LOGINSaka selalu percaya bahwa cinta pertamanya, Saskia, adalah kisah yang sudah selesai. Namun, saat Saskia muncul kembali di hidupnya dengan luka-luka yang tak pernah sembuh, Saka terjebak dalam janji lama yang mengikat dan tak mudah dilepaskan. Meski hatinya mulai berlabuh pada Agnia, gadis sederhana yang membuatnya merasa utuh, bayang-bayang Saskia terus mengusik, menuntut sesuatu yang pernah ia janjikan. Di antara dua wanita yang mewakili masa lalu dan masa depan, Saka berjuang menemukan pilihannya. Tapi, seberapa besar harga yang harus ia bayar untuk akhirnya mampu menjalani pilihan tersebut? Kadang, pilihan terdalam kita bukanlah antara benar dan salah... tapi antara hati dan janji.
View MoreSaka POV
Hari masih pagi saat aku melangkah meninggalkan kamar asramaku. Ada kuliah pagi hari ini, namun tak sepagi ini seharusnya. Tak ada lagi yang bisa aku kerjakan di kamar, berjalan kaki menuju kampus kupikir bisa mengisi waktu yang berjalan sangat lambat.
Saat aku keluar dari area gedung, langit mendung menyambutku. Memang sudah masuk musim penghujan, payung lipat pun sudah aku siapkan di dalam ransel belakang. Bukan apa-apa, aku membawa laptop dan akan sangat repot jika sampai basah.
Aku pun tak ingin berjalan tergesa-gesa hanya karena menghindari hujan. Aku ingin menghabiskan waktu hingga Sabtu esok hari.
Langit masih berpihak padaku, air hujan baru turun saat aku sudah berada di dalam kelas, duduk di kursi yang sama di setiap kelas. Sebelah kananku akan selalu kosong hingga jam pelajaran usai. Tak ada yang akan duduk di sana seakan semua teman sefakultasku tahu kalau di sebelah kanan kursiku adalah milik seseorang yang dahulu pernah ada.
Sedangkan di sebelah kiriku, juga bukan kursi favorit banyak orang. Hanya ada beberapa nama yang mau duduk di sana, jika sangat terpaksa. Tak banyak yang mau berbasa-basi denganku atau menanggapi basa-basiku. Aku tidak dikucilkan, aku bisa bersosialisasi, hanya saja, sejak kejadian itu, semuanya tak lagi sama.
“Saka...” Rio melambai padaku, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang mau duduk di sebelah kiriku, seperti hari ini.
“Hai,” sapaku.
“Sudah selesai tugasmu?”
“Tentu. Kamu?”
“Belum.” Rio menggaruk rambutnya.
Menyadari jam kuliah sudah hampir mulai, kami mengeluarkan laptop dari dalam ransel. Sebagai mahasiswa jurusan akuntansi semester 6, aku bukanlah mahasiswa yang pintar. Kelebihan yang aku punya adalah aku memiliki lebih banyak waktu jika dibandingkan mahasiswa lainnya sehingga aku tidak kesulitan mengerjakan tugas.
Saat mahasiswa lain menumpuk tugasnya di akhir pekan atau ketika sudah mendekati tanggal dikumpulkan, aku akan langsung mengerjakannya secepat mungkin. Nilaiku mungkin tak sempurna, namun aku selalu menyelesaikannya tepat waktu. Dengan begitu aku tetap memiliki akhir pekan untuk perjalanan ke Palagan, kota yang selama 8 bulan ini hampir tak pernah absen aku kunjungi di akhir pekan. Sebuah perjalanan menggunakan kereta yang menghabiskan setidaknya 6 jam.
Meski untuk itu aku harus sangat berhemat dalam menggunakan uang transferan dari rumah, dan bahkan mencari uang tambahan dengan menawarkan jasa dan waktuku sebagai tenaga serabutan di kafe atau restoran yang membutuhkan di kota ini. Ya, besok aku akan ke Palagan. Naik kereta paling pagi pukul 5, aku akan tiba di sana pukul 11 lebih.
Setelah makan di stasiun aku akan melanjutkan perjalanan selama setengah jam menggunakan ojek online. Kereta senja akan membawaku pulang kembali. Sekitar tengah malam, aku akan sampai kembali ke kota Sibaru ini. Memikirkannya saja, sudah membuatku bersemangat.
Seperti perkiraan, setelah makan dan membeli bunga lily, pukul 12 lebih 30 menit, aku sudah sampai di tempat yang aku tuju. Sebuah rumah sakit pusat rehabilitasi untuk mereka yang memiliki gangguan kejiwaan. Setelah mengisi buku tamu, aku menuju ruangan tempat Saskia dirawat.
“Kia...” Panggilku pelan pada seorang gadis yang memunggungiku. Saskia yang sedang memandangi lukisannya perlahan memutar badannya untuk melihatku.
