Bimbingan Terlarang Dosen Gay
Dr. Adrian Mahesa, dosen muda yang dikenal dingin, cerdas, dan hampir mustahil digoda, selalu menjaga batas tegas antara dirinya dan mahasiswanya. Hingga suatu malam, sebuah email penelitian dari bimbingannya, Dara Prameswari, berisi lebih dari sekadar laporan. Ia mengirimkan beberapa foto nakal. Adrian tahu ia harus mengabaikannya, pura-pura tidak pernah melihat, dan tetap bersikap profesional. Namun godaan itu justru menyalakan bara yang selama ini ia tekan. Jika Adrian diam saja, sebutan Dosen gay akan selalu melekat pada dirinya.
“Setelah saya masukin. Kamu masih ngira saya ini, gay?”
WARNING BUKU DEWASA 21+
Read
Chapter: Bab 60 Kontrak baruDara tertegun. Kalimat itu terdengar klise di novel romantis, tapi keluar dari mulut Adrian Mahesa, itu terdengar seperti sumpah mati."Bapak... eh, kamu... beneran cinta sama aku?" tanya Dara, suaranya kecil dan ragu. "Maksudnya... cinta sebagai cewek? Bukan sebagai ibu dari anak kamu?"Adrian menghela napas panjang. Ia melepaskan pelukan sedikit, menangkup wajah Dara dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap pipi Dara."Dara," mulainya, suaranya rendah dan serak. "Saya ini dosen statistik. Saya hidup berdasarkan data dan logika. Probabilitas saya jatuh cinta pada mahasiswi skripsi yang ceroboh, keras kepala, dan suka membantah seperti kamu itu harusnya nol."Dara cemberut sedikit mendengar deskripsi itu."Tapi," lanjut Adrian, menempelkan keningnya ke kening Dara. "Kenyataannya, saat kamu hilang, dunia saya berhenti. Saya nggak bisa kerja. Saya nggak bisa makan. Yang ada di otak saya cuma kamu. Bukan bayi ini. Tapi kamu. Senyum kamu, omelan kamu, bahkan cara
Last Updated: 2025-12-13
Chapter: Bab 59 Anak kitaDua hari berlalu.Dara resmi menjadi tahanan rumah sakit atau lebih tepatnya, ratu rumah sakit. Adrian memindahkan kantornya ke ruang VVIP itu. Ia menyuruh sekretarisnya mengirim berkas-berkas penting, laptop, dan printer ke sana.Pemandangan itu cukup absurd. Di satu sisi ruangan, Dara berbaring santai sambil menonton Netflix. Di sisi lain, di meja makan yang disulap jadi meja kerja, Adrian Mahesa CEO perusahaan multinasional sedang memimpin rapat direksi via Zoom sambil mengenakan kemeja rapi di atas tapi celana training santai di bawah (karena tidak kelihatan kamera)."Ya, angka penjualan kuartal ini cukup stabil, tapi saya mau tim marketing menekan lagi di sektor digital..." Adrian bicara dengan nada otoriter ke laptopnya.Tiba-tiba, suara Dara terdengar. "Pak, saya mau pipis."Adrian langsung menekan tombol mute di laptopnya dengan kecepatan cahaya. Wajah profesionalnya berubah panik dalam sedetik."Tunggu, jangan bangun sendiri!" serunya. Ia meninggalkan rapat direksi yang beris
Last Updated: 2025-12-12
Chapter: Bab 58 Ibu sambungAdrian menatap mata Dara dalam-dalam. Di ketinggian lima ribu kaki di atas Jakarta yang gemerlap, di antara suara baling-baling helikopter, Adrian akhirnya membuka mulutnya."Ya, kan kata kamu saya ini gay?" Adrian mengangkat bahu ringan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang menyebalkan. topeng arogansinya kembali terpasang, meski matanya masih menyiratkan kehangatan yang asing. "Jadi kamu bisa jadi ibu sambung, sementara aku bisa tetep pacaran sama pacar laki-laki aku? Win-win solution, kan?"Dara ternganga. Mulutnya terbuka lebar saking tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Di tengah situasi dramatis ini setelah aksi penyelamatan ala film laga, darah yang menetes, dan tangisan histeris, pria ini masih sempat-sempatnya bercanda soal rumor orientasi seksualnya?"Kamu bercanda?" desis Dara tak percaya. Tenaganya terlalu lemah untuk memukul, jadi ia hanya bisa mencubit punggung tangan Adrian yang sedang menggenggamnya. "Saya hampir mati ketakutan, dan Bap
