INICIAR SESIÓNKhalif Bumi Djayanagara Direktur Utama PT Gemah Svarga yang baru berusia tiga puluh dua tahun.
Tampan, pintar, berotot, cool, minusnya sangat cool sampai-sampai ia jadi lebih dingin dan mematikan daripada ac sentral yang sudah dipasang enam belas derajat dan siap membekukan seisi kantor.
Ekspresinya cuma satu. Datar. Kalaupun lucu, ia tidak tertawa. Tapi kalau marah, mulutnya memang diam hanya saja matanya sudah membara.
Suasana hatinya sangat sulit ditebak, kecuali membuat kesalahan, sudah pasti mulut pedasnya akan bersabda dengan mematikan.
Jika orang lain marah dengan cara berteriak, Khalif justru sebaliknya.
Suaranya akan terdengar semakin pelan dan dalam, dan itu jauh lebih menakutkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Kini pria itu masih setia memandangi Sera. Hanya Sera.
Keduanya yang menunduk kini tak ada yang berani menatap Khalif, hanya bisa saling pandang sambil menelan ludah kasar.
“Kenapa kok gak di terusin?”
Sera pun segera melompat dari kursinya dan kemudian memberanikan diri menatap Khalif.
Sialnya, mata mereka bertemu, Sera selalu merasa seolah-olah seluruh isi pikirannya sedang diperiksa oleh mesin X-ray.
“Pak—”
"Tolong semua masuk ruang rapat sekarang juga!" Suaranya datar, namun penuh penekanan yang membuat tidak ada seorang pun yang berani membantah.
***
Sepuluh menit kemudian, seluruh tim HRD sudah duduk rapi di dalam ruang rapat.
Khalif berdiri di depan layar presentasi. Wajahnya yang tanpa emosi justru membuat atmosfer di dalam ruangan semakin mencekam.
"Saya menerima laporan." Khalif membuka suara.
Hening.
"Bahwa proses rekrutmen untuk tiga posisi supervisor terlambat dua minggu."
Suasananya tetap masih hening.
"Saya juga menerima laporan bahwa evaluasi kinerja semester lalu belum juga diselesaikan."
Khalif menatap seluruh orang di ruangan itu satu per satu
"Jadi saya ingin tahu, apa sebenarnya yang sedang dikerjakan oleh divisi HRD?"
Seketika suasana menjadi sedingin es. Sera bisa melihat manajer HRD mulai menyeka keringat di dahinya, sementara Mei menelan ludah dengan susah payah.
Khalif masih berdiri di sana dengan tenang meskipun suaranya sudah menekan dalam.
"Kita jelas bukan perusahaan kecil," lanjut Khalif dengan nada suara menusuk.
"Tiap keterlambatan di divisi ini berdampak langsung pada operasional."
Pria itu menekan remote presentasi di tangannya. Grafik performa muncul di layar besar.
"Gudang terganggu."
Klik.
"Distribusi terganggu."
Klik.
"Ekspor tertunda."
Klik.
"Dan kerugian perusahaan meningkat."
Tak seorang pun di dalam ruangan berani mengeluarkan suara.
Meski begitu, semua orang tetap memperhatikan Khalif dengan seksama. Termasuk juga Sera yang memperhatikan pria itu dari kursinya.
Di balik rasa takutnya, ia harus mengakui bahwa ia mengagumi cara kerja Khalif.
Pria itu tidak pernah marah tanpa alasan yang jelas, mereka yakin, ada data dan solusi yang ditawarkan. Meski tentu saja tidak akan dibagikan dengan mudah.
Sebelum solusi itu datang, ada ujian yang rasanya mengalahkan susahnya soal masuk perguruan tinggi negeri.
"Saya ingin semuanya selesai minggu ini dan saya tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi," tegas Khalif.
"Baik, Pak." jawab sang manajer dengan suara agak bergetar.
“Satu lagi! kurangi bergosip yang tidak penting dan tingkatkan kinerja kalian. Jangan sampai saya mendengar ada bualan tidak penting di perusahaan saya sendiri. Mengerti?”
“Mengerti, Pak.” Suara jawaban itu terdengar serentak, meski Sera dan Mei mengucapkannya dengan nafas tercekat.
Khalif mengangguk pelan. "Rapat selesai."
Semua orang bergegas merapikan barang-barang mereka untuk segera keluar dari ruangan yang mencekam itu.
Namun, saat Sera hendak melangkah, sebuah suara berat menghentikan langkahnya.
"Sera."
Langkah kaki Sera langsung terkunci.
