LOGINTiga belas tahun sebelum kehancuran dunia, Arka Wijaya—prajurit terkuat umat manusia—dikhianati oleh perempuan yang dicintainya dan para pemimpin yang selama ini ia lindungi. Tubuh dan darahnya dijadikan pengorbanan untuk membuka Gerbang Samudra, pintu menuju dunia lain yang dihuni ras naga laut, kerajaan kuno, serta monster yang selama ribuan tahun tersegel di balik mitos Nusantara. Namun tepat sebelum kematiannya, Arka membangkitkan garis keturunan yang selama ini tersembunyi di dalam dirinya: darah Pewaris Raja Naga Laut. Dengan kekuatan artefak kuno Istana Samudra, jiwanya dikirim kembali tiga belas tahun ke masa lalu. Kini, berbekal seluruh ingatan masa depan, Arka bertekad mengubah takdir. Ia akan menyelamatkan keluarganya, mengungkap rahasia mitologi Nusantara yang ternyata merupakan sejarah dunia lain, membangun kerajaan bawah lautnya sendiri, serta membalas setiap pengkhianatan yang pernah menghancurkan hidupnya. Namun semakin dekat ia pada kebenaran, semakin jelas bahwa umat manusia bukanlah korban dalam perang dua dunia. Di balik tabrakan dimensi, tersembunyi perang ribuan tahun antara para dewa, naga, dan penguasa samudra yang menjadikan Bumi sebagai medan perang terakhir. Untuk menghentikan kiamat, Arka harus memilih: menjadi penyelamat umat manusia... atau menjadi Raja Samudra yang akan menaklukkan kedua dunia.
View MoreSuara alarm darurat menggema tanpa henti di sepanjang lorong markas bawah laut. Lampu merah berkedip di setiap sudut ruangan, memantulkan cahaya samar pada dinding logam yang bergetar akibat tekanan energi dari balik Gerbang Samudra. Meski suasana dipenuhi kebisingan, Arka Wijaya masih dapat mendengar satu suara yang begitu dikenalnya.
"Arka."
Suara lembut itu terdengar melalui komunikator taktis di telinga kirinya. Arka menghentikan langkah, lalu perlahan menoleh ke belakang. Di ujung koridor yang diterangi cahaya biru redup berdiri seorang perempuan berambut hitam panjang yang bergoyang mengikuti hembusan ventilasi. Matanya yang berwarna emas berkilau tenang, hasil modifikasi genetik dari Proyek Samudra dua puluh tahun silam. Bagi orang lain, tatapan itu tampak asing. Namun bagi Arka, mata itu selalu menjadi tempatnya pulang.
Selama tujuh tahun terakhir, mereka bertarung bersama di medan perang yang dipenuhi monster. Ketika kota demi kota runtuh, hanya Nadira yang selalu berada di sisinya. Ia menyelamatkan Arka di reruntuhan Pelabuhan Tanjung Priok ketika pemuda itu hampir mati setelah bertarung tanpa henti selama tiga hari. Sejak hari itu, mereka tidak pernah benar-benar berpisah.
"Sudah waktunya," ucap Nadira pelan sambil tersenyum.
Arka mengangguk kecil. "Ya. Semoga ini menjadi pertempuran terakhir."
Tatapannya beralih ke pintu raksasa yang menjulang di depan mereka. Gerbang itu terbuat dari logam hitam yang tidak dikenal manusia modern. Permukaannya dipenuhi ukiran naga, ombak, dan aksara kuno yang bahkan kecerdasan buatan tercanggih milik pemerintah dunia gagal menerjemahkannya. Di balik gerbang itulah sumber seluruh bencana yang selama dua puluh lima tahun menghancurkan peradaban manusia.
Semua bermula ketika langit di atas Laut Jawa retak tanpa peringatan. Tidak ada gempa ataupun ledakan, hanya sebuah celah biru yang membelah angkasa seperti kaca pecah. Dari sanalah monster-monster laut bermunculan—ikan sebesar gunung, penyu bercangkang baja, ular laut yang mampu menelan kapal induk, hingga makhluk humanoid berzirah sisik naga. Dalam waktu satu bulan, puluhan negara pesisir musnah dan sebagian besar Asia Tenggara berubah menjadi wilayah kematian.
Peristiwa itu dikenal dunia sebagai Tabrakan Dua Dunia, sementara masyarakat Indonesia menyebutnya Amukan Laut Selatan. Hampir semua monster pertama muncul dari perairan Nusantara, membuat negeri kepulauan itu menjadi garis depan peperangan. Bertahun-tahun kemudian, manusia berhasil bertahan berkat kemajuan teknologi energi dimensi dan lahirnya para pejuang berkekuatan luar biasa.
Di antara semua nama yang pernah tercatat, Arka Wijaya berdiri di puncak. Ia dijuluki Sang Penjaga Laut, pemburu Raja Monster, sekaligus harapan terakhir umat manusia. Hari ini, seluruh dunia menggantungkan nasib mereka pada langkah yang akan diambilnya di depan Gerbang Samudra.
"Apa kau gugup?" tanya Nadira sambil mendekat.