Last Updated: 2025-12-11
Chapter: Bab 57 Kenapa?Adrian berdiri di ambang pintu, basah kuyup, dengan pistol Glock di tangan kanannya yang terarah lurus ke kepala Arkan. Namun, melihat pisau di leher Dara, Adrian menahan langkahnya.Cahaya senter ia arahkan sedikit ke bawah agar tidak menyilaukan Dara, namun cukup untuk melihat ketakutan di mata gadis itu. Dara gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, tangannya memegang perutnya secara protektif."Tenang, Arkan," kata Adrian. Nadanya berubah datar, klinis, seolah sedang mengajar di kelas. "Mari kita berhitung. Kamu pegang pisau karatan. Saya pegang pistol semi-otomatis dengan 15 butir peluru. Di luar, ada empat orang bersenjata laras panjang yang siap menembus dinding bambu ini. Probabilitas kamu selamat dari sini adalah nol koma nol sekian persen.""Persetan sama teori lo!" ludah Arkan, tangannya gemetar hingga pisau itu sedikit menggores kulit leher Dara. Darah segar menetes.Mata Adrian menyipit melihat darah itu. Kontrol dirinya retak."Lepaskan dia," kata Adrian, setiap suku kata dit
Last Updated: 2025-12-10
Chapter: Bab 56 Mundur atau...Malam turun membawa badai. Langit yang sejak sore berwarna abu-abu memar kini menumpahkan isinya tanpa ampun. Hujan deras menghantam atap seng rumah kayu itu, menciptakan keriuhan yang memekakkan telinga. Air menetes dari langit-langit yang bocor, jatuh ke dalam ember-ember plastik yang Dara sebar di ruang tengah, menciptakan irama tik-tik-tik yang monoton dan menyedihkan.Tidak ada listrik. Listrik desa padam total karena badai. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu petromaks tua yang mendesis pelan di atas meja kayu yang lapuk. Cahayanya bergoyang-goyang, menciptakan bayangan panjang yang menakutkan di dinding anyaman bambu.Dara duduk memeluk lutut di sudut ruangan, jauh dari jangkauan bocor atap. Ia mengenakan jaket hoodie-nya yang kini terasa lembap dan bau apek. Perutnya melilit perih kombinasi antara lapar dan morning sickness yang kian parah.Di seberang ruangan, Arkan sedang mondar-mandir seperti binatang buas yang terkurung. Ia merokok selalu merokok dan asapnya memenuhi
Last Updated: 2025-12-09
Chapter: Bab 55 Jalan buntuDi Jakarta, suasana di kediaman. Ruang kerja Adrian yang biasanya rapi kini penuh dengan layar monitor tambahan. Kabel-kabel berseliweran di lantai marmer. Tiga orang teknisi IT terbaik perusahaan sedang mengetik dengan kecepatan tinggi, sementara Adrian berdiri di tengah ruangan, menatap layar utama dengan tangan bersedekap.Matanya merah, kantung mata hitam menggantung di wajahnya. Ia belum tidur, belum makan, dan belum ganti baju sejak Dara menghilang. Hanya kopi hitam pekat yang menjaganya tetap berdiri."Dapat?" tanya Adrian datar."Plat nomor terdeteksi di kamera ETLE Tol Cikampek pukul 05.30 pagi, Pak," lapor salah satu teknisi, Rio. "Honda Civic B 1980 KLO. Mengarah ke timur.""Siapa pemiliknya?""Arkan Saputra," jawab Rio, menampilkan foto di layar besar. Foto mahasiswa dengan rambut gondrong dan tatapan menantang. "24 tahun. Drop out dari Fakultas Teknik dua tahun lalu. Catatan kriminal: dua kali berkelahi, satu kali balapan liar."Adrian menatap wajah itu. Ia ingat. Mahasis
