LOGINPria itu cukup tinggi, dengan rambut kecokelatan dan sepasang mata biru yang mencolok di antara keramaian.Bita mengerjapkan mata sebelum melirik ke sekitar, memastikan pria itu memang sedang berbicara dengannya. Setelah itu, ia kembali menatap pemilik mata biru tersebut. “You’re talking to me?” tanyanya menunjuk dirinya sendiri.Pria itu tertawa kecil. “Yeah. Who else could be the cutest and sweetest person here besides you?”Bukannya tersipu, Bita justru meringis. Ia sama sekali tidak tahu harus menanggapi pujian itu bagaimana, terlebih ketika pria tersebut tiba-tiba mengulurkan tangan.“Aiden.”Bita menatap tangan yang terulur itu beberapa saat. Ia bahkan belum sempat membalasnya ketika—“Hey, what’s going on, babe?”Sebuah tangan melingkar di pinggangnya, membuat Bita tersentak dan spontan menoleh. Vino sudah berdiri di sampingnya.Laki-laki itu menarik Bita sedikit mendekat, lalu menatap Aiden dengan sorot
Wedding Ceremony Meta akan dilangsungkan pukul sebelas siang di grand ballroom hotel tempatnya menginap. Karena itu, sekitar pukul sembilan pagi Bita sudah berada di depan meja rias, mempersiapkan diri.Kini, setelah hampir satu jam berkutat di depan cermin, Bita memasang sepasang anting kecil sebagai sentuhan terakhir penampilannya.Bita mengenakan dress panjang berwarna sage green dengan potongan sederhana yang tetap terlihat elegan. Rambutnya ditata setengah tergerai, sementara beberapa helai dibiarkan jatuh lembut di sekitar wajah. Makeup-nya dibuat tipis dan natural. Base ringan, blush lembut, sedikit maskara, serta lip tint bernuansa peach yang membuat wajahnya terlihat segar.Tinggal satu anting lagi yang belum terpasang ketika terdengar bunyi bel dari balik pintu. Gerakan Bita seketika terhenti.Bita yakin, di balik pintu itu pasti Vino, entah datang sendirian atau bersama Aksa. Memikirkan laki-laki itu membuat Bita kembali terin
“Nggak, Ta. Aku nggak mau,” tolak Vino tegas.Bita mendecak. Wajahnya sudah memelas. “Ayo, dong. Sekali aja di sini. Mas Aksa juga nggak bakal tiba-tiba datang. Dia pasti masih di kamar hotel buat ngurus kerjaannya. Itu juga yang bikin Mas Aksa nggak bisa nemenin aku dan akhirnya nyuruh kamu.”Aksa sempat menjelaskan bahwa ada kendala teknis di salah satu proyek yang sedang ditanganinya di Indonesia. Beberapa pekerjaan di lapangan ditemukan tidak sepenuhnya sesuai dengan gambar kerja sehingga tim membutuhkan arahan dan koordinasi darinya sebelum pekerjaan dilanjutkan.Meski sedang mengambil cuti, Aksa tetap harus turun tangan. Karena itu, ia memutuskan untuk tinggal di hotel dan menangani semuanya dari sana. Aksa bahkan sudah berpesan kepada Vino untuk menemani Bita berkeliling London.Jadi, untuk hari ini, praktis hanya ada mereka berdua. Dan Bita merasa seharusnya itu menjadi kesempatan yang sempurna.Bita memandangi Vino yang masih ter
Beberapa detik kemudian, keheningan di antara mereka terpecah oleh bunyi ting yang menandakan lift telah tiba. Mereka turun menuju lantai dasar tempat restoran hotel berada. Begitu pintu lift kembali terbuka, Bita melangkah keluar bersama Vino. Namun, baru beberapa langkah memasuki area restoran, langkah Bita mendadak terhenti. Matanya membelalak. Restoran itu ternyata sudah cukup ramai. Beberapa tamu hotel terlihat duduk menikmati sarapan, sementara sebagian lainnya berjalan mengitari area buffet sambil membawa piring. Seketika itu pula Bita merasakan malu yang luar biasa. Ia ingin sekali berbalik dan melesat kembali ke kamar untuk bersolek sebaik mungkin. Bagaimana tidak? Penampilannya benar-benar khas orang yang baru bangun tidur, lengkap dengan rambut awut-awutan dan piyama kusut. Sementara hampir semua tamu di restoran tampak begitu segar dan rapi. Menyadari Bita yang masih mematung di tempat, Vino segera bertanya, “K
Bita sudah bangun sejak tadi, tetapi masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Selimut masih menutupi sebagian tubuhnya, sementara pandangannya kosong menatap langit-langit kamar. Mood-nya benar-benar anjlok sejak Vino kembali mengingatkannya untuk menjaga jarak, tepat setelah ia mencuri kecupan singkat darinya. Yang membuat Bita kesal bukan cuma karena Vino melarangnya, tetapi juga caranya. Ia masih ingat bagaimana tatapan laki-laki itu kemarin mendadak menajam ketika menegurnya. Bita tidak suka ditatap seperti itu. Padahal mereka sedang berada di lantai delapan dengan pemandangan kota London yang terbentang penuh cahaya di balik kaca. Suasananya sudah romantis, pemandangannya juga indah, lalu entah bagaimana Bita terbawa suasana dan spontan memberikan kecupan singkat. Tapi respons Vino? Bukannya ikut menikmati momen, laki-laki itu malah mengingatkannya soal batasan. Iya, Bita tahu. Ia tahu
Tak lama kemudian, lift berhenti di lantai delapan. Pintu terbuka, dan mereka bertiga keluar sambil membawa barang masing-masing. Khusus Bita, kopernya bergantian dibawa Vino dan Aksa.Aksa berjalan beberapa langkah di depan, lalu berhenti di sebuah pintu kamar. “Ini kamar kamu, Ta.” Ia menunjuk pintu di hadapannya, kemudian menggeser pandangan ke pintu di sebelahnya. “Kalau kamar Mas sama Vino yang itu.”Aksa kemudian menyerahkan kartu akses kamar kepada Bita. “Nih, simpan baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung bilang Mas atau Vino, ya.”Bita menerima kartu itu, tetapi wajahnya masih tampak lesu. “Ini aku beneran tidur sendirian?”Vino memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lembut. “Yaudah, ayo. Aku sama Mas Aksa antar kamu masuk dulu.” Ia menoleh kepada Aksa. “Ayo, Mas. Kita antar putri kecil yang takut bobok sendiri padahal udah gede ini ke kamarnya.”“Jangan ngejek aku!” seru Bita pura-pura kesal. Dengan wajah sumri
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be







