Home / Romansa / Boss Mafia Tak Terjamah / 5. Keajaiban & Penyiksaan

Share

5. Keajaiban & Penyiksaan

Author: Freyaa
last update publish date: 2023-09-11 14:22:04

Jordan menengadah ke atas kaca bening di langit-langit ruangannya dan kembali memperhatikan jika air merembas dari langit-langit ke dinding. 

Titik air yang sebelumnya menimpa kepalanya sudah tidak ada, namun dinding batu ruangannya masih sangat lembab.

"Jika ruangan ini paling atas dan bisa melihat sinar matahari, bearti air ini berasal dari hujan yang merembas masuk?" gumam Jordan melemparkan batu di tangannya, berusaha berdiri dengan susah payah, lalu menampung air yang jatuh menetes berupa titik-titik tidak terlalu besar tersebut dengan telapak tangannya. 

Jordan mencium aroma air yang dia tampung tersebut tidak beraroma asin air laut juga tidak berbau busuk seperti kotoran. 

Setelah mencuci tangannya hingga bersih, Jordan menampung air kembali dengan telapak tangannya dan meminumnya. 

"Segar!" 

Mata Jordan terbuka lebar dan saat itu juga lututnya jatuh ke atas tanah berbatu, menciumi dinding yang telah sangat lembab dirembasi air. 

"Ampuni aku, Tuhan! Aku tidak memiliki hak untuk protes dan marah padamu. Ampuni aku!" 

Tangis Jordan pecah sembari dia membasuh wajahnya dengan tetesan air yang masih terus turun berupa titik-titik kecil dari sebuah celah batu seperti lubang kecil pada dinding. 

"KasihMU cukup bagiku, maka cukuplah kasihMU bagiku." gumam Jordan lalu bibirnya komat-kamit melafalkan doa serta pujian pada Tuhan yang Maha Besar. 

Jordan membersihkan wajah, tangan dan bagian tubuhnya menggunakan titik-titik air yang dia tampung sabar menggunakan kedua telapak tangannya. Dan seperti mendapatkan tenaganya pulih, Jordan bisa berdiri tegak menapak kembali dan berjalan meskipun masih tertatih-tatih untuk mengambil pakaian bersih yang telah diletakkan oleh anak buah Langley untuknya. 

Jordan memperhatikan pakaiannya yang tentu saja bukan pakaian baru tapi jauh lebih baik dari pakaian yang telah dua tahun dia gunakan di tubuhnya. Karena selain bernoda kotoran, pakaian itu sangat bau yang sepertinya penciuman Jordan juga telah kembali, seakan dua tahun dalam ruangan batu, penciumannya terkunci hingga tidak bisa mencium bau busuk kotorannya sendiri. 

Jordan mengambil batu yang sebelumnya hendak dia gunakan untuk memotong urat nadinya sendiri, lalu menempelkan ke sebuah lubang pada dinding yang memuncratkan titik-titik air. 

"Aku harus berhemat dan berhentilah sementara sampai aku menggunakanmu kembali. Terima kasih, terima kasih, Tuhan!" monolog Jordan sambil memutar batu pada lubang dan titik-titik air pun mulai berhenti mengalir. 

Disaat keimanan Jordan berada diambang batasnya, ternyata Tuhan memberikan keajaiban padanya dengan memberikan air yang paling sangat dia butuhkan. 

Manusia memang seringkali tidak sabar akan 'cinta' yang diberikan oleh Tuhan, sehingga Iblis juga sukarela mengambil alih mengotori pikiran agar manusia menjadi mahluk pembangkang di muka bumi. Tidak sedikit manusia gagal mendapatkan 'pesan terselip' dari segala hal yang terjadi dalam kehidupannya. Banyak dari mereka justru tergelincir dengan menyalahkan Tuhan, sama seperti Jordan yang bahkan dia menantang akan protes menuntut Tuhan atas nasib yang menimpanya. 