Last Updated: 2025-12-08
Chapter: TAMATEnam bulan kemudian.Cahaya matahari pagi tidak lagi terasa pucat atau menyelinap seperti pencuri. Cahaya itu tumpah ruah, berani dan keemasan, membanjiri dapur rumah di atas bukit yang dulunya menyerupai benteng pertahanan.Damien berdiri di depan kompor. Tangan kirinya yang dulunya kaku dan tidak berguna kini memegang gagang wajan dengan cengkeraman yang gemetar namun stabil. Dia sedang membuat telur orak-arik. Itu adalah tugas sederhana yang membutuhkan konsentrasi setingkat operasi militer baginya."Jangan gosong," gumamnya pada diri sendiri. "Jangan gosong."Di kursi makannya yang tinggi, Fajar kini berusia sepuluh bulan dan memiliki gigi depan yang tajam memukul-mukul nampan plastiknya dengan sendok."Ba! Ba! Ba!"Damien menoleh, seringai kecil muncul di wajahnya yang berewok. "Sabar, Komandan. Logistik sedang dipersiapkan."Dia memindahkan telur ke piring. Gerakannya tidak lagi sehalus dulu. Ada jeda mikro, ada getaran di otot bahunya di mana peluru pernah bersarang, tapi dia t
Last Updated: 2025-11-19
Chapter: Bab 104 Pekerjaan rumahPukul 03.14 pagi.Rumah di atas bukit itu diselimuti keheningan yang tebal dan pekat. Di kamar tidur utama, cahaya bulan yang pucat menyelinap masuk, membuat bayangan panjang dari perabotan kayu yang berat.Waaah.Suara itu, tipis namun menuntut, membelah keheningan.WHUMP.Bahkan sebelum matanya terbuka, Damien sudah duduk tegak di tempat tidur. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tercekat. Tangannya yang sehat secara naluriah bergerak ke laci meja samping tempat tidur, mencari pistol yang sudah berbulan bulan tidak ada di sana.Bukan tembakan. Bukan alarm.Di sampingnya, Anna juga sudah terbangun. Tapi dia tidak melompat. Dia berbaring kaku, menatap langit langit.WAAAAH!Tangisan kedua datang, lebih keras."Aku dengar," kata Damien, suaranya serak. Dia mengayunkan kakinya dari tempat tidur. "Giliranku. Ganti popok.""Tidak."Suara Anna, pelan namun tegas, menghentikannya.Damien membeku, kakinya separuh di lantai. "Dia menangis.""Aku tahu," kata Anna. Dia memaksakan dirinya untu
Last Updated: 2025-11-19
Chapter: Bab 103 Ruang sisaDua hari berlalu.Rumah di atas bukit itu sunyi. Ketenangan itu terasa salah, seperti gaun yang tidak pas. Anna telah menghabiskan 48 jam itu dengan bolak balik antara kamar tidur utama dan kamar bayi yang baru. Dia akan duduk di kursi goyang, menggendong Fajar yang sedang tertidur, dan menatap dinding, mendengarkan.Dia mendengarkan suara derit rumah. Dia mendengarkan suara angin di pepohonan di luar. Setiap suara membuatnya tersentak.Damien menghabiskan 48 jam itu di ruang kerjanya. Pintunya terbuka. Tapi dia tidak bekerja. Dia hanya duduk di depan serangkaian monitor keamanan baru yang menampilkan rekaman langsung dari setiap sudut halaman. Dia hanya... mengawasi.Mereka adalah dua tentara yang ditempatkan di pos penjagaan yang damai, masih memindai cakrawala, mencari musuh yang tidak akan pernah datang.Pukul 14.00 siang.Anna sedang mencoba memaksa dirinya untuk makan sandwich di dapur ketika dia mendengar bel pintu.Jantungnya melompat ke tenggorokannya. Dia langsung meraih pon
