Mag-log inSejak hari pertama mereka bertemu di pasar, kebiasaan Stayrus tak pernah berubah.Setiap kali Vivian muncul dengan keranjang belanjaan yang selalu terlalu berat untuk tubuhnya yang kecil, Stayrus akan tiba entah dari mana, seolah angin pagi membawa sosoknya turun dari langit.“Biar aku bantu,” katanya sambil meraih keranjang belanja Vivian.Vivian tersenyum tipis, pucat tapi tetap manis. “Kamu ini selalu pas muncul ya? Apa pekerjaanmu sebenernya?” tanyanya sambil berjalan pelan menyusuri jalan desa.“Ada urusan di sekitar sini,” jawab Stayrus dengan nada santai. “kebetulan lewat lalu bertemu kamu.”“Hmm, selalu kebetulan, ya?” Vivian tertawa kecil, batuk sedikit, lalu menunduk.Senyumnya tetap dipaksa cerah padahal matanya terlihat capek.Hari demi hari, pola itu terus berulang.Stayrus menemani Vivian belanja, ngobrol di jalan pulang, kadang hanya jalan di samping tanpa banyak kata. Untuk Stayrus, kedekatan kecil itu seperti hadiah, bahkan kalau itu hanya lima menit.Tapi keadaan Viv
Di langit tertinggi, jauh di atas batas pandang manusia, berdirilah Skylume, sebuah negeri di atas awan. Awan-awan tipis melayang seperti sutra putih, memantulkan semburat keemasan yang tak pernah pudar.Sungai-sungai cahaya mengalir tenang di antara jembatan kristal, menciptakan gemericik lembut seperti denting piano. Di sana, para dewa berjalan sibuk lalu lalang mengemban tugas-tugasnya.Di puncak Skylum, pada sebuah menara yang berputar perlahan mengikuti alur waktu, tinggal seorang dewa yang tak pernah benar-benar beristirahat: Stayrus, sang Seer, penjaga takdir seluruh jiwa di bumi.Penglihatannya menembus lebih jauh dibanding siapa pun. Setiap benang takdir manusia berpendar di hadapannya, mengalir seperti ratusan ribu helai cahaya. Namun, ada satu benang, satu cahaya yang selalu membuatnya berhenti.Benang seorang gadis.Gadis itu hidup di bumi, di sebuah desa kecil yang terpencil. Ia hidup bersama keluarga angkatnya, keluarga yang seharusnya memberi kasih, namun justru membeba
Rohana merasa seperti mengalami kelumpuhan tidur. Tubuhnya menolak bergerak, sementara sesak mencengkeram dadanya, seolah ada sesuatu yang menekan paru-parunya dari dalam. Napasnya terengah pendek dan dangkal, dan pandangannya mulai mengabur.Di balik kesadarannya yang menipis, matanya menangkap sesuatu, pintu kamar perlahan berderit terbuka, mengeluarkan suara lirih yang nyaris tak terdengar.Di ambang pintu berdiri sosok kecil yang sangat ia kenali. Samar-samar, cahaya redup berdenyut dari telapak tangannya, memancarkan sinar hangat yang menenangkan, menerangi ruang di sekitarnya dengan lembut.Rohana tak bisa bergerak, tetapi tatapannya terpaku pada makhluk kecil itu, berusaha memastikan apakah ini hanya mimpi atau kenyataan.Lalu, tepat di depan matanya, sesuatu yang luar biasa terjadi.Sosok kecil itu mulai berubah. Cahaya di tangannya menyebar ke seluruh tubuhnya, semakin terang hingga sepenuhnya menutupi bentuk aslinya.Dalam sekejap, sosok mungil itu menjelma menjadi seorang p
Langit tampak kelabu saat Rohana berjalan kembali ke penginapan, wajahnya tertutup keresahan yang sunyi. Setiap langkah terasa semakin berat, seakan pikirannya dipenuhi bayangan yang tak bisa ia singkirkan, kenangan yang melekat seperti bayang-bayang, mengikutinya dari gerbang istana hingga ke depan pintu penginapan.Begitu ia melangkah masuk, Stayrus mengangkat kepala dari tempatnya di dekat perapian. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tatapannya tertahan lebih lama dari biasanya, tajam dan menyelidik, seolah mencoba melihat menembus permukaan.Ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang lebih gelap melingkupi kehadiran Rohana seperti kabut. Tangan kecilnya mengepal perlahan, sebuah sumpah diam-diam untuk bertindak jika kegelapan itu benar-benar menampakkan wujudnya.Rohana, tanpa menyadari alarm sunyi yang telah ia picu, menaiki tangga sempit menuju kamar lotengnya. Gerakannya mekanis, seolah hanya mengikuti kebiasaan, bukan kesadaran. Ia merapikan bar
Beberapa tahun yang lalu.Pada malam ketika bulan purnama menggantung terang di langit, cahayanya menyelimuti bumi seperti selendang perak yang membelai lembut dedaunan, Rohana, yang saat itu masih sangat kecil, terbangun dari tidurnya.Ia bahkan belum genap lima tahun. Dunia baginya masih penuh misteri.Malam itu, ia tidak terbangun karena mimpi buruk.Melainkan karena sebuah suara aneh.Suara lolongan panjang, pilu, yang mengguncang jiwanya.Suara itu menembus sunyi malam, melengking seakan merobek langit, memohon agar kegelapan segera berlalu. Terasa dekat, namun juga jauh, seperti makhluk yang merindukan sesuatu yang tak pernah bisa ia gapai.Rohana hanya bisa duduk di ranjang besarnya, mata kecilnya membelalak dalam gelap.Ia menoleh ke arah jendela. Cahaya bulan menyelinap melalui tirai tipis yang berayun pelan.Rasa takut merambat ke dadanya. Jantungnya berdegup kencang, namun tubuh mungilnya terlalu lemah untuk mencari sumber suara itu. Ia hanya menarik selimut sampai ke dagun
Rohana menelan ludahnya sendiri, gerakan kecil yang terasa sangat berat di udara yang mendadak kaku. Tenggorokannya kering, seolah setiap tetes kelembapan menguap di bawah tekanan yang bahkan tak ia pahami sepenuhnya. Ia sampai bisa mendengar suara tegukan air liurnya sendiri, seakan dunia di sekelilingnya hening hanya untuk mendengarkannya.Dengan tangan gemetar, ia meraih ke arah pahanya. Di sana, terikat rapat pada kulitnya, belati Elf yang ia sembunyikan sejak pagi. Jemarinya menelusuri permukaan kulitnya, nyaris tak menyentuh sarung bilah itu, gerakannya begitu halus hingga hampir tak terlihat.Ia hanya ingin memastikan. Bahwa satu-satunya alat pertahanannya masih ada, masih dalam jangkauan jika situasi berubah berbahaya. Namun detak jantungnya yang liar memecah fokusnya, membuat tiap napas terasa seperti pertempuran.Rohana menunduk, berusaha menstabilkan suaranya di tengah badai di dadanya.“Maafkan saya, Yang Mulia,” ujarnya lembut, hati-hati. “ini pertama kalinya kita bertemu







