MasukKeheningan yang ditinggalkan oleh Dr. Adrian Mahesa terasa lebih bising daripada teriakan apa pun. Dara dan Riana duduk membeku di bangku taman, tawa mereka yang tadinya renyah kini terasa seperti pecahan kaca di tenggorokan. Wajah Riana pucat, sementara Dara merasa seluruh darah di tubuhnya telah mengalir ke kaki, membuatnya berat dan dingin.
"Dia... dia denger nggak ya, Dar?" bisik Riana, suaranya gemetar.
Dara tidak bisa menjawab. Ia tahu jawabannya. Tentu saja dia dengar. Cara Adrian berjalan melewatinya tanpa sedikit pun melirik, dengan aura yang seribu kali lebih dingin dari biasanya, adalah konfirmasi yang lebih dari cukup. Ia terlihat tidak marah dan tidak tersinggung. Ia jauh di atas itu semua. Ia hanya menghapus eksistensi Dara dari radarnya. Bagi seorang mahasiswa yang kelangsungan hidup akademisnya bergantung pada satu orang, itu adalah hukuman mati.
"Mampus gue, Ri. Mampus," desis Dara, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Selesai sudah riwayat skripsi gue. Bisa-bisa gue nggak lulus tahun ini."
"Jangan gitu, ah! Lebay, deh. Masa cuma gara-gara itu?" Riana mencoba menghibur, meskipun ia sendiri tidak yakin. "Palingan dia cuek aja. Dia kan emang gitu, nggak pedulian."
"Cuek sama benci itu beda tipis, Ri," balas Dara getir. "Dan barusan, gue udah ngasih dia alasan buat benci sama gue seumur hidup."
Malam itu, kamar kos Dara yang biasanya terasa nyaman dan aman berubah menjadi ruang penyiksaan. Tumpukan jurnal dan buku teori di mejanya seolah mengejeknya. Draf skripsi yang penuh coretan merah tergeletak seperti mayat di atas meja, dan setiap kali Dara mencoba membacanya, kalimat-kalimat di sana seolah menari-nari, membentuk wajah dingin Adrian Mahesa.
Pikirannya buntu. Setiap ide yang coba ia rangkai untuk memperbaiki Bab 2 terasa dangkal dan bodoh. Bayangan tatapan tajam Adrian dan gema kata-katanya sendiri—"Ganteng tapi gay, percuma!"—terus berputar di kepalanya seperti memori dengan mantan. Ia sendirian, terisolasi dalam kepanikan akademisnya.
Ponselnya bergetar hebat di atas meja. Nama Riana muncul di layar.
"Nggak usah ngomong," sembur Riana begitu Dara mengangkat telepon. "Gue tahu lu lagi meratapi nasib sambil melototin laptop. Nggak akan ada gunanya, Dar. Otak lu udah buntu. Sekarang, dengerin gue. Mandi, pakai baju paling bagus yang lu punya, dandan. Setengah jam lagi gue jemput. Kita perlu happy!"
"Happy? Ri, lu gila ya? Deadline gue tiga hari!" pekik Dara, suaranya meninggi karena stres.
"Justru itu! Lu nggak akan bisa ngerjain apa-apa dengan kondisi kayak gini. Kita keluar sebentar. Sebentar aja. Kita lupain dosen gay itu buat beberapa jam. Besok pagi, bisa mulai lagi dengan kepala lebih jernih. Percaya sama gue. Gue merasa bersalah udah mancing lu ngomong tadi. Ini cara gue nebus dosa," kata Riana dengan nada memaksa yang tidak bisa dibantah.
Dara ingin menolak. Sungguh. Bagian otaknya yang masih waras berteriak bahwa ini adalah ide terburuk di dunia. Tapi bagian lainnya, bagian yang lelah, putus asa, dan haus akan pelarian sekecil apa pun, berbisik bahwa Riana ada benarnya. Ia butuh jeda, dan ia butuh melarikan diri dari pikirannya sendiri.