Last Updated: 2025-11-19
Chapter: Bab 102 Gema di kamar bayiSatu bulan telah berlalu.Di rumah bata merah di atas bukit, kehidupan telah berjalan dengan ritme yang baru dan aneh. Dunia luar telah pindah. Berita utama kini diisi oleh skandal politik baru dan kejatuhan Takeda Industries (Rachelle, sepertinya, telah menepati janjinya untuk menghilang, puas dengan kehancuran Takeda). Nama "Damien" telah memudar dari siklus berita, digantikan oleh rasa ingin tahu yang samar tentang "CEO yang berduka" yang menghilang dari publik.Di dalam rumah, perang telah digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih menantang: keheningan.Pukul 03.14 pagi.Kamar tidur utama gelap, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang pucat.Waaah.Suara itu, tipis dan menuntut, membelah keheningan.WHUMP.Damien sudah terbangun, duduk tegak di tempat tidur. Jantungnya berdebar kencang, tangannya yang sehat secara naluriah bergerak ke laci meja samping tempat tidur, mencari pistol yang tidak lagi ada di sana. Dia terengah engah, butuh tiga detik untuk menyadari di mana dia berada.Bu
Last Updated: 2025-11-19
Chapter: Bab 101 Kita impasRuangan itu dipenuhi oleh suara tangisan. Anna terbaring di atas bantal, basah oleh keringat, lelah sampai ke tulang, tapi dia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Damien berdiri terpaku di samping tempat tidur, tangannya yang sehat masih mencengkeram tangan Anna. Dia menatap buntalan kecil yang marah di dada istrinya. Dia tampak lebih terguncang sekarang daripada saat dia terbang menembus baku tembak."Dia baik baik saja?" bisik Damien, suaranya serak. "Kenapa dia menangis?""Dia baru saja lahir, Damien," kata Dr. Aris sambil tertawa. Dia dengan ahli mengambil bayi itu dari dada Anna. "Dia hanya ingin menyapa dunia. Ayo, kita bersihkan dia."Seorang perawat membawa bayi itu ke meja penghangat di sudut. Damien dan Anna memperhatikan setiap gerakannya seolah olah mereka sedang mengawasi bom yang dijinakkan.Anna bersandar, memejamkan mata sejenak. Keheningan setelah dorongan terakhir terasa memekakkan telinga. Rasa sakitnya telah hilang, digantikan oleh kelelahan yang hampa dan damai.
Last Updated: 2025-11-19
Chapter: Bab 100 LahirRumah di atas bukit itu adalah kedamaian yang telah mereka perjuangkan dengan darah, kini pecah oleh suara yang paling biasa sekaligus paling menakutkan."TAS!" teriak Damien, berlari ke arah yang salah di dapur. "MARKUS! TIDAK, AKU TIDAK PUNYA MARKUS! KUNCI! DI MANA KUNCI MOBIL?!"Anna tertawa, tawa yang bercampur dengan sedikit erangan. Kontraksi pertama itu ringan, lebih mengejutkan daripada menyakitkan. Dia berjalan pelan, tertatih, melewatinya."Damien," panggilnya, suaranya tenang."APA?!" bentaknya, panik, sambil membongkar laci yang penuh dengan sendok garpu."Kuncinya ada di sakumu," katanya.Damien berhenti. Dia merogoh saku celana pendeknya. Dia menarik kunci mobil Mercedes itu keluar. Matanya terbelalak."Benar."Dia menatap Anna, yang kini bersandar di meja dapur, bernapas pelan."Baik," kata Damien, menarik napas dalam dalam. Pria yang telah menghadapi baku tembak, yang telah menerbangkan helikopter menembu
Last Updated: 2025-11-19