登入Alara Currelan, wanita sangat cantik yang berprofesi sebagai dokter dan influencer kesehatan. Dia hobi menonton drama pendek tema kerajaan zaman kuno. Karena kelelahan setelah operasi selama 36 jam nonstop, dia meninggal dunia. Tiba-tiba, dia bangun di dalam dunia drama pendek yang ditontonnya. Alara bertransmigrasi menjadi Norabel Valedel, tokoh protagonis yang mati tragis akibat dibunuh suaminya sendiri, Diller Leonaricーpangeran ke-7 kerajaan Dragerium. Alara tak mau mengulang kisah yang sama. Pada saat pengasingan akibat fitnah, Alara berusaha mendekati antagonis pria. Dengan kemampuan medis dan pengetahuan alur cerita, dia berusaha menyelamatkan hidupnya dan mengubah alur. Sampai Alara menyadari, bukan hanya dia satu-satunya orang masa kini yang masuk ke dalam drama pendek itu. IG:misscaya88
查看更多白石澪がキーボードを叩く音だけが、薄暗いサーバールームに響いていた。
時刻は午後八時を回っている。オフィスフロアはとっくに閑散としているはずなのに、澪はまだここにいた。三台のモニターを前に、コードの一行一行を丁寧に確認しながら、微調整を続けている。 画面には、澪が二年かけて構築してきた営業支援AIの管理ダッシュボードが広がっていた。顧客の購買傾向、過去の商談履歴、季節変動の予測グラフ――。膨大なデータが整然と並び、システムは今この瞬間も静かに学習を続けている。 (また精度が上がった) 澪は小さく息を吐いた。満足感というより、安堵に近い感覚だった。このシステムが正しく動いている限り、会社の営業部は順調に回る。 正確には――久我蒼真が、順調に回る。 そう思った瞬間、スマートフォンが震えた。 「澪、まだ会社か?」 蒼真からのメッセージだった。 「うん。少し作業が残ってて」 「はやく帰れよ。俺はもう飲み会終わって家に帰るとこ」 それだけで、会話は終わった。「お疲れ」の一言もなければ、「気をつけて」もない。澪はスマートフォンをポケットにしまい、再びモニターに向き直った。 白石澪、二十六歳。オーシャン商事株式会社の情報システム部に所属する社内SEだ。 入社四年目の今も、社内での扱いはほとんど変わらない。「パソコン係」「便利屋」。誰かのPCが不調になれば呼ばれ、プリンターが紙詰まりを起こせば呼ばれ、Excelの関数がわからないと言われれば呼ばれる。それが澪の日常だった。 本来の業務――社内インフラの管理やシステム開発――をこなしながら、そういった雑務も引き受けてきた。断れない性格が災いしているとわかっていても、困っている人を見ると放っておけなかった。 情報システム部は五人で構成されている。部長の浅野を筆頭に、先輩社員が三人、そして澪。規模の割に仕事量は多く、全員が常に手一杯だった。 だからこそ澪は、残業を厭わなかった。自分が処理できることは自分で片づける。そうすることで、チームの負担を少しでも減らしたかった。 ただし、今夜の残業は情報システム部の仕事ではない。 澪が今いじっているシステムは、会社の資産ではない。澪個人が、個人のサーバーで動かしているAIエンジンだ。会社にはライセンスとして月額一円で使用権を提供している。法的には澪の所有物であり、契約を終了すれば即座に止まる。 (この契約書を蒼真が読んだことは、たぶん一度もない) 澪はそっとため息をついた。 サーバールームの空調が低く唸っている。澪は両手を膝に置き、天井を仰いだ。 入社当初は違った。エンジニアとして貢献したい、会社のシステムをもっとよくしたいという気持ちで溢れていた。大学でコンピュータサイエンスを学び、プログラミングを武器に、新卒でオーシャン商事に飛び込んだ。 ところが現実は想像と異なっていた。情報システム部の仕事は、システム開発よりも保守と雑務の比率が圧倒的に高かった。「DXなんて夢物語」と先輩たちは笑った。「うちは商社だから、ITはあくまでもサポート」と浅野部長は繰り返した。 それでも澪は諦めなかった。業務時間外に、こっそりと開発を続けた。 営業支援AIは、その結晶だった。 最初は単純な顧客管理ツールとして作り始めた。だが澪のアイデアはどんどん膨らんだ。機械学習のアルゴリズムを組み込み、過去の取引データを食わせ、成約パターンを学習させた。顧客ごとに最適なアプローチ方法を提案する機能も加えた。商談の成功率が高い時間帯まで予測できるようにした。 完成したシステムを、澪はひとり静かに営業部に提供した。 正式な申請は通さなかった。「月額一円」という形式的なライセンスを設けることで、私的流用との線引きはした。でも澪の上司も、経営陣も、このシステムの本当の姿を知る人間はほとんどいない。 手を挙げたのが、久我蒼真だった。 当時、蒼真は営業成績が伸び悩んでいた。三年目で結果を求められ、焦りが顔に出ていた。「使えるものは何でも使う」という実利主義から飛びついた彼は、AIの提案を試すうちに成績を上げていき、翌年には部内トップに輝いた。 そしてその流れで、ふたりは付き合いはじめた。 (私が好きだったのか、AIが気に入ったのか) 今となっては、澪にもわからない。 モニターの光が澪の眼鏡のレンズに反射する。彼女はため息を押し込め、最後の確認を終えた。明日も営業部のみんながこのシステムを使う。データは蓄積され、予測精度は上がり、成約数は増える。 誰も澪の名前を呼ばなくても、システムは動き続ける。 