로그인Angin dingin menyapu jalanan, menampar wajah Rohana dengan kesejukan yang menusuk hingga ke tulang. Ia sedikit mendongak menatap langit, dan keningnya segera berkerut melihat gumpalan awan hitam pekat yang tampak berkumpul tebal tepat di atas atap istana yang menjulang itu. Gelapnya terasa berat, seolah menekan bumi di bawahnya. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan, pikirnya dalam hati, namun ada rasa samar yang mengatakan bahwa dingin di tempat ini bukan sekadar datang dari cuaca. Ia merapatkan jubahnya ke tubuh, melilitkannya lebih erat sebagai perisai tipis. Hembusan napasnya terlihat jelas, berupa kepulan uap putih yang segera lenyap di udara yang sedingin es pagi itu.Langkahnya tak terhenti hingga ia tiba di gerbang samping, khusus jalan keluar masuk para pelayan. Di sana ia mengulurkan tangan, memperlihatkan plakat kayu berukir yang menjadi tanda pengenal dan izin kerjanya. Prajurit penjaga yang berdiri tegak di sana mengenakan baju zirah yang tampak pucat, seolah logam itu
Pagi itu, Rohana menghampiri Dean sebelum ia berangkat menjalankan aktivitasnya. Wajah gadis itu terlihat lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya, meski ada sesuatu yang samar dalam sorot matanya, seperti seseorang yang sudah memikirkan sebuah keputusan sejak lama.“Dean, aku mau izin pergi ke rumah belajar hari ini.”Dean yang tengah bersiap menoleh kepadanya. “Ke rumah belajar?”Rohana mengangguk.“Aku juga mendapat tawaran pekerjaan sambilan. Jadi mulai hari ini, mungkin aku tak akan bisa ikut memburu vampir bersamamu.”Kalimat itu membuat Dean terdiam.Ada sesuatu yang terasa berbeda.Bukan hanya karena Rohana mengatakan ia akan bekerja, tetapi karena perubahan sikapnya terasa begitu tiba-tiba. Baru kemarin gadis itu masih bersikeras ingin ikut berburu vampir bersamanya. Bahkan sampai sempat merajuk karena Dean melarangnya ikut terlalu jauh.Namun sekarang …Rohana justru memilih untuk pergi sendiri dan mengurus sesuatu yang sama sekali berbeda.Dean menatapnya cukup lama. Ada s
Sejak hari pertama mereka bertemu di pasar, kebiasaan Stayrus tak pernah berubah.Setiap kali Vivian muncul dengan keranjang belanjaan yang selalu terlalu berat untuk tubuhnya yang kecil, Stayrus akan tiba entah dari mana, seolah angin pagi membawa sosoknya turun dari langit.“Biar aku bantu,” katanya sambil meraih keranjang belanja Vivian.Vivian tersenyum tipis, pucat tapi tetap manis. “Kamu ini selalu pas muncul ya? Apa pekerjaanmu sebenernya?” tanyanya sambil berjalan pelan menyusuri jalan desa.“Ada urusan di sekitar sini,” jawab Stayrus dengan nada santai. “kebetulan lewat lalu bertemu kamu.”“Hmm, selalu kebetulan, ya?” Vivian tertawa kecil, batuk sedikit, lalu menunduk.Senyumnya tetap dipaksa cerah padahal matanya terlihat capek.Hari demi hari, pola itu terus berulang.Stayrus menemani Vivian belanja, ngobrol di jalan pulang, kadang hanya jalan di samping tanpa banyak kata. Untuk Stayrus, kedekatan kecil itu seperti hadiah, bahkan kalau itu hanya lima menit.Tapi keadaan Viv
Di langit tertinggi, jauh di atas batas pandang manusia, berdirilah Skylume, sebuah negeri di atas awan. Awan-awan tipis melayang seperti sutra putih, memantulkan semburat keemasan yang tak pernah pudar.Sungai-sungai cahaya mengalir tenang di antara jembatan kristal, menciptakan gemericik lembut seperti denting piano. Di sana, para dewa berjalan sibuk lalu lalang mengemban tugas-tugasnya.Di puncak Skylum, pada sebuah menara yang berputar perlahan mengikuti alur waktu, tinggal seorang dewa yang tak pernah benar-benar beristirahat: Stayrus, sang Seer, penjaga takdir seluruh jiwa di bumi.Penglihatannya menembus lebih jauh dibanding siapa pun. Setiap benang takdir manusia berpendar di hadapannya, mengalir seperti ratusan ribu helai cahaya. Namun, ada satu benang, satu cahaya yang selalu membuatnya berhenti.Benang seorang gadis.Gadis itu hidup di bumi, di sebuah desa kecil yang terpencil. Ia hidup bersama keluarga angkatnya, keluarga yang seharusnya memberi kasih, namun justru membeba
