로그인Bita sudah lama menyukai Aksa, kakak tetangga yang sayangnya selalu memperlakukan dirinya seperti adik kecil. Frustrasi karena tak pernah dianggap sebagai wanita dewasa, Bita nekat menerima tawaran gila dari Vino—adik kandung Aksa sekaligus sahabatnya yang terkenal playboy dan pandai menaklukkan hati perempuan untuk menjadi wanita yang dewasa dan bisa menarik perhatian Aksa. Namun Vino memberi syarat telak. "Gue bakal bikin Mas Aksa lihat lo sebagai wanita. Tapi syaratnya satu jangan pernah bantah perintah gue." Syarat yang membuat Bita tidak bisa berbuat apa-apa. Termasuk jika Vino meminta mereka melakukan hal-hal dewasa seperti berciuman.
더 보기"Lo naksir abang gue?"
Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia beberapa tahun lebih tua, Bita tidak pernah bisa membohongi perasaannya sendiri. Logikanya tahu Aksa terlalu tinggi untuk digapai, namun hatinya tak bisa dipungkiri. Perasaan yang jelas tidak akan pernah ia rasakan pada Vino, adik kandung Aksa yang ugal-ugalan dan terkenal sebagai playboy kelas kakap. Cowok menyebalkan yang sekarang sedang bersandar di tiang teras dengan tangan bersedekap. "Beneran naksir?" tanya Vino sekali lagi. Bita melotot. "Siapa bilang? Nggak jelas!" "Lebih nggak jelas elo, Ta." sembur Vino. “Mendung begini lo siram tanaman.” Bita merutuk dalam hati, meraba daun kaktus yang malang di pot plastik. "Suka-suka aku, ini namanya kasih sayang!" "Kasih sayang mata lo peyang," sahut Vino santai. Langkah kakinya mendekat, memungut selang yang tergeletak di rumput, dan menyingkirkannya. "Orang waras mana yang nyiram tanaman mendung-mendung.” "Ya suka suka aku lah?!" Bita mendengus, melengos menjauh demi menyembunyikan rona merah di pipinya. "Mau mendung atau hujan badai sekalipun, apa urusannya sama kamu?" Vino lalu membalikkan tubuh Bita agar menghadapnya. "Sejak kapan lo suka sama abang gue, Ta?" "Siapa yang suka Mas Aksa? Aku nggak suka!" Bita meledak dan langsung membuang muka. "Kalo nggak suka kenapa pipi lo merah?" Bita mengepalkan tangan, mendaratkan pukulan bertubi-tubi di lengan Vino demi mengalihkan rasa malunya, namun cowok itu bergeming, membiarkan Bita meluapkan kekesalannya. "Kamu tuli apa gimana? Dibilang nggak suka ya nggak suka!" "Masih mau ngelak?" Mata Vino menyipit jahil. "Siapa yang tadi senyum-senyum kayak orang kasmaran kalo gitu?" Bita mendorong Vino yang terus-terusan menggodanya sampai hampir-hampir tubuh itu terjungkal ke belakang. ”Yang ada kamu yang dari tadi senyum-senyum nggak jelas!" Bita heran kenapa anak-anak perempuan di kampusnya selalu heboh membicarakan Alvino Anggara Kusuma, dan berbondong-bondong ingin menjadi kekasihnya. Di mata Bita, cowok di depannya ini racun! Dan sepatutnya racun, Vino memang harus dijauhi demi selamat bukannya malah berebut mendekat. “Tahu peribahasa punuk merindukan bulan? Nah, persis kayak gitu tampang lo. Sedih, merana, kasihan," ejek Vino tanpa perasaan. Sorot mata Vino mengerling jahil, membuat bulu kuduk Bita mendadak meremang. Ada kilat berbahaya di sana yang sudah Bita hapal luar kepala. “Kamu jangan macem-macem, ya, Vin!" "Mas Aksa! INI ADA YANG—" Bita melompat, tangannya bergerak cepat membekap mulut Vino rapat-rapat. "KAMU GILA, YA?!" desisnya panik sembari menoleh takut-takut ke rumah