Dengan tubuh yang jauh lebih bersih, Jordan melantunkan doa serta pujian dan cintanya pada Tuhan. Tubuhnya menjadi jauh lebih damai dan tenang saat dia merasa dekat dengan Tuhannya. 

Hari berganti hari, malam pun datang silih berganti gelap ke terang. Jordan tidak lagi mencoret dinding menghitung hari dirinya berada dalam ruangan penjara batu tersebut. Tetapi dia menuliskan firman-firman Tuhan yang seperti menyala terang dalam kepalanya untuk dia tuliskan. 

Hingga pada suatu malam, Jordan bermimpi berada di suatu padang rumput yang luas tak berujung namun dirinya tidak bisa berlari atau melangkah, satu langkah kemanapun, seakan dirinya ditahan oleh sebuah kekuatan yang tidak dia mengerti. 

"Pejamkan matamu, Jordan!" sebuah suara terdengar dari arah belakangnya. 

"Papa!" panggil Jordan pada pria tampan yang tersenyum menghampirinya tersebut setelah dia berbalik ke belakangnya. 

"Pusatkan pikiranmu pada apa yang kamu inginkan, rasakan hembusan napasmu yang keluar masuk dari lubang hidungmu ..." ucap Keigo lembut dengan senyum sembari telapak tangannya mengusap samping wajah Jordan yang langsung menurutinya patuh. 

"Katakan, apa yang kamu inginkan, anakku?" tanya Keigo berbisik dekat telinga Jordan yang matanya masih terpejam rapat. 

"Aku ingin menjadi ninja sejati seperti Papa!" sahut Jordan dengan hembusan suaranya yang sangat tenang. 

"Buka matamu dan tebaslah titik air di depanmu tanpa membasahi tanganmu!" tutur Keigo yang langsung menghilang begitu Jordan membuka matanya.

 

Jordan mengernyitkan keningnya, karena dia benar-benar terbangun dari tidur bermimpinya. Jordan melihat ke arah dinding batu di sisi lain ruangannya dan berjalan perlahan mendekatinya yang kemudian dia mencabut batu pada lubang di dinding batu. 

Cukup lama Jordan memandangi titik-titik air yang keluar dan masih tetap kecil seperti awal air itu muncul. 

Setelah menarik napas sejenak dan berkonsentrasi, Jordan melakukan seperti yang Papanya ucapkan dalam mimpinya. Namun gagal, karena punggung tangannya tetap basah.

Karena kesibukan Jordan berlatih menebas titik-titik air dan juga menggunakan sebagian waktunya berdoa serta mencoret dinding batu, tanpa terasa tahun pun berganti dan esok sudah memasuki ulang tahun Jordan yang ke dua puluh lima. 

Pintu ruangan Jordan di gedor dan terbuka dengan sangat keras saat pria itu pura-pura meringkuk tidur dan terkejut melihat Langley sudah membawa cambuk di tangan berjalan ke arahnya. 

"Halo Jordan! Bagaimana kabarmu? Kita bertemu kembali dan aku sungguh sangat menantikan saat memberikan hadiah ini padamu!" sapa Langley berdiri tegak di depan Jordan sembari tersenyum sinis melihat pria itu yang berusaha bangkit duduk dari berbaringnya. 

Langley mengedarkan tatapannya memindai sekeliling ruangan Jordan. 

"Kenapa dinding di sebelah sana basah?" tanya Langley terkejut karena basahnya cukup banyak melebar sampai melebihi tinggi manusia. 

"Aku menyemprotkan air kencingku ke atas untuk ku minum seperti air hujan. Jauh lebih nikmat dari sayur soup basi yang diantarkan penjagamu!" sahut Jordan enteng sambil berdiri berpegangan pada dinding baru di belakang dan tatapannya mengarah pada bagian tengah pakaiannya yang basah. 

Anak buah Langley memberikan pakaian seperti jubah sebatas lutut tanpa celana atau bawahan pada Jordan. 

