LOGINSera meregangkan tubuhnya yang seharian ini lelah memikirkan beban hidupnya.
Pukul lima sore adalah jam pulang kantor yang selalu menjadi momen paling membahagiakan bagi dirinya dalam beberapa tahun terakhir.
Kini angka itu mendadak jadi waktu paling memusingkan dalam hidupnya. Kepalanya kini justru terasa sangat penuh.
Ia masih sangat ingat bagaimana tawaran Khalif tadi. Baginya itu bukan murni sebuah tawaran, tapi seolah sinyal buruk untuk karirnya ke depan.
“Pasti ini gara-gara mimpi semalam. Makanya hari ini aku sial! Ash!” gumamnya gusar sambil memasukkan semua barang bawaan ke dalam tas jinjingnya.
Sera menghela napas panjang sambil berjalan gundah menuju area parkir.
Bruk!
"Aduh..."
Tubuh kecil Sera menabrak dada bidang seseorang.
Ia terlalu sibuk melamun hingga tidak memperhatikan ada seseorang yang berjalan cepat dari arah berlawanan.
"Hati-hati, Ra!" Sebuah tangan dengan sigap menahan kedua bahunya, menjaga agar Sera tidak limbung.
Sera refleks mundur satu langkah demi menjaga jarak. "Maaf! Maaf banget!"
Begitu ia mendongak untuk melihat siapa yang ditabraknya, matanya membulat. "Oh..."
Kenneth Abimana. Supervisor Divisi Logistik.
Pria itu bertubuh tinggi, selalu ramah, juga sangat populer di kalangan karyawan, dan entah kenapa... selalu bersikap sangat baik kepadanya.
"Ya ampun, Ra. Mikirin apa sih, sampe gak liat jalan?" tanya Kenneth sambil tertawa kecil, melepaskan pegangannya di bahu Sera.
Sera mengusap tengkuknya canggung. "Maaf, ya. Gak fokus, nih."
"Iya, keliatan kalau gak fokus." Kenneth memperhatikan wajah perempuan di depannya selama beberapa detik. Guratan lelah itu tak bisa disembunyikan.
"Kamu baik-baik aja, Ra? Pucet banget soalnya. Ada masalah?"
Pertanyaan yang sudah ditanyakan ketiga kalinya ini, membuat Sera membatin. ‘Sebegitu terlihat menyedihkannya kah mukaku?’
"Aku gak kenapa-kenapa, kok. Gak touch up make up aja ini, sih. Makanya pucet," jawab Sera, mencoba tersenyum.
"Bohong."
Sera terkekeh pelan. "Aku serius, Ken."
"Aku juga serius." Kenneth menghela napas, menatapnya dengan pandangan teduh.
"Kamu tuh paling gampang ketahuan kalau lagi ada masalah, Ki. Soal rumah lagi ya?" tebak Kenneth tepat sasaran.
Sera hanya bisa melempar senyum tipis.
Itulah salah satu kelemahannya, ia sama sekali tidak pandai berbohong. Sementara Kenneth sudah mengenalnya cukup lama, tepatnya sejak hari pertama Sera menginjakkan kaki di perusahaan ini sebagai karyawan baru.
Sera menatapnya tidak percaya kemudian terkekeh. "Sampe hapal ya sama masalahku, Ken?"
"Karena tiap kali ada urusan soal keluarga, ekspresi wajah kamu selalu berubah sama." Kenneth menyandarkan tubuhnya ke pilar parkiran.
“Kali ini ngapain lagi keluarga kamu, Ra?”
Sera mendesah pasrah. "Enggak, serius nggak ada apa-apa, Ken.”
Kenneth berdecak sebal, ia tahu Sera tidak semudah itu berbicara.
Matanya pun mengedarkan pandangan ke deretan kendaraan dan menunjuk ke arah area parkir motor.
"Kamu naik motor hari ini?"
"Iya."
“Tinggalin aja motornya. Ayo aku anter.”
“Ih, nggak perlu, Ken!”
"Kamu lagi enggak fokus, Ra. Bahaya," ujar Kenneth tegas namun lembut. Sebelum Sera sempat mengeluarkan kalimat bantahan, Kenneth sudah memotongnya lebih dulu, "Aku antar aja ke rumah."
Sera langsung menggeleng kuat-kuat. "Nggak usah, Ken. Enggak perlu."
"Kenapa?"
"Repot nanti kamunya, masih harus puter balik. Rumah kita kan gak searah."
"Nggak repot sama sekali, Seraphina. Udah, tenang aja. Mobilku punya bensin yang cukup, kok."
