LOGINAlara Currelan, wanita sangat cantik yang berprofesi sebagai dokter dan influencer kesehatan. Dia hobi menonton drama pendek tema kerajaan zaman kuno. Karena kelelahan setelah operasi selama 36 jam nonstop, dia meninggal dunia. Tiba-tiba, dia bangun di dalam dunia drama pendek yang ditontonnya. Alara bertransmigrasi menjadi Norabel Valedel, tokoh protagonis yang mati tragis akibat dibunuh suaminya sendiri, Diller Leonaricーpangeran ke-7 kerajaan Dragerium. Alara tak mau mengulang kisah yang sama. Pada saat pengasingan akibat fitnah, Alara berusaha mendekati antagonis pria. Dengan kemampuan medis dan pengetahuan alur cerita, dia berusaha menyelamatkan hidupnya dan mengubah alur. Sampai Alara menyadari, bukan hanya dia satu-satunya orang masa kini yang masuk ke dalam drama pendek itu. IG:misscaya88
View More“Lady Norabel, kumohon bangunlah!”
Sebuah suara memohon terdengar sayup di telinga Alara. Berulang kali memanggil nama yang asing baginya. Satu tarikan napas yang terasa sungguh berat. Rasanya seperti tenggelam di dalam air tapi terpaksa menghirup oksigen. Hingga Alara mulai membuka mata perlahan. Sedikit demi sedikit cahaya masuk. Nampak langit-langit kamar putih polos di atasnya. “Ini … di mana?” gumam Alara pelan. “Seharusnya aku ada di ruang operasi?” Terakhir kali dalam ingatan Alara, dia sedang menjalankan operasi pasien selama 36 jam nonstop. Tubuhnya melewati batas stamina manusia sehingga kolaps. Tiba-tiba kepala Alara terasa pening. Informasi masuk seperti film yang diputar dengan kecepatan tinggi. Pikiran Alara masih mencoba menyerap semua hal yang terjadi. Memori Alara Curellan dan Norabel Valedel silih berganti memenuhi ruang pikirannya. Alara masih mencoba menerka semua hal yang terjadi. Ruangan operasi yang dingin tiba-tiba berubah menjadi kamar tidur yang kecil. Kamar yang sederhana, sebuah jendela kecil di sudut ruangan nampak memancarkan cahaya dari luar. Sontak saja, Alara bingung. Suara bising mesin pemantau detak jantung itu menghilang. Tak ada peralatan medis di sekelilingnya, tak ada lagi bau obat bius. Semua terganti begitu saja dengan cepat. Orang yang memanggilnya pun langsung terkesiap.”Astaga! Lady Norabel! Anda sudah sadarkan diri!” Alara menatap gadis muda itu dengan pandangan heran. “Lady Norabel? Norabel Valedel? Aku?” Alara tanpa sadar menunjuk ke arah dirinya sendiri. Kakinya melangkah menuju ke arah cermin rias di kamar itu. Ruangan kamar yang mengelilingi Alara tergolong sederhana. Perabotannya dari kayu yang dicat kecoklatan. Nyaris tak ada ornamen mewah yang mewah yang menghiasi. Kengerian mulai merambati Alara ketika ia tiba di depan cermin. ‘Mulutku yang terkutuk, kenapa aku jadi tokoh drama begini?!’ batin Alara panik. Di dalam cermin terpantul bayangan diri seorang wanita dengan kulit putih namun pucat. Tulang lehernya seolah bisa terlihat. Mata biru kehijauan itu nampak menyimpan luka. Sadarlah Alara. Dirinya sekarang terpenjara di tubuh Norabel Valedel. Norabel merupakan putri pertama Marquess Valko Valedel. Dia sudah menikah secara politik dengan Diller Leonaric, pangeran ketujuh Kerajaan Dragerium. Kerajaan Dragerium merupakan salah satu kerajaan di drama pendek yang berjudul The Rise of Dragerium. Drama yang sudah selesai Alara tonton. Mulut Alara mengutuk akhir drama itu. Norabel, si protagonis berakhir mati tragis akibat dibunuh suaminya, Diller. “Perih sekali,” ujar Alara. Luka yang memerah di dahi membuat Alara mengernyit. Dia ingat jika dia baru saja jatuh dari tangga perpustakaan. Alara mencubit pipi kanannya dengan keras hingga nampak kemerahan. Rasanya terasa sakit. “Lady, sebaiknya Anda istirahat. Anda baru saja siuman karena terjatuh dari tangga perpustakaan.” Seorang gadis bergaun hitam menghampiri Alara. Gadis itu yang sejak tadi mengkhawatirkan Norabel. Alara menghela napas. Dia tak langsung percaya begitu saja dengan gadis itu. Matanya menelusuri setiap inchi gadis yang ada di hadapannya. Kaki Alara tanpa sadar berjalan mengelilingi gadis itu. Dalam ingatan Norabel, gadis itu bernama Wenda. Wenda hanya berdiri patuh tanpa protes. Matanya yang sembab membuat Alara sedikit