Home / Fantasi / Blue Flame / 2. Tentang Ikhlas

Share

2. Tentang Ikhlas

Author: Vya Kim
last update publish date: 2025-12-04 17:26:03

Dean mengemas barang-barang yang di perlukan, dan membawa beberapa barang berharga untuk di jual.

Di pandangnya Raven sambil mengemasi barang-barang, sosok tinggi tegap dengan janggut tipis itu begitu tergesa-gesa membantu Dean.

“Kenapa Paman terburu-buru?” tanya Dean.

“Cepatlah! Sebelum kawanan Vampir lain mengendusmu! Ketika satu vampir mati itu sama saja memberikan sinyal bagi kawanan Vampir lainnya!”

Raven mengobrak-abrik lemari orang tua Dean, ia menemukan perhiasan perak di sana, dan tersenyum lega seolah menemukan harapan.

Sebuah kalung liontin perak kesayangan ibu Dean, anak itu menatap kalung itu nanar.

“Pakailah perhiasan perak ini, Vampir melemah bila terkena perak.” Raven mengalungkan liontin itu pada Dean lalu mereka bergegas pergi dari rumah orang tua Dean.

Rumah yang penuh kenangan bersama orangtuanya, rumah di tepi hutan yang indah, kebun di belakang rumah yang menjadi tempat favoritnya untuk mencari cacing, kini hanya tinggal kenangan.

Ia ingat saat bersenda gurau bersama ayahnya kala mencari cacing untuk umpan ikan, memancing bersama ayahnya, lalu ibunya datang menghampiri dengan nampan berisi coklat panas, juga kue buatan ibunya.

Hidup Dean begitu sempurna, tapi seketika lenyap dalam semalam. Dean hanya menitikan air mata sambil menikmati perjalan melarikan diri di atas kuda bersama orang asing yang telah menyelamatkan hidupnya.

Bocah kecil berumur 10 tahun itu kini hanya mengikuti nalurinya bertahan hidup meski harus mengikuti orang yang baru ia temui. Setidaknya Raven bukan orang jahat, jadi Dean merasa nyaman bersama Raven.

Sampailah Dean di sebuah rumah di tengah hutan …, sebenarnya bukan rumah, itu adalah gua yang di modifikasi sedemikian rupa seperti rumah. Raven membuat sendiri pagar, serta pintu masuk dari kayu.

Dean turun dari kuda di bantu Raven, ia melihat takjub tempat tinggal Raven.

“Paman tinggal di sini?”

“Ya, masuklah tapi jangan sentuh apa pun!”

Dean mengangguk, ia pun memasuki rumah Raven, di dalamnya banyak sekali senjata yang di pajang di dinding gua, serta pedang yang berkilau di atas nakas. Semuanya jelas sekali terbuat dari perak.

Raven menyalakan *rush light karena minim cahaya yang masuk ke gua, hanya jendela buatan di depan pintu masuk itulah satu-satunya penerangan dari cahaya luar.

(*Lampu Rush light adalah jenis lampu yang digunakan pada masa abad Pertengahan di Eropa. Mereka terbuat dari sehelai jerami yang dicelupkan ke dalam lemak hewan atau minyak dan dinyalakan. Lampu ini adalah salah satu bentuk penerangan yang sederhana dan umum digunakan pada masa itu sebelum lampu minyak atau lilin yang lebih maju ditemukan. Lampu rush light umumnya digunakan di rumah-rumah biasa sebagai sumber cahaya pada malam hari.)

Ketika rush light dinyalakan hampir menyinari seluruh ruangan, bersamaan itu juga terdengar teriakan nyaring yang parau seperti kucing besar di sudut ruangan. Sontak saja itu membuat Dean melompat mundur karena terkejut.

Netra abunya menangkap sosok mengerikan di ujung ruangan yang di jeruji besi berkilau perak. Makhluk itu duduk dengan lemah menyeringai menatap Raven.

“Kau lapar? Aku menangkap makanan untukmu,” ujar Raven berbicara pada makhluk yang di kurung itu, lalu matanya beralih menatap Dean yang masih jatuh terduduk.

Dean kini menatap takut pada Raven, ia perlahan mundur berusaha untuk berdiri namun sayangnya kaki Dean terasa kaku tak bisa bergerak karena saking takutnya.

“Tidak Paman! Jangan aku!” Teriak Dean.

Tapi Raven mendekat pada Dean, kini ia mengeluarkan belatinya lagi. “Ssst, jangan berisik! Kau akan menggagalkannya!”

