Jangan Menyesal, Aku Menikahi Pamanmu

Jangan Menyesal, Aku Menikahi Pamanmu

last updateLast Updated : 2026-11-02
By:  Rabbit Cuttie Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
11Chapters
16views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Dulu kau memilih harta dan mencampakkan ku. Sekarang, berlututlah di bawah kakiku.” Kavyanna Maheswari kehilangan segalanya dalam semalam. Diusir keluarga besar dan dikhianati Nadir, sang kekasih. Demi membalas dendam, dia mengambil langkah paling nekat, menikahi Ganendra Kamandaka Wiryadiningrat, orang paling berkuasa yang ditakuti seluruh keluarga Wiryadinigrat. Setelah di buang, kini Kavyanna kembali sebagai Nyonya Besar. Kavyanna harus hidup diantara orang-orang manipulatif yang penuh muslihat dan suami dingin yang berkuasa dan berbahaya. "Kamu boleh memanfaatkan namaku untuk membalas dendam, Kavyanna. Tapi ingat kamu adalah milikku secara sah.” Pernikahan ini tidak didasari cinta. Ini adalah kesepakatan berdarah. Bagi Kavyanna, menikahi Ganendra adalah senjata paling mematikan untuk menghancurkan orang-orang yang telah menginjak harga dirinya dan ibunya. Mampukah Kavyanna membalaskan dendamnya ataukah ia akan terjebak hubungan rumit dengan Ganendra?

View More

Chapter 1

Bab 1

"Bantu aku hancurkan mereka semua. Aku mau balas setiap tetes air mata Ibu dan semua penderitaan yang sudah mereka semua kasih ke aku!" pinta Kavyanna.

"Kamu mau balas dendam?" tanya Ganendra santai.

"Iya."

"Kalau kamu mau lihat mereka hancur, kamu butuh posisi, Kavyanna. Bukan cuma sekadar ambisi dan  amarah."

Kavyanna menahan napas. "Maksud Om?"

"Menikahlah denganku. Jadilah istriku secara sah. Kembalilah ke rumah itu sebagai Nyonya Besar, dan kita buat Nadir serta seluruh keluarga itu berlutut di bawah kakimu.”

Kavyanna tersentak mendengar ucapan itu. Tawaran manis dari Ganendra membawa ingatan Kavyanna ke belakang, tepat di hari saat seluruh kebahagiaanya direnggut paksa dari hidupnya. 

~•••~

"Berdasarkan dokumen wasiat terakhir dari mendiang Bapak Januar Wiryadiningrat..."

Reksa—kuasa hukum keluarga Wiryadinigrat— bersuara, memecah keheningan yang mencekam. 

Di balik meja mewah di ruang tamu itu, Kavyanna berdiri menopang bahu ibunya, Arum, yang duduk lemas di kursi. 

Di seberang mereka, Eyang Gayatri duduk anggun memangku tongkat kayunya, dikelilingi oleh Kirana, Hadiyan, Clara, Nadir, dan Fian.

"Seluruh kepemilikan saham mayoritas di Wiryadiningrat Group, aset rumah utama, serta seluruh dana simpanan atas nama pribadi almarhum, sepenuhnya dialihkan dan dilimpahkan kepada putri kandung almarhum, Ibu Kirana Wiryadiningrat," sambung Reksa kemudian.

Deg.

Kavyanna Maheswari membelalakkan matanya tidak percaya. Tangannya yang memegang bahu ibunya mendadak kaku. 

"Tunggu! Nggak mungkin! Papa nggak mungkin cuma mencantumkan Mbak Kirana! Aku juga putrinya," ujar gadis 20 tahun seolah tak percaya.

Reksa menatap Kavyanna datar. "Saya hanya membacakan dokumen resmi yang terdaftar di notaris, Mbak Kavyanna. Mengenai Ibu Arum dan Mbak Kavyanna Maheswari, mendiang tidak meninggalkan aset, saham, maupun tunjangan apa pun."

"Bohong! Ini pasti bohong!" jerit Arum, tangisnya yang tertahan sejak tadi langsung pecah. 

"Mas Januar janji bakal jamin hidup saya dan Kavyanna! Mana mungkin dia tega melakukan ini kepada kami?!"

Kirana terkekeh sinis dari sudut ruangan. Wanita itu menyilangkan tangannya di dada, menatap Arum dan Kavyanna dengan pandangan merendahkan.

"Sadar diri, Tante Arum. Dan kamu Kavyanna, kamu hanya anak tiri Papa. Jadi jangan berharap untuk mendapatkan warisan dari Papaku," ujar Kirana-wanita berusia 30 tahun itu dengan suara tenang namun amat beracun. 

"Mas Januar itu cuma kasihan sama kalian. Dari awal, seluruh harta dan aset milik Januar adalah milik keluarga kandungnya. Kalian cuma orang luar yang kebetulan numpang hidup. Keputusan Januar ini sudah sangat adil," timpal Hadiyan yang tak lain adalah adik Januar.

"Aku tahu Papa nggak akan sejahat ini sama Ibu!" lirih Kavyanna. 

"Jaga mulutmu, anak tiri! Kalian itu hanya orang asing di keluarga ini!" bentak Clara - istri Januar, memotong dengan suara melengking. 

Clara melangkah maju, memberikan isyarat kepada dua pengawal yang berjaga di depan pintu. 

"Sekarang pembacaan wasiat sudah selesai. Rumah ini resmi milik Kirana dan keluarga inti. Kalian berdua angkat kaki dari sini sekarang juga!" perintah Clara.

"Tante Clara!" Kavyanna menahan napas, dadanya kembang-kempis menahan amarah.

"Seret mereka keluar! Sekarang!!!" perintah Hadiyan.

Kedua pengawal itu melangkah maju, langsung memegang lengan Arum dan Kavyanna dengan kasar.

"Lepasin!" jerit Kavyanna memberontak, berusaha menepis cengkeraman pengawal. 

Arum menangis histeris, tubuhnya yang lemah diseret tanpa kepedulian.

"Tunggu! Lepaskan mereka!"

Sebuah teriakan keras memotong kekacauan itu. Nadir menerobos maju dan langsung mendorong dada salah satu pengawal.

Fian adik dari Nadir yang berdiri di belakang ikut melangkah maju.

 "Ma, Papa, nggak usah pakai cara kasar begini. Tante Arum kan masih berduka, kasih mereka waktu—"

"Kamu diam, Fian!" bentak Hadiyan cepat, menghentikan langkah anak bungsunya.

Nadir merentangkan tangannya, berdiri pasang badan tepat di depan Kavyanna dan Arum. 

"Nadir, apa-apaan kamu ini?! Singkirkan tanganmu dan biarkan pengawal usir benalu ini!" geram Clara murka.

"Aku nggak bakal biarkan siapa pun usir Kavyanna dan Tante Arum!" tegas Nadir dengan suara lantang. 

Pri 27 tahun itu memutar tubuhnya sejenak, menggenggam erat tangan Kavyanna di hadapan semua orang.

Kavyanna menatap Nadir dengan mata berkaca-kaca, dadanya bergemuruh. 

‘Nadir membela kita. Nadir menepati janjinya,' batin Kavyanna. 

Nadir menarik napas panjang, lalu menatap Eyang Gayatri dan orang tuanya tanpa ragu. 

"Aku mencintai Kavyanna! Kami sudah berhubungan selama satu tahun ini. Aku yang bakal bertanggung jawab dan menikahi Kavyanna! Jangan ada yang berani sentuh dia!"

BUM!

Bagaikan disambar petir, seluruh ruangan hening seketika.

Fian terbelalak kaget di tempatnya berdiri. Matanya menatap tidak percaya pada genggaman tangan Nadir dan Kavyanna. 

‘Mas Nadir pacaran sama Kavya? Sejak kapan?’ batin Fian bergejolak, dadanya terasa panas oleh kepalsuan yang baru saja terungkap.

"Nadir! Kamu gila?!" jerit Clara histeris, hampir tidak percaya dengan ucapan putra sulungnya itu.

Eyang Gayatri menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan keras. 

Wajah tua itu memerah penuh kemurkaan. "Nadir Wiryadiningrat! Kamu mau mencoreng nama baik keluarga dengan menikahi gadis yang nggak punya asal-usul ini?!"

"Nadir, sadar kamu!" bentak Hadiyan, langkah kakinya maju mendekati putranya. 

"Perempuan ini cuma memanfaatkan kamu buat nguras harta keluarga kita! Kamu mau ditipu sama drama murahan dia?!"

"Aku nggak ditipu, Pa!" bela Nadir pantang mundur.

 "Aku tahu Kavya kayak apa! Paman Januar sendiri yang menitipkan Kavya dan Tante Arum ke aku sebelum meninggal!"

"Cukup!" Kirana maju, melemparkan bendel uang tepat di depan kaki Kavyanna. 

"Sangat hebat. Ternyata selama ini kamu merayu sepupumu sendiri demi mengamankan posisimu di rumah ini? Ambil uang itu sekarang dan angkat kaki dari rumah ini!" perintah Kirana dengan lantang.

"Pilihan ada di tanganmu sekarang, Nadir!" suara Hadiyan mendadak berubah sangat dingin dan penuh intimidasi.

 Pria setengah baya itu menatap putra sulungnya dengan tatapan mengancam.

Nadir menegang. "Maksud Papa apa?"

"Kalau kamu tetap bersikeras mempertahankan perempuan tidak tahu diri ini, maka Papa batalkan pencalonan kamu sebagai pimpinan tertinggi Wiryadiningrat Group! Nama kamu bakal dicoret dari daftar warisan keluarga, dan seluruh posisimu di perusahaan bakal Papa serahkan penuh ke adikmu, Fian!" ancam Hadiyan terang-terangan. 

Nadir membeku seketika. Matanya membelalak menatap ayahnya. 

"Pa... Papa nggak bisa gitu dong."

"Papa sangat bisa!" bentak Hadiyan tanpa kompromi.

 "Pilih sekarang! Kamu masih mau menikmati segala kemewahan mu, atau kamu pilih gadis ini dan hidup miskin selamanya?!"

"Nadir, jangan bodoh!" tambah Clara panik, memegang lengan Nadir.

 "Masa depanmu, posisimu, dan kerja kerasmu bertahun-tahun bakal hancur hanya gara-gara gadis ini! Kamu mau kehilangan segalanya?!"

Kavyanna meremas jemari Nadir yang berada di dalam genggamannya. Dia menatap wajah samping Nadir dari bawah, dadanya berdebar amat kencang. 

"Nadir," bisik Kavyanna lirik, suaranya sarat akan permohonan. "Nadir, lihat aku."

Namun, Nadir tidak menoleh.

Kavyanna bisa merasakan genggaman tangan Nadir yang tadinya erat perlahan-lahan melonggar. Nadir menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bibirnya tertutup rapat. 

Nadir perlahan-lahan menarik tangannya, melepaskan genggaman jemari Kavyanna begitu saja.

Kavyanna tertegun. Tangannya mengambang di udara, terasa begitu dingin dan kosong.

"Nadir?" bisik Kavyanna lagi, kali ini dengan nada yang hampir pecah. 

"Nadir, kamu udah janji mau ngelindungi aku kan? Kamu janji nggak bakal ninggalin aku."

Nadir memilih bungkam. Pria itu memundurkan langkahnya, berdiri kaku di samping ibunya tanpa berani menatap mata Kavyanna lagi. 

Keberaniannya, sumpah janjinya,  dan kasih sayangnya runtuh tak berbekas dalam hitungan detik saat dihadapkan pada ancaman kehilangan harta dan takhta.

Air mata Kavyanna mengalir semakin deras. Sebuah tawa hambar dan pahit lolos dari bibirnya. Kavyanna menatap Nadir dengan tatapan penuh kepedihan dan kekecewaan yang amat mendalam. 

Pria yang selama ini dicintainya sepenuh hati ternyata tidak lebih dari seorang pengecut yang menjual cintanya demi kekuasaan.

"Bagus, Nadir. Kamu mengambil keputusan yang sangat cerdas," puji Eyang Gayatri dengan nada puas.

"Seret mereka keluar!" perintah Clara dengan senyum kemenangan yang makin lebar.

Pengawal kembali mencengkeram lengan Kavyanna dan Arum. Kali ini, tidak ada lagi yang pasang badan.

 Fian sempat maju satu langkah untuk mencegah cara kasar pengawal, namun tatapan tajam dari ayahnya membuat Fian terpaksa menghentikan langkah dan menahan suaranya.

Clara melangkah mendekati Nadir, merapikan kerah jas putranya sambil berseru nyaring agar suaranya terdengar sampai ke telinga Kavyanna.

"Keputusan yang sangat tepat, Putraku. Lupakan gadis itu karena kami sudah mempersiapkan pertunangan kamu dengan Valeska Gunawan, putri tunggal dari Gunawan Corp!"

DEG!

Kata-kata itu menghantam dada Kavyanna seperti tikaman pisau beracun.

Kavyanna menatap Nadir untuk terakhir kalinya sebelum pengawal mendorong tubuhnya ke jalanan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status