Share

Campville & Ranjang Panas

Penulis: Mangata
last update Tanggal publikasi: 2024-03-14 18:21:28

“Ini rumah ibumu?” Alan terkejut dengan luasnya rumah ibu seorang artis. Mungkin luasnya bisa disamakan dengan luas lapangan bola.

“Dia sangat suka berkebun dan membuat beberapa pendopo. Tidak mungkin, ‘kan aku memberikannya apartemen. Dia mungkin akan menggantung setiap tanaman di setiap sudut ruangan dan di balkon apartemen.” Freya teringat dengan awal pertama kali ia mengajak ibunya menginap di griya tawangnya. Banyak sekali tanaman yang diletakkan di setiap sudut unitnya.

Perempuan itu mengajak Rose dan Alan masuk ke dalam. Tidak ada penjaga di gerbang masuk. Tidak ada bodyguard yang berjaga di setiap sudut rumah. Lelaki itu merasa Freya terlalu santai. Bahkan sebagai seorang artis, ia tidak memiliki bodyguard untuk mengawalnya.

Klek!

“Freya?” Fanny; ibu di artis menyambut mereka.

Alan menelan ludah, namun cepat-cepat ia membuang pandangannya dari sosok perempuan paruh baya yang cantik itu.

Bagaimana tidak, di usianya yang sudah menginjak kepala 5, wajahnya masih begitu cantik. Gaun tipis yang dikenakannya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang berisi dan menawan. Bagian atas dan bawah tubuhnya pun masih begitu kencang dan seksi, hal yang jarang ditemui di wanita seusianya.

“Hei, Ma. Apa kabar?” Freya menyapa dengan lesu.

“Ba–baik… tu–tunggu sebentar.” Fanny menutup kembali pintunya.

Alan dan Rose tampak bingung dengan kelakuan wanita itu. Mereka saling melihat satu sama lain dan merasa bila Fanny sedang menyembunyikan sesuatu.

Klek!

“Oke, silahkan masuk.” Ia tersenyum ke arah tamu-tamunya. Keadaan di dalam tampak gelap.

Saat Freya menoleh ke seluruh penjuru rumah, ia menemukan sesuatu di sofa. Sebuah celana dalam lengkap dengan kaos berwarna putih. Bukan hanya itu, beberapa bantal sofa juga berserakan di mana-mana.

“Ma, kau membawa laki-laki masuk ke dalam rumah lagi?” tajya Freya.

“Hah? Mama tidak tahu. Mungkin itu milik pamanmu. Kemarin kita mengadakan pesta di sini. Mungkin saja tantemu main dengan pamanmu di sofa,” jawab Fanny sambil menyeringai.

Dalam hati Alan, “Jelas-jelas dia yang melakukannya. Tampaknya wanita ini gila dengan adegan ranjang.”

“Ngomong-ngomong, kenapa kalian ke sini? Apa ada acara khusus? Setahu Mama, kamu bukannya ada acara ‘Gala Dinner’?” Fanny merasa penasaran. Sedari tadi ia terus melirik Alan.

“Acaranya sudah selesai. Aku sedang mumet dengan masalah ayah. Orang ini yang akan menjelaskannya padamu,” ungkap Freya sambil menepuk pundak Alan.

Rose yang telah cipika-cipiki dengan Fanny segera duduk di dekat bosnya.

Saat Fanny melihat Alan, ia menggulung bibir bawahnya ke dalam. Gerak tubuhnya juga tampak gemulai dan sedikit malu. Saat mengulurkan tangannya, pandangan wajahnya tampak berpaling dari Alan. Sihir yang digunakan lelaki itu tampaknya telah menempel.

“Siapa namamu?” Fanny bertanya.

“Alan … Alan Dominic.” Lelaki itu menjabat tangan Fanny.

