เข้าสู่ระบบ“Aku tidak berzina dan juga bukan pembunuh!” tegas Jordan dengan bibir berdesis yang dicengkeram kuat oleh Langley.
Langley tertawa terbahak sangat nyaring bergema yang kemudian melepaskan cengkeramannya pada dagu Jordan.
“Kau pikir siapa dirimu, Jordan? Ben Horik memerintahkan untuk mengeksekusimu tapi aku berbaik hati, hanya memenjarakanmu di sini. Yeah dengan sedikit bermain memuaskan hasratku memberimu hadiah, tentu saja!”
“Ku dengar, kau punya Ibu yang cantik. Wanita tercantik yang pernah ada di negri ini! Sayang sekali, kau putranya tidak bisa menjaganya dan Ibumu pasti sudah menggeliat nikmat dibawah kungkungan tubuh Ben Horik!” tambah Langley yang membuat darah di tubuh Jordan langsung mendidih.Pergelangan tangan Jordan yang telah terlepas dari borgol rantai, tanpa terduga dia layangkan ke wajah Langley hingga pria itu terpaling ke samping.
“Uwow! Tenagamu kuat juga, bocah busuk!” Langley berteriak riang sambil mengelap sudut bibirnya yang dinding mulutnya sobek ditinju Jordan dan darah mengucur keluar.
“Kau boleh menyiksaku tapi jangan pernah menghina Mamaku!” ujar Jordan dingin yang kini tubuhnya dipegangi oleh kedua anak buah Langley pada sisi kiri dan kanannya.
“Lepaskan dia! Aku ingin bermain sebentar!" Langley sambil berdiri tegak menghadap Jordan.
“Jadi, aku boleh menyiksamu?” tanya Langley tersenyum sinis sekaligus melayangkan tinju balasan pada wajah Jordan.
Jordan tidak sempat mengelak dan pria itu juga tidak pandai ilmu beladiri. Apa yang telah dia lakukan pada Langley sebelumnya hanya semata bentuk protes juga emosi amarahnya pada pria itu yang spontan tinjunya terkepal dan dirinya sendiri pun terkejut melihat wajah Langley yang terpaling akibat tinjunya.
“Ayo, lawan aku! Kamu tidak tau bukan? Selama kamu di sini, Ibumu sudah menjadi budak wanita Ben Horik yang sangat terobsesi padanya! Ha ha ha …” Langley memprovokasi Jordan dan tertawa terbahak-bahak melihat sinar mata anak muda yang terlihat sangat jauh menua dari usianya tersebut.
“Ibumu berteriak nikmat terhadap setiap tikaman kasar Ben Horik pada kemaluannya! Dia sama sekali tidak memikirkanmu! Kau adalah orang yang sudah dianggap mati bunuh diri karena aib perzinahan dan pembunuhan juga namamu telah dibersihkan di seminari. Seminari tidak pernah punya murid bernama Jordan Smith Watanabe!” lanjut Langley dengan suara menggelegar bergema dalam ruang batu tempat Jordan tersebut.
Dengan teriakan yang juga nyaring dan sangat pilu melebihi saat tubuhnya dicambuk, Jordan melompat maju dan mendorong tubuh Langley yang tentu saja bukan tandingannya.
Hanya dengan gerakan ringan, Langley menyingkir ke samping lalu meraih lengan Jordan yang kemudian dia hempaskan sekuat tenaganya ke dinding batu.Langley berteriak dan melompat girang saat bunyi benturan keras dari tubuh Jordan menabrak dinding batu.
“Uhugh …uhugh!!”
Jordan terjatuh terjerembab ke tanah berbatu keras, terbatuk memuntahkan darah segar. Tanah batuan keras yang juga alas tidurnya selama dua tahun ini.
“Ach, sayang sekali, kau begitu lemah! Atau kau memang bukan putra kandung dari Keigo Watanabe?” Langley menepukkan kedua tangannya, mengibaskan debu lalu berjongkok memegangi tengkuk Jordan dengan tatapan jijik.
“Apakah Ibumu melacur di Jepang dan Keigo yang bodoh bersedia menikahinya?” cetus Langley yang membuat Jordan menggeram marah namun dia tidak bisa mengangkat bahkan satu lengannya sendiri.
Tubuh Jordan benar-benar seperti remuk redam dan tenaganya terkuras dari menahan rasa sakit cambukan sebelumnya. Jordan hanya mampu mengeluarkan geraman emosi dalam rongga dadanya dan itu pun dia segera terbatuk-batuk darah segar.
“Keigo adalah ninja ternama di Jepang! Rasanya tidak mungkin jika kau adalah putranya karena kau bahkan tidak memiliki pertahanan diri sama sekali!” tutur Langley sambil berdiri, kemudian pergi meninggalkan Jordan yang bahkan tidak bisa membalikkan tubuhnya dari posisi telungkup.
Entah sudah berapa lama Jordan tidur atau pingsan, dia terkejut mendengar suara berdebum pintu baja yang tertutup rapat dan pemandangan langit dari kaca di atas loteng ruangannya terlihat kemerahan yang berarti hari telah petang atau pagi hari?
Jordan menyipitkan matanya yang terasa perih dan memindai ruangannya yang terlihat berbeda dari biasanya. Kotorannya di bagian sudut telah dibersihkan dan dekat kepalanya teronggok pakaian bersih.
Jordan melihat mangkok soupnya sudah terisi dan bergegas dia merangkak untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Namun baru saja Jordan meminumnya, dia memuntahkannya kembali ke samping.
“Asam?” gumam Jordan yang kembali menatap langit-langit kamarnya, kini sudah terang benderang.
Ya, soup di mangkok Jordan adalah soup kemarin sore yang telah basi dan petugas tidak memberikannya soup baru pagi ini karena mangkok Jordan masih terdapat isinya.
Telinga Jordan menangkap suara langkah kaki di luar pintu dan bergegas dia menarik tubuhnya merangkak mendekati pintu baja yang kemudian dia gedor.
“Tolong, beri aku air! Beri aku air, please tolong beri aku air …” teriak Jordan setelah menggedor pintu baja ruangannya.
Namun suara Jordan seperti teredam oleh pintu baja dan tidak terdengar keluar, pun juga gedorannya bagaikan angin yang bertiup berdesing seperti menggelitik daun pintu ruangannya.
Jordan berusaha duduk dan bersandar dengan mata terpejam. Dia mengingat ucapan Langley yang menyebutkan jika Papanya adalah seorang ninja.
Mary Helena, Mamanya Jordan tidak pernah mengungkit latar belakang serta jatidiri Papanya sama sekali selain Papanya adalah orang Jepang asli bernama Keigo Watanabe yang tewas bersama kedua orangtua Mamanya dalam sebuah kecelakaan mobil. “Kenapa kau tidak mencabut nyawaku, Tuhan?” gumam Jordan penuh emosi saat dirinya juga mengingat ucapan Langley akan Mamanya dan Ben Horik.Jordan sangat yakin, dia tidak menyentuh apalagi menyetubuhi Yuri, putri Ben Horik yang merupakan sepupu Kalf. Jordan selama ini selalu menjaga jarak dari wanita dan bahkan dia hampir tidak pernah berbincang dengan lawan jenis selain Mamanya dan Siggy, pelayan wanita di kediaman Mamanya.
“Aku kehausan, aku kedinginan, aku kesakitan dan kini aku juga harus mendengar Mamaku bersama Ben Horik …apakah Engkau senang, Tuhan? Apa salahku padaMU, sehingga KAU siksa aku seperti ini?” monolog Jordan semakin emosi dan tangisnya pecah penuh penyesalan yang dia sendiri tidak mengerti apa sebenarnya yang dia sesalkan.
Jordan menyandarkan kepalanya ke dinding. Dia benar-benar telah lelah, tubuh dan jiwanya lelah. Lelah berharap pada suatu keajaiban yang tidak kunjung datang. Dan mungkin benar seperti yang diucapkan Langley jika dirinya telah dianggap mati bagi dunia luar juga Mamanya.
“Mam …maafkan aku, mungkin aku lebih baik menyusul Papa di alam sana. Terima kasih, sudah melahirkanku ke dunia ini.” bisik Jordan dengan airmata meleleh dari kedua matanya.
Jordan berhasil mencongkel sebuah batu keluar dari dinding yang kemudian dia gosok-gosokkan ke bebatuan lain agar meruncing.
Mata Jordan terpejam, bibirnya komat-komit melafalkan doa dan pujian yang meskipun dirinya telah bertekad hendak menghabisi nyawanya, Jordan tetap memuji Tuhan, mungkin untuk terakhir kali dalam hidupnya.
Genggaman tangan yang memegang kerikil runcing, Jordan arahkan ke urat nadi pergelangan tangannya yang lain. Masih dengan posisi duduk, kepala tersandar pada dinding batu dan mata terpejam.“Aku memintaMU untuk menjaga Mamaku. Tetapi apa yang telah Engkau perbuat? Kau biarkan Mamaku dilecehkan oleh Ben Horik, yang sangat ku yakini pria itu adalah orang yang telah menjebak membuangku ke tempat terkutuk ini. Mari bertemu di Surga dan aku akan menuntutMU yang telah membuat semua ini terjadi, KAU tidak menjaga Mamaku jadi untuk apa aku terus memujaMU?”
Jordan melampiaskan semua uneg-uneg kemarahan dalam dirinya dan tangannya mulai mengiris pergelangan tangannya yang lain.Tik! …tikk!!
Beberapa titik air jatuh menimpa kepala Jordan. Refleks kepala Jordan menengadah ke atas juga menatap dinding batu di sebelah kirinya telah basah oleh air yang merembas turun.
“Air? Kotoran?” cetus Jordan spontan melihat air yang semakin deras turun dan kini telah membasahi tempat duduknya.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Angin dini hari berembus pelan, membuat dedaunan berdesir lembut di tengah sunyinya hutan. "Apakah kau tak memiliki tempat tinggal? Atau Mister Bough memang tak mampu membayarmu, sampai setiap malam kau datang berkeliaran di hutan ini?" tegur Jordan dingin. Di atas salah satu dahan pohon besar, Zero yang sejak tadi berbaring malas membuka sebelah matanya memandang Jordan di bawahnya. Senyum tipis muncul di balik topeng yang menutupi wajah pria itu. Dengan gerakan ringan, Zero melompat turun dan mendarat tepat tiga langkah di depan Jordan. "Kenapa?" tanyanya santai, "Kau berniat memberiku kamar di kediamanmu untukku tinggal?" Zero memiringkan kepala, "Aku juga tidak keberatan jika kau memintaku tidur sekamar dengan Lagertha, istri kesayanganmu itu." tambahnya dengan nada mencemooh. Jordan tersenyum sinis dan jari-jemarinya terkepal kuat pada sisi tubuh. "Teruslah bermimpi sampai ..." kalimat Jordan terputus dan tubuhnya sudah b
Sementara itu, di kediaman Jola, malam terasa jauh lebih tenang di permukaan, namun tidak bagi Jordan.Sudah lima hari Jordan tak pernah lagi menapakkan kaki memasuki hutan di belakang kediamannya. Bukan karena ia didera ketakutan, melainkan karena ia tahu, ada seseorang yang selalu datang dan menunggunya di sana.Bahkan, setiap tengah malam, Jordan bisa mendengar suara kecil seperti kerikil yang dilempar pelan ke jendela kamar. Lalu diikuti desingan halus tubuh yang melompat turun dari balkon, nyaris tanpa suara yang tak bisa terdeteksi oleh pendengaran orang biasa, tetapi Jordan bisa menangkap semua kode tersebut. Jordan tak perlu mengintip untuk tahu siapa pelakunya.Zero!Ninja bertopeng yang secara terang-terangan pernah mengatakan bahwa ia akan membunuh Jordan …jika suatu hari kemampuan bela diri mereka berada pada tingkat yang setara.Di atas ranjang, sebuah gerakan kecil membuyarkan lamunan Jordan. Lagertha menggeliat pelan, jemarinya mencengkeram tepian celana Jordan, seolah
Amarah Ben Horik meledak seketika saat tubuh asisten kepercayaannya yang sebelumnya mengantarkan dokter pergi keluar dari kediaman setelah memberikan perawatan pada Yuri, kini jatuh terjerembab ke lantai marmer.Suara benturan itu menggema pendek, disusul pemandangan yang membuat seluruh ruangan membeku. Darah hitam kental merembes deras dari hidung, mulut dan telinga sang asisten, mengalir tanpa kendali seperti tinta pekat yang menodai lantai.Sang dokter, sebelum tewas, berhasil menyuntikkan racun mematikan ke dalam tubuh asisten itu. Sebuah prinsip terakhir yang keji, jika ia tak bisa keluar hidup-hidup dari kediaman Ben Horik, maka orang yang menghalanginya juga tak berhak bertahan hidup.Napas Ben Horik mendadak berat. Dada bidang tebalnya naik turun kasar, seolah amarah yang menggelegak di dalam tubuhnya menekan paru-parunya sendiri. Urat di pelipisnya menegang, rahangnya mengatup keras hingga terdengar bunyi berderak halus.Ben melangkah keluar dari ruangan menuju ruang kerjany