Arka menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya berpikir, setelah semua ini selesai, mungkin akhirnya kita bisa hidup normal."
Nadira menatapnya beberapa saat sebelum bertanya lirih, "Kalau perang benar-benar berakhir, apa yang ingin kau lakukan?"
Arka tersenyum kecil. Di tangannya tergenggam sebuah keris berwarna hitam kebiruan dengan urat-urat emas yang berdenyut seperti makhluk hidup. Gagangnya berbentuk kepala Garuda, dan setiap kali senjata itu digenggam, udara di sekitarnya bergetar oleh energi yang tak terlihat.
"Aku ingin pergi ke Raja Ampat," jawabnya. "Tanpa monster atau pertempuran, hanya aku, kau, dan mungkin dua atau tiga anak yang berlarian di pantai."
Pipi Nadira memerah tipis. Ia tertawa pelan sebelum menganggukkan kepala. "Kalau begitu, aku akan menunggumu."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup di medan perang, Arka membiarkan dirinya membayangkan masa depan. Ia tidak menyadari bahwa harapan sederhana itulah yang kelak menjadi penyesalan terbesarnya.
Perlahan, Gerbang Samudra mulai terbuka. Suara gesekan logam menggema ke seluruh markas, sementara cahaya biru tua memancar dari celah pintu yang semakin lebar. Namun yang terbentang di baliknya bukanlah ruangan lain, melainkan lautan asing dengan langit yang dihiasi dua bulan dan pulau-pulau yang melayang di udara. Jauh di cakrawala, seekor naga laut raksasa berenang melintasi awan, seolah lautan dan langit tidak memiliki perbedaan.
Arka mengangkat Keris Garuda. Energi emas mengalir dari bilah senjata itu, memenuhi ruangan dengan tekanan luar biasa. Di belakangnya, Komandan Raka, Maya Kartika, dan Ki Jagat telah bersiap menjalankan proses penyegelan terakhir.
"Mulai prosedur penyegelan," kata Ki Jagat dengan suara tenang.
Arka melangkah maju. Satu langkah lagi, dan gerbang yang membawa malapetaka selama puluhan tahun akan tertutup untuk selamanya.
"Arka."
Suara Nadira kembali menghentikannya. Arka menoleh ketika perempuan itu berjalan mendekat hingga hanya berjarak satu langkah. Aroma laut yang selalu melekat pada rambut Nadira terasa begitu akrab hingga membuat Arka tersenyum tanpa sadar.
"Ada apa?" tanyanya.
Nadira menatap lurus ke matanya. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena selama ini... kau selalu percaya kepadaku."
Kalimat itu terdengar hangat, tetapi sesaat kemudian Arka merasakan sesuatu yang dingin menembus dadanya. Napasnya tercekat. Ia menunduk perlahan dan melihat sebilah pedang energi merah telah menembus jantungnya dari jarak yang nyaris tanpa celah. Darah hangat mulai membasahi seragam tempurnya.
"N-Nadira...?"
Air mata mengalir di pipi perempuan itu. Tangannya gemetar, tetapi genggamannya pada pedang tidak pernah terlepas.
"Maaf," bisiknya lirih. "Aku tidak punya pilihan lain."
Dunia Arka runtuh dalam sekejap. Seluruh kenangan selama tujuh tahun bersama Nadira berputar di kepalanya seperti ombak yang menghantam karang. Ia masih berharap semua ini hanyalah kesalahan, hingga langkah kaki lain terdengar dari belakang perempuan itu.
Komandan Raka, Maya Kartika, dan Ki Jagat keluar dari bayangan tanpa menunjukkan sedikit pun rasa terkejut. Tatapan mereka begitu tenang, seolah semua yang terjadi memang telah direncanakan sejak awal.
"Jadi..." suara Arka terdengar serak. "Selama ini aku hanya pion?"
Raka menatapnya datar. "DNA-mu memiliki frekuensi yang identik dengan inti dunia seberang. Hanya darahmu yang mampu membuka Gerbang Samudra sepenuhnya."
Arka memalingkan wajah kepada Nadira, menggenggam harapan terakhir yang masih tersisa.
"Kau... sudah tahu?"
Nadira menutup mata sebelum menjawab perlahan, "Aku tahu sejak hari pertama."
Jawaban itu menghancurkan sisa kepercayaan yang masih dimiliki Arka. Ia menggenggam Keris Garuda hingga telapak tangannya berdarah. Energi emas dan merah saling bertabrakan di sekeliling tubuhnya, membuat retakan cahaya mulai menyelimuti kulitnya.
"Aku mungkin telah kalah," ucap Arka dengan senyum getir, "tapi aku tidak akan membiarkan kalian mendapatkan akhir yang kalian inginkan."
Wajah Ki Jagat mendadak pucat. "Hentikan dia! Dia berusaha memaksa inti dimensinya meledak!"
Namun semuanya sudah terlambat. Cahaya emas yang keluar dari tubuh Arka berubah menjadi badai energi yang menelan seluruh markas. Laut berguncang hebat dan Gerbang Samudra terbuka sepenuhnya. Di baliknya, tampak sebuah kerajaan megah yang berdiri di tengah samudra tanpa batas. Di atas singgasana kristal, seekor naga laut bermata emas perlahan membuka matanya.