Dean semakin takut hingga tubuhnya gemetaran, ia tambah menangis ketika Raven mengayunkan belati itu ke atas, dan …

“Aarrgghhh!!” Dean memekik.

CROT!

Darah bercucuran hingga terciprat ke wajah Raven.

Dean menoleh kesampingnya, menoleh pada apa yang Raven tusuk. Ternyata darah itu bukan dari bagian tubuhnya, tapi dari tikus besar yang berada di sampingnya.

Dean terkulai lemas di lantai tanah, ia menghela nafas lega, “ku pikir….”

“Apa? Kau pikir aku akan membunuhmu untuk santapan makhluk di jeruji itu? Ahahaha dasar bodoh!” Raven tertawa sembari mengambil tikus yang bercucuran darah itu, lalu melemparnya ke dalam kurungan di mana makhluk itu berada.

Dengan rakus, ia menyantap tikus itu tak peduli ada orang lain yang melihatnya jijik.

Dean menatapnya terkesima, “Kenapa paman memelihara Vampir itu di rumah Paman?”

Seketika pertanyaan itu membuat raut wajah Raven murung, ia duduk di kursi sambil menatap makhluk itu.

“Dia istriku …, itulah alasan mengapa aku menjadi pemburu Vampir. Sama sepertimu, aku pun ingin balas dendam dan membasmi semua Vampir yang ada. Tapi aku tak pernah bisa membunuh istriku, mungkin kau yang harus melakukannya.” Raven kemudian menatap Dean.

“Aku? Kenapa?” Dean terheran menatap Raven.

“Di usiamu yang masih kecil ini, kau berani membunuh sosok ibumu tanpa ragu, itulah mengapa aku mau menjadikan kau muridku. Seharusnya aku yang belajar darimu …, mengikhlaskan orang yang kita cintai …,” rintih Raven, sorot matanya begitu nanar, tak seperti pertama kali Dean lihat, yang sorot matanya penuh semangat dan harapan.

Bocah itu terdiam, teringat kejadian beberapa jam lalu di mana ia menusuk ibunya …, tapi itu bukan Ibu, pikirnya.

“Paman sendiri yang bilang, mereka bukan orang tuaku lagi, dan memang aku sudah tak merasakan kehadiran mereka lagi, jadi paman harus bisa melakukannya pada istri paman juga …, maksudku …pada makhluk itu!”

Raven menarik nafas panjang, ia genggam belatinya erat, ia masih duduk dan menatap makhluk itu dari kursinya. Sosok Raven yang kuat dan keren di mata Dean ini ternyata menunjukkan sisi lainnya sekarang.

Manik biru Raven kini memerah karena genangan air yang telah penuh di pelupuk mata. Ia begitu rapuh di hadapkan pada makhluk yang dulu adalah istrinya.

“Paman, jika tadi yang membunuh kedua orang tuaku adalah paman yang lakukan semua, maka aku akan menyesal …, aku akan melihat kedua kalinya orang tuaku di bunuh orang lain …, tapi ketika aku mengacungkan pedang pada ibuku, aku jadi sadar, bahwa ibuku sudah tidak ada, dia bahkan menyeringai di hadapanku yang bahkan ibuku tak akan mungkin melakukannya padaku …,” tutur Dean dengan tatapan yang menerawang mengingat kejadian tadi.

Raven menitikan air mata sambil berdiri dari duduknya dan membuang nafas berat, lalu ia mengalihkan pandangannya pada makhluk di dalam kurungan itu.

Raven mendekati jeruji itu, bersamaan dengan itu, sang makhluk menyeringai dengan sisa-sisa darah tikus yang tadi ia makan.

Di tatapnya makhluk itu beberapa lama, “Ya, kau benar Dean. Dia terlihat menjijikkan. Tak seperti istriku yang selalu bersih dan wangi!”

Dengan Cepat Raven membuka jeruji itu, makhluk yang tadinya terlihat lemah karena jeruji peraknya, kini menggeram berdiri menatap Raven di depannya seperti kelaparan.

Dean menutup kupingnya karena geraman itu menyakiti telinganya. Ketika makhluk itu mendekat dan melompat ke atas Raven, Dean menutup matanya.

“Paman …,” rintihnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Blue Flame   58.

    "Apa yang kalian lakukan?" Sebuah suara yang sedingin es tiba-tiba membelah suasana, membuat para pelayan tersentak dan seketika kembali berdiri tegak di posisi masing-masing, napas tertahan di tenggorokan. "Terang abadi untukmu, Pangeran Steve," sapa salah satu pelayan Jerry yang sejak tadi menunggu di depan tirai sekat pemandian, suaranya terdengar sedikit bergetar. Steve tidak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung melangkah masuk ke arah kolam, diikuti oleh para pelayannya di belakang. Begitu sampai di area kolam, pandangannya segera menangkap pemandangan itu, Rohana baru saja keluar dari air, tubuhnya basah kuyup menyisakan jejak tetesan air di lantai batu. Sementara Jerry sudah berdiri di sampingnya, kini telah mengenakan jubah mandinya. Steve berhenti sejenak di tempat, menatap diam melihat Jerry dan gadis yang basah kuyup itu. Jerry hanya membalas tatapannya dengan tenang, lalu berbalik dan berlalu pergi begitu saja. Rohana segera menunduk dalam, memberi hormat kepada St

  • Blue Flame   57. Di Balik Desahan Kolam

    Tak lama setelah sosok Felix lenyap dari ruangan, pintu kembali terbuka. Jerry masuk, diikuti empat orang pelayan yang berjalan tertib di belakangnya. Saat itu Rohana sedang sibuk menaburkan rempah-rempah kering ke permukaan air kolam mandi, aroma harum dan hangat segera menyebar memenuhi ruangan.Rohana menoleh perlahan, segera menghentikan gerakannya. Ia memberi hormat dengan menundukkan kepala sejenak saat Jerry mendekat, lalu menyaksikan Pangeran itu melangkah turun masuk ke dalam kolam. Baru semata kaki, air kolam merendamnya.Keempat pelayan itu meletakkan pakaian ganti Jerry di atas meja batu alam yang tersusun rapi di pinggir kolam, lalu memberi tanda kepada para pelayan untuk pergi dari ruangan."Kecuali kau," ujar Jerry, menoleh sedikit ke arah Rohana yang berdiri diam di samping kolam."Baik, Tuan." Jawab Rohana setenang yang ia mampu. Padahal jantungnya berpacu kencang, adrenalin mengalir deras di setiap uratnya."Bantu aku mandi, dan obati lukaku." Jerry membuka jubah man

  • Blue Flame   56. Roleplay

    Angin dingin menyapu jalanan, menampar wajah Rohana dengan kesejukan yang menusuk hingga ke tulang. Ia sedikit mendongak menatap langit, dan keningnya segera berkerut melihat gumpalan awan hitam pekat yang tampak berkumpul tebal tepat di atas atap istana yang menjulang itu. Gelapnya terasa berat, seolah menekan bumi di bawahnya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, pikirnya dalam hati, namun ada rasa samar yang mengatakan bahwa dingin di tempat ini bukan sekadar datang dari cuaca. Ia merapatkan jubahnya ke tubuh, melilitkannya lebih erat sebagai perisai tipis. Hembusan napasnya terlihat jelas, berupa kepulan uap putih yang segera lenyap di udara yang sedingin es pagi itu.Langkahnya tak terhenti hingga ia tiba di gerbang samping, khusus jalan keluar masuk para pelayan. Di sana ia mengulurkan tangan, memperlihatkan plakat kayu berukir yang menjadi tanda pengenal dan izin kerjanya. Prajurit penjaga yang berdiri tegak di sana mengenakan baju zirah yang tampak pucat, seolah logam itu

  • Blue Flame   55. Sebuah Bros

    Pagi itu, Rohana menghampiri Dean sebelum ia berangkat menjalankan aktivitasnya. Wajah gadis itu terlihat lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya, meski ada sesuatu yang samar dalam sorot matanya, seperti seseorang yang sudah memikirkan sebuah keputusan sejak lama.“Dean, aku mau izin pergi ke rumah belajar hari ini.”Dean yang tengah bersiap menoleh kepadanya. “Ke rumah belajar?”Rohana mengangguk.“Aku juga mendapat tawaran pekerjaan sambilan. Jadi mulai hari ini, mungkin aku tak akan bisa ikut memburu vampir bersamamu.”Kalimat itu membuat Dean terdiam.Ada sesuatu yang terasa berbeda.Bukan hanya karena Rohana mengatakan ia akan bekerja, tetapi karena perubahan sikapnya terasa begitu tiba-tiba. Baru kemarin gadis itu masih bersikeras ingin ikut berburu vampir bersamanya. Bahkan sampai sempat merajuk karena Dean melarangnya ikut terlalu jauh.Namun sekarang …Rohana justru memilih untuk pergi sendiri dan mengurus sesuatu yang sama sekali berbeda.Dean menatapnya cukup lama. Ada s

