. Toh, sekarang ia punya senjata rahasia yang ampuh membuat Vino tak berkutat, yaitu Mama.Meski tidak bisa dipungkiri, berhadapan dengan Vino dan seperangkat nafsu laki-lakinya bukan hal yang mudah karena Bita sudah terbukti bisa dibuatnya tunduk tak berdaya tidak hanya sekali.Dan demi janjinya pada Mami Clara yang belum juga pulang untuk menjaga Vino. Untuk kali ini, Bita akan menuruti permintaannya."Lagi kumpul keluarga besar antar generasi ceritanya? Ikut, dong."Hening merayap di antara mereka. Tidak seorang pun terlihat berniat menjawab pertanyaan Vino."Kalo kamu mau merusuh, jangan sekarang. Kami lagi belajar buat ujian nanti." Bita menjatuhkan peringatan.Vino menyipitkan matanya pada Bita yang menatapnya datar. "Siapa yang mau merusuh? Orang gue cuma duduk dan pengen liat proses belajar kalian."Diambilnya catatan Fero tanpa permisi. "Sebagai anak manajemen, gue menyimpan banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang dikerjakan anak-anak akuntansi yang manis-manis ini."Sasha menampilkan raut jijik sebelum beringsut meninggalkan kursinya dengan alasan ingin meminjam buku di perpustakaan.Vino memindahkan perhatiannya dari Sasha yang menyambar bukunya lalu melipir dengan langkah kaki tergesa ke laki-laki asing di depannya. "Lo nggak ikutan pergi? Tiba-tiba pengen ngapain gitu? Kebelet boker?"Bagas menggelengka
Bita menghela napas panjang sambil memandangi catatannya. "Aku masih suka ketuker antara biaya sama beban.""Nah!" Sasha menjentikkan jarinya. "Aku juga. Perasaan sama-sama keluar uang. Kenapa dosen ngotot bilang beda?""Karena memang beda."Bita dan Sasha serentak menoleh pada Fero. Bersama Bagas, Fero kembali bergabung di gazebo dengan kedua gadis itu guna mempersiapkan ujian berikutnya.Bagas menunjuk Fero. "Bener, kan? Udah gue bilang dia google berjalan, Kak. Gerak dikit udah bisa buka kuliah umum. Coba apa bedanya, Fer. Gue juga mau tau."Pipi Fero sedikit memerah. Namun setelah didesak tatapan penasaran dua mahasiswi itu, ia akhirnya melanjutkan."Biaya itu lebih ke pengorbanan sumber daya untuk memperoleh manfaat ekonomi. Sementara beban adalah bagian dari biaya yang manfaat ekonominya sudah dipakai dalam periode berjalan."Bita berkedip. "Bisa pake bahasa bayi?"Fero tertawa kecil."Misalnya pe
Bita turun dari motor ojek online tepat di depan gerbang rumah. Di tangannya tergenggam segelas matcha mint latte ukuran sedang yang dibelinya dalam perjalanan pulang.Gelas plastik bening itu masih dingin. Butiran embun menempel di permukaannya, sementara warna hijau pucat minuman di dalamnya tampak kontras dengan tutup transparan yang membungkus bagian atas.Bita menatap minuman tersebut beberapa detik. Kemudian menatap rumah di seberang. Lebih tepatnya pada mobil toyota sedan yang sudah terparkir di teras. Niat Bita ingin memberikan minuman ini untuk Vino supaya mereka bisa berdamai. Meski jelas dengan Vino terlebih dulu mengirimnya pesan membuktikan bahwa laki-laki itu tidak lagi memendam amarah, namun tetap saja Bita kesulitan menyingkirkan rasa canggung yang mengganjal di dadanya.Bagaimanapun juga, mereka baru saja melalui perang dingin tersengit setelah percakapan yang berakhir tidak menyenangkan di basement kampus. Banyak dari ucapan Bit