seberang. Vino melepaskan tangan Bita dari wajahnya sambil terbahak puas. "Katanya nggak suka, kok panik?” Tidak bisa mengelak, Bita memilih bungkam. Vino mendecak pelan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Gue nggak nyangka selera lo se-membosankan Mas Aksa." "Bagiku dia nggak membosankan," gumam Bita tidak mau Aksa diremehkan, meski oleh adiknya sendiri. "Mas Aksa pria yang nggak neko-neko, sopan, dan dewasa. Menurutku, semua itu jauh dari kata membosankan. Lebih menarik dari.. kamu." "Tapi, Ta," lanjut Vino, nadanya berubah lebih serius, membuat Bita mendongak. "Dia nggak sebaik yang lo lihat di depan orang tua kita. Di kampus, dia punya dunianya sendiri." Bita mengerutkan kening, tidak suka dengan arah pembicaraan ini. "Mas Aksa itu baik, disiplin. Nggak kayak kamu, playboy!” “Oh, he's worst. Mainnya halus. Perempuan yang ada di sekeliling dia... lo tahu sendiri tipikal mahasiswi kedokteran atau hukum yang selalu terlihat sempurna. Anggun, berkelas, wangi." Vino menjeda kalimatnya, matanya bergerak turun-naik, menilai penampilan Bita dari atas sampai bawah tanpa ekspresi. "Maksud kamu?" Bita mulai merasa tersinggung. Vino menghela napas pendek, "Lo bahkan nggak masuk ke dalam radar tipenya." Kalimat itu telak menghantam ulu hati Bita. "Bukan cuma nggak masuk kriteria, Ta. Dilirik sebagai seorang wanita dewasa aja nggak akan pernah," tambah Vino, suaranya terdengar dingin namun jujur. "Rambut dikuncir asal, setelan baju apa adanya. Lo lebih mirip adik kandungnya dibanding yang bisa diajak kencan." Bita menatap penampilannya sendiri dengan muram. Apa yang dikatakan Vino tidak sepenuhnya salah, dia memang terlihat terlalu kekanak-kanakan jika disandingkan dengan Aksa. “Emang iya?” Vino terdiam. Tatapan mengejeknya seketika lenyap begitu melihat bahu Bita yang merosot lesu. Laki-laki itu menatap Bita lekat-lekat selama beberapa detik, sebelum sorot matanya berubah, menggelap dengan intensitas yang berbeda. Bita melangkah mundur saat Vino tiba-tiba memangkas jarak di antara mereka. "K-kamu mau ngapain?" “Lo pernah pacaran gak sih, Ta?” Bita mendengus pedas, menepis kecanggungan yang mendadak merayap. "Kan kamu yang gagalin semua! Mana ada cowok yang mau sama aku kalau kamu selalu bertingkah kayak aku ini adik kamu?" "Gue?" Vino menaikkan sebelah alisnya. "Iya." Bita menyalak. "Harusnya kamu kasih aku kompensasi karena udah bikin aku jomblo." Aroma maskulin yang berat dari tubuh Vino mendominasi indra penciuman Bita, saat laki-laki itu Lagi-lagi mengikis jarak, membuatnya mendadak sulit bernapas. "Kalau gitu, mau gue ajarin, nggak?" bisik Vino. Bita mengerjap, mencoba menahan dadanya yang bergemuruh. "Ajarin apa?" “Ajarin bercinta.”Seperti janjinya, keesokan paginya, bahkan sebelum matahari terbit, Vino sudah mendatangi kamar Bita. Sesaat setelah Bita membukakan pintu, laki-laki itu langsung menyeruak masuk dengan wajah panik.Vino segera menutup pintu, kemudian membingkai wajah Bita dengan kedua tangannya. Tatapannya berpindah dari satu mata ke mata lainnya, seolah memastikan sendiri apa yang sejak tadi ia khawatirkan.Mata yang semalam sempat Bita lihat di cermin kini sudah pasti tampak sama mengenaskannya dengan yang Vino lihat. Kantung matanya tebal dan menghitam, sementara kedua matanya masih sembap."Ta, kamu nangis lagi, ya?" tanya Vino khawatir."Kentara banget, ya?" Bita langsung tahu apa yang membuat Vino begitu cemas.Vino mengangguk dengan tatapan sendu.Bita mencoba menarik segaris senyum tipis. "Nggak papa. Nanti bisa ditutupi pakai concealer. Terus aku pakai makeup tipis biar kelihatan seger."Bita kemudian mengajak Vino duduk di sof