パソコン係は、今日も静かに仕事を終えた。 オフィスを出ると、六月の夜風が頬を撫でた。澪はコートの前を合わせながら、駅へ向かう道を歩いた。街灯の下、自分の影が長く伸びている。 スマートフォンを取り出して、蒼真との会話を見返した。「はやく帰れよ」。それだけ。 (彼は今日、何件商談があったんだろう) AIが提案した順番通りに客先を回っているはずだ。成約率は先月より高いはずだ。澪はその数字をダッシュボードで確認しているが、蒼真の口からその話を聞いたことは、最近ほとんどない。 代わりに聞くのは、自分の武勇伝だ。 「今日も俺の読みが当たってさ、あの客先、絶対このタイミングだと思ってたんだよ」 蒼真はそう言って笑う。AIの提案を自分の「読み」だと思っている。いや、知っていても、そう言いたいのかもしれない。 澪はそれを指摘したことがない。指摘する意味を見出せなかった。 (私は所詮、裏方だから) そう思いながら駅の改札をくぐる。澪の足取りは、いつも少しだけ重い。 その夜、帰宅した澪はシャワーを浴びながら、ふと考えた。自分が今やっていることは、正しいのだろうか。こっそりと作ったAIを、こっそりと使わせている。法的な問題はないとしても――自分はこのまま、ずっと誰にも見えない場所で動き続けるのだろうか。 鏡に映る自分の顔は、少し疲れて見えた。 明日もきっと、誰かにパソコンの設定を頼まれる。明日もきっと、蒼真はAIの提案通りに商談を進め、好成績を上げる。明日もきっと、澪は誰にも気づかれないまま、このシステムを動かし続ける。 それでいい、と思う自分がいた。 本当にそれでいいのかと、問い返す自分もいた。 答えは出ないまま、澪は眠りについた。六月の夜は、静かに更けていった。"Aku masih lemah," protes Varek. Dia tidak ingin Alara meninggalkannya di ruangan itu. Tangan kanan Alara seolah ingin ditarik oleh Varek. Alara berjalan mendekat lalu mengamati wajah Varek. Dahi Varek diperiksa dengan punggung telapak tangan kanan Alara. "Tak ada demam, kau tidak terlihat pucat. Seharusnya sudah lumayan membaik. Lukamu juga sudah mulai menutup," Alara berkacak pinggang. Draven nampak keluar dari dalam tas selempang milik Alara. Kadal itu melata dan merayap menuju ke dekat Varek terbaring setengah duduk. "Kakek Kevin yang manja. Kau hanya ingin dapat perhatian saja kan?" goda Draven lewat telepati. "Sungguh romantis pasangan ini, saling khawatir tapi tidak berani menyatakan kejujuran. Aku mendengar ada ocehan protes padaku." 'Kadal sialan! Apa yang kau katakan. Mau ditaruh mana wajahku nanti?' batin Varek. Alara hanya tersenyum simpul,"Kakek Kevin jika masih lemah sebaiknya berbaring saja. Masih banyak orang yang perlu aku tolong dan periksa kondisinya
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Alara memilih mengalah. Dia merasa khawatir melihat kondisi perban di dada kanan Varek tang nampak memerah. Kursi kayu di ruangan kecil itu ditarik oleh Alara. Dia duduk mendekat ke arah Varek. Helaan napas panjamg dilakukan Alara. "Biar kupikirkan terlebih dahulu usulanmu. Para prajuritku sedang menyembuhkan diri. Bisa bertambah kacau jika langsung mengambik keputusan tanpa persiapan apa pun," sahut Varek dengan suara lirih. Dia memegangi luka di dada kanannya. Alara mendengarkan dengan seksama. Apa yang dikatakan Varek ada benarnya. 'Benar, aku terlalu emosional. Peperangan bukan mainan. Perlu perencanaan dan siasat yang matang,' batin Alara. Alara berdiri dan bangkit dari kursi itu. Dia mendekaf ke arah Varek. Varek dibantu agar posisinya menyandar di kepala ranjang kayu itu. "Lukamu masih perlu dirawat dengan baik. Kurasa aku terlalu hanyut dalam emosi. Sudah, lebih baik sembuhkan dulu lukamu ini," Alara memegangi kedua bahu Varek.
"Apa kau tidak lihat aku sedang sakit?" elak Varek. Dia menunjuk tepat ke arah luka yang ada di dadanya. Nampak perban di bagian luka Varek masih basah. Darah segar masih sering mengalir dari luka itu. Alara menatap tepat ke arah perban. "Kau seharusnya di dalam tenda saja. Lukamu belum kering sepenuhnya," Alara mencoba duduk di dekat Varek. Mata biru kehijauan milik Alara terus mengamati bagian dada Varek. Varek juga masih terdiam. Jubah hitam itu sudah dilepaskan oleh Varek. "Lebih baik ganti saja perbanmu dulu!" Alara berdiri dan berjalan menuju ke area luar ruangan itu. Dia meminta Mireya untuk membawakan air bersih dan peralatan yang dibutuhkan. Varek terdiam. Dia belum berbicara lagi. Matanya fokus menatap ke arah pintu masuk ruangan tempatnya terbaring. "Cinta sungguh menyiksa ya, manusia memang merepotkan," terdengar suara Draven lewat telepati. "Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Varek spontan. Dia mengamati Draven yang sudah bertengger di ujung kepala ranj
"Apa yang ingin kau bicarakan, Kek?" Alara mendekat ke arah Varek. Bahu Varek disentuh tanpa ragu. Dahi Varek yang tertutup kain jubah hitam mengernyit. Dia tak menyangka, Alara akan secepat itu memenuhi panggilannya. "Kakek," panggil Alara lagi. "Tubuhmu kelihatannya kurang sehat. Kau sudah cukup tua, Kek. Sebaiknya segera istirahat di dalam tenda lagi. Mari bicara di dalam tenda. Alara melirik tepat ke arah Cassian. Pria itu hanya tertegun melihat tingkah aneh tuannya. Penyamaran menjadi seorang kakek tua adalah ide Varek sendiri. Terdengar suara terbatuk-batuk lagi. Alara kembali mengernyitkan dahinya. Dia bisa membedakan mana batuk asli dan mana batuk palsu. "Dasar Kevin, kau ingin rumor kematian Varek tidak tersebar. Sekarang malah menyamar menjadi kakek tua. Aku tidak bodoh, mudah sekali membedakan batuk yang asli dan yang palsu tahu,' batin Alara. Alara memegangi bahu Varek. Dia mulai menuntun Varek kembali masuk ke area perkemahan. "Mari, Kakek Kevin. Anda s
"Kenapa?!" gertak penjaga yang duduk tepat di sebelah Alara. Netra Alara mengamati dari pintu kereta. Terlihat seorang prajurit turun dari kuda warna putih. "Kau mau apa?" teriak penjaga berbadan tambun itu. Suara teriakannya yang serak namun nyaring membuat telinga Alara berasa sakit. "Mi
“Ehm….” Alara memikirkan sejenak jawaban yang pas. Manik mata biru kehijauan itu berusaha menurunkan pandangannya. Napasnya seolah tertahan. Alara berusaha merangkai kata dengan hati-hati. Wenda terus memandang dengan curiga ke arah Alara. “Aku ingin memperkuat posisiku.” Alara menjawab singkat.
“Hah? Kasa?”Alara mengenali kedua benda yang tiba-tiba muncul di tangannya. “Bagaimana benda ini muncul?”“Lady!” Panggilan terdengar dari pintu kamar.‘Gawat, harus disembunyikan dulu kasanya,’ batin Alara. Dengan cepat, Alara memasukkan kasa itu ke dalam kantong gaun Alara. Pandangan mata Alar
“Lady Norabel, kumohon bangunlah!” Sebuah suara memohon terdengar sayup di telinga Alara. Berulang kali memanggil nama yang asing baginya.Satu tarikan napas yang terasa sungguh berat. Rasanya seperti tenggelam di dalam air tapi terpaksa menghirup oksigen. Hingga Alara mulai membuka mata perlahan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論