"Oke," desah Dara akhirnya, menyerah. "Tapi cuma sebentar."
"Janji!" seru Riana riang di seberang telepon. "Siap-siap, ya, cantik!"
***
Satu jam kemudian, sebentar versi Riana ternyata adalah sebuah klub malam di pusat kota yang berdentum dengan musik house yang memekakkan telinga. Lampu strobo yang menyilaukan menari liar, membelah kerumunan orang yang bergerak seperti satu organisme besar di lantai dansa. Udara terasa tebal oleh campuran asap rokok elektrik, parfum, dan aroma alkohol yang tajam.
Bagi Dara, ini adalah dunia lain. Dunia yang begitu jauh dari perpustakaan yang hening dan koridor fakultas yang steril. Awalnya ia merasa canggung, hanya menyesap cocktail berwarna biru yang dipesankan Riana sambil mengamati hiruk pikuk di sekitarnya. Tapi dentuman bass yang ritmis itu perlahan merayap masuk ke dalam aliran darahnya. Gelas pertama membuatnya sedikit rileks. Gelas kedua membuatnya mulai menggerakkan kepalanya mengikuti irama. Setelah gelas ketiga, Riana berhasil menyeretnya ke tengah lautan manusia di lantai dansa.
Dan di sanalah Dara menemukan kebebasannya.
Ia menari. Bukan tarian yang anggun, melainkan gerakan lepas yang didorong oleh frustrasi dan alkohol. Ia melompat, mengayunkan tangannya, memutar tubuhnya, membiarkan setiap dentuman musik menghapus satu per satu kecemasannya. Wajah dingin Adrian, coretan merah di skripsinya, rasa malu yang membakar membuat semuanya larut dalam keringat dan kesenangan sesaat. Untuk pertama kalinya sepanjang hari, ia tidak memikirkan tentang skripsinya.
Beberapa jam terasa seperti beberapa menit. Mereka kembali ke meja mereka yang sedikit terpencil, tertawa terbahak-bahak dengan napas terengah-engah. Wajah Dara memerah, bukan lagi karena malu, tapi karena alkohol dan gerakan dance-nya. Dunia terasa miring dengan cara yang menyenangkan.
"Gila, Dar! Lu... lu jago banget jogetnya!" seru Riana, suaranya sedikit cadel. Ia menenggak sisa minumannya sebelum menatap Dara dengan tatapan yang tiba-tiba serius.
"Dar... hei, dengerin gue," katanya sambil mengguncang lengan Dara pelan. "Gue seneng lu seneng, tapi... jangan lupa, ya. Lu... lu masih punya tugas."
Dara mengerutkan keningnya yang terasa berat. "Tugas? Tugas apaan?"
"Itu... email... revisi buat Pak Adrian," ujar Riana, berusaha terdengar bertanggung jawab di tengah pengaruh alkohol. "Batasnya... Selasa, kan? Jangan sampai lupa kirim email. Malem ini kita pulang jam 1, oke! Berhenti minumnya!"
"Email?"
Kata itu seperti kunci yang membuka sebuah pintu yang salah di dalam kepala Dara yang sudah kacau. Alih-alih memicu kembali kepanikan, nama itu justru menyulut bara api pemberontakan yang aneh, yang telah diberi bahan bakar oleh tiga gelas Blue Lagoon. Rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh semacam keberanian cair yang berbahaya.
Ia meraih ponselnya dari atas meja. Jemarinya terasa sedikit kebas dan tidak sinkron saat ia membuka kunci layar. Tapi mantannya kini mengirim pesan kepada, Dar. Seolah mengingatkan Dar akan tugas yang lainnya.
["Dar-dar sayang..."]
Dara dan mantannya punya hubungan yang rumit. Saat masih menjalin hubungan, ponsel Dara pernah rusak dan Dara minta tolong ke mantannya, Arkan. Untuk memperbaiki ponselnya. Alih - alih di perbaiki, justru Arkan meng-copy isi memory ponsel Dara dan menemukan foto - foto serta video pribadi Dara.
