Home / Fantasi / Blue Flame / 50. Kisah Masa Lalu

Share

50. Kisah Masa Lalu

Author: Vya Kim
last update publish date: 2026-02-20 09:22:26

Beberapa tahun yang lalu.

Pada malam ketika bulan purnama menggantung terang di langit, cahayanya menyelimuti bumi seperti selendang perak yang membelai lembut dedaunan, Rohana, yang saat itu masih sangat kecil, terbangun dari tidurnya.

Ia bahkan belum genap lima tahun. Dunia baginya masih penuh misteri.

Malam itu, ia tidak terbangun karena mimpi buruk.

Melainkan karena sebuah suara aneh.

Suara lolongan panjang, pilu, yang mengguncang jiwanya.

Suara itu menembus sunyi malam, melengking seakan m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Blue Flame   Chapter 64. Aroma dari Masa Lalu

    Perpustakaan istana selalu menjadi tempat yang paling tenang dibandingkan ruangan lainnya. Rak-rak buku yang menjulang tinggi memenuhi hampir seluruh dinding, sementara aroma kertas tua dan kayu memenuhi udara. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, jatuh di atas meja panjang yang tertata rapi.Pagi itu, Rohana mendapat tugas untuk mengambil beberapa catatan lama dari perpustakaan. Ia membawa daftar buku yang harus dikumpulkan, lalu mulai menyusuri rak demi rak.Sesekali ia harus berjinjit untuk membaca judul buku yang terletak di bagian atas. Beberapa di antaranya bahkan terlalu tinggi untuk dijangkau tanpa bantuan tangga kecil.Rohana berhenti di depan sebuah rak. Matanya tertuju pada buku bersampul cokelat tua yang berada di bagian paling atas. Ia mengulurkan tangan, berusaha menariknya, tetapi ujung jarinya hanya berhasil menyentuh punggung buku tersebut.Saat ia mencoba sekali lagi, sebuah tangan muncul dari samping dan mengambil buku itu dengan mudah.“Ini yang ka

  • Blue Flame   Chapter 63. Di Balik Pintu Jerry

    Sore itu, setelah menyelesaikan tugasnya di beberapa bagian istana, Rohana menerima panggilan untuk menemui Jerry di kamar pribadinya. Ia sudah menduga apa yang dibutuhkan pangeran itu. Luka di bahu Jerry belum pulih sepenuhnya sejak pertarungan mereka, dan selama bekas tebasan belati elf itu masih terbuka, Jerry tidak bisa membiarkan pelayan lain melihatnya.Rohana membawa kotak perlengkapan pengobatan yang biasa digunakannya. Ia mengetuk pintu dua kali sebelum mendengar suara Jerry dari dalam."Masuk saja, pintunya tidak dikunci," ujar Jerry.Rohana membuka pintu, kemudian masuk sambil membawa kotak obat. Jerry duduk di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang bagian atasnya terbuka. Mantelnya tergeletak di kursi, sementara lengan kirinya bertumpu di atas paha. Begitu melihat Rohana, ia menggeser posisi duduknya agar gadis itu bisa bekerja dengan leluasa."Perbanmu harus diganti," kata Rohana sambil meletakkan kotak obat di meja kecil.Jer

  • Blue Flame   Chapter 62. Bayangan Abyss Noctis

    Rohana terbangun dengan napas tersengal. Punggungnya terasa lembap oleh keringat, sementara kedua tangannya mencengkeram seprai seolah baru saja berusaha menyelamatkan diri dari sesuatu yang mengejarnya. Ia masih bisa melihatnya dengan jelas. Gua yang luas, nyala api biru di tengah altar, serta enam sosok berjubah gelap yang berdiri mengelilinginya. Suara-suara mereka terdengar samar dalam ingatannya, tetapi ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: pengorbanan manusia.Rohana duduk perlahan di tepi ranjang. Cahaya pagi menyelinap melalui celah jendela kamarnya, menerangi meja kecil di sudut kamar. Ia menoleh ke sana, kemudian bangkit dengan langkah gontai. Di atas meja terdapat buku catatan yang biasa digunakannya untuk menuliskan hal-hal penting. Rohana mengambilnya, membuka halaman kosong, lalu mencoretkan beberapa garis berdasarkan simbol yang dilihatnya dalam mimpi. Ia berhenti sejenak, memperhatikan bentuk yang baru saja dibuatnya. Ada sesuatu yang terasa akrab. Bukan k

