Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis

Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis

last update最後更新 : 2026-06-03
作者:  daydreammm_ms連載中
語言: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
評分不足
6章節
5閱讀量
閱讀
加入書架

分享:  

檢舉
作品概覽
目錄
掃碼在 APP 閱讀

故事簡介

Drama

Wanita Kuat

Identitas Tersembunyi

Villainess

Villain

Kampus/Sekolah

Pembalasan Dendam

Membalikkan Keadaan

Misteri

Semua orang mengetahui kemahsyuran Akademi Natydharma. Sebuah sekolah yang dibangun khusus untuk mendidik manusia berdasarkan peran tertentu, agar bisa menjalankan dunia cerita sesuai dengan naskah yang diberikan oleh Kepala Sekolahnya, Adhyaksa. Selama berabad-abad, akademi ini telah berhasil mencetak alumni-alumni genius yang sukses berperan dalam cerita legendaris. Dari Malin Kundang hingga Sangkuriang, Candra Kirana hingga Bawang Putih, semua adalah siswa/i yang mereka didik untuk menjadi sempurna. Akademi yang menentukan peran siswa/i nya berdasarkan warisan peran yang diterima leluhur mereka masing-masing ini telah menjadi simbol keagungan bagi para Protagonis, sekaligus ketakutan bagi para Antagonis, Peran Pendukung, serta Peran Figuran. Tentu saja! Bayangkan, seluruh hidupmu hanya didedikasikan untuk menjadi pion yang membawa Protagonis menuju puncak emas. Tidak adil! Demikianlah, yang dipikirkan oleh Ridhika Maya. Seorang gadis berusia 17 tahun yang mewarisi peran Antagonis dari leluhurnya, Calon Arang. Sekuat tenaga dia menolak untuk menerima undangan masuk ke Akademi tersebut. Sayangnya, dia tidak bisa menghindar. Pada akhirnya, dia harus tetap pergi dan terlibat dalam segala intrik para siswa/i untuk menjadi yang terbaik. Di sana, dia bertemu banyak orang, yang tidak hanya mengubah perspektifnya mengenai baik dan buruk, tetapi juga memperlihatkan padanya bagaimana busuknya sistem yang berjalan di belakang megahnya gedung Akademi Natydharma.

查看更多

第 1 章

Chapter 1 = Undangan Khusus =

"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar.

"Ih! Kenapa, sih?!"

"Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas."

"Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan Calon Arang mau lewat, sebentar lagi!"

"Hah?! Duh, kami pergi saja deh kalau begitu," balas salah satu wanita sambil menarik lengan temannya agar segera menghindar.

"Memangnya kenapa, sih? Pasar ini kan bukan milik dia!" Sungut wanita yang lain.

"Sst! Jangan cari masalah. Eh! Itu dia! Ayo, kita pergi saja."

Ridhika menyaksikan melalui sudut matanya bagaimana gerombolan pengunjung di pasar segera menghindar begitu dia datang. Disusul oleh suasana riuh yang seketika berubah hening, serta anak-anak yang ikut orangtuanya berbelanja dengan takut-takut mengintip dari balik tiang toko. Aktivitas jual beli seolah terhenti dalam sekejap, meninggalkan atmosfer yang terasa berat.

Dulu, perlakuan seperti itu selalu berhasil membuatnya terganggu. Dia pikir, orang bodoh macam apa yang menilai karakter seseorang hanya berdasarkan karakter nenek moyangnya yang bahkan sudah meninggal ratusan tahun lalu?

Meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Sampai suatu hari, salah satu anak memukulnya dengan sebuah bata, tanpa sebab apapun. Lalu, lari bersama teman-temannya sambil cekikikan, seolah telah berhasil mencapai sesuatu yang sangat mengesankan.

Orang-orang dewasa yang menyaksikan peristiwa tersebut tidak menegur, tidak pula mencoba membantu. Satu persatu dari mereka hanya berlalu melewatinya dengan lirikan tidak peduli. Seorang nenek tua bahkan mencibir mengatakan bahwa itu adalah akibatnya kalau dia mengganggu anak-anak lain.