Di ruang bawah tanah sebuah restoran mewah, Mister Bough duduk bersama Tiger, asisten setianya, mengelilingi meja bundar bersama dua pejabat tinggi pemerintahan yang tadi juga ikut rapat bersama Menteri Dalam Negeri. Hidangan di atas meja sudah dingin, hampir tak disentuh. Sebaliknya, minuman keras terus dituang, ke setiap gelas jika sudah tinggal setengah, seolah percakapan yang berlangsung jauh lebih berat daripada rasa lapar mereka."Ceritakan tentang Jordan, bagaimana pria itu bisa membuat Ben Horik membelot?" tanya pejabat yang lebih muda dengan sikap tenang. Pejabat di sebelahnya, yang usianya lebih tua dari Mister Bough, menyalakan cerutu. Pria itu menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap perlahan sambil menatap tajam ke arah Mister Bough dan Tiger, seolah matanya bisa menilai."Saya ragu jika Ben membelot ...tapi pria itu menanam lalat di sekitar kita." ucap Mister Bough dengan nada suara rendah, setelah menyesap seteguk minuman di gelasnya. “Lalu bagaimana mu
Tiga hari telah berlalu sejak Maximus diselamatkan oleh Zetha dan Luciano Sky. Selama itu pula Jordan hampir tidak pergi keluar dari kediaman, bahkan sekadar latihan beladiri di hutan belakang. Hanya Marco yang bolak-balik pergi ke perusahaan yang dahulunya milik Rollo Connor, kini sudah berganti nama menjadi Jola Company. Jordan berdiri di depan jendela dalam kamar Maximus. Di bagian sudut, tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin, sementara Maximus masih terbaring di ranjang, terlelap di bawah pengaruh obat penenangTangan Jordan menopang tubuh Joshua yang tertidur pulas di dadanya. Napas bayi itu teratur dan hangat, seolah baginya dunia selalu damai, selama ada Jordan dan Lagertha di dekatnya. “Dia selalu tenang bersamamu, sama seperti sisternya,” bisik Lagertha pelan sambil melingkarkan sebelah lengannya ke pinggang Jordan, lalu merebahkan wajah ke lengan lelakinya itu. Jordan tak menjawab, ia melabuhkan kecupan lembut ke puncak kepala Lagertha, perlahan menyesuaikan posisi t
Mister Bough mengamuk murka. membanting semua benda di atas meja kerjanya berantakan jatuh ke lantai, begitu melihat tayangan video yang dikirimkan oleh seseorang ke ponselnya.Dua orang anak buahnya yang menyeret tubuh Kaye ke dalam danau, terlihat beberapa kali mengikuti Ben Horik berpergian. Hal tersebut jelas mengindikasikan jika kedua anak buahnya tersebut selama ini membelot pada pihak Ben Horik. "Beraninya pria terkutuk itu menyusupkan mata-mata di sekitarku!" Mister Bough mendengkus geram memukul meja kerjanya dengan telapak tangan terkepal kuat. "Tiger, bawa semua anggota keluarga kedua orang itu ke hadapanku dan ..." "Permisi, Sir." terdengar suara ketukan pada daun pintu ruang kerja, "Ada Zero ingin bertemu Anda, membawa oleh-oleh." penjaga di depan pintu berteriak nyaring memberitahukan kedatangan Zero sehingga memotong perkataan Mister Bough yang ia tujukan untuk Tiger, asisten pribadinya. "Masuk!" Zero melangkahkan kakiinya memasuki ruangan kerja Mister Bough yang b
Jordan menengadah ke atas kaca bening di langit-langit ruangannya dan kembali memperhatikan jika air merembas dari langit-langit ke dinding. Titik air yang sebelumnya menimpa kepalanya sudah tidak ada, namun dinding batu ruangannya masih sangat lembab."Jika ruangan ini paling atas dan bisa meliha
Jordan menemukan sebuah batu yang dia banting dan pukulkan agar meruncing. Dengan batu tersebut Jordan membuat coretan untuk menghitung hari pada dinding batu. Telah dua tahun berlalu sejak Jordan pertama kali di bawa ke penjara terpencil yang terletak dalam pulau pada tengah lautan. Tubuh Jordan
Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. “Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya m
Jordan terbangun saat mendengar suara langkah kaki dan keributan orang di luar pintu kamarnya. Namun betapa terkejutnya pria muda itu saat mendapati ada tubuh wanita telanjang di sebelahnya yang dia mendapati dirinya juga tanpa ada pakaian satu helai benangpun menutupi tubuhnya selain selimut tipis