Mei yang berada di sebelahnya langsung memberikan tatapan penuh belasungkawa, seolah mengatakan 'Semoga tenang di alam sana', sebelum akhirnya buru-buru keluar.
‘Wah, sangat tidak setia kawan?! Dia yang ngajak bergosip dan dia yang kabur?’ umpat Sera dalam hati.
Sera berbalik perlahan dengan senyum kaku yang dipaksakan. "I– iya, Pak?"
Jantung Sera langsung berdegup kencang. Pikiran-pikiran buruk mulai berputar di kepalanya.
"Kamu sakit?" Sera berkedip beberapa kali.
Apa ia salah dengar?
Untuk pertama kalinya dalam hidup, otaknya benar-benar gagal memproses pertanyaan yang baru saja didengarnya.
“M–maaf, Pak? Gimana, Pak?” tanya Sera bodoh.
“Kamu sakit?” Khalif memandangnya lekat-lekat selama beberapa detik.
"Kamu kelihatan pucat sepanjang rapat tadi."
Tentu saja wajahnya pucat setelah ketahuan menggosipkan tuannya yang tak tersentuh itu.
Bagaimana ia bisa hidup dengan tenang. Tapi demi menyelamatkan hidupnya, ia pun berbohong.
“Se– sedikit… pusing, Pak.”
"Kalau sakit istirahat saja di rumah. Gak perlu datang hanya untuk mendengarkan gosip tentang saya, apalagi sampai memaksakan diri. Mengerti?" Khalif pun melangkah tanpa menunggu jawaban Sera.
Sementara itu Sera menggigit bibir bawahnya mendengar kalimat Khalif. Kenapa pria itu tidak marah saja dan malah menyindirnya?
Bagaimana sekarang ia harus menghadapi dunia kerjanya yang menjadi sumber penghasilannya kini?
Baru saja Sera hendak keluar dari ruangan, kini Sera terhenti mendadak melihat Khalif masih berada di ambang pintu sambil memandanginya, yang entah mengapa malah terlihat teduh, bukan galak
“Seraphina.”
“I–iya, Pak?”
“Mau saya antar pulang?"
Khalif akhirnya mengangkat kepala ketika Sera tetap saja mengomel tanpa mengurangi volume suaranya sedikit pun. Tatapan matanya yang datar dan sedingin es khas seorang direktur utama menatap Sera tanpa riak. "Berisik, Sera. Ini masih terlalu pagi untuk berteriak.""Berisik?! Ya saya harus berisik, Pak. Kenapa saya ada di sini? Ini bukan kamar saya! Ini…” Sera mengamati seluruh ruangan itu. Ini sama dengan tipe kamarnya, tapi tentu saja bukan, karena tidak ada barang berantakan di sana-sini khas kamar hotelnya."Ini kamar saya," ucap Khalif tenang.Sera kini sudah menatap atasannya dengan tatapan permusuhan. “Bapak kasih apa ke saya?! Kenapa saya bisa gak sadar dibawa ke sini? Bapak ngapain saya?!” tanya Sera dengan mata yang sudah berkaca-kaca dengan keadaan marah, malu, dan semua perasaan tidak enak yang bercokol dalam dadanya.Khalif kini sudah berdiri dan hendak mendekat.“Stop! Bapak mau apa?!”“Jadi kamu ingin berlagak menjadi korban sekarang, Sera? Kamu—”Tepat saat itu, ing
Tidak ada satu katapun yang masuk ke dalam otak Sera.Sekalipun atasannya itu akan mengamuk, Sera justru mendongak menantang si pemilik wajah tampan dengan suara bariton yang entah mengapa terdengar seksi di telinganya.Matanya yang sayu menatap Khalif dengan pandangan merajuk sebelum kembali berjinjit, memburu bibir Khalif untuk melanjutkan penyatuan yang sempat terputus. Hisapan Sera yang polos namun berani itu benar-benar membuat Khalif kehilangan sisa-sisa kesabarannya."Persetan," umpat Khalif rendah.Ia tidak tahu dan tidak punya waktu untuk mencari kartu akses kamarnya sendiri. Tanpa membuang waktu, Khalif merogoh sakunya, mengeluarkan kartu akses kamarnya sendiri, lalu menempelkannya ke panel pintu kamar nomornya dengan kasar.Klik.Khalif mendorong pintu itu dengan sebelah kaki, lalu menyergap tubuh Sera masuk ke dalam. Pintu hotel menutup otomatis di belakang mereka dengan bunyi dentuman yang cukup keras, mengunci keduanya dalam privasi kamar suite yang remang-remang.Begi
Cairan di dalam gelas itu terlihat sangat mirip dengan jus jeruk segar. Bahkan aromanya pun didominasi oleh wangi sitrus yang kuat. Sera, dengan kepolosan, mengira benda itu adalah jus jeruk murni seperti biasanya.Dalam waktu kurang dari satu menit, cairan oranye itu telah berpindah seluruhnya ke dalam perut Sera. Habis tak bersisa hingga tetes terakhir.Dua menit kemudian, Khalif kembali dari urusannya. Langkah kakinya seketika terkunci begitu melihat gelas di tangan Sera sudah kosong melompong."Mana minumanmu yang tadi?" tanya Khalif dengan kening berkerut."Sudah habis, Pak. Segar sekali," jawab Sera sambil mengulas senyum lebar."Habis?" Khalif merebut gelas kosong dari tangan Sera, mendekatkannya ke hidung, lalu menghirup aromanya sejenak. Detik itu juga, Khalif memejamkan matanya rapat-rapat, mengembuskan napas perlahan demi menekan gejolak panik.Sebab, itu bukan jus jeruk biasa. Sama sekali bukan."Sera, itu cocktail.""Oh... jus jeruk premium, ya, Pak?""Ada kandungan al
Jika ada satu hal yang paling disesali Seraphina Estella Yasa malam itu, maka itu adalah keputusannya menyetujui seluruh rencana gila Khalif.Mulai dari gaun belasan juta, sepatu hak tinggi yang tingginya tidak masuk akal, aksesoris berkilau, hingga kehadiran seorang make-up artist profesional yang entah berapa tarif per jamnya.Saat ini, ia sedang duduk tegak di depan cermin besar suite room hotel. Jemari lentik sang penata rias terkenal di Bali itu sibuk memberikan sentuhan akhir pada wajahnya."Kakak asli cantik banget, lho. Struktur wajahnya proporsional," puji sang MUA tulus.Sera hanya bisa tertawa canggung, merasa salah kostum. "Kayaknya Mbaknya salah orang, deh. Aslinya saya cuma remahan rengginang. Sehari-hari cuma pakai bedak tabur bayi."MUA itu malah tertawa renyah. "Nah, itu dia masalahnya. Kakak terlalu cuek, padahal aset visualnya luar biasa."Satu jam kemudian, pintu penghubung suite room terbuka perlahan. Khalif, yang sedang fokus membaca pesan bisnis di ponselnya, ot
Semakin ia memikirkannya, semakin situasi ini terasa tidak masuk akal. Jika tujuannya adalah menghadiri forum bisnis berskala besar seperti ini, orang yang paling berkompeten dan cocok untuk diajak tentu saja adalah manajer dari divisi Marketing, kepala bagian Logistik, tim Procurement, atau setidaknya staf ahli Ekspor-Impor. Bukan dirinya.Sera bahkan nyaris tidak mengerti separuh dari istilah-istilah teknis yang digelorakan oleh para pembicara di atas podium sejak pagi tadi.Sera tetap mencatat istilah-istilah asing itu dengan patuh. Namun, setiap kali ia membaca ulang catatannya, keningnya justru semakin berkerut dalam. Ia tetap tidak mengerti satu pun apa maksudnya.‘Ah, sial. Aku pasti dijebak!’Meskipun begitu, seiring waktu yang merambat semakin siang, ada satu hal lain yang jauh lebih menyita perhatian Sera dan membuatnya sesekali menganga tak percaya.Sosok Khalif Bumi Djayanagara. Atau lebih tepatnya, versi Khalif yang belum pernah dan tidak akan pernah ia temui di lingkunga
Sepasang mata Sera mulai berkaca-kaca menahan haru. Selama bertahun-tahun ini, sejak kecelakaan maut yang merenggut seluruh anggota keluarganya, baru kali inilah ia merasa benar-benar bisa pergi jauh dan menikmati hidup dengan layak.Meskipun, status perjalanannya saat ini hanyalah sebatas perjalanan dinas kantor.Tepat pukul sembilan malam, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Khalif masuk.Khalif: Istirahat.Sera dengan cepat mengetik balasan.Sera: Siap, Pak.Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Balasan dari sang bos datang hampir instan.Khalif: Besok kegiatan forum dimulai tepat pukul 08.00. Jangan terlambat.Sera tersenyum tipis di depan layar ponselnya, lalu dengan percaya diri mengetik kalimat balasan.Sera: Baik, Pak.Sera mendengus pelan sambil melempar ponselnya ke atas kasur. Tetap saja, pria itu selalu punya cara untuk terdengar menyebalkan di akhir kalimat.Satu jam berlalu, namun Sera masih belum bisa memejamkan matanya. Ia terlalu