Perempuan itu tampak memberontak dengan mengembuskan napas berat. Ia terlena dalam buaian sentuhan tangan Alan yang keras dan besar. Wanita yang hanya mengenakan gaun seadanya itu mengedipkan satu matanya ke Alan. Ia memberikan kode pada lelaki itu.

Sayangnya, Alan hanya tersenyum membalas kedipan itu. Lalu ia tinggalkan Fanny dan duduk di sofa.

“Jadi … kita akan membicarakan apa? Dan siapa si ganteng ini?” Fanny terus menatap wajah lelaki yang duduk di sampingnya.

“Ma, jangan coba-coba dengannya! Dia itu hanya pembantu ayah!” Freya memperingati ibunya. Ia tidak menyukai Alan meski lelaki itu tampan, berwibawa, berkharisma, dan berotot.

“Boleh saran? Sebaiknya kita dengarkan Alan dulu,” sela Rose.

“Whatever!” Freya memalingkan wajahnya sambil memutar kedua bola matanya ke arah lain. Tangannya juga tampak dilipat di depan dadanya.

Alan menjelaskan bila ia adalah suruhan gurunya dan berita tentang kematian Alexander Hood kepada Fanny dan Rose. Kedua wanita itu tampak terkejut. Apalagi soal konspirasi tentang cara Hood mati, yaitu diracun.

“Siapa yang membunuhnya? Kukira dia akan baik-baik saja,” pikir Fanny.

“Aku belum tahu. Tapi kami akan mencari dalangnya dan membalaskan kematian Hood!” Alan mengepal erat salah satu tangannya.

“Apa dia meninggalkan warisan untuk Freya?” Fanny menatap Alan.

“Dia meninggalkan asetnya. Tapi semuanya akan dibagi enam. Lima putri dan lima istri lainnya juga akan mendapatkan jatah mereka,” ungkap Alan.

“Apa?! Lima istri dan lima putri?! Dia menikah lagi setelah menghilang dariku?” Fanny tampak kesal. Nada bicaranya menjadi sangat tinggi.

“Kau adalah wanita terakhir yang dinikahinya. Sebelum dirimu, ia sudah memiliki lima istri dan lima putri.” Alan tersenyum. Ia tahu pasti Fanny akan mencekiknya setelah mendengar itu.

“Dasar buaya cap kadal! Dia berani menjadikanku istri keenam?!” Fanny mengambil vas bunga dan melemparnya ke sembarang arah hingga vas itu pecah.

“Ma, tolong tenang. Jangan habisi energimu untuk orang yang sudah mati. Dia tidak pantas dikasihani.” Freya menimpali.

“Dia berani membuatku seperti simpanannya!” Fanny berusaha tenang meski emosinya masih meledak-ledak.

“Masalah utamanya, dia bukan hanya meninggalkan aset harta, istri dan anak saja. Tapi dia juga meninggalkan musuh-musuhnya. Mereka hampir membunuhku dan Rose tadi. Untungnya pria kaku ini datang. Bila tidak, kau akan menghadiri prosesi pemakaman putrimu sendiri,” ungkap Freya.

“Jadi, bagaimana selanjutnya? Apa kalian akan tinggal di sini terlebih dulu sampai aman?” tanya Fanny.

“Lebih tepatnya sampai aku menemukan tempat tinggal yang cocok untuk kita. Aku akan menghubungi temanku untuk mengecek keberadaan dari istri dan putri Hood lainnya. Lalu setelah itu kita bisa pergi ke sana. Rencananya adalah aku ingin mengumpulkan kalian semua dalam satu atap di Raven City,” ungkap Alan.

“Apa kau gila?! Kau ingin menempatkan semua istri simpanan Hood dalam satu kandang?! Kau tahu kalau aku seperti macan! Aku bisa merobek kulit mereka!” Fanny kesal dengan rencana lelaki itu.

“Oke, rapat selesai! Aku mau mandi lalu tidur sebentar. Ma, tolong masakan aku sesuatu yang membuatku betah di rumahmu ini.” Freya pergi meninggalkan mereka.