"Gak usah lah, Ken..." Sera mulai merasa tidak enak.
"Udah, gak perlu gak enak, Ra. Lagian, kalau kamu sampai jatuh atau kenapa-napa di jalan karena ngelamun, aku yang bakal merasa bersalah seumur hidup. Mau ya? Please!" Kenneth tersenyum tulus dengan lesung pipit yang sudah bertengger di pipinya.
Pria ini memang selalu begitu baik dan karena Sera adalah tipe manusia paling tidak enakan sedunia... lima menit kemudian, ia sudah berakhir duduk manis di kursi penumpang di dalam mobil Kenneth.
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan hitam mewah baru saja memasuki area parkir kantor.
Khalif Bumi Djayanagara turun dari kursi belakang.
Ia baru saja kembali dari rapat maraton yang melelahkan dengan beberapa eksportir besar dari Surabaya. Hari yang panjang, padat, dan seharusnya sudah selesai.
Namun, langkah kaki Khalif mendadak terhenti di dekat lobi parkir.
Sepasang matanya yang tajam menangkap sosok yang sangat ia kenal, Sera.
Gadis itu sedang berdiri di samping mobil Kenneth.
Dari kejauhan, mereka terlihat mengobrol dengan sangat akrab, bertukar tawa, sebelum akhirnya Sera masuk ke dalam mobil yang sama dengan pria itu.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat rahangnya mengeras.
Tatapannya masih tertuju pada mobil Kenneth yang perlahan meninggalkan area parkir.
Seorang staf yang kebetulan berjalan melewatinya bahkan sampai menunduk sopan, tak menyadari bahwa sang direktur sama sekali tidak sedang memperhatikan siapa pun.
Khalif tetap diam.
Hanya matanya yang mengikuti mobil itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan.
“Jadi, itu alasan kamu menolak saya, Seraphina?” gumamnya lirih.
Hari itu merupakan hari terakhir rangkaian perjalanan dinas mereka di Bali.Esok pagi-pagi sekali, mereka dijadwalkan terbang kembali ke Jakarta, kembali menghadapi hiruk pikuk kehidupan ibu kota yang melelahkan.Seharusnya Sera merasa senang. Ia bisa menikmati sisa waktu libur ekstra yang diberikan perusahaan dengan sukacita, sebelum kembali tenggelam dalam rutinitas pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya.Masalahnya, pikiran Sera saat ini masih terjebak di kamar suite Khalif.Sejak dua jam lalu, otaknya terus memutar ulang satu kejadian memalukan yang membuatnya ingin menggali lubang dan mengubur diri hidup-hidup. Dua bekas merah keunguan di leher bosnya, ditambah satu fakta baru yang teramat mengerikan.Mungkin. Hanya mungkin.Semalam, ia benar-benar nekat mencium bos galaknya itu.Dan melihat ukuran serta pekatnya warna bekas yang tertinggal, sepertinya ia tidak sekadar mencium, melainkan hampir memakan hidup-hidup direktur utamanya sendiri."Ya Tuhan..." rintih Sera frustrasi.
Khalif akhirnya mengangkat kepala ketika Sera tetap saja mengomel tanpa mengurangi volume suaranya sedikit pun. Tatapan matanya yang datar dan sedingin es khas seorang direktur utama menatap Sera tanpa riak. "Berisik, Sera. Ini masih terlalu pagi untuk berteriak.""Berisik?! Ya saya harus berisik, Pak. Kenapa saya ada di sini? Ini bukan kamar saya! Ini…” Sera mengamati seluruh ruangan itu. Ini sama dengan tipe kamarnya, tapi tentu saja bukan, karena tidak ada barang berantakan di sana-sini khas kamar hotelnya."Ini kamar saya," ucap Khalif tenang.Sera kini sudah menatap atasannya dengan tatapan permusuhan. “Bapak kasih apa ke saya?! Kenapa saya bisa gak sadar dibawa ke sini? Bapak ngapain saya?!” tanya Sera dengan mata yang sudah berkaca-kaca dengan keadaan marah, malu, dan semua perasaan tidak enak yang bercokol dalam dadanya.Khalif kini sudah berdiri dan hendak mendekat.“Stop! Bapak mau apa?!”“Jadi kamu ingin berlagak menjadi korban sekarang, Sera? Kamu—”Tepat saat itu, ing
