LOGINSemua orang mengetahui kemahsyuran Akademi Natydharma. Sebuah sekolah yang dibangun khusus untuk mendidik manusia berdasarkan peran tertentu, agar bisa menjalankan dunia cerita sesuai dengan naskah yang diberikan oleh Kepala Sekolahnya, Adhyaksa. Selama berabad-abad, akademi ini telah berhasil mencetak alumni-alumni genius yang sukses berperan dalam cerita legendaris. Dari Malin Kundang hingga Sangkuriang, Candra Kirana hingga Bawang Putih, semua adalah siswa/i yang mereka didik untuk menjadi sempurna. Akademi yang menentukan peran siswa/i nya berdasarkan warisan peran yang diterima leluhur mereka masing-masing ini telah menjadi simbol keagungan bagi para Protagonis, sekaligus ketakutan bagi para Antagonis, Peran Pendukung, serta Peran Figuran. Tentu saja! Bayangkan, seluruh hidupmu hanya didedikasikan untuk menjadi pion yang membawa Protagonis menuju puncak emas. Tidak adil! Demikianlah, yang dipikirkan oleh Ridhika Maya. Seorang gadis berusia 17 tahun yang mewarisi peran Antagonis dari leluhurnya, Calon Arang. Sekuat tenaga dia menolak untuk menerima undangan masuk ke Akademi tersebut. Sayangnya, dia tidak bisa menghindar. Pada akhirnya, dia harus tetap pergi dan terlibat dalam segala intrik para siswa/i untuk menjadi yang terbaik. Di sana, dia bertemu banyak orang, yang tidak hanya mengubah perspektifnya mengenai baik dan buruk, tetapi juga memperlihatkan padanya bagaimana busuknya sistem yang berjalan di belakang megahnya gedung Akademi Natydharma.
View More"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar.
"Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan Calon Arang mau lewat, sebentar lagi!" "Hah?! Duh, kami pergi saja deh kalau begitu," balas salah satu wanita sambil menarik lengan temannya agar segera menghindar. "Memangnya kenapa, sih? Pasar ini kan bukan milik dia!" Sungut wanita yang lain. "Sst! Jangan cari masalah. Eh! Itu dia! Ayo, kita pergi saja." Ridhika menyaksikan melalui sudut matanya bagaimana gerombolan pengunjung di pasar segera menghindar begitu dia datang. Disusul oleh suasana riuh yang seketika berubah hening, serta anak-anak yang ikut orangtuanya berbelanja dengan takut-takut mengintip dari balik tiang toko. Aktivitas jual beli seolah terhenti dalam sekejap, meninggalkan atmosfer yang terasa berat. Dulu, perlakuan seperti itu selalu berhasil membuatnya terganggu. Dia pikir, orang bodoh macam apa yang menilai karakter seseorang hanya berdasarkan karakter nenek moyangnya yang bahkan sudah meninggal ratusan tahun lalu? Meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Sampai suatu hari, salah satu anak memukulnya dengan sebuah bata, tanpa sebab apapun. Lalu, lari bersama teman-temannya sambil cekikikan, seolah telah berhasil mencapai sesuatu yang sangat mengesankan. Orang-orang dewasa yang menyaksikan peristiwa tersebut tidak menegur, tidak pula mencoba membantu. Satu persatu dari mereka hanya berlalu melewatinya dengan lirikan tidak peduli. Seorang nenek tua bahkan mencibir mengatakan bahwa itu adalah akibatnya kalau dia mengganggu anak-anak lain. "Tapi, aku kan tidak mengganggu mereka," ujarnya dengan suara pelan, menunduk menatap tubuh kecilnya yang kotor karena didorong hingga jatuh. "Aku ... cuma mau ikut main." Ridhika ingat mendengar si nenek mendengkus sewot, sebelum ikut pergi menjauh. Meninggalkannya dengan banyak pertanyaan tentang mengapa justru dia yang disalahkan? Mengapa bukan anak-anak nakal itu saja yang dicap sebagai penjahat? Di rumah, Ibu mengobati keningnya yang terluka dengan raut datar. Namun, dia bisa melihat bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipi wanita itu. "Mulai sekarang, Ridhi main di rumah saja, ya. Sama Ibu," ujar wanita itu, sambil mengelus kepala Ridhika lembut dengan seulas senyum yang terlihat sendu. Pada saat itulah Ridhika memutuskan, bahwa dia tidak akan membiarkan masa kecilnya habis dilahap rasa sedih dan tertekan hanya karena manusia-manusia dengan pemikiran sempit itu. Mengingat peristiwa tersebut membuat keningnya berdenyut. Luka dari pukulan bata bertahun-tahun lalu itu sudah lama hilang tanpa bekas, namun rasa nyerinya masih suka datang sewaktu-waktu. Seolah hendak memperparah keadaannya, tepat setelah kakinya melangkah keluar dari area pasar, tempat itu langsung ramai kembali hanya dalam hitungan detik. Ridhika menoleh ke belakang sambil mengernyit. Perasaannya campur aduk antara tidak habis pikir dan kesal. Andai saja dia mewarisi kekuatan Calon Arang, di momen itu dia ingin sekali melemparkan sebuah bola api ke sana. Sayangnya, dia tidak memiliki kekuatan semacam itu, jadi yang bisa dilakukannya hanya memutar bola mata, lantas lanjut berjalan. Menuntun sepedanya yang ban-nya bocor menuju rumah. === "Ada surat untukmu." Demikianlah yang Ibu katakan begitu melihat Ridhika tiba di ambang pintu. "Surat apa?" Tanya Ridhika, sambil menghempaskan diri di atas sofa. Tangannya dengan gesit mencomot sepotong kue kering dari salah satu toples yang sedang dikemas Ibu. Melahapnya tanpa peduli dengan delikan wanita setengah baya itu. "Undangan dari Akademi Natyadharma." "Uhuk! Uhuk!" Ridhika tersedak hebat sampai tubuhnya nyaris terjengkal. Dengan gelagapan dia berlari menuju dapur. Mencari-cari gelas dan menuangkan air dengan tergesa hingga sempat tumpah-tumpah ke lantai. "Apa?!" Serunya keras begitu berhasil menghentikan batuknya. "Ibu bilang, rekrutmennya hanya terjadi setiap 100 tahun sekali. Ini baru menjelang 10 tahun sejak rekrutmen terakhir." "Mungkin Adhyaksa sedang menciptakan cerita baru." "Persetan Adhyaksa! Aku tidak mau masuk sekolah itu!" "Ridhika, ini bukan tempat dimana kamu bisa memilih," balas Ibu, dengan mata tertunduk. Namun, jemarinya terlihat gemetar. "Setidaknya dengan bergabung di sana. Kehidupanmu akan jadi lebih nyaman daripada di sini." "Tapi, kan- ... aarrghhh!" Ridhika mondar-mandir di depan Ibu, secara spontan mulai menggigiti kukunya, "Ibu kan tahu apa artinya kalau aku diundang masuk ke sana. Artinya aku mewarisi peran leluhur dan harus menjadi calon arang entah di dunia cerita mana!" Ridhika menatap Ibu memelas. Meskipun Akademi Natyadharma menjamin bahwa semua alumninya akan ditempa untuk menjadi pemeran cerita yang melegenda, seperti halnya Bawang Putih, Candra Kirana atau Timun Mas, dia tidak akan pernah bisa menjadi salah satu dari mereka. Para alumni seperti tokoh-tokoh itu beruntung, karena mereka protagonis. Semua akan berakhir bahagia. Akan tetapi keturunan antagonis seperti dirinya tidak punya kesempatan secemerlang itu. Pada titik tertentu, dia akan mati mengenaskan. Lalu, 100 tahun kemudian, keturunannya yang lain harus melanjutkan takdir yang sama. Hanya sebatas itulah nilai yang diberikan Akademi terkutuk itu pada kehidupan mereka. Selama ini, dia merasa cukup aman, karena berdasarkan perhitungan rekrutmen Akademi, seharusnya dia bukanlah keturunan yang mendapat giliran untuk memiliki cerita sendiri. Tapi, apa ini sekarang?! "Bu," Ridhika berlutut di depan Ibu. Mengiba. Berharap ada cara baginya untuk menolak undangan tersebut. Namun, tidak ada riak sama sekali pada raut wajah Ibu. Hanya kosong. Iris mata wanita itu menatap hampa wajah Ridhika, seolah tidak memiliki semangat untuk dibagi pada anak perempuannya tersebut. Malah, Ridhika cuma bisa menyaksikan dengan pandangan nanar, bagaimana Ibu mengambil sepucuk amplop dari dalam laci meja kopi, lalu mengangsurkannya pada dirinya. "Kalau saja ada tempat di dunia ini yang bebas dari pengawasan mereka, sejauh apa pun itu, Ibu akan bawa kamu ke sana. Bahkan, kalau harus mengorbankan diri Ibu sendiri," ungkap Ibu dengan suara serak. "Tapi, tempat itu tidak ada, Ridhi." Ada lapisan kabut tipis terbentuk di permukaan mata Ridhika setelah mendengarkan perkataan Ibu. Dia paham betul mengapa Ibu menyikapi undangan tersebut dengan datar. Setelah semua, wanita itu dibesarkan oleh orangtua yang menuntut agar peraturan harus selalu ditaati. Ditambah lagi, memang betul, mata Akademi Natyadharma melekat pada semua orang. Tidak ada yang bisa menghindar. Tiba-tiba dadanya dipenuhi rasa marah. Dengan kasar dibukanya amplop itu. Kalau memang tidak ada cara untuk menghindar, maka sekalian saja dia porak-porandakan isinya. Namun, semakin banyak kalimat yang Ridhika baca, semakin tidak mengerti pula dia dengan apa yang tertera di dalam surat undangan. Secara perlahan, kemarahannya berganti menjadi bingung, tidak percaya, lalu kosong sama sekali. Dia secara spontan menengadah, menatap Ibu dengan mata bergetar. Namun, tidak sepatah kata pun bisa terucap dari bibirnya. Bolak-balik dia mengalihkan pandangan ke arah lain, lantas kembali lagi ke surat itu. Diterpa keinginan yang tidak terkendali untuk menertawakan apa yang sedang terjadi padanya. "Nak." Ibu ikut berlutut di depan Ridhika, menatap khawatir pada anaknya yang menunjukkan ekspresi tidak wajar. "Ada apa?" "Bu, ini." mulut Ridhika sekali lagi terkunci. Dijatuhkannya si surat ke lantai, lantas dengan gemetar bangkit dengan berpegangan pada lengan Ibu. Tanpa tenaga beranjak menuju kamar. Mengunci diri. Membiarkan Ibu dan segudang pertanyaan tertinggal di belakang, bersama sepucuk surat yang di atasnya tertera sebuah kalimat tidak terduga. "Kami menyambut Ridhika Maya sebagai siswi terbaru kelas Protagonis Akademi Natyadharma."Bukan sekali dua kali saja Ridhika diam-diam menyesali keputusannya untuk bersedia diajak mendaki oleh Bagastya pagi itu. Bukannya apa! Dia tidak menyangka bahwa mereka akan melakukannya di pagi buta seperti sekarang! Dipadukan dengan jalan pendakiannya yang sangat berbatu dan hawa pegunungan yang dingin sekali, dia merasa seperti sudah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kolam es.Bagastya yang merasakan tangan Ridhika dalam genggamannya terus gemetar juga berupaya untuk berjalan lebih cepat agar bisa segera tiba di puncak. Namun, apa daya, pasangannya itu sendiri terlalu tidak berenergi untuk bisa mengimbangi laju langkahnya. Pada titik ini, bahkan dia pun sudah mulai menyesali keputusannya menjadikan pendakian sebagai acara kencan terakhir mereka sebelum kembali ke akademi nanti sore."Sudah, tinggalkan saja aku disini," ujar Ridhika sambil menyentakkan tangan Bagastya hingga genggaman mereka lepas. "Aku tidak kuat lagi. Teleponkan Tim SAR untuk membawaku turun."Melihat sang pa