“Arjuna,” balasnya. Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. Dia bangun lalu berjalan memelukku. “Lama sekali, aku sudah menunggumu dari tadi.”
“Aku selalu datang di waktu yang sama, setelah kau makan siang,” Sahutku sambil balas memeluknya singkat. Kuganti seikat bunga lily yang sudah layu di dalam vas plastik dengan bunga yang aku bawa.
“Aku melukis dirimu, lihatlah...” dia menggandeng tanganku, menarikku untuk mendekat pada lukisannya.
Aku tersenyum, seperti lukisan-lukisannya yang lain, wajah Arjuna terpampang di sana.
“Kau menyukainya?” Tanyanya sambil memandang wajahku.
“Tentu. Bagus sekali, terima kasih.” Dia mengangguk. “Apa ini sudah selesai?”
“Iya.”
“Kalau begitu aku akan membawanya.”
Dengan cekatan aku melepas kanvas dari stand lukis kayu yang aku beli kira-kira setengah tahun lalu. Karena hanya menggunakan klip kertas, sebentar saja kanvas sudah bisa aku lepaskan lalu aku gulung. Kubuka ranselku lalu aku menarik kanvas baru yang selalu aku bawa saat berkunjung ke sini lalu aku masukkan lukisan Kia tadi ke dalam ransel.
Seperti membalik kegiatanku tadi, kini aku memasang kanvas baru pada stand lukis Saskia.
“Nah.. kau bisa melukis lagi sekarang. Apa saja cat warna yang habis?” Saskia terdiam. Itu berarti aku harus mengeceknya sendiri.
Kubuka laci meja dan melihat kumpulan cat warna yang berserakan. Semakin lama, semakin sedikit jenis warna yang Kia pakai untuk melukis. Lukisannya tetap bagus seperti dulu, hanya saja lebih suram dan... wajah Arjuna pada lukisan semakin jauh dari wajah aslinya. Hanya ada 2 warna yang sepertinya harus aku bawa minggu depan.
Untunglah Saskia tidak termasuk pasien yang bisa membahayakan jiwa sehingga masih diperbolehkan menyimpan benda-benda yang bermanfaat untuk pemulihannya. Selain itu, keluarga Kia juga menempatkannya di kamar rawat khusus. Aku bertemu dengan kedua orang tuanya beberapa kali saat menengok Saskia yang kala itu masih dirawat di rumah hingga mereka memberiku izin dengan memasukkan namaku di daftar tamu yang boleh menemui putrinya di rumah sakit.
Berjalan-jalan atau duduk di taman adalah kegiatan rutin kami. Kadang, Saskia lebih banyak terdiam, jatuh pada lamunannya sendiri. Namun sering kali juga dia lebih banyak bicara, membicarakan kejadian masa lalu bersama Arjuna sambil mengira aku adalah dirinya. Ada kalanya dia menyandarkan kepalanya di bahuku, membiarkanku mengelus rambutnya yang lurus dan panjang.
Saat pertama kali mendengar Kia menganggap diriku adalah Arjuna, aku tidak kecewa. Kami memang tidak pernah begitu dekat. Meski aku selalu menyukainya, namun aku selalu memperlakukannya tak lebih dari pacar sahabatku.
Tak pernah ada rasa marah yang aku rasakan. Aku merasa tak berhak marah pada keadaan, apalagi pada Saskia. Dia dan Arjuna telah berpacaran sejak mereka di bangku SMA.
Arjuna yang selalu ramah, jenaka, dan baik memang disukai banyak orang, apalagi oleh pacarnya sendiri. Bersama Saskia di sini, aku mengingat kembali sahabatku. Tapi semakin sering aku ke sini, semakin aku menyadari kalau yang membuatku terus datang ke sini setiap minggu adalah Saskia.
Dia tersenyum padaku dengan cara yang lain dari senyumnya dahulu. Dia menggenggam tanganku, mengamit lenganku hingga menyandarkan kepalanya padaku. Dia berbicara padaku seolah aku adalah orang yang penting baginya. Tentu... aku sadar dia melakukannya karena menganggap aku adalah Arjuna.
Tapi berada di dekatnya, yang menganggapku kekasihnya, telah menjadi candu dalam pikiran dan tubuhku. Dahulu, aku tak pernah berpikir akan menyukai Saskia seperti ini, tapi sekarang, aku yakin aku menyayanginya lebih dari yang aku sadari.
Dalam perjalanan kembali ke Sibaru, sambil membawa lukisan wajah Arjuna di dalam ranselku, aku akan merasa senang, aku akan merasa bersalah, aku akan merasa menjadi orang yang paling brengsek, sahabat yang mengambil kesempatan dari kematian sahabatnya, orang yang menikmati sakit orang lain.