"Tapi, aku kan tidak mengganggu mereka," ujarnya dengan suara pelan, menunduk menatap tubuh kecilnya yang kotor karena didorong hingga jatuh. "Aku ... cuma mau ikut main."

Ridhika ingat mendengar si nenek mendengkus sewot, sebelum ikut pergi menjauh. Meninggalkannya dengan banyak pertanyaan tentang mengapa justru dia yang disalahkan? Mengapa bukan anak-anak nakal itu saja yang dicap sebagai penjahat?

Di rumah, Ibu mengobati keningnya yang terluka dengan raut datar. Namun, dia bisa melihat bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipi wanita itu.

"Mulai sekarang, Ridhi main di rumah saja, ya. Sama Ibu," ujar wanita itu, sambil mengelus kepala Ridhika lembut dengan seulas senyum yang terlihat sendu.

Pada saat itulah Ridhika memutuskan, bahwa dia tidak akan membiarkan masa kecilnya habis dilahap rasa sedih dan tertekan hanya karena manusia-manusia dengan pemikiran sempit itu.

Mengingat peristiwa tersebut membuat keningnya berdenyut. Luka dari pukulan bata bertahun-tahun lalu itu sudah lama hilang tanpa bekas, namun rasa nyerinya masih suka datang sewaktu-waktu.

Seolah hendak memperparah keadaannya, tepat setelah kakinya melangkah keluar dari area pasar, tempat itu langsung ramai kembali hanya dalam hitungan detik.

Ridhika menoleh ke belakang sambil mengernyit. Perasaannya campur aduk antara tidak habis pikir dan kesal. Andai saja dia mewarisi kekuatan Calon Arang, di momen itu dia ingin sekali melemparkan sebuah bola api ke sana. Sayangnya, dia tidak memiliki kekuatan semacam itu, jadi yang bisa dilakukannya hanya memutar bola mata, lantas lanjut berjalan. Menuntun sepedanya yang ban-nya bocor menuju rumah.

===

"Ada surat untukmu."

Demikianlah yang Ibu katakan begitu melihat Ridhika tiba di ambang pintu.

"Surat apa?" Tanya Ridhika, sambil menghempaskan diri di atas sofa.

Tangannya dengan gesit mencomot sepotong kue kering dari salah satu toples yang sedang dikemas Ibu. Melahapnya tanpa peduli dengan delikan wanita setengah baya itu.

"Undangan dari Akademi Natyadharma."

"Uhuk! Uhuk!"

Ridhika tersedak hebat sampai tubuhnya nyaris terjengkal. Dengan gelagapan dia berlari menuju dapur. Mencari-cari gelas dan menuangkan air dengan tergesa hingga sempat tumpah-tumpah ke lantai.

"Apa?!" Serunya keras begitu berhasil menghentikan batuknya. "Ibu bilang, rekrutmennya hanya terjadi setiap 100 tahun sekali. Ini baru menjelang 10 tahun sejak rekrutmen terakhir."

"Mungkin Adhyaksa sedang menciptakan cerita baru."

"Persetan Adhyaksa! Aku tidak mau masuk sekolah itu!"

"Ridhika, ini bukan tempat dimana kamu bisa memilih," balas Ibu, dengan mata tertunduk. Namun, jemarinya terlihat gemetar. "Setidaknya dengan bergabung di sana. Kehidupanmu akan jadi lebih nyaman daripada di sini."

"Tapi, kan- ... aarrghhh!" Ridhika mondar-mandir di depan Ibu, secara spontan mulai menggigiti kukunya, "Ibu kan tahu apa artinya kalau aku diundang masuk ke sana. Artinya aku mewarisi peran leluhur dan harus menjadi calon arang entah di dunia cerita mana!"