percaya jika Wenda mengkhawatirkannya. Sejak tadi hanya Wenda satu-satunya pelayan yang ada. Kaki Alara melangkah menuju ke arah jendela kamarnya. Tirai itu disingkap. Alara bisa melihat halaman luas kastil yang menghampar luas. Nampak bendera kemerahan dengan lambang singa menggigit leher naga berkibar di berbagai sudut halaman. “Ini benar-benar istana di Kerajaan Dragerium, kerajaan di drama pendek itu.” Alara merasakan lututnya lemas. Dia menyandar di dinding dekat jendela itu. “Lady, Saya sudah memanggil tabib. Tapi tak seorang pun datang kemari.” Nampak Wenda yang masih khawatir. Alara berusaha menenangkan dirinya. Kejadian Norabel jatuh dari tangga sudah diatur oleh Diller, pangeran ketujuh Kerajaan Dragerium. Diller bisa kembali menyebarkan rumor jika kondisi kesehatan Norabel memburuk sehingga makin terisolasi. Mata Alara mengamati pergelangan tangan kirinya. Nampak urat nadi yang kebiruan. Tangan kanannya mencoba mengecek denyut nadi di tangan kiri itu. ‘Kondisi tubuh ini nampaknya cukup sehat. Lukanya tetap harus dirawat dulu baru pikirkan langkah selanjutnya,’ batin Alara. “Tolong ambilkan aku air hangat, garam dan kain baru yang masih bersih.” Alara memberi perintah kepada Wenda. Wenda menggangguk pelan. Dia segera pergi dari kamar itu. Tiba-tiba seseorang muncul di ambang pintu kamar Alara dan berkata dengan nada mengejek. “Kau sudah bisa berdiri ya rupanya?” Pandangan Alara langsung teralihkan ke arah suara itu. Seorang pria berambut pirang berjalan ke arahnya. Aura mencekam langsung terasa. Sorot mata biru itu seolah bisa menghunus pedang sewaktu-waktu. Keangguhan langsung terlihat dari pakaian putih sutra berpadu dengan cincin emas berderet-deret di sepuluh jari itu. ‘Penampilan dan wajah itu!’ pekik Alara dalam hati. ‘Tidak salah lagi! Dia pangeran ketujuh!’ “Yang Mulia, rupanya Anda datang.” Alara berusaha berbicara sealami dan setenang mungkin. Jantung di dada Alara tetap saja berdegup kencang. Dia baru saja tiba di sini tapi langsung berhadapan dengan tokoh yang berbahaya. Diller mencengkram dagu Alara dengan kasar. Tatapan mata Diller sungguh mengintimidasi. Rasanya seperti akan hilang nyawa hari itu juga. “Aku takkan pernah punya rasa kasihan padamu! Camkan itu!” Diller menghempas dagu Alara dengan kasar. Begitupun, Alara tidak terpancing. Sekuat tenaga ia menenangkan diri, kemudian berkata, “Terima kasih sudah menjenguk saya, Yang Mulia.” Air mata dari tubuh Norabel yang hendak menetes ditahan kuat-kuat. Diller langsung pergi begitu saja. Dia segera menutup pintu kamar. “Sungguh menakutkan. Tapi aku harus kuat jika ingin hidup. Seandainya aku punya kasa untuk mengobat luka ini.” Alara membayangkan kain kasa yang ada di kehidupan sebelumnya. Cincin di jari telunjuk kanan Alara bersinar. Cincin itu merupakan cincin warisan keluarga Valedel. Cincin emas putih dengan hiasan bunga edelweis berwarna keemasan. Bunga edelweis adalah simbol dari House of Valedel. Alara pun panik melihat sinar itu berpendar semakin terang. “Apa yang terjadi ini?!”"Apa kau tidak mau berbincang di luar ruangan?" ajak Varek. Alara mengangguk. Tanpa ragu dia berdiri lalu mengikuti Varek keluar dari dalam hall utana mansion itu. Keduanya berjalan-jalan di lorong mansion itu. Malam itu cerah. Rembulan bersinar terang. Bintang -bintang berkerlap-kerlip. Alara memperhatikan halaman mansion itu saat malam hari. Pohon-pohon anggur yang menghampar luas tetap saja menarik. Apalagi pohon itu mulai berbuah. "Selamat atas kebebasanmu," Varek memulai pembicaraan. Dia berjalan pelan di samping Alara. "Aku tak tahu harus berkata apa. Ya, aku senang sudah bebas dari Si Babi Hutan pemarah itu. Rasanya lega sangat lega," sahut Alara. Alara masih saja berjalan di arah depan. Terlihat sebuah danau buatan kecil. Ikan-ikan warna putih kekuningan terlihat berenang di danau itu. Alara memutuskan duduk di kursi yang ada di tepi kolam itu. "Aku sudah resmi menjadi janda sekarang. Atau lebih tepatnya Norabel Valedel sudah menjadi janda," ujar Alara. Di dek
"Apa isi suratnya?" Alara langsung berdiri. Dia seolah ingin melompat saat mendengar surat itu datang. Sepucuk surat yang menentukan takdir dari hidupnya. "Ini...ini...." Marquess Valko nampak terengah-engah. Dia mengusap peluh di wajahnya terlebih dahulu. Marchioness Rose langsung menyambar sepucuk surat itu. Sebuah surat yang dibungkus dengan amplop warna merah darah warna khas Dragerium. Logo emas berupa lambang singa menggigit kepala naga tercetak dengan tinta emas di halaman depan amplop itu. Bagian belakang amplop masih disegel dengan lilin warna kuning keemasan, logo Raja Valdes menjadi segel resmi di surat itu. "Cepat sedikit, Sayang. Kau belum setua itu!" keluh Marchioness Rose. "Dia mengamati amplop itu. Amplop itu dipastikan masih tersegel utuh. "Ini menyangkut hidup dan nasib putri kita!" Alara tanpa sadar menggigit kuku di ibu jari tangan kanannya. Dia terus melihat ke arah amplpp itu. Anplop itu dibuka tepat di hadapannya. Sebuah kertas kuning kecoklatan te
Raja Valdes nampak terdiam sejenak. Tatapannya sangat tajam. Semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang berani menyela sang raja. "Akan kuadakan penyelidikan secara mandiri dan netral di bawah pengawasanku langsung" ujar Raja Valdes sambil berdiri. "Tapi Yang Mulia, semua ingin hanya kebohongan semata. Tak mungkin Diller menyakiti istrinua sendiri!" teriak Ratu Belvara. Diller menatap tajam."Jadi ayah lebih mempercayai semua omong kosong ini? Semua ini hanya kebohongan." "Justru karena ini menyangkut martabat kerajaan, aku harus turun langsung. Beginikah tatakrama yang kau ajarkan kepada anakmu, Belvara?" Raja Valdes menunjuk ke arah sang ratu. "Dia sama sekali tidak bisa menutup mulut besarnya saat orang lain berbicara." Ratu Belvara tertunduk. Dia memilih kembali duduk di kursinya. Diller menatap tajam ke arah Alara. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah. "Sidang kerajaan diakhiri sampai di sini. Akan kubentuk tim untuk penyelidikan secara mandiri di bawah
"Apa kau takut, Gadis Aneh?" terdengar suara Draven lewat telepati. "Tentu saja tidak, Si Babi Diller itu harus diberi pelajaran," sahut Alara lewat telepati. Alara saat ingin sudah berada di depan sebuah pintu masuk yang besar. Dua prajurit lengkap dengan tombak panjang dan pedang menjaga pintu itu. Hari menjelang siang saat Alara menghadiri undangan sidang kerajaan dari Raja Valdes.Pintu dengan bagian atas bulat itu berwarna dasar cokelat. Lambang Dragerium berupa singa menggigit leher naga terukir megah di pintu masuk itu. "Tolong umumkan kedatanganku," ujar Alara. Salah seorang penjaga itu membukakan pintu masuk itu. Terlihat sebuah belasan meja panjang yang disusun menjadi bentuk kotak mengelilingi ruangan itu. Di meja center paling utara dan tepat di tengah terlihat Raja Valdes. Varek juga berada di sana, dia duduk di meja lain dekat dengan pintu masuk. "Putriku akhirnya tiba," terdengar suara celetukan itu. Arah suara itu berasal dari Marquess Valko, ayah kandung N
"Kenapa?!" gertak penjaga yang duduk tepat di sebelah Alara. Netra Alara mengamati dari pintu kereta. Terlihat seorang prajurit turun dari kuda warna putih. "Kau mau apa?" teriak penjaga berbadan tambun itu. Suara teriakannya yang serak namun nyaring membuat telinga Alara berasa sakit. "Mi
"Sial sekali kita!" terdengar suara di telinga Alara. Sedikit demi sedikit matanya terbuka. Rupanya dia tanpa sadar tertidur. Kepalanya masih menyandar di dinding kayu kereta itu. "Harus ke daerah berbahaya seperti ini. Membawa tahanan buangan...." ujar penjaga lain di dalam kereta itu. Penjag
“Gelap sekali,” gumam Alara. Nampak lorong batu yang panjang di hadapan Alara. Cahaya obor menyala dengan redup. Suara gema sepatu besi penjaga bergaung di lorong itu. Hawa lorong itu terasa dingin nan lembab. Alara berusaha keras menyamakan langkahnya dengan penjaga yang tinggi itu. Gaunnnya sed
“Saya….” Alara berusaha memikirkan jawaban yang tepat. Suasana jamuan itu terasa canggung. Mata Alara menatap sekilas beberapa bangsawan berbisik kecil. Pelayan sengaja berhenti menuang anggur. Gaun panjang kebiruan itu digenggam erat dengan kedua tangan Alara. Napas ditarik pelan. Dia membungkuk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews