MasukSuara nyaring seperti hewan yang kesakitan begitu sulit di jelaskan menggema di dalam gua yang dijadikan rumah ini. Dean menutup kupingnya karena suara itu menyakiti gendang telinganya.
Perlahan ia membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Di sana Raven menusuk jantung makhluk itu bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipi tirusnya. Seperti ibu dan ayah Dean yang terbakar saat di tusuk, makhluk itu pun perlahan berubah jadi abu. Raven terkulai di tanah setelah berhasil menusuk makhluk itu. Tangisnya pecah. Dean mendekat pada Raven, “Paman, laki-laki tidak boleh cengeng.” Dean berdiri di depan jeruji perak itu menggenggam batang jeruji dengan kedua tangannya sambil memandangi Raven yang masih menangis. Raven menghapus air matanya dan tertawa melihat Dean, “Kau meledekku sekarang?” Dean tersenyum lalu terkekeh, “Paman juga bilang begitu padaku.” Raven bangkit dan tersenyum tipis menatap Dean, “Ayo kita mulai berlatih memburu Vampir!” Binar mata Dean begitu terpancar mendengar itu, “Ayo Paman!” Ia mengepalkan kedua tangannya di dada dan mengatup kedua bibirnya seakan gemas. Hari demi hari Raven mengajarinya keterampilan pedang juga bela diri tanpa senjata, berbagai alat pemburu Vampir dari bahan perak pun Dean coba. “Paman apa aku sudah boleh memburu Vampir?” tanya Dean saat sebulan sudah ia berlatih dengan keras. Raven tertawa meremehkan, “Kau belum bisa apa-apa, aku pun butuh waktu bertahun-tahun melatih diriku.” “Hah? Lantas kapan aku bisa ikut berburu dengan Paman?” Dean melepaskan begitu saja pedang kecil dari genggamannya, merengek seperti anak kecil ingin meminta sesuatu. “Sabar, jika sudah waktunya, akan aku ajak. Lagi pula kau masih bocah, tunggu sampai kau remaja.” Raven menghampiri Dean, dan mengambil kembali senjata yang Dean jatuhkan, lalu memberikannya lagi pada genggaman Dean. Dean terus berlatih, meski ia terlihat kesulitan di umurnya yang masih bocah, tapi tekadnya sangat kuat. Raven begitu kagum dengan semangat Dean. Saat latihan serasa cukup, Raven selalu memberikan sup untuk mengisi energi mereka. Raven telah membuat dirinya menjadi sosok pengganti bagi orang tua Dean. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, kini Dean telah remaja berusia lima belas tahun, kini tingginya sudah setara dengan Raven. Ia mampu mengalahkan Raven dalam latihan duel kali ini, Raven tersungkur ke tanah dan pedang Dean telah berada di depan dada Raven. Namun keduanya tersenyum dan terkekeh bersama. Dean mengulurkan tangan kekarnya pada Raven, membantu pamannya berdiri. “Kau sudah cukup kuat, mari berburu bersamaku!” ucap Raven sambil menepuk bahu Dean yang lebar. Dean tersenyum lebar mendengarnya, ia mengangguk mantap dan tak sabar berburu Vampir malam ini. Kedatangan Raven ke pusat kota dan desa selalu di nanti para warga yang kerap kali hampir di mangsa para Vampir. Sosok Raven begitu di hormati dan di juluki pahlawan malam oleh warga-warga setempat. Kini ia datang berdua dengan Dean, sambil mengunjungi pasar malam, Raven berbelanja kebutuhan dapur. Pakaian yang mereka kenakan tampak biasa saja tanpa mencolok perhatian. “Paman, memangnya mereka ada di tengah keramaian?” bisik Dean sambil menenteng bahan makanan di keranjang. “Mereka bahkan ikut berbaur dengan manusia, tapi jika kau lihat lebih detail, mereka memiliki kulit pucat dan mata yang yang hitam pekat. Penyamaran mereka masih belum sempurna untuk menipuku.” Dean menganggukkan kepala, ini pertama kalinya ia terjun memburu Vampir, dalam benaknya ia merasa gugup tapi ia juga bersemangat. Ia merasa harus tetap waspada memperhatikan sekitarnya, tak boleh lengah. Tiba-tiba Raven menghentikan langkahnya ia menoleh pada Dean, “Lihatlah ke arah jam dua kita, kau simpan dulu keranjang kita, itu untuk sarapan! Cari tempat yang aman, itu lebih berharga dari vampir sialan ini.” “Ba-baik Paman!” Dean menyisir pandangannya ke sekitar, terdapat gang di sebelah kirinya, ia lalu menyimpan keranjangnya di sana sambil memperhatikan seseorang yang Raven tunjuk tadi. Seorang pria yang Raven curigai sekilas nampak seperti manusia biasa, pakaiannya pun terbilang cukup mewah, biasanya Vampir pria memang mencolok perhatian untuk menarik hati wanita yang akan menjadi mangsanya. Dia tampak memperhatikan salah satu wanita yang sedang sibuk berbelanja. Di belakangnya telah berdiri Raven yang mengamati sambil berpura-pura membeli sesuatu. Sementara Dean berdiri di samping wanita itu berpura-pura memilih barang. Sang wanita nampak kesusahan membawa belanjaannya,”Sepertinya anda sedang kesulitan Nona. Bolehkah saya membantu?” tawar Vampir itu dengan senyum ramah memikat sang wanita, matanya tampak menyala menghipnotis sang wanita. Netra Dean membulat menyaksikan itu, tangannya telah diam-diam menggenggam gagang belati di balik kain jubahnya. Tapi Raven menggeleng memberi isyarat bahwa ia harus bersabar. Sang wanita tadi nampaknya telah terhipnotis, ia mengikuti kemana Vampir itu pergi. Ternyata mereka berbelok ke gang di mana Dean tadi menyimpan keranjang belanjaannya. “Wah gang itu nampak sepi dan gelap, dasar Vampir mesum!” gumam Dean. Diliriknya Raven yang mengangguk memberi isyarat untuk mengikuti Vampir itu. Dan benar saja, ketika Dean dan Raven tiba di gang, Vampir itu sedang mendekatkan bibirnya pada leher sang wanita. “Wah-wah ada yang sedang makan malam rupanya!” Dean mengeluarkan belati peraknya. Sang Vampir menyeringai, kini ia memperlihatkan taringnya, sementara Raven mengeluarkan cambuk berlapis cairan peraknya membuat sang Vampir sedikit mundur perlahan membiarkan mangsa wanitanya tadi mematung masih dalam pengaruh hipnotis. “Mau kemana kau?” Raven mencambuk ke arah depan bermaksud mengenai tubuh sang Vampir, namun gagal. Vampir itu melompat ke arah depan hendak keluar gang tapi ia menyenggol keranjang belanjaan yang Dean taruh di sisi gang hingga sang Vampir terjatuh. “Sialan! Belanjaan kita jadi rusak paman!” Dean melompat ke atas sang Vampir yang meronta menghindar dari tusukan Dean, mereka bergulat di tanah, berguling-guling hingga membuat belanjaan yang berserakan tertindih mereka. “Sudah aku bilang itu sarapan kita! Lebih berharga dari Vampir sialan ini!” Teriak Raven yang kemudian mengayunkan pecutnya dan melilit kaki sang Vampir. “Bukan aku yang melakukannya Paman! Tapi Vampir mesum ini! ujar Dean yang terpelanting ke dinding gang karena pukulan Vampir mengenai dadanya. Vampir itu memekik, kakinya berasap. Tak sampai situ, Raven menyeret Vampir itu dengan pecutnya, melemparkannya ke udara dan menabrakkannya ke dinding gang. Dean mengambil kesempatan itu meski ia rasakan sakit seluruh tubuhnya, ia menerkam sang Vampir dan mengayunkan belatinya. “Hiyaaaa!!!” Teriak Dean begitu bersemangat membuka mulutnya. CROT!! Dada Vampir tertusuk begitu dalam memuncratkan darahnya ke wajah serta mulut Dean. Dean tersenyum senang melihat sang Vampir perlahan terbakar. Tapi bersamaan dengan itu ia tak sengaja menelan sisa darah Vampir di mulutnya. Tenggorokannya terasa panas, tubuh Vampir juga perlahan terbakar semuanya, Dean pun terkulai meronta di tanah memegang tenggorokannya. “Dean!! Kau kenapa?” “Panas!!” Teriak Dean meski suaranya kini telah parau. Ia berbaring tak bisa diam di tanah mengusap-usap seluruh tubuhnya sambil berkata kepanasan tapi Raven memeriksa suhu tubuh Dean begitu dingin. Raven mengerutkan dahi memperhatikan apa yang terjadi pada Dean.Rohana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan saat pintu kamar Jerry di belakangnya tertutup rapat. Langkah kakinya teratur namun penuh ketegangan, dan gumamannya hampir tertelan oleh deru napasnya sendiri."Tak ada waktu untuk meladeni makhluk itu. Dia pikir aku akan berbaik hati padanya setelah aku tahu dia itu Moon?"Ia terus berjalan menyusuri lorong panjang menuju dapur istana, matanya melirik ke arah jam matahari yang berdiri tegak di halaman tengah. Bayangan sundial(jam) yang jatuh di garis penanda menunjukkan waktunya tepat, saat para pangeran mulai menyambut waktu sarapan. Rohana merogoh kantung kecil di pinggangnya, mengeluarkan secarik kertas catatan, dan sekali lagi memeriksa daftar keperluan Jerry di meja makan. Semua harus sesuai. Tidak boleh ada yang salah.Sarapan untuk Jerry disiapkan secara khusus, tak boleh sama dengan hidangan pangeran lain. Langkah pertamanya menyiapkan hidangan pembuka. Ia masuk ke ruang dapur yang berasap dan hangat, lalu bertanya k
"Apa yang kalian lakukan?" Sebuah suara yang sedingin es tiba-tiba membelah suasana, membuat para pelayan tersentak dan seketika kembali berdiri tegak di posisi masing-masing, napas tertahan di tenggorokan. "Terang abadi untukmu, Pangeran Steve," sapa salah satu pelayan Jerry yang sejak tadi menunggu di depan tirai sekat pemandian, suaranya terdengar sedikit bergetar. Steve tidak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung melangkah masuk ke arah kolam, diikuti oleh para pelayannya di belakang. Begitu sampai di area kolam, pandangannya segera menangkap pemandangan itu, Rohana baru saja keluar dari air, tubuhnya basah kuyup menyisakan jejak tetesan air di lantai batu. Sementara Jerry sudah berdiri di sampingnya, kini telah mengenakan jubah mandinya. Steve berhenti sejenak di tempat, menatap diam melihat Jerry dan gadis yang basah kuyup itu. Jerry hanya membalas tatapannya dengan tenang, lalu berbalik dan berlalu pergi begitu saja. Rohana segera menunduk dalam, memberi hormat kepada
Tak lama setelah sosok Felix lenyap dari ruangan, pintu kembali terbuka. Jerry masuk, diikuti empat orang pelayan yang berjalan tertib di belakangnya. Saat itu Rohana sedang sibuk menaburkan rempah-rempah kering ke permukaan air kolam mandi, aroma harum dan hangat segera menyebar memenuhi ruangan.Rohana menoleh perlahan, segera menghentikan gerakannya. Ia memberi hormat dengan menundukkan kepala sejenak saat Jerry mendekat, lalu menyaksikan Pangeran itu melangkah turun masuk ke dalam kolam. Baru semata kaki, air kolam merendamnya.Keempat pelayan itu meletakkan pakaian ganti Jerry di atas meja batu alam yang tersusun rapi di pinggir kolam, lalu memberi tanda kepada para pelayan untuk pergi dari ruangan."Kecuali kau," ujar Jerry, menoleh sedikit ke arah Rohana yang berdiri diam di samping kolam."Baik, Tuan." Jawab Rohana setenang yang ia mampu. Padahal jantungnya berpacu kencang, adrenalin mengalir deras di setiap uratnya."Bantu aku mandi, dan obati lukaku." Jerry membuka jubah man
Angin dingin menyapu jalanan, menampar wajah Rohana dengan kesejukan yang menusuk hingga ke tulang. Ia sedikit mendongak menatap langit, dan keningnya segera berkerut melihat gumpalan awan hitam pekat yang tampak berkumpul tebal tepat di atas atap istana yang menjulang itu. Gelapnya terasa berat, seolah menekan bumi di bawahnya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, pikirnya dalam hati, namun ada rasa samar yang mengatakan bahwa dingin di tempat ini bukan sekadar datang dari cuaca. Ia merapatkan jubahnya ke tubuh, melilitkannya lebih erat sebagai perisai tipis. Hembusan napasnya terlihat jelas, berupa kepulan uap putih yang segera lenyap di udara yang sedingin es pagi itu.Langkahnya tak terhenti hingga ia tiba di gerbang samping, khusus jalan keluar masuk para pelayan. Di sana ia mengulurkan tangan, memperlihatkan plakat kayu berukir yang menjadi tanda pengenal dan izin kerjanya. Prajurit penjaga yang berdiri tegak di sana mengenakan baju zirah yang tampak pucat, seolah logam itu
Pagi itu, Rohana menghampiri Dean sebelum ia berangkat menjalankan aktivitasnya. Wajah gadis itu terlihat lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya, meski ada sesuatu yang samar dalam sorot matanya, seperti seseorang yang sudah memikirkan sebuah keputusan sejak lama.“Dean, aku mau izin pergi ke rumah belajar hari ini.”Dean yang tengah bersiap menoleh kepadanya. “Ke rumah belajar?”Rohana mengangguk.“Aku juga mendapat tawaran pekerjaan sambilan. Jadi mulai hari ini, mungkin aku tak akan bisa ikut memburu vampir bersamamu.”Kalimat itu membuat Dean terdiam.Ada sesuatu yang terasa berbeda.Bukan hanya karena Rohana mengatakan ia akan bekerja, tetapi karena perubahan sikapnya terasa begitu tiba-tiba. Baru kemarin gadis itu masih bersikeras ingin ikut berburu vampir bersamanya. Bahkan sampai sempat merajuk karena Dean melarangnya ikut terlalu jauh.Namun sekarang …Rohana justru memilih untuk pergi sendiri dan mengurus sesuatu yang sama sekali berbeda.Dean menatapnya cukup lama. Ada s
Sejak hari pertama mereka bertemu di pasar, kebiasaan Stayrus tak pernah berubah.Setiap kali Vivian muncul dengan keranjang belanjaan yang selalu terlalu berat untuk tubuhnya yang kecil, Stayrus akan tiba entah dari mana, seolah angin pagi membawa sosoknya turun dari langit.“Biar aku bantu,” katanya sambil meraih keranjang belanja Vivian.Vivian tersenyum tipis, pucat tapi tetap manis. “Kamu ini selalu pas muncul ya? Apa pekerjaanmu sebenernya?” tanyanya sambil berjalan pelan menyusuri jalan desa.“Ada urusan di sekitar sini,” jawab Stayrus dengan nada santai. “kebetulan lewat lalu bertemu kamu.”“Hmm, selalu kebetulan, ya?” Vivian tertawa kecil, batuk sedikit, lalu menunduk.Senyumnya tetap dipaksa cerah padahal matanya terlihat capek.Hari demi hari, pola itu terus berulang.Stayrus menemani Vivian belanja, ngobrol di jalan pulang, kadang hanya jalan di samping tanpa banyak kata. Untuk Stayrus, kedekatan kecil itu seperti hadiah, bahkan kalau itu hanya lima menit.Tapi keadaan Viv
Sang juru bicara bersiap, Ia mundur sedikit dari balkon, mengatur napas sebelum kembali berbicara dengan suara lantang yang menggema ke seluruh alun-alun istana. "Inilah pemimpin kita yang baru, Pangeran Sebastian, Kakak tertua dari kelima pangeran yang lain!" Sorak-
Dean berjalan pulang ke penginapan malam itu, langkahnya jauh lebih lambat dibanding sebelumnya. Energinya terasa terkuras dengan cepat, seakan kekuatan asing yang tadi menguasai dirinya telah menghisap habis sisa-sisa tenaganya. Rasa letih menjalari tubuhnya, membuat setiap gerakannya terasa ber
Di dalam lemari kayu yang besar, seorang gadis kecil bersembunyi, tubuhnya gemetar hebat. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga rasanya bisa terdengar oleh siapa pun. Ia memeluk lututnya erat-erat, menekan tubuhnya ke sudut lemari seolah berharap bisa menghilang. Di luar, suara jeri
Prajurit-prajurit di barisan belakang bergidik ngeri, sebagian mulai merapal doa dengan suara bergetar. Pedang mereka masih terangkat, tapi tangan mereka gemetar hebat. Chriss dan Jerry kini melangkah maju. Chriss, dalam wujud bayangan hitamnya, melesat tanpa bisa di







