Mag-log inRohana terbangun dengan napas tersengal. Punggungnya terasa lembap oleh keringat, sementara kedua tangannya mencengkeram seprai seolah baru saja berusaha menyelamatkan diri dari sesuatu yang mengejarnya. Ia masih bisa melihatnya dengan jelas. Gua yang luas, nyala api biru di tengah altar, serta enam sosok berjubah gelap yang berdiri mengelilinginya. Suara-suara mereka terdengar samar dalam ingatannya, tetapi ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: pengorbanan manusia.Rohana duduk perlahan di tepi ranjang. Cahaya pagi menyelinap melalui celah jendela kamarnya, menerangi meja kecil di sudut kamar. Ia menoleh ke sana, kemudian bangkit dengan langkah gontai. Di atas meja terdapat buku catatan yang biasa digunakannya untuk menuliskan hal-hal penting. Rohana mengambilnya, membuka halaman kosong, lalu mencoretkan beberapa garis berdasarkan simbol yang dilihatnya dalam mimpi. Ia berhenti sejenak, memperhatikan bentuk yang baru saja dibuatnya. Ada sesuatu yang terasa akrab. Bukan k
Rohana masih terpaku di tempatnya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menyadari bahwa Philip sedang menunggunya memberikan jawaban. Ia buru-buru menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegugupan yang telanjur terlihat jelas di wajahnya. “Maaf, Yang Mulia. Saya tidak pantas dipanggil begitu.” Philip tidak langsung menjawab. Rohana meremas ujung seragam pelayannya. Sebutan itu terasa begitu asing sekaligus menyakitkan. Tuan Puteri. Dahulu, orang-orang di istana ini memanggilnya dengan gelar tersebut. Ia pernah berlari di sepanjang lorong yang sama, bermain di taman kerajaan, dan makan bersama keluarganya di ruang yang kini mungkin telah menjadi tempat berkumpul para vampir. Sekarang, ia berdiri di hadapan salah satu pangeran mereka dengan pakaian pelayan, berpura-pura menjadi seseorang yang tidak berarti. “Kenapa tidak pantas?” tanya Philip. Rohana mengangkat wajah sedikit. “Karena saya hanya seorang pelayan, Yang Mulia.” “Itu jawabanmu?” Rohana terdiam. Philip mengamati wa
Rohana berdiri terpaku di tempat itu. Pandangannya tiba-tiba kabur, napasnya tertahan di tenggorokan seolah ada yang meremas dadanya. Saat bayangan warna merah itu kembali terlintas di benaknya, perutnya langsung mual bergejolak hebat, seolah ingin memuntahkan segala isinya.Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan punggungnya, meski udara di dapur itu terasa biasa saja. Kakinya terasa lemas sekali, seolah tak ada lagi tulang yang menopang tubuhnya, dan perlahan ia ambruk, jatuh terduduk di lantai batu yang dingin. Ia tidak pingsan, matanya masih terbuka, tapi seluruh tubuhnya gemetar hebat, jantungnya berpacu begitu cepat hingga telinganya berdenging. "Kau baik-baik saja?" Suara itu terdengar samar di telinganya. Seorang pelayan lain segera mendekat, berlutut di sampingnya sambil memapah bahu Rohana dengan lembut. "Biarkan aku yang siapkan semuanya ulang. Kau istirahat saja dulu," ucap pelayan itu pelan namun tegas, lalu menoleh ke arah rekan yang lain. Mereka segera datang mem
Rohana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan saat pintu kamar Jerry di belakangnya tertutup rapat. Langkah kakinya teratur namun penuh ketegangan, dan gumamannya hampir tertelan oleh deru napasnya sendiri."Tak ada waktu untuk meladeni makhluk itu. Dia pikir aku akan berbaik hati padanya setelah aku tahu dia itu Moon?"Ia terus berjalan menyusuri lorong panjang menuju dapur istana, matanya melirik ke arah jam matahari yang berdiri tegak di halaman tengah. Bayangan sundial(jam) yang jatuh di garis penanda menunjukkan waktunya tepat, saat para pangeran mulai menyambut waktu sarapan. Rohana merogoh kantung kecil di pinggangnya, mengeluarkan secarik kertas catatan, dan sekali lagi memeriksa daftar keperluan Jerry di meja makan. Semua harus sesuai. Tidak boleh ada yang salah.Sarapan untuk Jerry disiapkan secara khusus, tak boleh sama dengan hidangan pangeran lain. Langkah pertamanya menyiapkan hidangan pembuka. Ia masuk ke ruang dapur yang berasap dan hangat, lalu bertanya k
"Apa yang kalian lakukan?" Sebuah suara yang sedingin es tiba-tiba membelah suasana, membuat para pelayan tersentak dan seketika kembali berdiri tegak di posisi masing-masing, napas tertahan di tenggorokan. "Terang abadi untukmu, Pangeran Steve," sapa salah satu pelayan Jerry yang sejak tadi menunggu di depan tirai sekat pemandian, suaranya terdengar sedikit bergetar. Steve tidak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung melangkah masuk ke arah kolam, diikuti oleh para pelayannya di belakang. Begitu sampai di area kolam, pandangannya segera menangkap pemandangan itu, Rohana baru saja keluar dari air, tubuhnya basah kuyup menyisakan jejak tetesan air di lantai batu. Sementara Jerry sudah berdiri di sampingnya, kini telah mengenakan jubah mandinya. Steve berhenti sejenak di tempat, menatap diam melihat Jerry dan gadis yang basah kuyup itu. Jerry hanya membalas tatapannya dengan tenang, lalu berbalik dan berlalu pergi begitu saja. Rohana segera menunduk dalam, memberi hormat kepada
Tak lama setelah sosok Felix lenyap dari ruangan, pintu kembali terbuka. Jerry masuk, diikuti empat orang pelayan yang berjalan tertib di belakangnya. Saat itu Rohana sedang sibuk menaburkan rempah-rempah kering ke permukaan air kolam mandi, aroma harum dan hangat segera menyebar memenuhi ruangan.Rohana menoleh perlahan, segera menghentikan gerakannya. Ia memberi hormat dengan menundukkan kepala sejenak saat Jerry mendekat, lalu menyaksikan Pangeran itu melangkah turun masuk ke dalam kolam. Baru semata kaki, air kolam merendamnya.Keempat pelayan itu meletakkan pakaian ganti Jerry di atas meja batu alam yang tersusun rapi di pinggir kolam, lalu memberi tanda kepada para pelayan untuk pergi dari ruangan."Kecuali kau," ujar Jerry, menoleh sedikit ke arah Rohana yang berdiri diam di samping kolam."Baik, Tuan." Jawab Rohana setenang yang ia mampu. Padahal jantungnya berpacu kencang, adrenalin mengalir deras di setiap uratnya."Bantu aku mandi, dan obati lukaku." Jerry membuka jubah man
Suara nyaring seperti hewan yang kesakitan begitu sulit di jelaskan menggema di dalam gua yang dijadikan rumah ini. Dean menutup kupingnya karena suara itu menyakiti gendang telinganya.Perlahan ia membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Di sana Raven menusuk jantung makhluk itu bersamaan deng
Di balkon menara yang menghadap taman belakang istana, seorang pria berdiri tegap di balik bayang lembut tirai yang berkibar pelan tertiup angin pagi.Pangeran Jerry menatap tajam ke bawah. Matanya, setajam elang, terkunci pada dua sosok di taman, Sebastian dan Rohana.Meski wajahnya tampak tenang,
Dean mengemas barang-barang yang di perlukan, dan membawa beberapa barang berharga untuk di jual.Di pandangnya Raven sambil mengemasi barang-barang, sosok tinggi tegap dengan janggut tipis itu begitu tergesa-gesa membantu Dean.“Kenapa Paman terburu-buru?” tanya Dean.“Cepatlah! Sebelum kawanan Va
Seribu tahun lalu, di suatu negara bernama Auroria, tepatnya di desa Dawnshire yang makmur dan tenang, seorang nenek penyihir tua sedang bereksperimen dengan ramuan dan muridnya yang berbaring di depan sebuah kuali.Sang penyihir menambahkan beberapa jeroan binatang purba serta tumbuhan aneh lainny