“Se–sebaiknya aku menelepon keluargaku dulu. Sepertinya mereka perlu tahu kalau aku akan menginap selamanya di sini.” Rose juga pergi sambil menyeringai. Ia takut mengganggu Fanny yang tampak masih emosi.

“Kau juga ingin pergi?” Fanny menoleh ke arah Alan.

“Aku harus mengecek CCTV dan memasang beberapa hal.” Alan tersenyum dan meninggalkan wanita itu sendirian.

***

Angin semilir di pendopo belakang begitu membelai tubuh berotot Alan yang baru saja berbaring setelah mengerjakan beberapa hal. Dengan hanya mengenakan kaos kutang saja ia memandang ke langit luas ditemani dengan minuman dingin yang ada di meja kecil.

“Apa ada bintang yang kau kenali? Dari tadi kau asyik memandang langit sampai lupa minumanmu yang sudah hampir tidak dingin lagi.” Freya datang dengan gaun tipis yang biasa ia kenakan untuk tidur.

“Kau belum tidur?” Alan menyapa, tapi tidak .santap perempuan itu.

Freya melihat lekukan otot Alan yang begitu tertera di kaos kutangnya. Bibirnya sedikit terbuka seraya menggerayangi pikiran kotor yang ada di benaknya. Ingin rasanya ia memegang otot-otot itu sambil memandangi bibir Alan yang menggoda.

“Aku hanya sedang cari angin. Di dalam gerah sekali,” ungkap Freya seraya mencuri pandang ke dada bidang lelaki itu.

“Kuharap kau memaafkanku soal seharian ini. Aku tidak bermaksud mengganggu jadwalmu,” ungkap Alan.

Freya terdiam sejenak ketika Alan berdiri dan menghadap ke arahnya. Embusan napasnya sedikit terengah-engah hingga saliva membanjiri tinggal mulutnya. Ia menelannya sejenak dan berkata, “Tidak apa-apa. Itu sudah jadi tugasmu, ‘kan?”

Perempuan itu menggigit bibir bawahnya dengan lembut. Tidak ada lagi kesanggupannya untuk melawan lekukan otot-otot itu.

“Badanmu bagus,” ungkap Freya dengan nada lirih.

“Apa maksudmu?” Alan menggenggam tangan Freya yang mulai meraba lembut perutnya.

“Ssst… jangan banyak bicara,” bisik Freya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   ISI AMPLOP COKELAT

    Isinya tiga lembar.Lembar pertama adalah foto.Diambil hari itu juga, dengan koran lokal terbentang di pangkuan supaya tanggalnya terbaca. Alicia Hood duduk di kursi kayu, rambutnya berantakan, pipi kirinya lebam, dan satu sudut bibirnya robek.Tapi ia menatap lurus ke kamera.Dan dagunya terangkat."Dia marah," ucap Kat pelan ketika foto itu diedarkan di ruang dewan malam itu. "Lihat matanya. Dia marah, bukan takut.""Dia dipukul," ucap Diana."Dia dipukul karena dia melawan," koreksi Serena sambil mendekatkan foto itu ke lampu. "Lebam di pipi kiri berarti dipukul oleh orang yang bertangan kanan dari depan. Dan robek di bibir itu bukan dari pukulan. Itu bekas gigi."Freya mengangkat wajahnya. "Maksudmu dia digigit?""Maksud saya," ucap Serena, "dia menggigit seseorang dan bibirnya sendiri robek waktu orang itu menariknya lepas."***Lembar kedua adalah selembar kertas dengan satu baris tulisan tangan.Tulisan yang sudah mereka kenal.Rapi, kecil, miring sedikit ke kanan.Bapak tidak

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   EMPAT JAM TIGA PULUH MENIT

    Pukul empat sore, Raven City berhenti bergerak.Empat jalan keluar kota ditutup bukan oleh polisi, tapi oleh truk-truk tekstil yang mogok secara bersamaan di tempat yang sangat tidak masuk akal. Tiga jembatan macet total. Dua pelabuhan sungai berhenti melayani penumpang karena, menurut pengumuman resmi, ada pemeriksaan tahunan mendadak.Dalam empat jam, tiga ratus dua puluh orang Falsehood menyebar ke seluruh kota.Dan mereka tidak mencari satu mobil."Kita tidak akan menemukan sedan abu-abu," ucap Alan di ruang kontrol lantai empat. "Mereka pasti sudah mengganti mobil dalam dua puluh menit pertama.""Lalu kita mencari apa?" tanya Hestu."Kita mencari rumah."Ia menunjuk peta kota yang terbentang di meja."Yanto bekerja di gedung ini delapan belas tahun. Dia menjemput Alicia pukul sebelas lewat empat belas, dan dia tahu persis bahwa dalam satu jam seluruh kota ini akan ditutup.""Jadi dia tidak keluar kota.""Dia tidak pernah berniat keluar kota," ucap Alan. "Dia cuma perlu bertahan s

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   NAMA KEEMPAT

    Enam belas orang yang menyerah didata di aula lantai dasar sampai pukul dua siang.Nama, umur, kota asal, dan satu pertanyaan yang sama untuk semuanya: siapa yang membayar kalian, dan berapa.Jawabannya nyaris identik. Direkrut lewat calo di pelabuhan selatan, dibayar lewat transfer, tidak pernah bertemu siapa pun di atas tingkat komandan lapangan. Dua belas di antaranya bahkan tidak tahu mereka akan menyerang markas gangster. Mereka dibilang akan mengawal pembongkaran gudang sengketa."Mereka jujur," ucap Rahu setelah selesai. "Semuanya.""Aku tahu.""Bos, kita akan melepas enam belas orang yang bisa menggambar denah halaman ini dari ingatan.""Ya.""Kenapa?"Alan menutup berkas terakhir."Karena sore ini mereka akan pulang ke kampung masing-masing," ucapnya, "dan menceritakan bahwa Falsehood memberi mereka makan lalu melepas mereka."Ia berdiri."Dan dalam dua minggu, cerita itu akan sampai ke setiap calo di pelabuhan selatan, dan harga untuk merekrut orang menyerang kota ini akan n

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   DUA PULUH ENAM ORANG DI TANAH LAPANG

    Dua puluh enam orang berdiri di tengah halaman barat markas Falsehood.Di belakang mereka, sungai. Di depan mereka, gedung bata merah berlantai empat dengan delapan pintu baja yang semuanya tertutup. Di kiri dan kanan, tanah lapang sepanjang enam puluh meter tanpa satu pun pohon, tembok, atau kendaraan.Lampu sorot menyala menyilaukan dari dinding, meski hari sudah terang.Dan tidak ada satu pun tembakan."Kenapa mereka tidak menembak?" tanya salah satu dari dua puluh enam orang itu."Diam," ucap pria di depannya."Mereka tahu kita datang.""Aku bilang diam."Pria itu mengangkat radionya, menekan tombolnya, dan tidak ada apa pun yang keluar kecuali desis.Ia mencobanya lagi.Desis.Di lantai empat gedung itu, Elizabeth Hood melepas earphone-nya sebelah dan menyeringai ke arah layar."Frekuensi mereka sudah kututup sejak mereka melewati garis pagar," ucapnya. "Kalau mereka mau bicara, mereka harus berteriak."***Alan membuka jendela lantai dua.Suaranya terdengar jelas ke seluruh hala

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   PAGAR SISI BARAT

    Pukul enam pagi, tiga truk masuk ke halaman barat markas Falsehood.Delapan tukang las turun membawa peralatan. Mesin gerinda dinyalakan. Percikan api mulai beterbangan di sepanjang tiang besi, dan satu per satu panel pagar setinggi tiga meter itu dilepas, lalu diangkut ke truk.Empat penjaga berdiri di posisi mereka seperti biasa.Merokok, mengobrol, sesekali melirik ke arah sungai.Persis seperti yang tertulis di laporan tanggal lima."Bos," ucap Rahu dari balik jendela lantai dua. "Mereka tidak tahu?""Tidak.""Empat orang itu akan jadi sasaran pertama.""Aku tahu.""Kalau salah satu dari mereka mati, Bos, aku yang akan menulis surat ke keluarganya.""Kau tidak akan menulis surat apa pun," ucap Alan. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari halaman. "Mereka memakai rompi di balik jaket sejak pukul empat pagi. Dan empat orang itu bukan penjaga biasa."Rahu menoleh."Lalu siapa?""Mereka orang-orang Kat."***Di ruang kontrol lantai empat, delapan belas layar menyala sekaligus.Johnny

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   NAMA KEDUA

    "Itu anakku," ucap Hestu.Ruang dewan Falsehood itu sunyi total.Tujuh kepala cabang berdiri mengelilingi meja bundar, dan tidak satu pun dari mereka berani menoleh ke arah pria berusia lima puluhan yang baru saja mengucapkan tiga kata itu."Pak Hestu," ucap Rahu pelan."Namanya Bram Hestu. Dua puluh delapan tahun." Pria itu menatap buku catatan di atas meja tanpa berkedip. "Dia mengurus logistik cabang tiga. Dia yang mengatur pengiriman senjata ke gudang Distrik Enam.""Pak Hestu, mungkin ini nama yang mirip.""Tidak ada dua orang bernama Bram Hestu di organisasi ini." Ia akhirnya mengangkat wajahnya. "Aku yang mendaftarkannya sepuluh tahun lalu. Aku yang menulis namanya di formulir keanggotaan dengan tanganku sendiri."Alan menutup buku itu."Di mana dia sekarang?""Lantai tiga. Ruang logistik." Suara Hestu rata sekali. "Dia masuk kerja pagi ini seperti biasa. Aku berpapasan dengannya di tangga dan dia menyapaku."***Delapan orang bergerak ke lantai tiga.Alan, Rahu, Hestu, dan lim

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   Dikejar Pria Tak Dikenal

    “Apa kau punya nomor telepon si putri keenam?”[Aku akan mengirimkannya.]Alan tampak khawatir. Sepertinya ia tidak bisa sampai tepat waktu ke lokasi ‘Gala Dinner’. Dengan sedikit improvisasi, ia mengirimkan pesan kepada Freya Hood untuk tetap di dalam gedung. [Hei, maaf mengganggu. Tapi aku adala

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   Menuju Gala Dinner

    Sejak awal, ia telah menghalangi sosok ketua mafia terbesar dan terkaya di negara Megapolis. Bahkan, ia mengatainya dengan kata ‘gembel’!“Tu… Tuan… Maafkan ketidaktahuan saya…” Si pria langsung bersujud memohon ampun. Orang-orang yang ada di sekitar mereka menatapnya dengan aneh. Bagaimana bisa s

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   Kedatangan Sang Legenda

    Alan Dominic turun dari sebuah jet privat yang terparkir di hangar bandara khusus dengan tatapan tajam. Ia berjalan santai dengan setelan baju seadanya tanpa mengenakan aksesoris mewah di tubuhnya. Beberapa jam yang lalu, ia baru saja memakamkan Alexander Hood, guru sekaligus ketua gangster terkena

  • Bodyguard Tangguh Dan Enam Putri Mafia Seksi   Misi Pertama; Penyelamatan

    “Ini adalah tempatnya.” Dengan mengenakan earphone di telinga, Freya menghubungi lelaki yang sudah berada di belakang gedung tua. Ia pun juga baru tiba di seberang gedung itu. Dengan mobil Alan, ia mendekati pintu masuk gedung yang sudah dijaga oleh para pria berjas hitam. Mereka tampak kaku dan b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status