Rohana merasa seperti mengalami kelumpuhan tidur. Tubuhnya menolak bergerak, sementara sesak mencengkeram dadanya, seolah ada sesuatu yang menekan paru-parunya dari dalam. Napasnya terengah pendek dan dangkal, dan pandangannya mulai mengabur.Di balik kesadarannya yang menipis, matanya menangkap sesuatu, pintu kamar perlahan berderit terbuka, mengeluarkan suara lirih yang nyaris tak terdengar.Di ambang pintu berdiri sosok kecil yang sangat ia kenali. Samar-samar, cahaya redup berdenyut dari telapak tangannya, memancarkan sinar hangat yang menenangkan, menerangi ruang di sekitarnya dengan lembut.Rohana tak bisa bergerak, tetapi tatapannya terpaku pada makhluk kecil itu, berusaha memastikan apakah ini hanya mimpi atau kenyataan.Lalu, tepat di depan matanya, sesuatu yang luar biasa terjadi.Sosok kecil itu mulai berubah. Cahaya di tangannya menyebar ke seluruh tubuhnya, semakin terang hingga sepenuhnya menutupi bentuk aslinya.Dalam sekejap, sosok mungil itu menjelma menjadi seorang p
Langit tampak kelabu saat Rohana berjalan kembali ke penginapan, wajahnya tertutup keresahan yang sunyi. Setiap langkah terasa semakin berat, seakan pikirannya dipenuhi bayangan yang tak bisa ia singkirkan, kenangan yang melekat seperti bayang-bayang, mengikutinya dari gerbang istana hingga ke depan pintu penginapan.Begitu ia melangkah masuk, Stayrus mengangkat kepala dari tempatnya di dekat perapian. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tatapannya tertahan lebih lama dari biasanya, tajam dan menyelidik, seolah mencoba melihat menembus permukaan.Ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang lebih gelap melingkupi kehadiran Rohana seperti kabut. Tangan kecilnya mengepal perlahan, sebuah sumpah diam-diam untuk bertindak jika kegelapan itu benar-benar menampakkan wujudnya.Rohana, tanpa menyadari alarm sunyi yang telah ia picu, menaiki tangga sempit menuju kamar lotengnya. Gerakannya mekanis, seolah hanya mengikuti kebiasaan, bukan kesadaran. Ia merapikan bar
Di balkon menara yang menghadap taman belakang istana, seorang pria berdiri tegap di balik bayang lembut tirai yang berkibar pelan tertiup angin pagi.Pangeran Jerry menatap tajam ke bawah. Matanya, setajam elang, terkunci pada dua sosok di taman, Sebastian dan Rohana.Meski wajahnya tampak tenang,
Dean berdiri di depan pintu penginapan, bersandar dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya yang tajam terarah ke ujung jalan, seolah ia sudah menunggu dua sosok yang kini berjalan mendekat perlahan. Begitu melihat mereka, alisnya langsung berkerut.“Kalian berdua dari mana saja?”
Desa Dawnshire, yang dulunya hanyalah pemukiman kecil yang dikelilingi hutan lebat dan ladang para petani sederhana, kini telah berubah menjadi kota yang ramai dan penuh kehidupan. Perubahan itu terjadi perlahan namun pasti, berkembang seiring waktu di bawah kepemimpinan para pangeran dari Kerajaan
Pagi buta menyelimuti desa Dawnshire dalam selubung awan kelabu.Meski hujan telah berhenti sejak tengah malam, aroma tanah basah masih terasa kuat di udara, bercampur dengan dinginnya embun yang menggigit kulit. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus, menambah kesuraman desa yang biasan







