LOGIN“Apa yang aku nggak ngerti, Kak?”Alea menoleh sepenuhnya ke arah Andra. Ia sengaja menyebut pria itu dengan panggilan yang dulu biasa digunakannya, berharap panggilan itu bisa menembus dinding yang selama ini Andra bangun di antara mereka.“Kenapa Kakak sok misterius kayak gini? Kalau memang Kakak nggak mau aku tahu, setidaknya hidup bahagia. Jangan membuatku terus khawatir.”Andra tidak menjawab.Alea tertawa pendek tanpa humor. Ia menatap pria di sampingnya dengan sorot mata sinis, berusaha menahan campuran kesal dan kecewa yang sejak tadi mengganjal dadanya.“Lihat wajah sedih itu! Kak Andra selalu begini di hadapanku, tapi nggak mau bicara. Kakak pikir aku nggak tersiksa?”Tangan Andra mengerat pada kemudi. Rahangnya mengencang, tetapi mulutnya tetap terkatup.“Aku hanya…” Ia berhenti sejenak, seolah kesulitan menemukan kata yang tepat. “Belum siap.”Alea menatapnya tidak percaya.“Tujuh tahun itu kurang?”“Alea…”“Iya, apa?”Kali ini Alea benar-benar membalikkan tubuhnya, mengha
Andra baru membuka pintu mobil ketika Alea menyadari bahwa pembicaraan mereka malam ini tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.“Ayo masuk. Kita bicara di dalam.”Alea mengangguk kecil, lalu masuk ke kursi penumpang. Ia meletakkan tas di pangkuan dan memasang sabuk pengaman, sementara Andra duduk di belakang kemudi.Begitu pintu tertutup, suara riuh dari luar meredup. Kabin mobil itu terasa terlalu tenang.Tiba-tiba Alea merindukan mobilnya.‘Kapan aku bisa kembali menyetir sendiri? Agar aku tak harus ke mobil ini lagi.’ pikir Alea.Andra meletakkan kunci di tempatnya, dan suara deru mesin langsung terdengar lembut. Tak lama, mobil mulai keluar dari area parkir kantor.“Soal Lukas,” katanya setelah mobil sampai di jalan raya.Jari-jari Alea mencengkeram tali tasnya.“Dia menghubungi pengacara yang menangani kasusnya. Dia meminta kamu hadir secara langsung sebagai saksi di persidangan pertama.”Alea terdiam.Persidangan pertama.Ia pernah membayangkan hari ketika Lukas harus memperta
“Yang benar saja…”Keisha mengembuskan napas panjang. Rekan-rekannya menyusul dengan keluhan serupa.Mereka sudah berada di kantin, tempat di mana mereka berkelahi siang tadi. Setelah mengamati sekeliling, Alea menyadari sesuatu.“Ini jauh lebih berantakan daripada siang tadi,” gumamnya.Lantai lengket oleh sisa makanan yang terinjak. Meja dan kursi berlumuran saus bolognese, sementara sendok plastik, tisu, dan gelas berserakan di mana-mana.Entah tadi siang ia terlalu emosional hingga tidak memperhatikan sekeliling, atau memang ada yang menambah kekacauan setelah mereka pergi.Ia seharusnya sudah menduga bahwa perkara ini tidak akan selesai hanya dengan tanda tangan di atas kertas.“Karena kalian sudah membuat kekacauan di sini, kalian juga yang bertanggung jawab membersihkannya,” lanjut Andra. “Saya sudah berbicara dengan pengelola kantin. Mereka sudah menyediakan perlengkapan kebersihan.”Andra menunjuk sudut kantin. Dikta mengangkat tangan setengah hati.“Pak, kalau kami membayar
“Bukannya Bapak dulu juga membela kita? Kenapa sekarang—”Alea menarik tangan Sera sebelum perempuan itu sempat melanjutkan ucapannya.“Ra, sudah.”Sera menoleh kepadanya dengan wajah tidak puas. Namun, Alea hanya menggeleng kecil.Pak Bas mengembuskan napas, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Kalau kalian sudah menikah nanti, kalian baru tahu bagaimana pentingnya menahan diri. Terkadang, tidak bertingkah justru bisa menyelamatkan hal lain yang lebih penting.”Alea terdiam.Kalimat itu menusuknya lebih dalam daripada yang ia duga.Selama ini, ia sudah berusaha menahan diri. Ia berusaha menjaga perasaan orang lain, mengalah ketika keadaan memungkinkan, dan memilih diam agar masalah tidak semakin panjang. Ia tidak ingin menyakiti siapa pun.Tapi, apa yang ia dapat?Ia tetap harus menghadapi tuduhan, penghinaan, dan—Alea menelan ludahnya. Suara jatuhnya air shower terngiang di telinganya. Rasa dingin yang menyebar di wajahnya, lalu sekujur tubuhnya. Dadanya mulai sesak. Refleks ia men
“Tim Genre Utama memang sudah sering bersaing dengan kita. Dan kejadian ini bukan untuk pertama kalinya,” jelas Andra.Alea mengatupkan rahang. Setelah ia membuka mulutnya tadi saat dimarahi Pak Bas, Andra memintanya untuk menemuinya di ruang rapat.‘Apa dia juga mau menyalahkan kami?’ Pikiran itu terus terulang di kepalanya, membuat dadanya bertambah panas.“Tapi, Pak. Apa kita harus diam saja dengan perlakuan mereka?” Alea akhirnya membuka mulut begitu ia duduk. Tubuhnya dicondongkan ke depan, kepalanya menengadah ke sosok Andra yang duduk di meja depannya.“Dia menyiram makan siang saya dengan air, lho, Pak. Bahkan dia bilang saya—”Ucapannya terhenti.Alea menggigit bagian dalam pipinya. Tuduhan Bari masih terngiang-ngiang di telinganya. Bukan sekadar penghinaan terhadap dirinya, melainkan juga terhadap kerja keras yang telah membawanya terpilih untuk mengikuti Writing Camp. Seolah-olah itu tidak ada artinya.“...dituduh melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan itu...” lanjutnya,
‘Lagi??’Darah Alea langsung mendidih.Sejak kemarin, ia terus-menerus dikaitkan dengan Andra dalam hal-hal buruk. Tuduhan demi tuduhan dari Emma, yang menganggapnya mengganggu rumah tangganya, masih sanggup ia tahan.Namun, kali ini berbeda. Bari bahkan nyaris tidak pernah berinteraksi dengannya, tetapi tiba-tiba menyiratkan bahwa Alea mendapatkan kesempatan di Writing Camp karena kedekatannya dengan Andra.Kedua tangan Alea mengepal. Ia merendahkan tubuh, menumpukan berat badannya ke depan, bersiap menerjang Bari.“YAAAAK!”Alea baru saja hendak melompat ketika sebuah kotak susu melesat melewati bahunya.Plak!Kotak itu menghantam wajah Bari sebelum pecah. Susu menyembur ke mana-mana, membasahi wajah, rambut, dan bagian depan kemeja pria itu.Kantin mendadak sunyi.“Apa-apaan ini?!”Bari terperangah. Wajahnya yang semula merah karena marah kini semakin merah, kali ini bercampur susu yang menetes dari dahinya. Perempuan di sampingnya sampai menganga, seolah tidak percaya ada orang ya







