LOGIN"Dulu kau memilih harta dan mencampakkan ku. Sekarang, berlututlah di bawah kakiku.” Kavyanna Maheswari kehilangan segalanya dalam semalam. Diusir keluarga besar dan dikhianati Nadir, sang kekasih. Demi membalas dendam, dia mengambil langkah paling nekat, menikahi Ganendra Kamandaka Wiryadiningrat, orang paling berkuasa yang ditakuti seluruh keluarga Wiryadinigrat. Setelah di buang, kini Kavyanna kembali sebagai Nyonya Besar. Kavyanna harus hidup diantara orang-orang manipulatif yang penuh muslihat dan suami dingin yang berkuasa dan berbahaya. "Kamu boleh memanfaatkan namaku untuk membalas dendam, Kavyanna. Tapi ingat kamu adalah milikku secara sah.” Pernikahan ini tidak didasari cinta. Ini adalah kesepakatan berdarah. Bagi Kavyanna, menikahi Ganendra adalah senjata paling mematikan untuk menghancurkan orang-orang yang telah menginjak harga dirinya dan ibunya. Mampukah Kavyanna membalaskan dendamnya ataukah ia akan terjebak hubungan rumit dengan Ganendra?
View MoreKeesokan harinya,"Pegang tanganku, Kavyanna."Langkah Kavyanna terhenti di puncak tangga marmer. Dia menoleh, menatap Ganendra yang mengulurkan telapak tangannya dengan santai. Pria itu berdiri tegap dengan setelan jas mewah, memancarkan aura dominan khas pria matang yang tenang dan tak tersentuh."Kenapa, Om?" bisik Kavyanna ragu, melirik jemari tegap itu."Sandiwara kita dimulai dari detik ini," balas Ganendra datar tanpa mengubah ekspresi dinginnya. "Satu hal lagi, panggil aku 'Mas', bukan 'Om'. Jangan sampai ada kecanggungan antara kita nanti, oke?"Kavyanna menelan ludah, menyenggol pelan lengan Ganendra untuk menutupi rasa gugupnya. "I-iya, Mas Ganendra.""Bagus," sahut Ganendra pendek. Tanpa menunggu lama, jemarinya langsung menggenggam erat telapak tangan Kavyanna, menariknya perlahan untuk melangkah bersama. "Ayo turun."Di meja makan panjang berbahan kayu jati, seluruh keluarga Wiryadiningrat sudah berkumpul. Nadir membatu di kursinya. Dadanya berdenyut hebat. Satu ta
"Masih bisa bernapas?"Suara Ganendra memecah keheningan di dalam kamar utama yang megah itu.Dada Kavyanna kembang-kempis memburu. Jantungnya berdegup serasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya.Keberanian yang baru saja dia semburkan di hadapan keluarga Wiryadiningrat tadi mendadak menguap tanpa sisa.Ganendra melepaskan jas hitamnya, lalu menggantungnya rapi di atas stan pakaian. Pria itu meraih gelas kaca di atas nakas, menuangkan air, lalu berjalan mendekati Kavyanna."Minum dulu," ujar Ganendra datar, mengulurkan gelas itu.Kavyanna menatap gelas di hadapannya, lalu pelan-pelan mengangkat wajah menatap Ganendra. Tangannya yang gemetar terulur menyambut gelas tersebut. "T-terima kasih, Om..."Kavyanna meneguk air itu dengan tergesa-gesa, berusaha meredakan rasa tercekik di tenggorokannya."Aktingmu tadi lumayan," komentar Ganendra santai. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menyilangkan kedua lengan di dada seraya mengamati Kavyanna yang masih terlihat syok.
"I-istri?"Suara Nadir meluncur dari celah bibirnya bagai bisikan gaib yang nyaris tak terdengar. Suaranya serak, pecah, dan dipenuhi duka yang teramat pekat. Pria muda itu berdiri membatu di dekat jendela, menatap Kavyanna dengan tatapan hancur. Dunianya rasanya runtuh seketika saat kalimat Ganendra mengudara dan membekukan seluruh isi ruangan. Wanita yang dia biarkan diusir tanpa perlawanan, wanita yang masih sangat dia cintai, kini kembali berdiri di hadapannya sebagai istri sah dari pamannya sendiri.Fian yang duduk di ujung sofa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ada rasa nyeri yang menusuk di dadanya, rasa cinta diam-diam yang selalu disimpan rapat untuk Kavyanna, kini harus dikubur hidup-hidup sebelum sempat diungkapkan. Kavyanna kini telah berada di takhta tertinggi, tempat yang tak akan pernah bisa digapai olehnya."Gila! Kamu benar-benar sudah gila, Ganendra!" jerit Clara histeris, melangkah maju dua tindak dengan dada kembang-kempis oleh amarah yang meledak. "Kamu meni
"Tolong, istirahatlah sebentar, Om."Suara Kavyanna memecah keheningan yang menghimpit di dalam kamar VIP tersebut.Begitu semua orang melangkah keluar dari ruangan, udara mendadak terasa jauh lebih berat. Hanya ada mereka berdua di ruangan ini sekarang.Kavyanna menelan ludah yang terasa pahit. Statusnya baru saja berubah seratus delapan puluh derajat dalam hitungan menit. Gadis yang terusir bagai pengemis kini sah menjadi istri dari pria paling ditakuti di dinasti Wiryadiningrat. Kecanggungan yang amat pekat menyelimuti dadanya, membuat setiap deru napas Kavyanna terdengar begitu kentara."Kamu takut padaku, Kavyanna?" tanya Ganendra datar, suaranya yang berat memenuhi ruangan.Kavyanna tersentak kecil. Dia menunduk, tak berani menatap langsung mata elang pria di hadapannya. "Bukan takut, Om. Cuma aku belum terbiasa.""Hapus sebutan 'Om' itu mulai sekarang," ujar Ganendra tenang namun tak menerima bantahan. "Kamu bukan lagi keponakan tiriku.”"L-lalu aku harus panggil apa?" bisi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.