Wajah Langley langsung terlihat jijik menatap pakaian Jordan yang basah tersebut. Lalu dia memerintahkan kedua anak buahnya untuk menggantung Jordan pada rantai besi yang membuat tubuh pria itu kembali membentuk huruf X. 

Cambukan demi cambukan dilayangkan Langley tetapi mulut Jordan hanya berteriak menyebutkan firman Tuhan tentang balasan pada orang yang lalim dan zholim. 

Jordan menyadari, mungkin inilah 'pesan' yang diinginkan Tuhan untuk dia mengerti. Yaitu memberikan pencerahan pada orang seperti Langley.

Namun Langley yang sudah jauh tenggelam dalam harta, kekuasaan dan apapun yang dia inginkan bisa dia dapatkan dengan mudah, semakin bersemangat mencambuk punggung Jordan dan seakan juga membuat tenaga pria lalim tersebut menjadi berkali-kali lipat. 

"Apakah Tuhanmu sudah datang, Jordan? Dimana Dia? Apakah kau lebih memilih mati daripada mengakui dosa terkutukmu? Baiklah, aku akan mengirimmu padaNYA!" cetus Langley sembari menyingsingkan kedua lengan bajunya dan menggenggam cambuk dengan sangat kokoh. 

Kedua anak buah Langley yang selalu mengikutinya kemana-mana, melihat ngeri pada tatapan majikan mereka itu yang matanya berubah merah dan tawanya juga sangat melengking bagaikan tawa iblis penghuni neraka. 

Wusss ...plakkk!!

Ujung cambuk mendarat keras membentuk luka yang sangat dalam pada punggung Jordan yang kulitnya telah terkelupas. Darah memuncrat dari luka bekas cambukan Langley yang juga tidak berhenti sampai hitungannya genap dua puluh lima. 

Namun, bibir Jordan tetap memuji dan meng-Agungkan Tuhan hingga matanya terpejam dengan napas sangat pelan berhembus dari lubang hidungnya. 

Tubuh Jordan dibiarkan jatuh menggelosor tertelungkup setelah borgol-borgolnya dilepaskan oleh anak buah Langley. 

"Kau pikir dengan membacakan firman Tuhanmu, akan menghentikanku dari mencambukmu, huh!" dengkus Langley sembari beranjak pergi meninggalkan Jordan yang tidak sadarkan diri juga bersimbah darah. 

"Jordannnnn!!!" 

Mary Helena berteriak nyaring hingga pangkal tenggorokannya terasa perih dan airmata mengucur membasahi wajah cantiknya yang telah cekung dan sangat kurus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
rianur378
siapa sih Langley sama Ben ini,,, bikin gedek,,, pengen tak racun juga tuh 2 orang,,huh
goodnovel comment avatar
senja_awan
gedek liat Langley ini.... di apainlah si Mary ini...semoga dia baik baik aja
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Boss Mafia Tak Terjamah   82. Terkuaknya Fakta

    "Ya Tuhan... Apa-apaan ini?!" seru seorang frater senior dengan suara gemetar, menatap angka-angka dan aliran dana yang terpampang lebar pada layar di depan mereka semua."Jadi... selama ini dana operasional yang menyokong Seminari ini... berasal dari dividen aset perusahaan milik mendiang Keigo Watanabe, papa kandung Jordan Smith Watanabe?" lirih pimpinan Seminari hampir limbung, memandang tajam pada wakilnya dan beberapa staf yang bekerja di bagian keuangan.Selama ini Seminari mengira sokongan finansial terbesar tersebut berasal dari donasi Ben Horik, yang selalu membanggakan diri di hadapan mereka semua.Namun, dokumen negara yang diretas oleh Badan Intelijen Negara, dengan bantuan Marco yang telah membukakan celah keamanan sistemnya, membongkar data tersebut sepenuhnya.Marco, sebagai asisten setia Keigo, telah mengurus perusahaan mendiang Keigo Watanabe atas permintaan Mary Helena Smith demi mendukung pendidikan Jordan di Seminari. Selama lebih dari dua belas tahun, setiap bulan

  • Boss Mafia Tak Terjamah   81.

    Gerakan Badan Intelijen Negara di bawah komando langsung Menteri Jonas Lindolm bergerak bagai badai tanpa belas kasihan.Hanya dalam hitungan jam setelah surat perintah darurat ditandatangani, seluruh jaringan sirkuit keuangan yang menjadi urat nadi kekaisaran bisnis Mister Bough dan Ben Horik dipotong satu persatu dari akarnya.Di sebuah ruang kendali Badan Intelijen Negara yang dipenuhi layar monitor raksasa, Elias berdiri tegak di samping Menteri Jonas, mengawasi langsung operasi pemblokiran aset serentak tersebut."Laporan masuk, Tuan Mentri," lapor seorang agen senior sambil mengetik cepat di konsol utamanya."Sistem perbankan siber kita berhasil menyusup dan mengunci seluruh brankas digital milik Mister Bough. Tempat-tempat hiburan malam mereka memang masih buka dan beroperasi seperti biasa di permukaan, tapi sistem pencucian uangnya sudah lumpuh total." ucap sang agen senior melaporkan. "Setiap transaksi keuangan dikawal orang kita yang akan memasukkan semua pendapatan ke kas

  • Boss Mafia Tak Terjamah   80.

    Di kediaman Jola, Jordan memangku Joshua yang ia ayun pelan di dalam dekapannya, duduk berdampingan dengan Lagertha, ketika Marco menyalakan layar proyektor yang merekam seluruh jalannya rapat rahasia dari ruang kerja Menteri Jonas Lindolm.Suara rekaman itu menggema, memperdengarkan setiap kata dari pengakuan Tiger. Serta reaksi para pejabat pemerintahan di dalam ruangan rapat.Air mata Vanesha langsung meluncur bebas, membasahi pipinya. Seketika bayangan kelam itu kembali berkelebat di kepalanya, teringat akan orang tuanya, para tetangga, teman-teman masa kecilnya, hingga anak-anak tak berdosa di pemukiman tempat tinggalnya dulu yang tewas terpanggang kobaran api besar akibat kebejatan Mister Bough dan Ben Horik.Samantha yang duduk di samping Vanesha langsung merengkuh pundak gadis itu erat-erat, menyalurkan kehangatan, "Semuanya akan segera usai, Ness

  • Boss Mafia Tak Terjamah   79.

    Sebagai Menteri Keamanan Nasional Swedia yang wilayah strategisnya membentang hingga gerbang Eropa Utara, Jonas Lindolm memiliki otoritas penuh untuk menyelidiki segala ancaman yang merongrong kedaulatan negeri.Di dalam sebuah ruang rapat yang dijaga ketat, suasana tampak tegang. Mentri Jonas duduk di ujung meja bundar bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Kepala Badan Intelijen Negara, serta Jenderal Karl, jenderal tua berwibawa dengan deretan tanda jasa di dada.Di hadapan para pejabat itu, Elias, asisten Mentri Jonas, berdiri sambil menyambungkan perangkat yang menampilkan laporan keamanan terbaru ke layar monitor besar dalam ruangan."Kita tidak bisa tinggal diam lagi," buka Menteri Jonas dengan suara baritonnya yang tegas, memecah keheningan ruangan.Mentri Jonas mendorong beberapa berkas laporan ke tengah meja, "Dalam beberapa minggu terakhir, masyarakat di wilayah perbatasan utara dilanda ketakutan luar biasa. Ada teror psikologis yang masif, laporan hilangnya warg

  • Boss Mafia Tak Terjamah   78.

    Jordan mengajak Pastur Lukas ke ruang makan, sementara Maximus membawa Zero keluar menuju teras depan."Apa tujuanmu? Kenapa kau datang kemari?!" tanya Maximus tegas, menatap lekat ke dalam netra Zero yang justru balas menyunggingkan senyuman samar."Aku tak punya rumah. Pastur Lukas bilang pemilik kediaman ini berhati baik, mungkin bisa menampungku untuk beberapa hari."Sudut bibir Maximus menyeringai sinis. "Ya, pemilik kediaman ini memang berhati baik, tapi bukan berarti bisa kau manfaatkan. Pergilah ke hutan di belakang sana, kau boleh tinggal di sana sepuasmu. Tapi jangan pernah berani menginjakkan kaki ke halaman ini, jika tidak..." Maximus menghentikan perkataannya sejenak, memberi penekanan."Meskipun ilmu beladiriku mungkin tidak sebanding denganmu, tapi... untuk urusan membunuhmu, aku bisa melakukan segala macam cara! Jadi, jangan coba-coba mengujiku!"Zero mendengkus rendah, "Apakah seperti ini adab kalian pada orang yang telah menyelamatkan Pastur Lukas, yang notabene adal

  • Boss Mafia Tak Terjamah   77.

    Mister Bough masih merasa tenang, mengira semua bisnisnya masih berada dalam kendali penuh. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Tiger, [Viper sudah bergerak, kabar besar segera datang.]"Ha ha ha..."Tawa besar Mister Bough menggema di dalam ruangan kerjanya. Namun, mulutnya yang terbuka lebar, terkatup rapat begitu cepat saat pelayan di depan pintu memberitahukan kedatangan Zero.Mister Bough buru-buru duduk di balik meja kerjanya, memasang wajah sedingin dan seserius mungkin saat Zero melangkahkan kaki ringannya memasuki ruangan."Kau dari mana saja? Katanya mau membereskan Jordan, tapi...""Ada urusan!" potong Zero cepat.Tanpa menunggu dipersilakan, Zero langsung mendudukkan diri pada kursi seberang meja kerja Mister Bough."Tidak penting Anda tahu urusanku, juga tak ada hubungannya dengan Anda." tambah Zero melihat sorot tajam Mister Bough padanya, "Tapi ada dua hal yang perlu ku sampaikan..." Zero berhenti sejenak, matanya di balik masker yang menutupi wajahny

  • Boss Mafia Tak Terjamah   9. Keturunan Ninja

    Langley mengambil pisau yang terselip di samping pahanya dan langsung melemparkannya ke arah Jordan. Namun ... Maximus yang sudah terlatih merasakan bahaya, menoleh dan menangkap pisau dengan telapak tangannya yang langsung dia genggam erat selama beberapa detik. Lalu membalikkan dan melemparkan p

  • Boss Mafia Tak Terjamah   8. Pembebasan

    Jordan kembali mendapat hadiah cambukan ke dua puluh tujuh. Ya, pria malang itu telah berada di penjara batu dalam pulau selama lima tahun. Langley semakin menggila mencambuki punggung Jordan. Tetapi Jordan sudah tidak berteriak lagi juga tidak melantunkan firman Tuhan. Sebaliknya Jordan justru te

  • Boss Mafia Tak Terjamah   7. Putri Sang Bos Mafia

    "Papa!" Lagertha meloncati beberapa anak tangga dan berlari masuk ke ruangan makan sambil memanggil Papanya yang sedang duduk hendak sarapan. "Och, pakaian apa yang kamu pakai, Young Lady?!" protes Priskila pada putrinya yang memakai pakaian serba mini, hanya terlihat menutupi bagian penting pad

  • Boss Mafia Tak Terjamah   6. Pembunuh Kejam

    "Aku hanya ingin anak darimu, Sayang!" bisik sang pria sembari meraba celah lembut pada sela paha wanita yang duduk di sampingnya. Tangan sang pria menyentak hingga robek penutup tipis yang menghalangi jemarinya dari memasuki celah lembut wanitanya. "Och ...!"Sang wanita menjerit tertahan namun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status