分享

Wanita Berdada Rata

作者: Nona Lee
last update publish date: 2026-05-14 21:26:18

"Tuan, anda terlihat sangat... mempesona. Jika saya adalah seorang wanita, saya mungkin sudah jatuh pingsan hanya dengan melihat cara anda merapikan kerah baju itu," celetuk Kevin sembari memberikan dua jempol dengan senyum mengejek yang lebar.

Edward yang sedang berdiri di depan cermin besar kamarnya mendengus kasar. Ia mengenakan kemeja biru navy berbahan sutra yang sedikit terbuka di bagian kerah, dipadukan dengan jas santai berwarna abu-abu terang. Penampilannya sangat elegan, namun raut w
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Hitung Mundur Kematian

    "Tuan Edward, ini berkas pengajuan kerja sama dengan pihak perhotelan yang Anda minta," ujar Marlina dengan nada suara yang teramat formal dan dingin, meletakkan sebuah map kulit di atas meja restoran mewah itu tanpa sekali pun menatap mata pria di hadapannya. Edward yang sedang memotong steaknya menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menatap tajam Marlina yang berdiri tegap di samping mejanya dengan setelan jas kaku dan rambut yang diikat rapi. "Duduk, Marlina. Ini perintah, bukan tawaran." "Saya sedang dalam mode bertugas sebagai pengawal pribadi Anda, Tuan Mahesa. Tidak sopan jika saya duduk di meja yang sama dengan klien Anda yang akan datang sebentar lagi," balas Marlina datar, menjaga jarak bicaranya dengan sangat profesional seolah pertengkaran hebat yang membuat kamar mereka hancur semalam tidak pernah terjadi. Edward berdecak lidah, meletakkan pisau dan garpunya dengan dentingan yang cukup keras hingga memicu perhatian beberapa pelayan di sekitar area VIP tersebut.

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Aroma Yang Tertinggal

    "Dari mana saja kau, Marlina?" Suara berat dan dingin itu seketika memecah keheningan kamar utama yang gelap gulita. Langkah kaki Marlina yang teramat pelan langsung terhenti di ambang pintu penghubung balkon. Jantungnya berdegup kencang saat melihat lampu tidur di sudut ruangan mendadak menyala, memamerkan sosok Edward yang sudah duduk tegap di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang berantakan. Marlina membasahi bibirnya yang mendadak kering, mencoba bersikap seflekasibel mungkin sembari melepaskan jaket kulitnya. "Aku... aku tidak bisa tidur, Edward. Jadi aku keluar sebentar untuk mencari udara segar di sekitar halaman mansion." "Mencari udara segar dengan sepeda motor matik milik pekerja kebun menjelang subuh?" Edward bangkit berdiri, melangkah mendekat dengan tatapan mata elang yang mengunci pergerakan wanitanya tanpa ampun. "Dan sejak kapan udara segar di halaman rumahku beraroma asap cerutu murah yang sangat pekat, hmm?" Marlina menegang sempurna saat Edward kini sudah berdir

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Waktu Satu Minggu

    "Jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotorismu itu, Leo!" desis Marlina, suaranya sedingin es yang membeku saat tangan kanan Leo terulur, mencoba meraih pergelangan tangannya. Dengan gerakan taktis yang sangat cepat, Marlina menepis kasar lengan pria itu hingga terhempas ke udara. Leo tidak marah. Ia justru melebarkan senyumannya, menampilkan deretan gigi rapinya yang tampak begitu memuakkan di bawah temaram cahaya bulan. "Galak sekali, Sayang. Padahal aku hanya ingin menyapa calon istriku yang sudah sangat kurindukan." "Calon istri?" Marlina mendengus jijik, matanya berkilat penuh kebencian. "Lebih baik aku membusuk di dalam tanah daripada harus bersanding dengan pengkhianat menjijikkan sepertimu!" Leo terkekeh rendah, melangkah maju satu jengkal lagi hingga tubuh tegapnya mengurung pergerakan Marlina. Sebelum wanita itu sempat melayangkan pukulan, Leo dengan sangat cepat condong ke depan, mendekatkan bilah bibirnya tepat di samping daun telinga Marlina. "Kau boleh men