  • Blue Flame   Chapter 61. Permen Biru

    Rohana masih terpaku di tempatnya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menyadari bahwa Philip sedang menunggunya memberikan jawaban. Ia buru-buru menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegugupan yang telanjur terlihat jelas di wajahnya. “Maaf, Yang Mulia. Saya tidak pantas dipanggil begitu.” Philip tidak langsung menjawab. Rohana meremas ujung seragam pelayannya. Sebutan itu terasa begitu asing sekaligus menyakitkan. Tuan Puteri. Dahulu, orang-orang di istana ini memanggilnya dengan gelar tersebut. Ia pernah berlari di sepanjang lorong yang sama, bermain di taman kerajaan, dan makan bersama keluarganya di ruang yang kini mungkin telah menjadi tempat berkumpul para vampir. Sekarang, ia berdiri di hadapan salah satu pangeran mereka dengan pakaian pelayan, berpura-pura menjadi seseorang yang tidak berarti. “Kenapa tidak pantas?” tanya Philip. Rohana mengangkat wajah sedikit. “Karena saya hanya seorang pelayan, Yang Mulia.” “Itu jawabanmu?” Rohana terdiam. Philip mengamati wa

  • Blue Flame   Chapter 60. Bayangan yang Hilang

    Rohana berdiri terpaku di tempat itu. Pandangannya tiba-tiba kabur, napasnya tertahan di tenggorokan seolah ada yang meremas dadanya. Saat bayangan warna merah itu kembali terlintas di benaknya, perutnya langsung mual bergejolak hebat, seolah ingin memuntahkan segala isinya.Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan punggungnya, meski udara di dapur itu terasa biasa saja. Kakinya terasa lemas sekali, seolah tak ada lagi tulang yang menopang tubuhnya, dan perlahan ia ambruk, jatuh terduduk di lantai batu yang dingin. Ia tidak pingsan, matanya masih terbuka, tapi seluruh tubuhnya gemetar hebat, jantungnya berpacu begitu cepat hingga telinganya berdenging. "Kau baik-baik saja?" Suara itu terdengar samar di telinganya. Seorang pelayan lain segera mendekat, berlutut di sampingnya sambil memapah bahu Rohana dengan lembut. "Biarkan aku yang siapkan semuanya ulang. Kau istirahat saja dulu," ucap pelayan itu pelan namun tegas, lalu menoleh ke arah rekan yang lain. Mereka segera datang mem

  • Blue Flame   59. Pelaku di Balik Bayangan

    Rohana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan saat pintu kamar Jerry di belakangnya tertutup rapat. Langkah kakinya teratur namun penuh ketegangan, dan gumamannya hampir tertelan oleh deru napasnya sendiri."Tak ada waktu untuk meladeni makhluk itu. Dia pikir aku akan berbaik hati padanya setelah aku tahu dia itu Moon?"Ia terus berjalan menyusuri lorong panjang menuju dapur istana, matanya melirik ke arah jam matahari yang berdiri tegak di halaman tengah. Bayangan sundial(jam) yang jatuh di garis penanda menunjukkan waktunya tepat, saat para pangeran mulai menyambut waktu sarapan. Rohana merogoh kantung kecil di pinggangnya, mengeluarkan secarik kertas catatan, dan sekali lagi memeriksa daftar keperluan Jerry di meja makan. Semua harus sesuai. Tidak boleh ada yang salah.Sarapan untuk Jerry disiapkan secara khusus, tak boleh sama dengan hidangan pangeran lain. Langkah pertamanya menyiapkan hidangan pembuka. Ia masuk ke ruang dapur yang berasap dan hangat, lalu bertanya k

  • Blue Flame   46. Spotlight

    Di balkon menara yang menghadap taman belakang istana, seorang pria berdiri tegap di balik bayang lembut tirai yang berkibar pelan tertiup angin pagi.Pangeran Jerry menatap tajam ke bawah. Matanya, setajam elang, terkunci pada dua sosok di taman, Sebastian dan Rohana.Meski wajahnya tampak tenang,

  • Blue Flame   42. Bohong

    Dean berdiri di depan pintu penginapan, bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya yang tajam terarah ke ujung jalan, seolah ia sudah menunggu dua sosok yang kini berjalan mendekat perlahan. Begitu melihat mereka, alisnya langsung berkerut.“Kalian berdua dari mana saja?”

  • Blue Flame   34. Dawnshire Berduka

    Pagi buta menyelimuti desa Dawnshire dalam selubung awan kelabu.Meski hujan telah berhenti sejak tengah malam, aroma tanah basah masih terasa kuat di udara, bercampur dengan dinginnya embun yang menggigit kulit. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus, menambah kesuraman desa yang biasan

  • Blue Flame   26. Tatapan yang Terkunci

    Sementara itu, sang juru bicara masih dengan semangat memperkenalkan pangeran-pangeran lainnya, suaranya bergema di seluruh alun-alun istana. Namun, semua itu hanya menjadi latar belakang bagi Rohana. Fokusnya tak beralih dari sosok yang telah menarik perhatiannya, Felix. Setiap gerakan pria itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status