Tidak ada satu katapun yang masuk ke dalam otak Sera.Sekalipun atasannya itu akan mengamuk, Sera justru mendongak menantang si pemilik wajah tampan dengan suara bariton yang entah mengapa terdengar seksi di telinganya.Matanya yang sayu menatap Khalif dengan pandangan merajuk sebelum kembali berjinjit, memburu bibir Khalif untuk melanjutkan penyatuan yang sempat terputus. Hisapan Sera yang polos namun berani itu benar-benar membuat Khalif kehilangan sisa-sisa kesabarannya."Persetan," umpat Khalif rendah.Ia tidak tahu dan tidak punya waktu untuk mencari kartu akses kamarnya sendiri. Tanpa membuang waktu, Khalif merogoh sakunya, mengeluarkan kartu akses kamarnya sendiri, lalu menempelkannya ke panel pintu kamar nomornya dengan kasar.Klik.Khalif mendorong pintu itu dengan sebelah kaki, lalu menyergap tubuh Sera masuk ke dalam. Pintu hotel menutup otomatis di belakang mereka dengan bunyi dentuman yang cukup keras, mengunci keduanya dalam privasi kamar suite yang remang-remang.Begi
Cairan di dalam gelas itu terlihat sangat mirip dengan jus jeruk segar. Bahkan aromanya pun didominasi oleh wangi sitrus yang kuat. Sera, dengan kepolosan, mengira benda itu adalah jus jeruk murni seperti biasanya.Dalam waktu kurang dari satu menit, cairan oranye itu telah berpindah seluruhnya ke dalam perut Sera. Habis tak bersisa hingga tetes terakhir.Dua menit kemudian, Khalif kembali dari urusannya. Langkah kakinya seketika terkunci begitu melihat gelas di tangan Sera sudah kosong melompong."Mana minumanmu yang tadi?" tanya Khalif dengan kening berkerut."Sudah habis, Pak. Segar sekali," jawab Sera sambil mengulas senyum lebar."Habis?" Khalif merebut gelas kosong dari tangan Sera, mendekatkannya ke hidung, lalu menghirup aromanya sejenak. Detik itu juga, Khalif memejamkan matanya rapat-rapat, mengembuskan napas perlahan demi menekan gejolak panik.Sebab, itu bukan jus jeruk biasa. Sama sekali bukan."Sera, itu cocktail.""Oh... jus jeruk premium, ya, Pak?""Ada kandungan al
Jika ada satu hal yang paling disesali Seraphina Estella Yasa malam itu, maka itu adalah keputusannya menyetujui seluruh rencana gila Khalif.Mulai dari gaun belasan juta, sepatu hak tinggi yang tingginya tidak masuk akal, aksesoris berkilau, hingga kehadiran seorang make-up artist profesional yang entah berapa tarif per jamnya.Saat ini, ia sedang duduk tegak di depan cermin besar suite room hotel. Jemari lentik sang penata rias terkenal di Bali itu sibuk memberikan sentuhan akhir pada wajahnya."Kakak asli cantik banget, lho. Struktur wajahnya proporsional," puji sang MUA tulus.Sera hanya bisa tertawa canggung, merasa salah kostum. "Kayaknya Mbaknya salah orang, deh. Aslinya saya cuma remahan rengginang. Sehari-hari cuma pakai bedak tabur bayi."MUA itu malah tertawa renyah. "Nah, itu dia masalahnya. Kakak terlalu cuek, padahal aset visualnya luar biasa."Satu jam kemudian, pintu penghubung suite room terbuka perlahan. Khalif, yang sedang fokus membaca pesan bisnis di ponselnya, ot
Semakin ia memikirkannya, semakin situasi ini terasa tidak masuk akal. Jika tujuannya adalah menghadiri forum bisnis berskala besar seperti ini, orang yang paling berkompeten dan cocok untuk diajak tentu saja adalah manajer dari divisi Marketing, kepala bagian Logistik, tim Procurement, atau setidaknya staf ahli Ekspor-Impor. Bukan dirinya.Sera bahkan nyaris tidak mengerti separuh dari istilah-istilah teknis yang digelorakan oleh para pembicara di atas podium sejak pagi tadi.Sera tetap mencatat istilah-istilah asing itu dengan patuh. Namun, setiap kali ia membaca ulang catatannya, keningnya justru semakin berkerut dalam. Ia tetap tidak mengerti satu pun apa maksudnya.‘Ah, sial. Aku pasti dijebak!’Meskipun begitu, seiring waktu yang merambat semakin siang, ada satu hal lain yang jauh lebih menyita perhatian Sera dan membuatnya sesekali menganga tak percaya.Sosok Khalif Bumi Djayanagara. Atau lebih tepatnya, versi Khalif yang belum pernah dan tidak akan pernah ia temui di lingkunga







