LOGINTidak pernah dianggap sebagai istri, Renita Aninditha terus dihina suami dan ibu mertuanya setelah divonis PCOS. Bagi mereka, Renita hanyalah perempuan mandul yang membuang uang dan tak berguna. Bertahun-tahun dimanfaatkan membuatnya nyaris menyerah. Sampai ia kembali bertemu Dr. Deva Mahendra—dokter kandungan yang justru memberi perhatian dan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya. Di antara batas moral dan luka pernikahan yang menyiksa, Renita harus memilih: tetap tinggal atau pergi pada pria yang sungguh menginginkannya. “Bawa aku pergi, Mas…” bisiknya. “Aku lelah selalu disalahkan hanya karena aku perempuan.”
View MoreReza mengepalkan tangannya, suaranya naik penuh emosi.“Mas nggak akan pernah ngerti rasanya jadi aku!” bentaknya.“Aku ini anak pertama. Kewajiban aku nafkahin mama dan Tania!”Ia tertawa miring, nada suaranya merendahkan.“Kamu itu anak yatim piatu, Mas. Kamu nggak akan ngerti rasanya punya tanggung jawab kayak aku!”Wajah Deva langsung berubah. Rahangnya mengeras, matanya menghitam menahan amarah yang selama ini terkubur.“Jaga omonganmu, Za,” ucapnya pelan tapi tajam, setiap kata seperti pisau.Deva melangkah lebih dekat, menatap Reza tanpa gentar.“Kamu tahu nggak siapa penyebab kematian mama dan papa aku?” suaranya bergetar,denagn amarah memuncak. “Itu semua karena mama kamu,” lanjutnya dengan suara rendah namun penuh kebencian.“Wanita pelakor itu telah menghancurkan keluarga aku… sampai papa aku mati.”Reza tersentak, lalu menggeleng keras.“Apa yang kamu bilang?!” suaranya meninggi, emosinya meledak.“Mama aku bukan pelakor!”Ia menunjuk Deva dengan mata merah.“Mama Mas itu
Renita mendengus kesal lalu memukul dada Deva pelan.“Kamu ini masih sempat-sempatnya mikir mesum!” omelnya, wajahnya memerah.Deva meringis berlebihan sambil memegang dadanya.“Aww… sakit, Ren,” keluhnya dramatis.Renita langsung panik, refleks meraih tangan Deva.“Mas sakit? Maaf… aku kekencengan ya?” ucapnya khawatir.Deva membuka satu mata, senyum licik langsung muncul.“Hmm… bisa sembuh sih,” katanya santai.“Tapi ada syaratnya!”Renita menyipitkan mata, curiga.“Syarat apaan lagi?”Deva mendekat, suaranya direndahkan.“Cium bibir Mas dulu. Baru Mas maafin.”“Dasar modus!” Renita mendecak, tapi ujung bibirnya melengkung.Ia akhirnya mengecup bibir Deva singkat, nyaris malu-malu." Cup... "Deva tersenyum puas.“Nah, gitu dong. Langsung sembuh.”Belum sempat Renita membalas, suara dari luar terdengar jelas.“Renita! Kamu di mana, Ren?”Reza memanggil Renita dari luar. Wajah Renita langsung pucat.“Itu suara Mas Reza…” bisiknya panik.“Mas, gimana ini?”Deva menghela napas, sorot m
Deva mengangkat tangannya, mengusap air mata di pipi Renita dengan ibu jarinya, sentuhannya lembut tapi penuh penegasan.“Jangan nangis,” ucapnya pelan.“Mas sudah nggak apa-apa, beneran.”Renita menggeleng, bibirnya bergetar.“Tetap aja aku khawatir, Mas,” sahutnya lirih.“Aku takut kamu kenapa-kenapa…”Sudut bibir Deva terangkat tipis. Ada rasa haru di matanya.“Mas malah senang kamu khawatir,” katanya jujur.Tiba-tiba ia mendengar suara perut Renita yang keroncongan.“Eh…” Deva melirik perut Renita.“Kamu belum makan dari kemarin, ya?”Renita menunduk, wajahnya memerah malu.“Belum, Mas,” jawabnya pelan.“Tadi Mas Reza nawarin makan…”Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada pahit.“Tapi ternyata dia cuma mau minta uang. Buat ngajak Mama sama Tania makan.”Rahang Deva langsung mengeras. Tatapannya berubah tajam.“Ren,” katanya tegas namun tetap lembut,“kenapa kamu kasih terus?”Ia menggenggam tangan Renita lebih erat.“Gara-gara kamu terlalu baik, mereka jadi nggak mikir.
Setelah mereka pergi, Renita melangkah pelan ke arah UGD. Ia berhenti di balik kaca pintu, mengintip ke dalam dengan jantung berdebar.Lama banget Nathalia di dalam… batinnya gelisah.Jangan-jangan Mas Deva sudah siuman, tapi dia sengaja nggak bilang ke siapa-siapa…Renita menggigit bibir, matanya meneliti keadaan sekitar.Gimana caranya aku bisa masuk tanpa ketahuan mereka… pikirnya resah.“Ren.”suara pria tua serak memanggil namanya. Renita tersentak. Tubuhnya refleks menegang saat mendengar suara itu.Ia menoleh dan mendapati Hendra berdiri tak jauh darinya.“I-iya, Pak,” jawab Renita cepat, berusaha terlihat tenang.“Ada apa ya?” tanya Renita penasaran. Diana ikut mendekat, wajahnya tampak cemas.“Kamu lihat Nathalia keluar belum?” tanyanya.Renita menggeleng pelan.“Belum, Bu,” katanya hati-hati.“Masih di dalam, sepertinya.”Hendra menyipitkan mata, menatap Renita penuh selidik.“Kamu ngapain berdiri di depan UGD?” tanyanya curiga.Renita menelan ludah, lalu menjawab dengan na
“Udah, nggak usah diinget-inget,” ujar Nathalia sambil melipat tangan.“Kalau kamu nggak tahu, nanti aku tanya langsung teman sekelasnya Mas Deva.”Renita menoleh pelan.“Kalau nanti Mbak ketemu mantan Mas Deva,” tanyanya hati-hati,“Apa yang akan Mbak lakuin?”Nathalia tersenyum tipis, dingin.“It
Mobil berhenti di basement apartemen. Deva, Renita, dan Bu Ayu turun bersama. Area parkiran cukup ramai, suara mesin mobil bergema di ruangan luas itu.Mereka berjalan menuju lift ketika sebuah mobil melaju cukup dekat.“Awas!”Deva refleks menarik tubuh Renita—bahkan memeluknya erat ke dadanya. Ar
Setelah pulang kerja, Renita seperti biasa dijemput Reza menuju rumah ibu mertuanya, Ayu. Begitu mobil berhenti, Renita buru-buru turun.“Bawa itu kuenya, jangan sampai ketinggalan,” perintah Reza tanpa melihat.“Iya, Mas,” Renita membuka bagasi dan mengambil kotak besar.Dalam hati ia mendesah, ‘I
Alarm ponsel Renita berbunyi pelan. Ia membuka mata dengan kepala berat dan perut yang nyeri. Cahaya matahari menembus tirai, menerangi kamar yang masih remang. Ranjang di sampingnya sudah kosong. Hanya tersisa cekungan bantal bekas kepala Reza. Dengan nafas panjang, Renita bangkit dan keluar kama












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews