LOGIN“Saya tidak pernah direndahkan oleh siapa pun seperti yang kamu lakukan semalam, Sera. Dan selama tiga puluh dua tahun hidup saya, saya tidak pernah menyentuh wanita mana pun sampai sejauh itu.” Seraphina Estella membeku mendengar ucapan bosnya. Khalif Bumi Djayanegara—pria dingin, tampan, kaya raya, dan terkenal sulit didekati—justru menuduhnya telah mengacaukan pikirannya dengan hal-hal liar. Dan solusi yang diberikan pria itu benar-benar di luar nalar. “Kamu harus menikahi saya.” Sera yakin Khalif sedang menjebaknya. “Bapak pasti sedang menjebak saya, kan? Akal-akalan Bapak buat lavender marriage?” Namun semakin Sera berusaha melarikan diri, semakin Khalif menunjukkan bahwa pria itu benar-benar serius. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Dan mengapa seorang direktur yang tak pernah menyentuh wanita mana pun justru memilihnya?
View More"Kamu pikir rumah itu milikmu sendiri?!"
Suara melengking itu seketika membuat Seraphina Estella Yasa membeku di tempatnya berdiri.
Di dalam ruang tamu rumah tua peninggalan almarhum ibunya, dua wanita berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah. Tantri dan Ratri—dua tante yang selama ini hanya muncul jika ada urusan uang.
"Tapi ini rumah Mama..." suara Sera bergetar, berusaha menahan sesak di dadanya.
"Kami juga punya hak di sini!" bentak Tantri tak mau kalah.
Ratri yang berdiri di sebelahnya ikut maju dan menunjuk wajah Sera dengan ketat. "Kamu cuma anak satu-satunya yang tersisa, bukan berarti semuanya otomatis jadi milikmu!"
"Tapi surat wasiatnya—"
"Jangan bawa-bawa wasiat! Wasiat itu gak adil! Cacat secara hukum"
BRAK!
Tantri menghantam meja kayu di hadapan mereka dengan keras. Sera tersentak hingga mundur beberapa langkah. Jantungnya berdetak sangat kencang, berpacu dengan rasa takut yang mulai menjalar.
"Kamu pikir kami bodoh? Kamu sengaja mengurus balik nama diam-diam supaya rumah ini jadi milikmu sendiri, kan?! Jangan curang ya kamu, Sera! Anak pembawa sial!"
Air mata mulai menggenang di sudut mata Sera. Ia ingin sekali membela diri. Ingin menjelaskan. Ingin marah dan berteriak balik. Namun seperti biasa, semua kata-kata itu hanya tertahan dan berputar di dalam kepalanya.
Sejak kecil, Sera selalu dibesarkan untuk menjadi anak baik. Terlalu baik. Terlalu tidak enakan, dan terlalu takut untuk mengecewakan orang lain.
"Maaf..." gumamnya sangat lirih.
"Jangan cuma minta maaf!"
"Kembalikan hak kami!"
"Anak sial!"
"Dasar anak pembawa sial!"
"Sera pembawa sial!"
"Seraaa!"
Bruk!
Sera langsung tersentak bangun dari tempat tidurnya. Napasnya memburu, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia memandang sekeliling kamar dengan tatapan linglung. Sunyi.
Tidak ada Tantri. Tidak ada Ratri. Tidak ada keributan yang memekakkan telinga. Hanya ada suara alarm ponsel yang berteriak nyaring di atas meja samping tempat tidur.
Sera menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya.
"Ck! Mimpi lagi..."
Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Sudah hampir dua bulan mimpi buruk seperti itu datang berulang kali, tepatnya sejak proses balik nama rumah warisan ibunya dimulai.
Secara hukum, rumah itu memang sepenuhnya hak Sera. Namun, keberadaan Tantri dan Ratri membuat segalanya terasa jauh lebih rumit.
Sera menolehkan diri ke kaca dekat ranjangnya. "Astaga, Ser. Pagi-pagi sudah kusut banget."
Tak lama, Sera segera bangkit. Ia harus segera bergegas untuk bersiap bekerja. Ia tak boleh telat, karena sesungguhnya, ada hal yang jauh lebih menyeramkan daripada sekadar mimpi buruknya atas perebutan warisan itu, siapa lagi jika bukan Direktur Utama PT Gemah Svarga.
Perusahaan ekspor-impor buah dan sayur terbesar di wilayah itu mengelola ratusan ton komoditas dari berbagai daerah yang keluar masuk gudang mereka setiap harinya. Di sinilah Sera bekerja sebagai salah satu staf divisi HRD.
Embel-embel HRD itulah yang membuatnya harus selalu menjadi teladan, karena salah sedikit pasti bagian lain akan nyinyir dengan ucapan, “itu anak HRD pada gak disiplin.”
Tepat pukul delapan lewat lima menit, Sera tiba di kubikelnya. Ia baru saja meletakkan tas ketika sebuah suara ceria muncul dari arah belakang.
"Selamat pagi, manusia paling cantik se-divisi HRD."
Sera bahkan tidak perlu menoleh untuk mengenali pemilik suara itu. Mei.
Gadis muda seumuran Sera itu langsung menarik kursi dan duduk di meja sebelah Sera.
Mereka sudah berteman dekat sejak zaman kuliah, dan entah takdir dari mana, mereka bisa diterima bekerja di perusahaan yang sama. Mei menyipitkan matanya, memperhatikan wajah sahabatnya lekat-lekat.
"Kamu kenapa? Mukamu kayak habis dikejar-kejar rentenir? Pucet banget. Kamu pasti... diteror tante-tantemu lagi?"
Pertanyaan itu membuat Sera terdiam sepersekian detik, namun ia dengan cepat menggeleng. "Enggak."
"Masa?"
"Cuma mimpi buruk aja, kok."
"Masih kebawa mimpi? Harusnya kamu minta bantuan psikolog gak sih, Ser? Itu pasti ngeganggu banget," Mei langsung mengerti. Ia adalah satu dari sedikit orang yang tahu persis bagaimana peliknya masalah keluarga yang dihadapi Sera.
Tak ada jawaban dari Sera. wanita itu masih asyik diam dengan pandangan mata kosong menuju ke keyboard di hadapannya.
Mei mendesah pasrah. "Kalau aku jadi kamu, dari dulu sudah kuseret mereka ke pengacara."
"Ya elah, ke pengacara mau bayar pakai apa? Kalau uangku banyak, udah aku beli itu mulut mereka," ucap Sera yang kini sudah berdecak dan mulai menghidupkan komputer dihadapannya.
“Pakai daun salam, murah noh. Apa daun jeruk, dua puluh ribu se-tas plastik merah jumbo.”
Keduanya pun kini sudah terkekeh bersama..
Mei kemudian mengambil sebungkus camilan dari lacinya dan mendekat. "Eh, tahu enggak?"
"Apa?"
“Pak Khalif katanya—”
“Apa? Kenapa sama saya?” suara berat itu tiba-tiba menyela.
Sera dan Mei hanya bisa membeku. Perlahan, keduanya menoleh.
Khalif Bumi Djayanagara sudah berdiri tepat di belakang mereka. Kedua lengannya bersedekap, wajahnya dingin, dan tatapannya lurus mengarah kepada Sera.
“Lanjutkan.”
Khalif akhirnya mengangkat kepala ketika Sera tetap saja mengomel tanpa mengurangi volume suaranya sedikit pun. Tatapan matanya yang datar dan sedingin es khas seorang direktur utama menatap Sera tanpa riak. "Berisik, Sera. Ini masih terlalu pagi untuk berteriak.""Berisik?! Ya saya harus berisik, Pak. Kenapa saya ada di sini? Ini bukan kamar saya! Ini…” Sera mengamati seluruh ruangan itu. Ini sama dengan tipe kamarnya, tapi tentu saja bukan, karena tidak ada barang berantakan di sana-sini khas kamar hotelnya."Ini kamar saya," ucap Khalif tenang.Sera kini sudah menatap atasannya dengan tatapan permusuhan. “Bapak kasih apa ke saya?! Kenapa saya bisa gak sadar dibawa ke sini? Bapak ngapain saya?!” tanya Sera dengan mata yang sudah berkaca-kaca dengan keadaan marah, malu, dan semua perasaan tidak enak yang bercokol dalam dadanya.Khalif kini sudah berdiri dan hendak mendekat.“Stop! Bapak mau apa?!”“Jadi kamu ingin berlagak menjadi korban sekarang, Sera? Kamu—”Tepat saat itu, ing
Tidak ada satu katapun yang masuk ke dalam otak Sera.Sekalipun atasannya itu akan mengamuk, Sera justru mendongak menantang si pemilik wajah tampan dengan suara bariton yang entah mengapa terdengar seksi di telinganya.Matanya yang sayu menatap Khalif dengan pandangan merajuk sebelum kembali berjinjit, memburu bibir Khalif untuk melanjutkan penyatuan yang sempat terputus. Hisapan Sera yang polos namun berani itu benar-benar membuat Khalif kehilangan sisa-sisa kesabarannya."Persetan," umpat Khalif rendah.Ia tidak tahu dan tidak punya waktu untuk mencari kartu akses kamarnya sendiri. Tanpa membuang waktu, Khalif merogoh sakunya, mengeluarkan kartu akses kamarnya sendiri, lalu menempelkannya ke panel pintu kamar nomornya dengan kasar.Klik.Khalif mendorong pintu itu dengan sebelah kaki, lalu menyergap tubuh Sera masuk ke dalam. Pintu hotel menutup otomatis di belakang mereka dengan bunyi dentuman yang cukup keras, mengunci keduanya dalam privasi kamar suite yang remang-remang.Begi
Cairan di dalam gelas itu terlihat sangat mirip dengan jus jeruk segar. Bahkan aromanya pun didominasi oleh wangi sitrus yang kuat. Sera, dengan kepolosan, mengira benda itu adalah jus jeruk murni seperti biasanya.Dalam waktu kurang dari satu menit, cairan oranye itu telah berpindah seluruhnya ke dalam perut Sera. Habis tak bersisa hingga tetes terakhir.Dua menit kemudian, Khalif kembali dari urusannya. Langkah kakinya seketika terkunci begitu melihat gelas di tangan Sera sudah kosong melompong."Mana minumanmu yang tadi?" tanya Khalif dengan kening berkerut."Sudah habis, Pak. Segar sekali," jawab Sera sambil mengulas senyum lebar."Habis?" Khalif merebut gelas kosong dari tangan Sera, mendekatkannya ke hidung, lalu menghirup aromanya sejenak. Detik itu juga, Khalif memejamkan matanya rapat-rapat, mengembuskan napas perlahan demi menekan gejolak panik.Sebab, itu bukan jus jeruk biasa. Sama sekali bukan."Sera, itu cocktail.""Oh... jus jeruk premium, ya, Pak?""Ada kandungan al
Jika ada satu hal yang paling disesali Seraphina Estella Yasa malam itu, maka itu adalah keputusannya menyetujui seluruh rencana gila Khalif.Mulai dari gaun belasan juta, sepatu hak tinggi yang tingginya tidak masuk akal, aksesoris berkilau, hingga kehadiran seorang make-up artist profesional yang entah berapa tarif per jamnya.Saat ini, ia sedang duduk tegak di depan cermin besar suite room hotel. Jemari lentik sang penata rias terkenal di Bali itu sibuk memberikan sentuhan akhir pada wajahnya."Kakak asli cantik banget, lho. Struktur wajahnya proporsional," puji sang MUA tulus.Sera hanya bisa tertawa canggung, merasa salah kostum. "Kayaknya Mbaknya salah orang, deh. Aslinya saya cuma remahan rengginang. Sehari-hari cuma pakai bedak tabur bayi."MUA itu malah tertawa renyah. "Nah, itu dia masalahnya. Kakak terlalu cuek, padahal aset visualnya luar biasa."Satu jam kemudian, pintu penghubung suite room terbuka perlahan. Khalif, yang sedang fokus membaca pesan bisnis di ponselnya, ot
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.