Ridhika menatap Ibu memelas. Meskipun Akademi Natyadharma menjamin bahwa semua alumninya akan ditempa untuk menjadi pemeran cerita yang melegenda, seperti halnya Bawang Putih, Candra Kirana atau Timun Mas, dia tidak akan pernah bisa menjadi salah satu dari mereka.

Para alumni seperti tokoh-tokoh itu beruntung, karena mereka protagonis. Semua akan berakhir bahagia. Akan tetapi keturunan antagonis seperti dirinya tidak punya kesempatan secemerlang itu. Pada titik tertentu, dia akan mati mengenaskan. Lalu, 100 tahun kemudian, keturunannya yang lain harus melanjutkan takdir yang sama. Hanya sebatas itulah nilai yang diberikan Akademi terkutuk itu pada kehidupan mereka.

Selama ini, dia merasa cukup aman, karena berdasarkan perhitungan rekrutmen Akademi, seharusnya dia bukanlah keturunan yang mendapat giliran untuk memiliki cerita sendiri. Tapi, apa ini sekarang?!

"Bu," Ridhika berlutut di depan Ibu. Mengiba. Berharap ada cara baginya untuk menolak undangan tersebut.

Namun, tidak ada riak sama sekali pada raut wajah Ibu. Hanya kosong. Iris mata wanita itu menatap hampa wajah Ridhika, seolah tidak memiliki semangat untuk dibagi pada anak perempuannya tersebut.

Malah, Ridhika cuma bisa menyaksikan dengan pandangan nanar, bagaimana Ibu mengambil sepucuk amplop dari dalam laci meja kopi, lalu mengangsurkannya pada dirinya.

"Kalau saja ada tempat di dunia ini yang bebas dari pengawasan mereka, sejauh apa pun itu, Ibu akan bawa kamu ke sana. Bahkan, kalau harus mengorbankan diri Ibu sendiri," ungkap Ibu dengan suara serak. "Tapi, tempat itu tidak ada, Ridhi."

Ada lapisan kabut tipis terbentuk di permukaan mata Ridhika setelah mendengarkan perkataan Ibu. Dia paham betul mengapa Ibu menyikapi undangan tersebut dengan datar. Setelah semua, wanita itu dibesarkan oleh orangtua yang menuntut agar peraturan harus selalu ditaati. Ditambah lagi, memang betul, mata Akademi Natyadharma melekat pada semua orang. Tidak ada yang bisa menghindar.

Tiba-tiba dadanya dipenuhi rasa marah. Dengan kasar dibukanya amplop itu. Kalau memang tidak ada cara untuk menghindar, maka sekalian saja dia porak-porandakan isinya.

Namun, semakin banyak kalimat yang Ridhika baca, semakin tidak mengerti pula dia dengan apa yang tertera di dalam surat undangan. Secara perlahan, kemarahannya berganti menjadi bingung, tidak percaya, lalu kosong sama sekali.

Dia secara spontan menengadah, menatap Ibu dengan mata bergetar. Namun, tidak sepatah kata pun bisa terucap dari bibirnya. Bolak-balik dia mengalihkan pandangan ke arah lain, lantas kembali lagi ke surat itu. Diterpa keinginan yang tidak terkendali untuk menertawakan apa yang sedang terjadi padanya.

"Nak." Ibu ikut berlutut di depan Ridhika, menatap khawatir pada anaknya yang menunjukkan ekspresi tidak wajar. "Ada apa?"

"Bu, ini." mulut Ridhika sekali lagi terkunci.

Dijatuhkannya si surat ke lantai, lantas dengan gemetar bangkit dengan berpegangan pada lengan Ibu. Tanpa tenaga beranjak menuju kamar. Mengunci diri. Membiarkan Ibu dan segudang pertanyaan tertinggal di belakang, bersama sepucuk surat yang di atasnya tertera sebuah kalimat tidak terduga.

"Kami menyambut Ridhika Maya sebagai siswi terbaru kelas Protagonis Akademi Natyadharma."

展開
下一章
下載

最新章節

更多章節

致讀者

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

暫無評論。
6 章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status