Aku akan merasakan banyak hal, hingga aku sampai di kamar kos dan meletakkan gulungan lukisan kanvas Saskia ke sebuah tabung penyimpanan. Kini sudah ada 12 lukisan di sana. Aku tak pernah membukanya kembali. Aku tak bisa melihat wajah Arjuna setelah apa yang aku lakukan.
Author POVLangit biru cerah dengan angin yang semilir di ibu kota Kotabaru sore ini membuat banyak orang memilih berjalan-jalan di sekitar taman kota. Sebuah taman yang cukup besar dengan sungai buatan di tepinya menyuguhkan suasana alami di tengah hiruk pikuk ibu kota yang selalu ramai.Jalur setapak yang lebar memungkinkan pengunjungnya bermain sepeda, sepatu roda, atau berjalan kaki di bawah pepohonan yang rindang.Di antara para pengunjung yang ingin menikmati taman sore itu, terlihat sepasang pria dan wanita berjalan beriringan sambil mengamit lengan satu sama lain. Mereka terlihat mesra dengan sepasang cincin yang melingkar di jari manis."Tali sepatumu lepas," kata sang pria pada istrinya. Tak menunggu lama, dia lalu membungkukkan badannya untuk membetulkan ikatan tali sepatu tanpa hak milik istrinya. Kepalanya mendongak. "Sudah nyaman?" tanyanya."Iya, terima kasih," kata sang istri.
Saka POVSaskia diam saja, namun air matanya terus turun. Setelah ayahnya menjauh sambil merangkul istrinya, aku mendekati tempat tidur Saskia.“Kia,” sapaku sambil menggenggam tangannya.“Saka,” jawabnya dengan suara parau. “Maaf aku merepotkanmu lagi sampai kau harus datang ke sini. Padahal aku sudah berkata tidak akan mengganggumu.” Tatapan matanya lurus padaku , lemah dan pilu.Aku mengangguk. “Sudah, jangan berpikir terlalu berat. Istirahat saja, ya,” pintaku.Saskia menggeleng. “Aku malu bertemu, Saka. Kenapa aku masih di sini?” Saskia menangis lagi.Ibu Saskia yang mendengar ucapannya ikut menangis dalam pelukan suaminya.“Kia, jangan berpikir begitu. Ada Ayah dan Ibu yang begitu menyayangimu. Kami ingin kau sehat, bahagia,” Hatiku seperti teriris. sudah betul-betul hilangkah semangatnya untuk hidup?“Tapi aku han
Saka POV“Bagaimana Saskia, Bu?” sudah tak ada basa-basi lagi. Semua di sini berkumpul untuk Saskia.“Masuk, Nak,” jawab Ibu Saskia sambil memberi ruang untuk aku masuk ke dalam.Di dalam, ada kakak perempuan Saskia yang segera berdiri setelah melihatku. Dia tersenyum sayu. Aku membalas senyumnya sambil mengangguk. Di tengah ruangan, Saskia tampak lelap tertidur. Di lengannya terpasang selang infus dan selang transfusi darah.Aku ingat ayah Saskia berkata Kia memotong nadinya. Pandanganku berpindah ke lengan kirinya yang diperban.“Dia sudah sadar, tapi saat ini tertidur karena pengaruh obat,” kata kakak Saskia , aku tidak ingat namanya. Aku hanya mengangguk.Aku duduk di satu kursi yang paling dekat dengan tempat tidur Saskia, tak mau mengganggunya. Kami terdiam dalam keheningan hingga pintu kamar dibuka dari luar. Ayah
Saka POVSetelah mendapatkan kabar mengenai Saskia, aku memutuskan untuk kembali ke kos. Meski Agnia pulang pun, sepertinya aku tak bisa menemuinya tanpa memperlihatkan emosi yang aku sendiri tak mengerti saat ini.Aku tak ingin Agnia tahu mengenai apa yang terjadi dengan Saskia. Mungkin dia akan merasa bersalah, meski tak ada kesalahan pada diri Agnia sedikit pun. Ini sepenuhnya salahku.Sesampainya di kos, aku langsung mandi. Aku butuh air segar untuk membilas tubuh dan emosiku. Selain itu, aku berharap waktu bisa lebih cepat berlalu. Aku berharap Agnia sudah mau menghubungiku, meski hanya untuk memberi tahu di mana dia saat ini dan apakah dia baik-baik saja.Setelah selesai mandi, akhirnya kudapatkan kabar itu dari pesan yang dia kirim.Aku sudah di rumah. Aku ke Narama tadi. Aku butuh waktu, Saka.Aku mengambil napas panjang. Dia ke Narama sendirian. Agnia, pacarku, ke air terjun Narama seorang diri. Mengendarai motornya, naik turun jurang sendirian.Seharusnya aku bersamanya, men
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.