FAZER LOGINTidak pernah dianggap sebagai istri, Renita Aninditha terus dihina suami dan ibu mertuanya setelah divonis PCOS. Bagi mereka, Renita hanyalah perempuan mandul yang membuang uang dan tak berguna. Bertahun-tahun dimanfaatkan membuatnya nyaris menyerah. Sampai ia kembali bertemu Dr. Deva Mahendra—dokter kandungan yang justru memberi perhatian dan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya. Di antara batas moral dan luka pernikahan yang menyiksa, Renita harus memilih: tetap tinggal atau pergi pada pria yang sungguh menginginkannya. “Bawa aku pergi, Mas…” bisiknya. “Aku lelah selalu disalahkan hanya karena aku perempuan.”
Ver mais“ Ugh… ahh.. “
“Mas… pelan-pelan… sakit perutku,” Renita meringis, tangannya mencengkeram sprei. Reza justru mendengus, gerakannya diatas ku melambat nada suaranya terdengar kesal. “Kenapa sih kamu? Baru juga mulai. Bikin nggak mood aja.” Renita menggigit bibir menahan nyeri. “Aku… udah dua bulan telat datang bulan.” Reza langsung berhenti. Ia melepas diri duduk di ranjang dengan wajah tak percaya. “Dua bulan?” katanya ketus. “Nita, kamu nggak mungkin hamil, aku selalu pakai pengaman.” “Aku juga nggak tau, Mas,” lirih Renita dari bawah, tubuhnya masih menahan sakit. Reza sudah sibuk meraih celananya di lantai. Ia memakainya dengan gerakan kasar. “Kalau kamu hamil… itu malah akan jadi masalah. Mama bisa marah besar. Cicilan apartemen ini belum luas, adik-adik ku masih kuliah kalau kamu hamil biayanya akan semakin besar.” Renita hanya menunduk. “Apa salah kalau aku hamil? Toh aku sudah punya suami tidak lajang…” Reza tidak menjawab. Ia hanya mendengus lalu keluar kamar tanpa menoleh. Dengan lemas, Renita meraih piyamanya yang tergeletak di lantai. Ia mengenakannya perlahan, menahan napas setiap kali nyeri menyengat perut dan pinggangnya. Ketika keluar kamar mengikuti Reza, ia terkejut melihat Ayu ibu mertuanya sedang duduk di sofa ruang TV dengan tangan terlipat di dada.Seminggu sekali Ayu selalu datang ke apartemen, sejak dua tahun sejak Renita menikah dengan Reza. Ayu selalu ikut campur urusan rumah tangga mereka, bahkan soal anak, keuangan dll.Dia selalu berlindung dengan kata hemat,untuk menyetir kehidupan rumah tangga kami. Suami ku yang merupakan anak sulung berkewajiban menafkahi, adik perempuannya yang sedang kuliah dan ibunya sejak ayah mereka meninggal. Aku selalu menggunakan gajiku untuk kebutuhan rumah dan cicilan apartemen dan mobil. Karena semua gaji Mas Reza untuk keluarganya. Ayu melirik tajam. “Renita, kamu ngapain sampai Reza bisa semarah itu?” Renita duduk perlahan di sampingnya. “Perut dan pinggang ku sakit, Mama. Rasanya kayak mau haid… tapi aku sudah dua bulan telat.” Ayu menoleh cepat. “Dua bulan telat datang bulan? Maksud kamu… kamu hamil?” “Gak tau, Mah,” Renita menunduk. “Makanya aku bilang ke Reza.” Ayu menarik napas panjang, wajahnya berubah muram. “Ren, cicilan apartemen dan mobil masih banyak Tania masih kuliah.Kalau kamu hamil biaya hidup kita akan semakin besar, apalagi nanti kamu gak kerja lagi siapa yang mau membayar rumah sakit?” “Tapi… ini bukan salahku, Mah…” “Mama tahu Reza selalu pakai pengaman,jadi seharusnya tidak mungkin kamu hamil.” Ayu mendekat, suaranya menajam. “Atau… kamu ada main di belakang Reza? Kamu selingkuh?” Renita terkejut, matanya terbelalak. “Ma-mama! Enggak! Aku nggak mungkin—” “Kalau begitu jelaskan! Dari mana telat dua bulan itu kalau bukan karena kamu macam-macam?” “Mah, sumpah aku nggak selingkuh,” suara Renita bergetar. “Aku takut… aku juga bingung kenapa bisa telat.” Ayu tidak melunak. Ia justru bangkit berdiri, menatap Renita seolah dia kriminal. “Mulai besok, kamu periksa ke dokter. Mama mau hasil yang jelas. Mama nggak mau Reza ketularan penyakit karena kamu suka jajan atau selingkuh diluar.” Renita hanya bisa menahan air mata yang mulai tumpah. Dari dapur terdengar suara Reza berteriak, keras dan memerintah. “Nita! Bikinin kopi!” Ayu ikut menambahkan tanpa menoleh, nada suaranya tak kalah menusuk. “Nita kamu denger gak suami kamu manggil? Cepat sana bikinin. Jangan lelet.” Renita refleks bangkit. “Iya, Mah…” Ia berjalan cepat ke dapur. Baru satu langkah masuk, Reza muncul dengan tatapan kesal. “Cepetan! Jalan kok lemot banget, kayak siput.” Ia berdecak lalu berjalan ke sofa, duduk berselonjor di samping ibunya sambil memainkan ponselnya. Dari ruang TV, Ayu kembali berteriak, “Nita! Sekalian bikinin Mamah teh tawar anget!” Renita menjawab lirih, “Iya, sebentar…” Ia memandang dapur yang tadi sudah ia bersihkan sepulang kerja kini berantakan lagi. Piring menumpuk, gelas kotor, bungkus makanan tercecer di meja. Ia bergumam pelan, hampir tak terdengar, “Dua tahun menikah dengan Mas Reza… nggak pernah sekalipun bantuin bersihin apartemen. Suruh panggil petugas kebersihan aja nggak mau keluar uang… semua harus aku yang kerjakan. Rasanya aku seperti hidup bersama bukan tinggal bersama.” Renita mengambil kopi, teh, gelas, merebus air, dan menyiapkan semuanya dengan cepat. Begitu air mendidih, ia meracik kopi Reza dan teh Ayu, lalu meletakkannya di nampan. Ia membawa nampan itu ke ruang TV. “Mas, Mah… ini minumnya.” Reza langsung menyambar cangkir kopi, menyeruput tanpa pikir panjang. Detik berikutnya— “BYURR!” Kopi panas itu disemburkan tepat ke wajah Renita. Renita terpaku. Cairan panas mengalir di pipi dan dagunya, membuatnya tersentak. Reza berdiri dengan amarah membara. “Panas begini kamu suruh aku minum?! Kamu sengaja mau bikin lidahku melepuh?!” Renita menggeleng cepat, matanya memerah. “Mas, aku—aku nggak sengaja… aku cuma—” Ayu ikut menyudutkan. “Nita, kamu itu bikin apa sih? Masa kopi dikasih panas begitu. Nggak kasihan sama Reza?” “Maaf, Mah…” suara Renita hampir hilang. Ayu tiba-tiba beralih ke topik lain, lebih tajam. “Za, mama heran. Gimana bisa kamu kebobolan?” Reza mengernyit. “Kebobolan gimana?” Ayu menatap Renita sinis. “Nita bilang sudah dua bulan telat datang bulan. Dua bulan, Za! Kamu gimana sih?” Reza langsung menepis dengan nada sinis. “Aku selalu pakai pengaman, Mah. Dua tahun aman-aman aja, kenapa sekarang tiba-tiba telat?” Ayu mendecak keras. “Mama nggak mau tahu. Cicilan apartemen, dan mobil kalian masih banyak kalau Renita hamil siapa yang melunasi. Belum lagi kuliah adek mu mama pusing.Besok kalian periksa ke dokter!” Reza menunjuk Renita, seolah memerintah bawahan. “Besok kamu periksa sebelum berangkat kerja.” Renita menelan ludah. “Mas… temenin aku ya? Aku takut kalau sendiri.” Reza menoleh tajam, seolah permintaan itu penghinaan. “Manja banget! Aku sibuk. Banyak kerjaan di kantor pergi sendirikan bisa.” “Tapi Mas…” suara Renita melemah. “TIDAK ADA tapi-tapian!” Reza berbalik dan masuk ke kamar, pintu dibanting keras. Ayu ikut bangkit sambil membawa teh. “Mama mau ke kamar. Kamu beresin dulu semuanya. Jangan berani-berani tidur sebelum selesai.” Tanpa menunggu jawaban, Ayu masuk ke kamar, menutup pintu di belakangnya. Tinggallah Renita berdiri sendiri di ruang TV, wajah masih perih oleh kopi panas, tangan gemetar, dan hati remuk. Di dalam batinnya, suara lirih bergema penuh luka: “Apa aku akan terus sanggup menjalankan pernikahan ini?? ”“Ren, kita pergi dari sini,” ucap Deva pelan tapi tegas sambil memegang pipi Renita.“Tinggalkan suami dan mertua kamu itu.”Renita menatapnya kaget.“Maksud Mas apa?” tanyanya lirih.“Kenapa ngomong seperti ini?”Deva menunduk sedikit, menatap mata Renita dalam-dalam.