"Segelnya..." gumam makhluk itu. "...akhirnya hancur."
Tepat sebelum kesadaran Arka lenyap, sebuah suara asing bergema jauh di dalam jiwanya.
[Pewaris Kerajaan Naga Laut telah terdeteksi]
[Mengaktifkan Protokol Regresi]
[Mengembalikan waktu... tiga belas tahun ke masa lalu]
Kegelapan kemudian menelan segalanya.
Cahaya biru keemasan masih memenuhi aula utama Kerajaan Laut Selatan setelah sistem memberikan warisan pertama kepada Arka. Layar transparan melayang di hadapannya, menampilkan kemampuan baru yang baru saja terbuka. Dibandingkan dengan kemampuan manusia modern yang menggunakan energi dimensi, kekuatan ini terasa jauh lebih kuno dan memiliki hubungan langsung dengan lautan.[Kemampuan Baru Terbuka][Domain Samudra Lv.1]Pengguna dapat menciptakan wilayah kendali dengan radius lima meter.Seluruh elemen air dalam wilayah tersebut akan mengikuti kehendak pengguna.Regenerasi meningkat 300%.Kekuatan teknik berbasis air meningkat 200%.[Catatan: Domain akan berkembang seiring peningkatan garis darah Raja Samudra.]Arka membaca informasi itu dengan saksama. Dalam kehidupan sebelumnya, manusia terkuat hanya mampu menggunakan Zona Resonansi untuk memperkuat energi tempur dalam area tertentu. Namun, Domain Samudra bukan sekadar penguatan energi, melainkan kemampuan untuk mengendalikan lingkun
Suara agung yang menggema dari dalam istana masih memenuhi seluruh kota bawah laut. Getarannya terasa begitu kuat hingga air di sekeliling Arka beriak tanpa disentuh angin, sementara lantai kristal di bawah kakinya memancarkan cahaya biru yang berdenyut perlahan. Ia berdiri mematung, mencoba memahami mengapa suara itu memanggilnya seolah mereka telah saling mengenal sejak lama.Pada saat yang sama, darah di dalam tubuhnya kembali bergejolak. Rasa hangat mengalir dari dadanya menuju kedua lengan, lalu menyebar hingga ke ujung jarinya. Sisik-sisik halus berwarna biru tua muncul di kulit lengan kanannya sebelum perlahan menghilang lagi, meninggalkan sensasi yang membuatnya sulit bernapas dengan tenang.Arka mengepalkan tangannya sambil menatap perubahan itu. Dalam kehidupan sebelumnya ia pernah menggunakan energi dimensi hingga batas kemampuan manusia, tetapi tubuhnya tidak pernah menunjukkan reaksi seperti ini. Kini ia mulai menyadari bahwa regresi bukan hanya mengembalikan waktunya, me
Perjalanan menuju Pantai Parangtritis memakan waktu hampir seharian. Setelah meninggalkan Bandung, Arka memanfaatkan seluruh uang tabungannya untuk membeli tiket kereta menuju Yogyakarta, lalu melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum hingga tiba di pesisir selatan. Selama perjalanan, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan tentang masa depan yang kini telah berubah.Di kehidupan sebelumnya, ia baru menginjakkan kaki di Parangtritis setelah dunia dilanda perang. Saat itu pantai ini hanya dianggap sebagai salah satu titik anomali energi dimensi yang tidak terlalu berbahaya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa tempat itu sebenarnya menyimpan gerbang menuju sebuah kerajaan kuno yang telah terlupakan.Menjelang sore, Arka akhirnya berdiri di atas hamparan pasir hitam Pantai Parangtritis. Angin laut bertiup cukup kencang, membawa aroma garam yang khas dan membuat ombak terus menghantam bibir pantai. Langit mulai berubah jingga, sementara matahari perlahan turun menuju cak
Kegelapan menyelimuti kesadaran Arka. Rasa sakit akibat luka di dadanya menghilang seolah tidak pernah ada. Tubuhnya terasa ringan, seperti selembar daun yang hanyut di dasar lautan, tanpa arus dan tujuan.Namun, kehampaan itu tidak berlangsung lama. Dari kejauhan terdengar sebuah suara yang begitu dalam dan agung hingga sulit dibedakan apakah berasal dari langit, lautan, atau dari dalam jiwanya sendiri. Setiap kata yang diucapkan menggema berkali-kali, membawa tekanan yang membuat kesadarannya bergetar.[Pewaris Darah Naga Laut telah dikonfirmasi][Resonansi Jiwa: Seratus persen][Kandidat memenuhi syarat sebagai Raja Samudra]Arka berusaha membuka mata, tetapi seluruh tubuhnya seperti terkunci. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, namun tidak merasakan apa pun selain ruang kosong yang tak berujung. Meski begitu, pikirannya tetap sadar, dan ia tahu suara itu bukanlah ilusi."Siapa... kau?" tanyanya lirih.Tidak ada jawaban secara langsung. Suara agung itu kembali berbicara dengan na






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.