Malam berikutnya "berkencan" bersama Bagastya sepenuhnya menguatkan keyakinan Ridhika bahwa desa pria itu memang mendapatkan pendanaan yang baik dari pemerintahnya. Mengapa demikian? Sebab, entah karena waktu kedatangan mereka saja yang tepat atau karena warga di desa tersebut memang senang sering-sering menghibur diri sendiri, setiap hari sepertinya selalu ada hiburan baru. Kemarin karnaval, malam ini pemutaran film di lapangan, besok akan ada apa lagi?Suasana malam itu pun cukup mendukung bagi Ridhika untuk mengkategorikannya sebagai acara kencan yang sukses. Bagastya sudah membelikannya cukup banyak cemilan serta minuman, dan mereka duduk di tempat yang tidak begitu sesak tetapi masih memungkinkan untuk melihat layar dengan nyaman. Jika ada hal yang bisa merusak kombinasi sempurna ini, maka itu hanyalah alur filmnya yang sangat bodoh!"Kenapa sih dia masih mau kembali pada pria itu?! Dia sudah gila, ya?!" Keluh Ridhika frustasi ketima mereka sudah sampai pada bagian dimana si toko
Sewaktu Ridhika masih tinggal di desa, ada sepasang anak yang mengklaim bahwa mereka berpacaran. Makanya, kedua orang itu sering terlihat pergi bersama, bertukar hadiah atau memanggil satu sama lain dengan nama yang ... agak aneh untuk didengar. Akan tetapi, sungguh bukan itu masalahnya!Masalah sebenarnya adalah suatu hari si gadis pernah melabrak Ridhika ke rumah dan menuduhnya menggoda sang kekasih. Ibu Ambar sampai harus berkali-kali meminta maaf agar si bodoh itu mau pergi, padahal jelas-jelas Ridhika tidak tahu apa-apa! Sejak saat itu, meski dia tidak terlalu paham konsep berpacaran, Ridhika selalu menganggap bahwa orang-orang yang melakukannya pastilah kurang kerjaan.Namun, dia tidak menyangka akan ada saatnya dimana dia menjadi bagian dari orang kurang kerjaan itu dan ternyata ... tidak begitu membencinya."Kau mau hadiah yang mana" Tanya Bagastya, membuat Ridhika segera melayangkan pandangan ke arah semua seleksi hadiah yang bisa mereka dapatkan apabila pria itu berhasil men
Pemandangan pertama yang dilihat Ridhika ketika turun dari sepeda motor Bagastya adalah seorang wanita paruh baya berkebaya hijau yang sedang memindahkan beberapa tangkai bunga mawar putih dari pot ke tanah. Lalu, pada saat wanita tersebut menyadari kedatangan mereka, dia segera meninggalkan kesibukannya, membersihkan tangan menggunakan kain jarik yang dikenakannya untuk menyambut dengan senyuman.Ridhika tahu dia seharusnya berjalan ke arah wanita itu. Akan tetapi, rasa gugup yang tiba-tiba menyerang membuatnya justru membatu di depan pekarangan, selagi berusaha membalas senyuman si wanita dengan menarik paksa kedua ujung bibirnya. Tindakan yang kemudian dia sadari pasti membuatnya tampak bodoh.Bagastya, di sisi lain, sama sekali tidak membantu. Bukannya menenangkan atau setidaknya mencairkan suasana agar Ridhika bisa bersikap lebih natural, pria itu malah tertawa kecil seraya menyenggol bahunya, lantas berlalu begitu saja."Hm, Bagastya Dewa," panggil wanita tersebut dengan nada me
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.