Share

Bab 7: Tak Diberi Ampun

Penulis: Cia예요
last update Tanggal publikasi: 2026-08-27 23:59:20
Daren melempar pandangan tajam, lalu menjatuhkan tubuh Zea ke atas sofa kulit berukuran besar di sudut ruangan VIP. Sebelum Zea sempat melipat kakinya untuk bergerak melarikan diri, Daren sudah memangkas celah. Pria itu mengungkung tubuh Zea di bawah kungkungan kokohnya, menutup rapat setiap sudut pergerakan gadis itu.

"Hentikan, Daren," cicit Zea seraya meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Daren, mencoba mendorong pria itu dengan sisa tenaga.

Daren terkekeh rendah. Suara serakn
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   133. Ancaman Tengah Malam

    Gerbang utama kediaman Elvano berderit menutup rapat setelah rombongan aparat kepolisian dan kejaksaan berlalu pergi meninggalkan halaman.Zea yang berdiri di dekat pintu masuk mengembuskan napas panjang secara perlahan, merasakan beban berat di dadanya sedikit menguap. Bibirnya perlahan mengukir senyuman lega karena masalah besar malam ini berhasil diredam berkat taruhan waktu satu minggu yang mereka sepakati.Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama ketika ia merasakan hawa dingin di sekitarnya.Zea menolehkan kepala secara perlahan dan langsung mendapati Daren berdiri tepat di sampingnya dengan tatapan mata elang yang menghujam tajam tanpa berkedip. Raut wajah pria itu sama sekali tidak menyiratkan kelegaan, melainkan timbunan kemarahan tertahan yang siap meledak kapan saja.Seketika itu juga, senyuman di wajah Zea langsung luntur digantikan cengengesan kaku."Akhirnya sudah pergi..." cicit Zea pelan sambil tersengih kuda, mencoba mencairkan suasana yang mendadak beku. "Artinya kri

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   132. Tenggat Satu Minggu

    "Tetaplah di dalam kamar, Zea. Jangan kemana-mana dan jangan membantah." ucap Daren dengan suara berat namun tegas, menatap istrinya sekilas sebelum berbalik melangkah keluar kamar.Zea yang berdiri di ambang pintu hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menatap punggung suaminya yang berjalan cepat menyusuri lorong kediaman megah.Di lantai bawah, suasana lobi utama kediaman Elvano mendadak tampak kaku dan mencekam. Beberapa petugas kepolisian berjas hitam dan seragam resmi tampak berdiri tegap di dekat pintu utama, dikawal oleh kepala keamanan pribadi yang wajahnya sudah pucat pasi. Langkah kaki tegas Daren yang menuruni tangga marmer langsung menarik perhatian seluruh orang di ruangan itu."Tuan Daren Elvano," sapa salah seorang perwira polisi berpangkat komisaris maju ke depan sambil menunjukkan lencana dan selembar kertas resmi. "Kami datang membawa surat perintah penjemputan paksa terkait laporan dugaan kelalaian fatal dan keterlibatan atas krisis keracunan massal ya

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   131. Malam Mesra yang Terenggut

    Lampu-lampu kota berpendar lembut menembus dinding kaca besar yang membingkai kediaman megah keluarga Elvano. Di dalam kamar utama berukuran luas dengan interior klasik modern, Zea menyandarkan kepalanya yang masih terasa sedikit pening ke bahu sang suami.Daren merangkul pinggang istrinya dengan sebelah tangan, memastikan wanita itu duduk dengan nyaman setelah memaksa membawanya keluar dari gedung riset privat Dokter Aris beberapa jam lalu."Kita mau ke mana sebenarnya, Daren? Kenapa tidak langsung istirahat di sana saja?" tanya Zea lirih, menengadah menatap rahang tegas suaminya.Daren mengecup puncak kepala Zea sekilas dengan penuh kelembutan."Kita kembali ke kediaman utama. Hasil penelitian Aris baru akan keluar beberapa hari lagi, dan aku tidak mau melihatmu tinggal sedetik pun di tempat berbau obat itu. Kau butuh tempat tidur yang layak, Zea."Zea hanya bisa menghela napas pasrah, membiarkan suaminya mengambil alih seluruh keputusan malam ini. Setibanya di kediaman megah mereka

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   130. Akal Bulus Zea

    "Zea!"Teriakan itu meluncur begitu saja dari bibir Daren saat melihat tubuh istrinya meluruh ke lantai koridor. Pria itu memutar tubuhnya dengan gerakan refleks yang sangat cepat, membuang jauh-jauh ego dan rasa kesalnya dalam sepersekian detik. Sebelum lutut Zea menyentuh lantai marmer yang dingin, lengan kokoh Daren sudah menyambar pinggang ramping wanita itu dan merengkuhnya erat ke dalam pelukan."Zea, buka matamu. Kau kenapa?" suara Daren berubah panik luar biasa. Napas pria itu memburu, menatap wajah istrinya yang mendadak pucat pasi dengan manik mata yang menyiratkan ketakutan terdalam.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Daren langsung mengangkat tubuh Zea ke dalam gendongannya dengan gaya bridal style. Ia membawa istrinya bergegas kembali masuk ke area laboratorium privat, melangkah lebar menuju sebuah ruangan istirahat khusus yang berada di bagian dalam dekat ruang sterilisasi."ARIS!" bentak Daren dengan suara menggelegar setibanya di dalam ruangan, membaringkan Zea dengan

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   129. Pingsan

    Daren menatap tajam ke arah istrinya dengan rahang mengeras sempurna. Sorot mata pria itu memancarkan kemarahan yang begitu pekat, seolah membakar apa saja yang ada di sekitarnya."Ambil sampel darahnya," ucap Zea tanpa sedikit pun keraguan di dalam suaranya. "Ambil seperlunya, Dok. Lakukan sekarang.""Zea!" bentak Daren dengan suara bariton yang menggema keras di seluruh ruangan steril.Pria itu tidak menunggu lebih lama lagi. Daren berbalik memutar tubuhnya dengan kasar, melangkah lebar meninggalkan ruang pemantauan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Suara sepatu pantofelnya menghantam lantai marmer dengan irama yang mencerminkan gejolak emosi di dadanya."Daren!" panggil Zea setengah berteriak, melangkah beberapa langkah ke depan untuk mengejar punggung suaminya.Namun, langkah Daren sama sekali tidak melambat. Pria itu terus berjalan keluar dari area lab utama, meninggalkan pintu kaca yang bergeser menutup secara otomatis di belakangnya.Zea segera menoleh kembali ke arah Dokt

  • Bos Besar Alergi Wanita Lain Selain Aku!   128. Sampel Darah Zea

    Zea berdiri terpaku di balik dinding kaca pembatas ruangan steril, menatap nanar ke arah sang ayah yang terbaring kaku. Di hadapannya, Dokter Aris berdiri dengan napas tertahan, sementara Daren melipat tangan di dada dengan rahang mengeras penuh ketidakpercayaan."Aku akan mencobanya," ucap Zea pelan, memecah keheningan yang sejak tadi mencekam ruangan tersebut.Daren langsung menoleh tajam ke arah istrinya, sorot mata pria itu menyiratkan penolakan mentah-mentah. "Jangan gila, Zea. Kau baru saja mendengar risikonya. Aris sendiri bilang itu hanya teori liar yang belum tentu terbukti.""Tapi kita tidak punya pilihan lain, Daren," balas Zea dengan suara bergetar namun tegas. "Papa semakin memburuk setiap detik. Kalau kita tidak mengambil risiko ini sekarang, kita akan kehilangan dia selamanya.""Aku tidak peduli," potong Daren dingin, suaranya sarat akan mutlaknya kekuasaan seorang CEO yang tidak ingin dibantah. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi objek percobaan atas asumsi yang belu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status