Share

Bab 76

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-06-21 23:16:41

"Jadi, gue disuruh ke rumah lo buat liatin lo bengong doang?"

Martin membalikkan komik Vino yang ia dapatkan di laci bocah itu.

Setelah bosen bermain ponsel selama menunggu tujuan Vino mengajaknya datang ke rumahnya beres kelas, namun yang laki-laki itu lakukan hanya diam berbaring di atas ranjang, Martin menemukan kesibukan baru yaitu membaca komik yang ia dapatkan usai mengobrak-abrik laci Vino.

Tapi tetap saja ujung-ujungnya rasa bosan itu datang lagi.

Martin melarikan lagi matanya pada Vin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 82

    "Aku nggak mau kalo kamu sampai macem-macem sama Fero."Untuk kesekian kalinya, Bita memberikan peringatan pada Vino. Duduk menyamping di atas motor dengan tangan bersedekap dada, Vino mendengus dari balik helmnya. "Emang gue mau ngapain Fero? Muka gue keliatan kayak kriminal?"Helm yang sudah terpasang di kepalanya, membuat wajah Vino hanya terlihat separuh. Namun dari bagian matanya yang tampak, Bita jelas melihat kilat bahaya yang cukup membuatnya yakin kemana semua ini akan bermuara."Kalo tujuan kamu mengajak Fero ke rumah kamu supaya kamu bisa leluasa menekannya, aku nggak akan ngomong sama kamu satu tahun full.""Emang tahan? Gue kecup dikit desah juga lo."Netra Bita membulat besar. "Vino!" Ditaboknya lengan laki-laki itu."Bener, kan?""Udah aku bilang jangan ngomong aneh-aneh di kampus!""Kalo di kamar boleh berarti?" Vino mencekal pergelangan tangan Bita yang hendak melayangkan p

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 81

    "Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 80

    "Lagi kumpul keluarga besar antar generasi ceritanya? Ikut, dong."Hening merayap di antara mereka. Tidak seorang pun terlihat berniat menjawab pertanyaan Vino."Kalo kamu mau merusuh, jangan sekarang. Kami lagi belajar buat ujian nanti." Bita menjatuhkan peringatan.Vino menyipitkan matanya pada Bita yang menatapnya datar. "Siapa yang mau merusuh? Orang gue cuma duduk dan pengen liat proses belajar kalian."Diambilnya catatan Fero tanpa permisi. "Sebagai anak manajemen, gue menyimpan banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang dikerjakan anak-anak akuntansi yang manis-manis ini."Sasha menampilkan raut jijik sebelum beringsut meninggalkan kursinya dengan alasan ingin meminjam buku di perpustakaan.Vino memindahkan perhatiannya dari Sasha yang menyambar bukunya lalu melipir dengan langkah kaki tergesa ke laki-laki asing di depannya. "Lo nggak ikutan pergi? Tiba-tiba pengen ngapain gitu? Kebelet boker?"Bagas menggelengka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 79

    Bita menghela napas panjang sambil memandangi catatannya. "Aku masih suka ketuker antara biaya sama beban.""Nah!" Sasha menjentikkan jarinya. "Aku juga. Perasaan sama-sama keluar uang. Kenapa dosen ngotot bilang beda?""Karena memang beda."Bita dan Sasha serentak menoleh pada Fero. Bersama Bagas, Fero kembali bergabung di gazebo dengan kedua gadis itu guna mempersiapkan ujian berikutnya.Bagas menunjuk Fero. "Bener, kan? Udah gue bilang dia google berjalan, Kak. Gerak dikit udah bisa buka kuliah umum. Coba apa bedanya, Fer. Gue juga mau tau."Pipi Fero sedikit memerah. Namun setelah didesak tatapan penasaran dua mahasiswi itu, ia akhirnya melanjutkan."Biaya itu lebih ke pengorbanan sumber daya untuk memperoleh manfaat ekonomi. Sementara beban adalah bagian dari biaya yang manfaat ekonominya sudah dipakai dalam periode berjalan."Bita berkedip. "Bisa pake bahasa bayi?"Fero tertawa kecil."Misalnya pe