  • Blue Flame   54. Reinkarnasi

    Sejak hari pertama mereka bertemu di pasar, kebiasaan Stayrus tak pernah berubah.Setiap kali Vivian muncul dengan keranjang belanjaan yang selalu terlalu berat untuk tubuhnya yang kecil, Stayrus akan tiba entah dari mana, seolah angin pagi membawa sosoknya turun dari langit.“Biar aku bantu,” katanya sambil meraih keranjang belanja Vivian.Vivian tersenyum tipis, pucat tapi tetap manis. “Kamu ini selalu pas muncul ya? Apa pekerjaanmu sebenernya?” tanyanya sambil berjalan pelan menyusuri jalan desa.“Ada urusan di sekitar sini,” jawab Stayrus dengan nada santai. “kebetulan lewat lalu bertemu kamu.”“Hmm, selalu kebetulan, ya?” Vivian tertawa kecil, batuk sedikit, lalu menunduk.Senyumnya tetap dipaksa cerah padahal matanya terlihat capek.Hari demi hari, pola itu terus berulang.Stayrus menemani Vivian belanja, ngobrol di jalan pulang, kadang hanya jalan di samping tanpa banyak kata. Untuk Stayrus, kedekatan kecil itu seperti hadiah, bahkan kalau itu hanya lima menit.Tapi keadaan Viv

  • Blue Flame   53. Skylume

    Di langit tertinggi, jauh di atas batas pandang manusia, berdirilah Skylume, sebuah negeri di atas awan. Awan-awan tipis melayang seperti sutra putih, memantulkan semburat keemasan yang tak pernah pudar.Sungai-sungai cahaya mengalir tenang di antara jembatan kristal, menciptakan gemericik lembut seperti denting piano. Di sana, para dewa berjalan sibuk lalu lalang mengemban tugas-tugasnya.Di puncak Skylum, pada sebuah menara yang berputar perlahan mengikuti alur waktu, tinggal seorang dewa yang tak pernah benar-benar beristirahat: Stayrus, sang Seer, penjaga takdir seluruh jiwa di bumi.Penglihatannya menembus lebih jauh dibanding siapa pun. Setiap benang takdir manusia berpendar di hadapannya, mengalir seperti ratusan ribu helai cahaya. Namun, ada satu benang, satu cahaya yang selalu membuatnya berhenti.Benang seorang gadis.Gadis itu hidup di bumi, di sebuah desa kecil yang terpencil. Ia hidup bersama keluarga angkatnya, keluarga yang seharusnya memberi kasih, namun justru membeba

  • Blue Flame   20. Keluarga Baru

    Raven menatap gadis kecil itu dengan penuh rasa ingin tahu sebelum akhirnya bertanya, "Siapa namamu?"Gadis itu mengangkat wajahnya, sorot matanya masih menyimpan kelelahan dan trauma yang belum sepenuhnya hilang. Namun, ada keteguhan di sana, sebuah tekad yang tidak bisa diabaikan."Rohana," jawab

  • Blue Flame   16. Pergi Untuk Kembali

    Di dalam lemari kayu yang besar, seorang gadis kecil bersembunyi, tubuhnya gemetar hebat. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga rasanya bisa terdengar oleh siapa pun. Ia memeluk lututnya erat-erat, menekan tubuhnya ke sudut lemari seolah berharap bisa menghilang. Di luar, suara jeri

  • Blue Flame   15. Perang di Istana

    Prajurit-prajurit di barisan belakang bergidik ngeri, sebagian mulai merapal doa dengan suara bergetar. Pedang mereka masih terangkat, tapi tangan mereka gemetar hebat. Chriss dan Jerry kini melangkah maju. Chriss, dalam wujud bayangan hitamnya, melesat tanpa bisa di

  • Blue Flame   14. Tak Ada Ampun

    Di malam yang sama, para pangeran vampir mulai bergerak. Langit gelap tanpa bintang, tertutup awan kelam yang seolah menjadi pertanda datangnya kehancuran. Bayangan-bayangan samar berkelebat di antara pepohonan hutan yang mengelilingi istana, nyaris tak terlihat oleh mata manusia.Mereka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status