"Kak Bita baru selesai kelas?"Fero menghampirinya di depan gedung fakultas yang sudah lumayan sepi. Bita yang baru akan memesan ojek online sontak menatap was-was sekitar sebelum sadar Vino sudah pulang dari siang tadi. Setelah lebih dari satu jam menganggurkan pesannya, Vino akhirnya membalasnya dengan mengatakan ia tidak jadi menemuinya di gazebo, dan meminta maaf karena tidak bisa mengantarnya pulang seperti janjinya. Ada urusan dengan Martin, katanya.Bita mengangguk. "Kamu ada kelas sore juga?"Fero meringis canggung. Gerakan tangannya yang mengusap leher terlihat kikuk. "Nggak ada sih Kak. Cuma ... ada yang mau aku omongin sama Kak Bita."Genggaman tangan Bita di ponsel tanpa sadar mengencang. "Kenapa nggak lewat chat aja? Atau telpon? Daripada nunggu lama. Mana kamu nungguin sendirian, kan?"Bita sangat berharap sesuatu yang sedang akan dibicarakan Fero bukan tentang perasaannya.Sebab, akan lebih mudah bagi Bita mengatakan penolakan lewat sambungan telepon. Daripada Bita ha
"Jadi, gue disuruh ke rumah lo buat liatin lo bengong doang?"Martin membalikkan komik Vino yang ia dapatkan di laci bocah itu. Setelah bosen bermain ponsel selama menunggu tujuan Vino mengajaknya datang ke rumahnya beres kelas, namun yang laki-laki itu lakukan hanya diam berbaring di atas ranjang, Martin menemukan kesibukan baru yaitu membaca komik yang ia dapatkan usai mengobrak-abrik laci Vino.Tapi tetap saja ujung-ujungnya rasa bosan itu datang lagi.Martin melarikan lagi matanya pada Vino yang belum menjawab pertanyaannya. Laki-laki itu masih betah memandang seberang balkon. Kata Vino, balkon itu milik kamar Bita. Selain bertetangga akrab, dua orang itu juga memiliki kamar dengan balkon berhadap-hadapan. Martin jadi mengerti seberapa tidak nyamannya Vino saat Fero mengatakan mereka setara. Karena mau bagaimana pun tidak ada yang akan ada yang bisa menyetarai hubungan persahabatan keduanya. Dilihat dari banyaknya momen yang sudah mereka lewati bersama. Mungkin saat malam suda
"Kita boleh duduk di sini nggak, Kak?"Sasha sudah akan menolak seorang laki-laki yang meminta izin untuk bergabung dengannya di gazebo. Terbiasa didekati banyak laki-laki membuat Sasha jadi hapal berbagai trik modus mereka. Apalagi melihat tatapan minat laki-laki itu kepadanya.Namun begitu pandangannya bergeser ke samping laki-laki itu, dan menemukan ternyata ia datang bersama Fero, kalimat penolakannya yang sudah berada di ujung lidahnya sontak tertelan."Duduk aja nggak papa. Senyamannya kalian lagi pula ini gazebo kan milik bersama."Bita yang sedang memusatkan fokusnya pada buku yang ia baca kontan mendongak. Biasanya sahabatnya itu langsung mendepak siapa pun laki-laki yang meminta bergabung, kecuali memang temannya.Baru Bita dapati alasannya sesaat setelah tatapannya mengarah ke depan. Bita merapatkan bibir.Pantas saja."Kak Bita." Fero menyapanya dengan bonus senyum setengah kikuk. Jangan lupakan pipinya yang sudah merona itu.Bita membalas senyuman itu sambil mengangguk se
Koridor fakultas mulai ramai oleh mahasiswa yang baru selesai kuliah. Bita dan Sasha bersisihan keluar ruangan."Habis ini mau kemana?""Aku mau ke perpustakaan dulu buat pinjam buku."Sasha mencebik. "Kamu masih nggat mau kasih tau aku cowok yang kamu taksir?"
"Iya. Soalnya Bita tiba-tiba aja ambis. Pasti terinspirasi dari cowok yang dia suka." Bita menghela lagi disela kunyahannya. Apa tidak ada topik menarik selain siapa pria yang ia taksir? Sungguh menyedot habis napsu makan Bita. Namun sayangnya makanan sudah terlanjur ia pesan. Mubadzir sekali jika
"Baik, kalau tidak ada pertanyaan lagi, pertemuan hari ini kita akhiri sampai di sini." Suara kursi yang bergeser mulai memenuhi ruangan. Beberapa mahasiswa terlihat sudah bersiap memasukkan laptop dan buku ke dalam tas termasuk Bita. Namun dosen mereka kembali angkat bicara. "Oh iya, satu lagi.
Disela hembusan napasnya yang berhamburan riuh di udara, panas tubuh yang belum juga reda, dan keringat yang mengalir dari pelipis lalu membasahi pipi, Bita memerhatikan Vino yang bertumpu lutut di atas kasur dan sedang membenahi handuknya yang tersingkap.Vino mematrikan pandangan tepat di mata Bi