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 78

    Bita turun dari motor ojek online tepat di depan gerbang rumah. Di tangannya tergenggam segelas matcha mint latte ukuran sedang yang dibelinya dalam perjalanan pulang.Gelas plastik bening itu masih dingin. Butiran embun menempel di permukaannya, sementara warna hijau pucat minuman di dalamnya tampak kontras dengan tutup transparan yang membungkus bagian atas.Bita menatap minuman tersebut beberapa detik. Kemudian menatap rumah di seberang. Lebih tepatnya pada mobil toyota sedan yang sudah terparkir di teras. Niat Bita ingin memberikan minuman ini untuk Vino supaya mereka bisa berdamai. Meski jelas dengan Vino terlebih dulu mengirimnya pesan membuktikan bahwa laki-laki itu tidak lagi memendam amarah, namun tetap saja Bita kesulitan menyingkirkan rasa canggung yang mengganjal di dadanya.Bagaimanapun juga, mereka baru saja melalui perang dingin tersengit setelah percakapan yang berakhir tidak menyenangkan di basement kampus. Banyak dari ucapan Bit

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 77

    "Kak Bita baru selesai kelas?"Fero menghampirinya di depan gedung fakultas yang sudah lumayan sepi. Bita yang baru akan memesan ojek online sontak menatap was-was sekitar sebelum sadar Vino sudah pulang dari siang tadi. Setelah lebih dari satu jam menganggurkan pesannya, Vino akhirnya membalasnya dengan mengatakan ia tidak jadi menemuinya di gazebo, dan meminta maaf karena tidak bisa mengantarnya pulang seperti janjinya. Ada urusan dengan Martin, katanya.Bita mengangguk. "Kamu ada kelas sore juga?"Fero meringis canggung. Gerakan tangannya yang mengusap leher terlihat kikuk. "Nggak ada sih Kak. Cuma ... ada yang mau aku omongin sama Kak Bita."Genggaman tangan Bita di ponsel tanpa sadar mengencang. "Kenapa nggak lewat chat aja? Atau telpon? Daripada nunggu lama. Mana kamu nungguin sendirian, kan?"Bita sangat berharap sesuatu yang sedang akan dibicarakan Fero bukan tentang perasaannya.Sebab, akan lebih mudah bagi Bita mengatakan penolakan lewat sambungan telepon. Daripada Bita ha

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 71

    Tidak susah menemukan keberadaan Vino yang langsung terlihat dari pintu masuk. Bersandar di samping mobil dengan kedua tangannya terlipat di dada. Dalam kondisi penerangan yang minim, Bita masih mampu merasakan sorot mata Vino mengikuti kakinya yang melangkah menipiskan jara

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 70

    "A-aku ..."Tidak ada yang lebih membahagiakan Vino saat ini selain melihat wajah Fero berubah pias. Dengan pandangan menunduk selayaknya orang bersalah serta mulut yang belepotan merangkai kata, Fero bagai badut yang menghibur mata Vino."Kamu pernah juara olimpiade nasional?"

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 57

    Perasaan bahagia menghantarkan Fero keluar dari bangunan perpustakaan. Meski sempat patah hati karena perasaannya tertolak, namun tak membuat Fero menjadi putus asa. Ditolak sekali bukan berarti akan terusan di tolak. Ini baru permulaan. Fero masih bisa mencoba mendekati

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 56

    "Coba Kak Bita buka." Bita membuka tutup bulat itu perlahan. Aroma mentega dan vanila samar langsung menyeruak begitu terbuka. Di dalamnya tersusun belasan keping cookies kering berwarna cokelat keemasan. Bentuknya tidak sepenuhnya bulat sempurna. Beberapa sisinya sedikit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status