Vino menelan ludah. Mami masih bisa ia kelabui. Ia bisa membuat semuanya terlihat mudah, termasuk kebohongan-kebohongan yang harus Vino tutupi.Tapi Aksa?Pria itu adalah satu-satunya orang yang sulit Vino kelabui. Entah bagaimana, kakaknya itu selalu bisa menemukan kejanggalan sekecil apa pun dalam diri Vino, bahkan ketika ia sudah berusaha menutupinya rapat-rapat. Seolah-olah pria itu memiliki mata yang mampu menembus apa saja, termasuk kebohongannya.Dan kini, tatapan Aksa sukses membuat Vino merasa seperti seorang tersangka.Vino mencoba menyembunyikan kegelisahannya dengan terkekeh. "Apaan sih, Mas? Ngelihatinnya gitu banget?"Ia menutup pintu, lalu berbalik menghadapi Aksa yang masih menatapnya lurus. Vino berusaha memasang wajah setenang mungkin."Tadi Bita ngajak aku keluar. Katanya masih pengin jalan-jalan. Besok kan kita harus balik, jadi udah nggak ada waktu lagi. Bita pengin puas-puasin jalan-jalannya," jelasnya. Vino
Vino menatap kedua mata Bita yang bergetar. Ketakutan, kegelisahan, dan keputusasaan bercampur aduk di sana. Perasaan yang mungkin tak jauh berbeda dari apa yang tengah bergejolak di dalam dirinya.Dada Vino bergemuruh menahan ketakutan yang sama. Untuk sesaat, Vino mengakui bahwa ide Bita terdengar masuk akal. Jika mereka tidak mengatakan apa pun, mungkin tidak akan ada yang tahu. Mereka tetap bisa bersama tanpa harus menghadapi kekecewaan kedua orang tua Bita.Pandangan Vino terangkat. Kelopak matanya berkedip pelan, seolah masih menimbang pilihan itu.Namun ketika jemari Bita merambat ke wajahnya dan mengusap pipinya, tatapan Vino kembali jatuh pada gadis itu.“Kita bisa merahasiakannya berdua,” gumam Bita. “Nggak akan ada yang tahu. Kita cuma perlu sama-sama tutup mulut.”Sesaat, Vino hampir mengangguk. Namun ia segera memejamkan mata rapat-rapat, lalu menggeleng kuat. “Nggak. Aku nggak bisa, Ta.” Vino menatap Bita dengan wajah frustr
Setelah lagu berakhir, Meta bukannya melepaskan Aksa tapi malah menarik lengan pria itu dan membawanya menemui beberapa anggota keluarganya. Suaminya ikut bergabung, memperkenalkan Aksa kepada kerabat yang belum pernah ditemuinya. Niat Aksa untuk segera kembali kepada Bita dan mengecek keadaannya pun tertunda.Satu percakapan berganti percakapan lain. Dari cerita masa SMA, kabar pekerjaan, hingga berbagai kenangan lama yang membuat Meta beberapa kali tertawa. Setiap kali Aksa berpikir ia sudah bisa pamit, selalu ada orang lain yang menghampiri.Tanpa terasa, suasana ballroom perlahan berubah. Musik mulai mengecil, meja-meja mulai dibereskan, dan para tamu satu per satu meninggalkan ruangan. Baru setelah reception benar-benar berakhir, Aksa akhirnya berhasil melepaskan diri.Pria itu berpamitan kepada Meta dan suaminya sebelum berjalan menuju lift. Beberapa saat kemudian, pintu lift tertutup di hadapannya. Aksa menekan tombol 8.Entah ken
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 보기