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Kau Harus Pulang

    "Ada urusan apa lagi Ayah memintaku untuk bertemu di tempat sepi seperti ini?" tanya Marlina, suaranya terdengar sangat tajam memecah keheningan malam, menuntut jawaban langsung dari sang ayah. David Andreas perlahan menurunkan cerutu dari sela bibirnya, membiarkan asap abu-abu pekat mengepul ke udara sebelum menatap putri tunggalnya dengan pandangan dingin yang berwibawa. "Kau menyapa ayahmu yang sudah lama tidak kau temui dengan nada ketus seperti itu, Marlina? Di mana rasa hormatmu?" "Rasa hormatku sudah hilang sejak Ayah mengirim Leo untuk menusuk dada Edward dan mengacaukan hidupku!" balas Marlina, melangkah satu jengkal lebih dekat tanpa memedulikan empat moncong senjata pengawal yang langsung bergerak mengunci tubuhnya. "Katakan saja apa maumu, David Andreas. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain teka-teki di sini." David terkekeh rendah, sebuah tawa berat yang terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian gedung tua yang terbengkalai ini. Pria paruh baya itu bangkit

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Maafkan Aku

    "Kau lihat itu, Marlina? Cucu yang aku rawat dengan tetes keringat dan kasih sayang, berani mengancam kakeknya demi wanita rendahan sepertimu. Kau puas?" tanya Kakek Hendra, sebuah senyuman dingin yang teramat meremehkan terukir di wajah tuanya. "Jaga ucapanmu, Kakek!" raung Edward, tubuhnya berniat merangsek maju untuk membungkam kalimat sang kakek, namun kedua tangan Marlina menahan dadanya dengan kekuatan penuh. "Sudah, Edward! Biarkan dia pergi!" bentak Marlina, menatap lurus ke arah Kakek Hendra tanpa ada sedikit pun rasa takut atau terhina di matanya. "Tuan Hendra Mahesa, anda boleh memandang saya serendah yang Anda mau. Tapi anda harus tahu, saya berada di sini bukan untuk menghancurkan cucu anda, melainkan untuk memastikan dia tetap hidup dari ancaman luar yang sebenarnya." Kakek Hendra hanya mendengus sinis, mengetukkan tongkat peraknya sekali lagi ke aspal sebelum berbalik menuju mobil sedannya. "Kita lihat saja, sampai kapan harga dirimu yang tinggi itu bisa menyelamatka

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Ancaman Edward

    "Ada urusan apa lagi Kakek datang kemari? Dan apa maksud dari semua permainan konyol Kakek dengan melibatkan Leo?!" Edward langsung melayangkan pertanyaan ketus, melangkah lebar memangkas jarak hingga berdiri tepat di hadapan kakeknya, menghalangi pandangan sang tetua dari sosok Marlina. Kakek Hendra tidak langsung menjawab. Beliau mengetukkan tongkat peraknya ke atas aspal pelataran parkir sebanyak dua kali, menimbulkan bunyi ketukan yang lambat namun sarat akan penekanan dominasi. "Kau menyapa kakekmu yang baru sembuh dari sakit dengan nada seperti itu, Edward? Di mana sopan santunmu sebagai penerus Mahesa Corp?" "Sopan santunku sudah hilang sejak Kakek memutuskan untuk memberikan akses lift VIP kepada seorang pengkhianat dan pembunuh seperti Leo!" desis Edward, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Katakan pada temanku yang lama itu, kenapa Kakek ingin memisahkan aku dengan Marlina sampai harus melibatkan bajingan seperti dia?!" Kakek Hendra mengembuskan napas panjang, w

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Bawa Dia Ke Kamarnya!

    "Bunuh aku sekarang!!!" Jeritan terakhir Marlina menggema, memantul di antara dinding-dinding batu mansion yang dingin. Matanya melotot lebar, menantang maut yang tepat berada di bawah kaki ayahnya sendiri. David Andreas menatap pistol di bawah sepatunya, lalu mendongak menatap putri tunggalnya.

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Dandani Dia Secantik Mungkin

    "Jaga bicaramu itu, jalang," bisik Leo, nadanya begitu rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Atau... kau mau aku mengakhiri hidupmu di sini, sebelum aku membawamu kembali ke ayahmu yang bodoh itu?!" Marlina mencengkeram pergelangan tangan Leo, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan di

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Aku Bisa Menikahimu

    "Siapa kau sebenarnya, Leo?!" Marlina berteriak di tengah deru angin, matanya membelalak sempurna menatap laras pistol yang masih menempel di pelipisnya. Rasa terkejut bercampur ngeri membuat seluruh persendiannya kaku, rahasia terbesar yang ia jaga mati-matian, hancur begitu saja di tangan pria i

  • Pengawal Kesayangan Tuan Edward   Skinship Yang Menyiksa

    "Apa yang kau lakukan, Leo?" Suara Edward terdengar begitu rendah, dingin, dan sarat akan penekanan yang mengancam. Tangannya yang memegang tisu masih tertahan di udara, sejajar dengan tangan Leo. Leo, dengan ketenangan yang luar biasa, langsung mengendalikan ekspresi wajahnya dalam hitungan deti

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status