Sejak saat itu, hubungan mereka tidak benar - benar putus. Dara dipaksa mengirimkan foto terbaru setiap minggunya oleh Arkan, kalau tidak mau. Arkan mengancam akan menyebarkan isi memory yang sudah ia copy di laptopnya.
***
"Oh, iya. Email," gumam Dara. Matanya menyipit, berusaha fokus pada layar yang berpendar terang. Riana, mengira temannya akan membuat pengingat di kalender, kembali sibuk memesan minum lewat aplikasi di ponselnya.
Dara membuka aplikasi email berniat mengirim foto pribadinya ke Arkan seperti biasanya. Dengan gerakan yang terlalu mantap untuk orang mabuk, ia mengetik alamat email. Tapi karna pengaruh alkohol, Dar salah kirim, justru ia mengirim foto tersebut ke Adrian.
Kepada: adrian.mahesa@univ-ekonomi.ac.id.
Jarinya bergerak lincah, keluar dari aplikasi email dan masuk ke galeri foto. Ia melewati folder Camera Roll yang berisi foto-foto kuliah dan liburan yang membosankan. Ia menuju sebuah folder tersembunyi, yang dilindungi oleh kata sandi yang rumit. Folder bernama Arsip.
Ini adalah rahasia tergelapnya. Bahkan Riana pun tidak tahu. Dara suka memotret dirinya sendiri. Bukan swafoto biasa. Ini adalah potret-potret artistik dirinya tanpa busana. Dilakukan bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Ia menyukai caranya mengontrol cahaya dan bayangan, menonjolkan lekuk tubuhnya, menangkap ekspresi yang tidak pernah ia tunjukkan kepada dunia—sesuatu yang sensual, menantang, rentan, dan kuat. Itu adalah caranya merayakan tubuhnya dan sisi lain dari dirinya yang tersembunyi di balik citra mahasiswi teladan yang pendiam.
Dengan napas yang sedikit tertahan oleh campuran alkohol dan adrenalin, ia mulai memilih.
Foto pertama, sebuah foto hitam-putih. Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya menghadap kamera, menoleh sedikit ke belakang dengan tatapan mata yang tajam dan menantang. Cahaya dari jendela hanya menerangi separuh wajah dan bahunya, menciptakan misteri.
Foto kedua lebih eksplisit. Ia berbaring di atas seprai satin, rambutnya yang panjang tergerai menutupi sebagian payudaranya, satu tangannya diletakkan di atas perutnya. Ekspresinya sensual, bibirnya sedikit terbuka.
Foto ketiga favoritnya. Ia berdiri di depan cermin besar, hanya mengenakan kemeja putih longgar yang tidak dikancingkan, memperlihatkan lebih banyak daripada yang disembunyikan. Wajahnya di foto itu tersenyum tipis, sebuah senyum penuh rahasia dan percaya diri.
Tiga file bagai bom waktu digital.
Ia kembali ke draf email-nya. Dengan jari gemetar, ia menekan ikon lampiran dan memilih ketiga foto itu. Proses unggah hanya butuh beberapa detik.
Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia bisa merasakannya di tenggorokannya, berdentum selaras dengan musik di klub. Ini gila!
Tapi rasanya begitu menjijikan.
Ibu jarinya melayang di atas tombol Kirim. Segala kewarasan yang tersisa dalam dirinya berteriak, memohonnya untuk berhenti. Tapi suara itu tenggelam oleh desis alkohol dan bisikan pemberontakan. Kirim. Kirim. Kirim.
Ia menekannya.
Sebuah notifikasi kecil muncul di bagian bawah layar: Email Terkirim.
Selesai.
Dara meletakkan ponselnya di atas meja, layarnya menghadap ke bawah. Ia menatap Riana, yang masih sibuk dengan ponselnya. Sebuah senyum aneh, gemetar, dan sedikit gila tersungging di bibirnya.
"Kenapa muka lu jadi kesel gitu?" tanya Riana, akhirnya mengangkat kepala.
Dara mengambil gelasnya yang baru datang, mengangkatnya sedikit ke arah Riana.
Ia menenggak habis isi gelasnya dalam sekali teguk, membiarkan cairan dingin itu membakar tenggorokannya, mencoba memadamkan api yang baru saja ia nyalakan. Api yang ia tahu, cepat atau lambat, akan membakar dunianya hingga menjadi abu. Setidaknya ia akan terus mencari cara agar bisa lepas dari jeratan sang mantan.
---TBC---
Satu bulan kemudian.Kediaman Mahesa disulap menjadi venue pernikahan paling intim namun paling mewah yang pernah dilihat oleh segelintir tamu undangan. Tidak ada ribuan tamu atau standing party yang melelahkan. Hanya ada keluarga inti, kerabat dekat, dan tentu saja Riana yang menangis sesenggukan di pojokan sambil memegang tisu.Dara duduk di ruang rias, menatap pantulan dirinya di cermin. Kebaya putih rancangan Anne Avantie membalut tubuhnya dengan sempurna, menyamarkan perutnya yang mulai membuncit dengan potongan yang elegan. Bros antik pemberian Nyonya Ratna tersemat di dadanya, berkilau di bawah lampu kristal."Cantik," suara Nyonya Ratna terdengar dari arah pintu.Dara menoleh, sedikit terkejut. Ibu mertuanya itu masuk, mengenakan kebaya velvet merah marun yang membuatnya terlihat agung."Terima kasih, Bu," jawab Dara gugup.Nyonya Ratna berjalan mendekat, merapikan sedikit sanggul Dara. "Ingat, Dara. Menjadi istri Mahesa itu berat. Kamu akan jadi sorotan. Tapi melihat bagaiman
"Sore, Riana," sapa Adrian santai. Ia meletakkan nampan di meja, lalu duduk di sebelah Dara, merangkul pinggang Dara posesif. "Tolong pastikan Dara minum susunya ya. Dia suka bandel kalau nggak diawasin."Riana menunjuk mereka berdua dengan jari gemetar. "Bapak... Dara... Kalian...""Kami mau nikah bulan depan," kata Dara cepat, sebelum Riana stroke mendadak. "Dan ya, gosip hamil itu bener. Tapi bukan sama om-om. Sama dia." Dara menunjuk Adrian.BRUK.Riana benar-benar pingsan di karpet.***Setelah Riana sadar dan diberi teh manis hangat (oleh Adrian sendiri, yang membuat Riana hampir pingsan lagi), Adrian menjelaskan situasinya versi yang sudah disensor, tanpa bagian penculikan brutal dan pistol."Jadi..." Riana masih syok. "Lo bakal jadi Nyonya Adrian Mahesa? Lo bakal jadi istri dosen paling killer, paling kaya, dan paling ganteng di kampus?""Nasib, Na," canda Dara."Nasib apaan! Itu namanya jackpot!" seru Riana.Tiba-tiba, ponsel Riana berbunyi. Notifikasi grup angkatan meledak.
