MasukRey terdiam sejenak, matanya menyipit mencari kebohongan di wajah Moana. Keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan, hanya detak jam dinding yang terdengar seakan menggema. "Kau sedang mencoba bernegosiasi denganku, Sayang?" tanya Rey dengan suara rendah dan berat. Ia melangkah mendekat, memotong jarak hingga Moana bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. "Kau pikir satu malam bisa menebus semua kekacauan yang kau perbuat?"Wanita itu teringat akan apa yang sudah ia lakukan saat bertemu dengan mama Rey. Ia tahu, tidak mudah membuat wanita itu percaya ia dan Rey bersama, nyataanya Moana bisa meyakinkannya. Bagi Moana, wajar jika Rey merasa ingin marah saat ia ingin keluar dari perusahaan Rey dan lepas dari lelaki itu. Tapi Moana tidak punya pilihan lain untuk bebas. Moana menelan ludah, berusaha menjaga agar tangannya tidak gemetar. "Aku tidak punya pilihan lain, Rey. Kau menginginkanku, dan aku menginginkan kebebasanku. Bukankah itu kesepakatan yang adil?"Rey tertawa singka
Moana mengangkat wajahnya, menatap lelaki itu untuk beberapa saat. Tidak ada rasa takut seperti biasanya, tidak ada rasa cemas yang terlihat. Lebih terlihat teduh dan lembut. "Kenapa aku harus melakukan apa yang kamu mau, Rey? memangnya kau siapa bagiku, bisa menyuruhku sesuka hatimu. Aku mau keluar dari perusahaan ini."Rey terdiam sesaat dengan tatapan tajam menatap Moana, lalu perlahan melepaskan tangannya yang tadi mengurung tubuh wanita itu. Tatapannya yang tajam kini berubah menjadi penuh tanya. Selama ini, dia terbiasa melihat Moana yang tunduk dan penurut. Perubahan mendadak itu membuatnya merasa ada sesuatu yang hilang dari kendalinya."Kamu serius dengan ucapanmu itu?" tanya Rey dengan suara rendah, hampir berbisik. "Setelah semua yang kita lalui, kamu mau pergi begitu saja?"Moana tidak berkedip. Ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut akibat jarak mereka yang terlalu dekat tadi. "Semua yang kita lalui itu tidak memberimu hak untuk mengatur hidupku, Rey. Kau selalu menyu
Moana mendorong tubuh Rey segera, tatapan mata itu tampak datar. "Tidak boleh. Kau sudah terlalu serakah. Tidak bisakah hanya menikmati hari ini saja?"Rey tersenyum. Satu tangannya meraih puncak kepala Moana lalu menepuknya beberapa kali tepukan. "Baiklah, aku hanya mengatakaan isi hatiku saja."Malam itu hanya mereka lewati dengan makan kue dan minum coklat panas. Rey sengaja tidak memberikan anggur karena mereka harus kembali ke kota pagi sekali. Tepat pukul sembilan pagi itu, suasana hangat semalam berganti drastis dengan udara dingin pendingin ruangan di kantor. Moana berjalan cepat melewati lobi, jemarinya sibuk merapikan tatanan rambutnya yang sebenarnya sudah sempurna.Di depan lift, ia melihat punggung tegap yang sangat ia kenali sedang memunggunginya. Rey berdiri di sana, mengenakan setelan jas gelap yang membuatnya tampak tak tersentuh. Moana berhenti tepat di sampingnya, menatap lurus ke pintu lift yang mengilap tanpa menoleh sedikit pun."Selamat pagi, Pak Rey," sapa Moa
Moana tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, berpacu dengan logika yang menyuruhnya untuk segera berbalik dan pergi. Namun, tatapan Rey yang lembut sangat kontras dengan sikap lelaki itu beberapa saat lalu, seolah mengunci kakinya di tempat. "Temani kamu?" ulang Moana dengan nada yang diusahakan tetap datar, meski suaranya sedikit bergetar. "Rey, tawaranmu itu terdengar mencurigakan. Kita bahkan baru saja berdebat sampai aku ingin melemparkanmu ke danau." Rey terkekeh pelan, suara tawanya yang rendah terasa menggelitik di telinga Moana. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga aroma parfum maskulinnya yang menenangkan mulai memenuhi indra penciuman Moana. "Tadi itu hanya pemanasan, Moana. Aku suka melihat matamu yang berkilat marah, itu membuatku terlihat jauh lebih... hidup," bisik Rey tepat di samping telinganya. Lelaki itu kemudian kembali menatapnya, kali ini dengan binar yang lebih tulus. "Tapi malam ini, aku hanya sedang ingin ditemani. Hanya ada
Moana berbalik, tangannya dengan cepat meraih pegangan pintu dan berusaha membuka pintu yang masih terkunci tersebut. "Tidak, aku tidak mau. Ayo balik! kalau kau tidak membawaku kembali, aku nggak akan mau bantu kamu!"Rey tertawa kecil, ia seakan bangga sudah berhasil membuat Moana khawatir. "Iya, iya... baiklah, kita nanti kembali kok. Sekarang kita nikmati keindahan danau ini. Jarang-jarang kan kita berada di tempat ini."Akhirnya wanita itu diam kembali. Rey lalu mengajak Moana keluar dari mobil. "Kita mau kemana?""Cari cafe buat nyantai, Mo."Moana menghela nafas sesaat, kebetulan ia juga harus merevisi sedikit naskahnya yang Editornya minta. Untungnya ada laptop Moana yang selalu ia bawa dan saat itu ada di dalam mobil. Setelah berjalan-jalan sambil belok di sebuah cafe karena Moana harus merevisi sedikit bab terbarunya yang akan ia kirimkan. "Kau mendapatkan inspirasi menulis novel dewasa dari mana, Mo?" tiba-tiba tanya Rey. Wanita itu mendengus sebal. "Nggak.usah tanya-ta
Kini di tempat itu hanya tinggal mereka berdua saja. "Kau tidak punya sesuatu untuk kau katakan padaku?" tanya Moana. Tanpa menjawab pertanyaan Moana, lelaki itu lalu beranjak dari tempat kemudian meraih salah satu tangan Moana dan mengajak wanita itu pergi meninggalkan tempat."Kau mau mengajak aku kemana?" tanya Moana. "Ikut saja!" sahutnya.Rey lalu melajukan mobilnya menuju ke tempat yang datarannya lebih tinggi. Hanya mereka berdua saja."Kau akan membawaku kemana Rey?" tanya Moana saat lelaki itu hanya melajukan mobil itu."Kenapa diam? nggak bisa jawab pertanyaanku atau takut aku tanya lebih jauh.""Nanti akan aku jawab, Mo. Sabar," ucap Rey pelan. Suaranya nyaris berbisik, namun sarat dengan beban yang selama ini ia simpan sendiri.Moana hanya terdiam. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil, membiarkan keheningan mengambil alih ruang di antara mereka. Ia tahu Rey butuh waktu. Menuntut jawaban sekarang hanya akan membuat pria itu semakin menutup diri.Perjalanan ber