“Mas ingin kita bersama,” katanya mantap.“Mas janji bakal bahagiain kamu.”“Mas berbeda dari Reza.”Belum sempat Renita menjawab, ponselnya tiba-tiba berdering.Renita refleks mengangkat telunjuk.“ Ssttt… ““Mas, diem dulu sebentar,” bisiknya.“Ibu aku nelpon.”Deva mengangguk pelan.Renita mengangkat telepon.“Halo, Bu.”“Halo, Ren,” suara Dina terdengar lemah tapi berusaha tenang.“Iya, Bu. Gimana kabar kalian?” tanya Renita cemas.“Semalam… jantung bapak kamu kumat, Ren.”Renita langsung menegakkan tubuh.“Apa? Terus gimana kondisi Bapak,Bu?”“Tapi sekarang udah nggak apa-apa,” lanjut Dina cepat.“Sudah dibawa ke dokter semalam.”“Kondisinya sudah stabil.”Renita mengusap dadanya.“Ya Allah…”“Renita lagi di Puncak
Kayaknya aku salah ngomong…Habis ini aku harus bujuk Renita, batin Deva sambil melirik Renita sekilas.Mereka kembali melanjutkan makan, meski suasana terasa makin canggung.“Mas,” ujar Nathalia sambil memainkan sendoknya,“kan prewedding kita nanti konsepnya di hutan.”“Renita jadi asisten aku aja, ya.”Deva langsung menoleh.“Kenapa harus Renita?” tanyanya.“Kan ada asisten MUA kamu.”Nathalia tersenyum tipis.“Biar lebih praktis aja.”“Lagipula Renita juga bisa bantu-bantu.”Sebelum Deva menjawab, suara berat menyela.“Lebih baik Renita yang jadi asisten Nathalia,” kata Hendra Pradipta tenang namun tegas.“Daripada dia cuma bengong nggak ngapa-ngapain.”Reza mengangguk cepat.“Iya, Om.”“Bener juga.”“Daripada Renita nganggur.”Renita mengepalkan jemarinya di bawah meja.“Tapi…” Ayu menyela ragu,“kami boleh ikut juga kan, Pak Hendra?”“Tentu saja,” jawab Hendra singkat.“Kalian ikut foto keluarga.”“Oh syukurlah,” Ayu tersenyum lega.Tiba-tiba seorang wanita elegan masuk ke ruang
Renita tersadar, refleks melepaskan pelukan Deva.Wajahnya masih panas ketika tiba-tiba sebuah suara menyela.“Eh, Mas Deva kamu ternyata disini toh,” ujar Nathalia dari ambang dapur,“Kamu udah cobain belum nasi goreng buatan aku?”Renita dan Deva sama-sama menoleh.Deva mengernyit sedikit.“Kamu yang masak?” tanyanya, nada suaranya terdengar datar.“Iya,” jawab Nathalia cepat sambil melangkah masuk.“Tadi aku sempat ke toilet sebentar.”“Nasi gorengnya dijagain sama Renita kok.”Renita menegang, tapi memilih diam.“Oh… tumben,” sahut Deva singkat.Ia lalu menarik kursi dan duduk di meja makan.Nathalia tersenyum bangga, seolah ingin memastikan Renita melihatnya.Deva melirik Renita sekilas, lalu menepuk kursi di sampingnya.“Duduk, Ren,” katanya santai.“Cobain masakan Dokter Nathalia.”Renita ragu sejenak.“Mas…” ucapnya pelan.“Duduk aja,” ulang Deva sambil menarik tangan Renita ringan,“Kan nggak ada salahnya nyobain.”Renita akhirnya duduk di samping Deva, jantungnya masih berde
“Udah, nggak usah diinget-inget,” ujar Nathalia sambil melipat tangan.“Kalau kamu nggak tahu, nanti aku tanya langsung teman sekelasnya Mas Deva.”Renita menoleh pelan.“Kalau nanti Mbak ketemu mantan Mas Deva,” tanyanya hati-hati,“Apa yang akan Mbak lakuin?”Nathalia tersenyum tipis, dingin.“Itu bukan urusan kamu, Ren.”“Udah, ayo.”“Rencananya aku mau bikinin sarapan buat Mas Deva,” lanjutnya cepat.“Tapi kamu yang masak, ya.”“Aku nggak bisa masak.”Renita menahan senyum.“Mau masak apa, Mbak?”“Nasi goreng aja,” jawab Nathalia enteng.“Bisa, kan?”“Bisa,” sahut Renita.“Tapi Mas Deva mau makan berat nggak ya?”“Takutnya lagi diet,” tambahnya sambil tertawa kecil.Nathalia menggeleng santai.“Dia mah makan apa aja.”“Nggak pilih-pilih.”Nggak pilih-pilih makanan…atau memang gak boleh memilih?batin Renita bergetar.“Yaudah,” katanya kemudian.“Aku masak dulu.”“Tapi Mbak bantuin potong-potong, ya.”“Gak bisa,” Nathalia langsung menolak.“Kamu aja.”Renita membalik badan ke arah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações