แชร์

25. Pangeran Vampir

ผู้เขียน: Vya Kim
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-03 19:00:46

Sang juru bicara bersiap, Ia mundur sedikit dari balkon, mengatur napas sebelum kembali berbicara dengan suara lantang yang menggema ke seluruh alun-alun istana.

"Inilah pemimpin kita yang baru, Pangeran Sebastian, Kakak tertua dari kelima pangeran yang lain!"

Sorak-sorai pecah dari lautan rakyat yang berkumpul di bawah balkon istana. Mata-mata penuh harap menatap ke atas, menanti sosok yang disebutkan itu untuk tampil di hadapan mereka.

Perlahan,
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Blue Flame   Chapter 63. Di Balik Pintu Jerry

    Sore itu, setelah menyelesaikan tugasnya di beberapa bagian istana, Rohana menerima panggilan untuk menemui Jerry di kamar pribadinya. Ia sudah menduga apa yang dibutuhkan pangeran itu. Luka di bahu Jerry belum pulih sepenuhnya sejak pertarungan mereka, dan selama bekas tebasan belati elf itu masih terbuka, Jerry tidak bisa membiarkan pelayan lain melihatnya.Rohana membawa kotak perlengkapan pengobatan yang biasa digunakannya. Ia mengetuk pintu dua kali sebelum mendengar suara Jerry dari dalam."Masuk saja, pintunya tidak dikunci," ujar Jerry.Rohana membuka pintu, kemudian masuk sambil membawa kotak obat. Jerry duduk di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang bagian atasnya terbuka. Mantelnya tergeletak di kursi, sementara lengan kirinya bertumpu di atas paha. Begitu melihat Rohana, ia menggeser posisi duduknya agar gadis itu bisa bekerja dengan leluasa."Perbanmu harus diganti," kata Rohana sambil meletakkan kotak obat di meja kecil.Jer

  • Blue Flame   Chapter 62. Bayangan Abyss Noctis

    Rohana terbangun dengan napas tersengal. Punggungnya terasa lembap oleh keringat, sementara kedua tangannya mencengkeram seprai seolah baru saja berusaha menyelamatkan diri dari sesuatu yang mengejarnya. Ia masih bisa melihatnya dengan jelas. Gua yang luas, nyala api biru di tengah altar, serta enam sosok berjubah gelap yang berdiri mengelilinginya. Suara-suara mereka terdengar samar dalam ingatannya, tetapi ada satu hal yang terus mengusik pikirannya: pengorbanan manusia.Rohana duduk perlahan di tepi ranjang. Cahaya pagi menyelinap melalui celah jendela kamarnya, menerangi meja kecil di sudut kamar. Ia menoleh ke sana, kemudian bangkit dengan langkah gontai. Di atas meja terdapat buku catatan yang biasa digunakannya untuk menuliskan hal-hal penting. Rohana mengambilnya, membuka halaman kosong, lalu mencoretkan beberapa garis berdasarkan simbol yang dilihatnya dalam mimpi. Ia berhenti sejenak, memperhatikan bentuk yang baru saja dibuatnya. Ada sesuatu yang terasa akrab. Bukan k

  • Blue Flame   Chapter 61. Permen Biru

    Rohana masih terpaku di tempatnya. Beberapa detik berlalu sebelum ia menyadari bahwa Philip sedang menunggunya memberikan jawaban. Ia buru-buru menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kegugupan yang telanjur terlihat jelas di wajahnya. “Maaf, Yang Mulia. Saya tidak pantas dipanggil begitu.” Philip tidak langsung menjawab. Rohana meremas ujung seragam pelayannya. Sebutan itu terasa begitu asing sekaligus menyakitkan. Tuan Puteri. Dahulu, orang-orang di istana ini memanggilnya dengan gelar tersebut. Ia pernah berlari di sepanjang lorong yang sama, bermain di taman kerajaan, dan makan bersama keluarganya di ruang yang kini mungkin telah menjadi tempat berkumpul para vampir. Sekarang, ia berdiri di hadapan salah satu pangeran mereka dengan pakaian pelayan, berpura-pura menjadi seseorang yang tidak berarti. “Kenapa tidak pantas?” tanya Philip. Rohana mengangkat wajah sedikit. “Karena saya hanya seorang pelayan, Yang Mulia.” “Itu jawabanmu?” Rohana terdiam. Philip mengamati wa

  • Blue Flame   Chapter 60. Bayangan yang Hilang

    Rohana berdiri terpaku di tempat itu. Pandangannya tiba-tiba kabur, napasnya tertahan di tenggorokan seolah ada yang meremas dadanya. Saat bayangan warna merah itu kembali terlintas di benaknya, perutnya langsung mual bergejolak hebat, seolah ingin memuntahkan segala isinya.Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan punggungnya, meski udara di dapur itu terasa biasa saja. Kakinya terasa lemas sekali, seolah tak ada lagi tulang yang menopang tubuhnya, dan perlahan ia ambruk, jatuh terduduk di lantai batu yang dingin. Ia tidak pingsan, matanya masih terbuka, tapi seluruh tubuhnya gemetar hebat, jantungnya berpacu begitu cepat hingga telinganya berdenging. "Kau baik-baik saja?" Suara itu terdengar samar di telinganya. Seorang pelayan lain segera mendekat, berlutut di sampingnya sambil memapah bahu Rohana dengan lembut. "Biarkan aku yang siapkan semuanya ulang. Kau istirahat saja dulu," ucap pelayan itu pelan namun tegas, lalu menoleh ke arah rekan yang lain. Mereka segera datang mem

  • Blue Flame   59. Pelaku di Balik Bayangan

    Rohana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan saat pintu kamar Jerry di belakangnya tertutup rapat. Langkah kakinya teratur namun penuh ketegangan, dan gumamannya hampir tertelan oleh deru napasnya sendiri."Tak ada waktu untuk meladeni makhluk itu. Dia pikir aku akan berbaik hati padanya setelah aku tahu dia itu Moon?"Ia terus berjalan menyusuri lorong panjang menuju dapur istana, matanya melirik ke arah jam matahari yang berdiri tegak di halaman tengah. Bayangan sundial(jam) yang jatuh di garis penanda menunjukkan waktunya tepat, saat para pangeran mulai menyambut waktu sarapan. Rohana merogoh kantung kecil di pinggangnya, mengeluarkan secarik kertas catatan, dan sekali lagi memeriksa daftar keperluan Jerry di meja makan. Semua harus sesuai. Tidak boleh ada yang salah.Sarapan untuk Jerry disiapkan secara khusus, tak boleh sama dengan hidangan pangeran lain. Langkah pertamanya menyiapkan hidangan pembuka. Ia masuk ke ruang dapur yang berasap dan hangat, lalu bertanya k

  • Blue Flame   58. Kasta Samar

    "Apa yang kalian lakukan?" Sebuah suara yang sedingin es tiba-tiba membelah suasana, membuat para pelayan tersentak dan seketika kembali berdiri tegak di posisi masing-masing, napas tertahan di tenggorokan. "Terang abadi untukmu, Pangeran Steve," sapa salah satu pelayan Jerry yang sejak tadi menunggu di depan tirai sekat pemandian, suaranya terdengar sedikit bergetar. Steve tidak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung melangkah masuk ke arah kolam, diikuti oleh para pelayannya di belakang. Begitu sampai di area kolam, pandangannya segera menangkap pemandangan itu, Rohana baru saja keluar dari air, tubuhnya basah kuyup menyisakan jejak tetesan air di lantai batu. Sementara Jerry sudah berdiri di sampingnya, kini telah mengenakan jubah mandinya. Steve berhenti sejenak di tempat, menatap diam melihat Jerry dan gadis yang basah kuyup itu. Jerry hanya membalas tatapannya dengan tenang, lalu berbalik dan berlalu pergi begitu saja. Rohana segera menunduk dalam, memberi hormat kepada

  • Blue Flame   6. Eldoria Sanctum

    Langit di atas Dawnshire kelabu, seolah matahari enggan menampakkan sinarnya. Kabut tipis merayap di antara rumah-rumah tua yang sebagian besar telah ditinggalkan manusia. Aroma tanah basah bercampur dengan bau samar darah yang masih melekat di jalanan berbatu. Di berand

  • Blue Flame   5. Kemampuan Baru

    Pertanyaan Raven juga justru mengganggu pikiran Dean. Pekikkan suara kuda yang begitu nyaring, hentakkan sepatu kuda, semua bercampur dengan desiran suara angin. Pergerakan orang-orang di sekitarnya begitu jelas terbaca walau hanya dari suara yang di timbulkan.Bahkan suara nafas Raven di sampingny

  • Blue Flame   4. Perubahan

    Wanita yang mematung terhipnotis perlahan kesadarannya kembali, sorot matanya kembali hidup, namun sayang ketika ia sadar malah di hadapkan pada pemandangan yang membingungkan.Seorang pria tengah berguling-guling di tanah berteriak kepanasan sementara pria paruh baya di depannya berusaha melakukan

  • Blue Flame   3. Di Luar Dugaan

    Suara nyaring seperti hewan yang kesakitan begitu sulit di jelaskan menggema di dalam gua yang dijadikan rumah ini. Dean menutup kupingnya karena suara itu menyakiti gendang telinganya.Perlahan ia membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Di sana Raven menusuk jantung makhluk itu bersamaan deng

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status