Adrian menggenggam tangan Dara. "Nanti, kalau anak kita lahir dan sudah sekolah, kamu bisa bangga cerita ke dia kalau ibunya lulus dengan nilai murni dari dosen paling killer di kampus, bukan karena nepotisme."Dara terdiam. Ia tahu Adrian benar. Justru karena dia calon istri Adrian, standarnya harus lebih tinggi. Orang-orang akan mencari celah untuk meremehkannya."Oke," Dara menghapus air matanya. "Saya revisi. Tapi...""Tapi apa?""Kalau saya berhasil benerin ini hari ini, Bapak harus pijitin kaki saya nanti malem. Kaki saya bengkak."Adrian tersenyum miring. "Deal. Tapi kalau masih salah, jatah nonton Netflix dipotong.""Kejam!""Adil, Sayang. Adil."Sore harinya, ketenangan belajar mereka terganggu oleh kedatangan iring-iringan tiga orang desainer ternama dan tentu saja, sang Ratu Ibu Suri, Nyonya Ratna.Para pelayan sibuk membawa masuk mannequin, gulungan kain sutra, dan katalog dekorasi setebal bantal.Dara, yang sedang bad mood karena revisi Bab 4, menatap horor ke arah ruang
Pagi di kediaman Mahesa, rumah mewah itu dimulai dengan suara kepanikan dari arah kamar mandi lantai bawah."Huekk..."Adrian, yang baru saja selesai jogging di treadmill ruang kebugaran pribadinya, langsung melempar handuknya ke sembarang arah begitu mendengar suara itu dari intercom yang terhubung ke ponselnya.Ia berlari menuruni tangga, masih dengan kaos olahraga yang basah oleh keringat, menerobos masuk ke kamar Dara tanpa mengetuk."Dara!"Di dalam kamar mandi, Dara sedang menunduk di wastafel, wajahnya pucat pasi. Ia baru saja memuntahkan air putih yang ia minum saat bangun tidur.Adrian dengan sigap memijat tengkuk Dara, tangan besarnya terasa hangat di kulit leher gadis itu yang dingin. "Masih mual? Saya panggil dokter lagi, ya?"Dara menggeleng lemah, membasuh mulutnya dengan air. Ia menegakkan tubuh, bersandar pada dada bidang Adrian tempat favorit barunya. "Nggak usah, Pak. Ini morning sickness biasa. Kata dokter wajar di trimester pertama.""Tapi kamu muntah terus dari ke
Dara tertegun. Kalimat itu terdengar klise di novel romantis, tapi keluar dari mulut Adrian Mahesa, itu terdengar seperti sumpah mati."Bapak... eh, kamu... beneran cinta sama aku?" tanya Dara, suaranya kecil dan ragu. "Maksudnya... cinta sebagai cewek? Bukan sebagai ibu dari anak kamu?"Adrian menghela napas panjang. Ia melepaskan pelukan sedikit, menangkup wajah Dara dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap pipi Dara."Dara," mulainya, suaranya rendah dan serak. "Saya ini dosen statistik. Saya hidup berdasarkan data dan logika. Probabilitas saya jatuh cinta pada mahasiswi skripsi yang ceroboh, keras kepala, dan suka membantah seperti kamu itu harusnya nol."Dara cemberut sedikit mendengar deskripsi itu."Tapi," lanjut Adrian, menempelkan keningnya ke kening Dara. "Kenyataannya, saat kamu hilang, dunia saya berhenti. Saya nggak bisa kerja. Saya nggak bisa makan. Yang ada di otak saya cuma kamu. Bukan bayi ini. Tapi kamu. Senyum kamu, omelan kamu, bahkan cara
Dua hari berlalu.Dara resmi menjadi tahanan rumah sakit atau lebih tepatnya, ratu rumah sakit. Adrian memindahkan kantornya ke ruang VVIP itu. Ia menyuruh sekretarisnya mengirim berkas-berkas penting, laptop, dan printer ke sana.Pemandangan itu cukup absurd. Di satu sisi ruangan, Dara berbaring santai sambil menonton Netflix. Di sisi lain, di meja makan yang disulap jadi meja kerja, Adrian Mahesa CEO perusahaan multinasional sedang memimpin rapat direksi via Zoom sambil mengenakan kemeja rapi di atas tapi celana training santai di bawah (karena tidak kelihatan kamera)."Ya, angka penjualan kuartal ini cukup stabil, tapi saya mau tim marketing menekan lagi di sektor digital..." Adrian bicara dengan nada otoriter ke laptopnya.Tiba-tiba, suara Dara terdengar. "Pak, saya mau pipis."Adrian langsung menekan tombol mute di laptopnya dengan kecepatan cahaya. Wajah profesionalnya berubah panik dalam sedetik."Tunggu, jangan bangun sendiri!" serunya. Ia meninggalkan rapat direksi yang beris







