MasukAlara Currelan, wanita sangat cantik yang berprofesi sebagai dokter dan influencer kesehatan. Dia hobi menonton drama pendek tema kerajaan zaman kuno. Karena kelelahan setelah operasi selama 36 jam nonstop, dia meninggal dunia. Tiba-tiba, dia bangun di dalam dunia drama pendek yang ditontonnya. Alara bertransmigrasi menjadi Norabel Valedel, tokoh protagonis yang mati tragis akibat dibunuh suaminya sendiri, Diller Leonaricーpangeran ke-7 kerajaan Dragerium. Alara tak mau mengulang kisah yang sama. Pada saat pengasingan akibat fitnah, Alara berusaha mendekati antagonis pria. Dengan kemampuan medis dan pengetahuan alur cerita, dia berusaha menyelamatkan hidupnya dan mengubah alur. Sampai Alara menyadari, bukan hanya dia satu-satunya orang masa kini yang masuk ke dalam drama pendek itu. IG:misscaya88
Lihat lebih banyak"Aku masih lemah," protes Varek. Dia tidak ingin Alara meninggalkannya di ruangan itu. Tangan kanan Alara seolah ingin ditarik oleh Varek. Alara berjalan mendekat lalu mengamati wajah Varek. Dahi Varek diperiksa dengan punggung telapak tangan kanan Alara. "Tak ada demam, kau tidak terlihat pucat. Seharusnya sudah lumayan membaik. Lukamu juga sudah mulai menutup," Alara berkacak pinggang. Draven nampak keluar dari dalam tas selempang milik Alara. Kadal itu melata dan merayap menuju ke dekat Varek terbaring setengah duduk. "Kakek Kevin yang manja. Kau hanya ingin dapat perhatian saja kan?" goda Draven lewat telepati. "Sungguh romantis pasangan ini, saling khawatir tapi tidak berani menyatakan kejujuran. Aku mendengar ada ocehan protes padaku." 'Kadal sialan! Apa yang kau katakan. Mau ditaruh mana wajahku nanti?' batin Varek. Alara hanya tersenyum simpul,"Kakek Kevin jika masih lemah sebaiknya berbaring saja. Masih banyak orang yang perlu aku tolong dan periksa kondisinya
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Alara memilih mengalah. Dia merasa khawatir melihat kondisi perban di dada kanan Varek tang nampak memerah. Kursi kayu di ruangan kecil itu ditarik oleh Alara. Dia duduk mendekat ke arah Varek. Helaan napas panjamg dilakukan Alara. "Biar kupikirkan terlebih dahulu usulanmu. Para prajuritku sedang menyembuhkan diri. Bisa bertambah kacau jika langsung mengambik keputusan tanpa persiapan apa pun," sahut Varek dengan suara lirih. Dia memegangi luka di dada kanannya. Alara mendengarkan dengan seksama. Apa yang dikatakan Varek ada benarnya. 'Benar, aku terlalu emosional. Peperangan bukan mainan. Perlu perencanaan dan siasat yang matang,' batin Alara. Alara berdiri dan bangkit dari kursi itu. Dia mendekaf ke arah Varek. Varek dibantu agar posisinya menyandar di kepala ranjang kayu itu. "Lukamu masih perlu dirawat dengan baik. Kurasa aku terlalu hanyut dalam emosi. Sudah, lebih baik sembuhkan dulu lukamu ini," Alara memegangi kedua bahu Varek.
"Apa kau tidak lihat aku sedang sakit?" elak Varek. Dia menunjuk tepat ke arah luka yang ada di dadanya. Nampak perban di bagian luka Varek masih basah. Darah segar masih sering mengalir dari luka itu. Alara menatap tepat ke arah perban. "Kau seharusnya di dalam tenda saja. Lukamu belum kering sepenuhnya," Alara mencoba duduk di dekat Varek. Mata biru kehijauan milik Alara terus mengamati bagian dada Varek. Varek juga masih terdiam. Jubah hitam itu sudah dilepaskan oleh Varek. "Lebih baik ganti saja perbanmu dulu!" Alara berdiri dan berjalan menuju ke area luar ruangan itu. Dia meminta Mireya untuk membawakan air bersih dan peralatan yang dibutuhkan. Varek terdiam. Dia belum berbicara lagi. Matanya fokus menatap ke arah pintu masuk ruangan tempatnya terbaring. "Cinta sungguh menyiksa ya, manusia memang merepotkan," terdengar suara Draven lewat telepati. "Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Varek spontan. Dia mengamati Draven yang sudah bertengger di ujung kepala ranj
"Apa yang ingin kau bicarakan, Kek?" Alara mendekat ke arah Varek. Bahu Varek disentuh tanpa ragu. Dahi Varek yang tertutup kain jubah hitam mengernyit. Dia tak menyangka, Alara akan secepat itu memenuhi panggilannya. "Kakek," panggil Alara lagi. "Tubuhmu kelihatannya kurang sehat. Kau sudah cukup tua, Kek. Sebaiknya segera istirahat di dalam tenda lagi. Mari bicara di dalam tenda. Alara melirik tepat ke arah Cassian. Pria itu hanya tertegun melihat tingkah aneh tuannya. Penyamaran menjadi seorang kakek tua adalah ide Varek sendiri. Terdengar suara terbatuk-batuk lagi. Alara kembali mengernyitkan dahinya. Dia bisa membedakan mana batuk asli dan mana batuk palsu. "Dasar Kevin, kau ingin rumor kematian Varek tidak tersebar. Sekarang malah menyamar menjadi kakek tua. Aku tidak bodoh, mudah sekali membedakan batuk yang asli dan yang palsu tahu,' batin Alara. Alara memegangi bahu Varek. Dia mulai menuntun Varek kembali masuk ke area perkemahan. "Mari, Kakek Kevin. Anda s
"Sial sekali kita!" terdengar suara di telinga Alara. Sedikit demi sedikit matanya terbuka. Rupanya dia tanpa sadar tertidur. Kepalanya masih menyandar di dinding kayu kereta itu. "Harus ke daerah berbahaya seperti ini. Membawa tahanan buangan...." ujar penjaga lain di dalam kereta itu. Penjag
“Gelap sekali,” gumam Alara. Nampak lorong batu yang panjang di hadapan Alara. Cahaya obor menyala dengan redup. Suara gema sepatu besi penjaga bergaung di lorong itu. Hawa lorong itu terasa dingin nan lembab. Alara berusaha keras menyamakan langkahnya dengan penjaga yang tinggi itu. Gaunnnya sed
“Saya….” Alara berusaha memikirkan jawaban yang tepat. Suasana jamuan itu terasa canggung. Mata Alara menatap sekilas beberapa bangsawan berbisik kecil. Pelayan sengaja berhenti menuang anggur. Gaun panjang kebiruan itu digenggam erat dengan kedua tangan Alara. Napas ditarik pelan. Dia membungkuk
“Ehm….” Alara memikirkan sejenak jawaban yang pas. Manik mata biru kehijauan itu berusaha menurunkan pandangannya. Napasnya seolah tertahan. Alara berusaha merangkai kata dengan hati-hati. Wenda terus memandang dengan curiga ke arah Alara. “Aku ingin memperkuat posisiku.” Alara menjawab singkat.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan