Home / Romansa / Boss Mafia Tak Terjamah / 3. Hadiah Ulang Tahun

Share

3. Hadiah Ulang Tahun

Author: Freyaa
last update publish date: 2023-09-11 14:19:34

Jordan menemukan sebuah batu yang dia banting dan pukulkan agar meruncing. Dengan batu tersebut Jordan membuat coretan untuk menghitung hari pada dinding batu. Telah dua tahun berlalu sejak Jordan pertama kali di bawa ke penjara terpencil yang terletak dalam pulau pada tengah lautan. 

Tubuh Jordan yang semula gagah dan tampan, kini sudah semakin kurus dan ringkih. Rambut Jordan tumbuh gondrong, pun juga bulu-bulu di wajahnya melebat kasar tidak beraturan yang terlihat sangat menyeramkan bagi yang melihatnya.

 

“Tuhan, bagaimana jika diriku bosan memohon dan berdoa padamu? Aku tau Engkau tidak akan berkekurangan manusia yang akan meng-agungkan namamu. Tapi aku mohon, berikan aku petunjukmu …apa pesan yang Engkau inginkan untuk aku pahami dengan kejadian yang menimpaku ini?"

Jordan duduk bersandar dan menengadahkan wajahnya melihat ke langit-langit kamar yang terlihat bintang-bintang bercahaya redup masuk ke dalam ruangannya.

 

“Aku tidak menyesali hidupku. Tapi tolong jaga dan lindungi Mamaku, Tuhan!” pinta Jordan yang dadanya seperti membengkak karena sangat merindukan Mary Helena, Mamanya. 

“Aku tidak pernah mengenal Papaku. Jadi, tolong ...jangan sampai aku melupakanmu, Tuhan. Kuatkan apa yang telah Engkau tanam di dalam diriku.”

 

Sungguh Jordan sangat ingin menyerah dari semua doa dan harapannya yang telah dua tahun dia panjatkan namun tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan. Apalagi di adili, karena sejak awal Jordan dimasukkan ke dalam ruangan sempit dan lembab itu, tidak satu kalipun dia dibawa keluar. 

Jordan melihat ke dinding batu yang berarti esok adalah hari ulang tahunnya yang ke dua puluh empat, berarti dia akan menerima hadiah dua puluh empat cambukan esok hari. 

Jordan masih duduk bersandar pada dinding batu yang entah panas atau dingin, sungguh tidak bisa lagi dia bedakan. Tubuhnya juga seperti telah kebal akan debu dengan ruangan yang tentu saja sangat bau menyengat akibat cairan dan kotorannya sendiri di bagian sudut. 

Kelopak mata Jordan mulai memberat dari melihat bintang dari langit-langit ruangannya, napasnya juga berhembus pelan saat matanya sudah terpejam rapat. 

“Mama!” panggil Jordan saat melihat wanita yang sangat cantik dan anggun sedang memetik buah bluberry di halaman belakang rumahnya.

 

Mary Helena mengangkat wajahnya dan tersenyum ceria menatap Jordan. Bergegas Mary Helena meletakkan keranjang ke atas tanah dan menyongsong Jordan yang berlari ke arahnya. 

“Aku sangat merindukanmu, Mam!” bisik Jordan terisak di atas bahu Mary Helena begitu dia berhasil memeluk wanita cantik yang sangat dia cintai tersebut. 

Mary Helene merenggangkan pelukannya, kedua tangannya terulur untuk meraba wajah Jordan. 

“Apakah harimu sulit, Jordan? Wajahmu terlihat sangat kurus, apakah kamu tidak makan dengan baik?” tanya Mary Helena dengan airmata menggantung di pelupuk matanya. 

Jordan mengecup kedua mata Mamanya tersebut penuh haru. 

“Aku baik-baik aja. Mama terlihat sangat cantik dan aku sangat mencintaimu!” 

Mary Helena tersenyum dan tertawa kecil mendengar pujian Jordan yang sangat polos dan selalu jujur. 

Mata Mary Helena melihat ke arah seseorang yang datang di belakang Jordan. 

“Dia, Papamu!” bisik Mary Helena sambil tersenyum pada seseorang yang dibelakang Jordan. 

Jordan spontan menoleh ke belakang sambil tetap memeluk pinggang ramping Mamanya. Namun karena sinar matahari bersinar sangat cerah, Jordan gagal melihat wajah pria yang kini berdiri di depannya tersebut, meski bisa merasakan pelukan hangatnya. 

Jordan berusaha merenggangkan wajahnya untuk melihat wajah Papanya, tetapi matanya sangat silau akan cahaya matahari yang menusuk matanya. 

“Aku tidak bisa melihatmu …” bisik Jordan yang kembali direngkuh oleh lengan Papanya dengan sangat erat.

 

“Papa selalu hidup di dalam dirimu, Jordan! Papa bangga padamu! Tumbuhlah semakin kuat dan percayalah Tuhan akan selalu menolongmu, bersukacitalah, anakku!”ucap Keigo Watanabe, Papa Jordan sambil mendaratkan kecupan dalam ke samping kening Jordan. 

Keigo juga meraih Mary Helena untuk dia peluk bersama Jordan, hingga terdengar suara memekakkan telinga di telinga Jordan yang membuat Papa dan Mamanya tiba-tiba menghilang, lenyap. 

Jordan terkejut dan menyadari penjaga baru saja melemparkan roti ke dalam ruangannya beserta mangkok soup yang rasanya mungkin jauh lebih buruk dari menelan air laut. 

“Terima kasih, Tuhan! Engkau sudah mempertemukanku dengan Mama dan Papa.” gumam Jordan akan mimpi kedua orangtuanya. 

Meskipun kerinduan yang menggantung berat dalam rongga dada Jordan akan Mamanya belum puas, dia tetap berterima kasih karena Tuhan juga telah menghadirkan Papanya dalam mimpinya. Pelukan dari pria yang sangat dicintai oleh Mamanya itu juga masih terasa hangat di pundak Jordan. 

Perlahan, tangan Jordan meraba wajahnya sendiri yang terasa sangat kasar bagi telapak tangannya yang juga kasar. 

Jordan mengambil roti yang dilemparkan penjaga dan meniupnya dari debu tanah dan pasir, lalu melahapnya begitu saja yang kemudian dia meminum habis soup di mangkoknya tanpa mengingat rasanya sama sekali. 

Jordan mengambil batu yang dia gunakan untuk menulis dan membuat tulisan 'terima kasih Tuhan' pada dinding dengan ujungnya diberi angka dua puluh empat sesuai dengan hari ulangtahunnya hari ini. 

Sebelum tengah hari, pintu baja ruangan Jordan di gedor kencang dan terdengar suara kunci pada pintu di putar yang akhirnya terbuka.

 

Jordan bisa merasakan angin lembut berdesakan masuk melalui pintu ke ruangannya yang sejenak menyegarkan penciumannya.

 

“Apa kabar, Jordan?” sapa Langley sambil tertawa kecil dan hidungnya berjengit mencium aroma busuk di ruangan Jordan. 

“Cepat gantung dia di rantai!” perintah Langley tidak sabar pada bawahannya yang langsung menurut patuh. 

Plakk! …plakkk!!

Suara cambukan mendarat pada punggung Jordan dan membuat tubuhnya bergetar meski bibirnya telah enggan berteriak kesakitan. 

“Berteriaklah, Jordan! Atau memang kau sudah menikmati ayunan cambukku?” cetus Langley sembari tertawa kecil mengayunkan cambuk tinggi-tinggi dan sekuat tenaga mendaratkannya ke punggung Jordan.

 

Kepala Jordan tertunduk, matanya terpejam namun giginya tetap menggigit bibirnya kuat-kuat. Jordan merasa malu untuk berteriak jika semalam dia telah diberikan hadiah bertemu kedua orangtuanya oleh Tuhan melalui mimpinya. 

Jordan juga mengingat bagaimana perjuangan Yesus dalam memberikan pemahaman pada manusia dan berakhir DIA dikhianati serta mengalami penyiksaan berat. 

Melihat reaksi Jordan yang tetap tidak mau berteriak, Langley semakin beringas mencambuk punggung Jordan. Tubuh Langley sampai melompat heboh dan tertawa girang memprovokasi saat ujung cambuknya mengoyakkan pakaian lusuh Jordan hingga mengalirkan darah pada kulit punggungnya yang telah terkelupas. 

“Siram dia!” titah Langley pada anak buahnya karena Jordan tidak mengangkat wajahnya sejak dia mulai mencambuk. 

Anak buah Langley segera mengguyurkan dua ember air laut ke tubuh Jordan yang membuat bibir pemuda itu berdesis pilu. 

Punggung yang terluka dan disiram air laut asin, tentu saja membuat seluruh syaraf pada tubuh Jordan terkesiap terkejut juga sangat perih luar biasa sampai ke tulang belulangnya. 

“Ha ha ha …kau tidak bisa pura-pura kuat padaku, Jordan! Berteriak dan bernyanyilah! Panggil Tuhanmu yang Agung itu agar dia menyaksikanmu sang pezina dan pembunuh ini menebus dosanya!” ejek Langley meremehkan keyakinan Jordan. 

Langley masih terus mencambuki Jordan meski telah mengayunkan dua puluh empat kali yang dihitung oleh Jordan dalam hatinya. 

“Anda telah mencambukku lebih dari dua puluh empat kali, Langley! Berhentilah sebelum lengan Anda merasa lelah!” cetus Jordan mantap mengucapkan kata-katanya tanpa tersendat atau pun terbata. 

Mendengar ucapan Jordan, Langley yang sudah bersiap mengayunkan cambuknya sangat tinggi, tidak bisa menghentikan ujung cambuknya dari melukai punggung Jordan yang kali ini pemuda itu berteriak mengaduh pilu. Darah menyembur mengucur deras dari bekas luka cambukan di punggung Jordan yang semakin membuat Langley tertawa puas.

Bibir Langley tersenyum penuh kemenangan, dia menjatuhkan cambuknya yang dipungut oleh anak buahnya. 

“Berikan dia pakaian ganti dan bersihkan ruangan ini!” perintah Langley sambil menatap tajam kedua anak buahnya yang mengangguk cepat tanpa berbicara.

 

“Satu kali seminggu, kalian harus membersihkan ruangan ini! Memberikannya pakaian ganti dan air laut dua ember untuk dia mandi! Jika tidak, maka kalianlah yang akan menemaninya berada di sini. Paham?”

 

Langley melangkah ke arah samping Jordan dan mencengkeram dagu pemuda itu yang dia tengadahkan.

"Masih belum mau menyerah dan mengakui jika dirimu adalah pendosa terkutuk?" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (10)
goodnovel comment avatar
rianur378
kok udah 2 tahun,g ada gitu yang nolongin Jordan,,,kasihan k
goodnovel comment avatar
senja_awan
gila si Langley ini...awas aja klo Jordan bebas nanti
goodnovel comment avatar
Nuni Muslimin
tak bisa terbayang skitx
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Boss Mafia Tak Terjamah   71.

    Berhari-hari telah berlalu, namun Jordan tetap tidak merasakan sedikit pun keberadaan Zero mendatangi kediamannya maupun berkeliaran di dalam hutan belakang kediaman Jola.Ninja itu seolah menguap ditelan bumi.Meskipun begitu, Jordan tidak ingin lengah. Ia memanfaatkan waktunya untuk berlatih fisik jauh lebih keras dari biasanya."Kenapa sih kau berlatih sekeras ini? Lihat, tanganmu sampai tergores begini!" omel Lagertha lembut sambil meringis pelan saat mengoleskan cairan antiseptik ke lengan Jordan.Akibat latihan keras dan meniru gerakan tupai serta hewan-hewan yang Jordan itu, lengan Jordan juga sedikit mengalami keseleo. Imbasnya, ia agak kesulitan untuk menggendong Joshua.Sementara itu, sang bayi tampan sedari tadi hanya memandangnya dari kereta bayi dengan tatapan polos nan tajam. Kelopak mata bulat Joshua hampir tak berkedip dan bibir mungilnya menolak tertawa renyah karena belum mendapatkan perhatian dari Jordan."Sayang, tolong ambilkan kain gendongan. Aku mau menggendong

  • Boss Mafia Tak Terjamah   70.

    Setelah makan malam, Jordan melakukan rutinitasnya seperti biasa, berpatroli mengelilingi kediaman Jola. Namun, begitu langkah kakinya tiba jauh ke dalam pekatnya hutan belakang, ia hanya merasakan kesunyian yang ganjil.Tak ada tanda-tanda Zero sedang bersembunyi di atas dahan. Hanya ada suara jangkrik dan binatang malam yang aktif berceloteh, saling bersahutan di sekelilingnya."Ada apa?"Suara berat itu memecah lamunan Jordan. Maximus rupanya berjalan menyusul, mengikuti Jordan dari belakang. Langkah Maximus yang besar kini berhenti tepat di samping Jordan."Gak ada apa-apa. Hanya saja, kesunyiannya terasa lebih mencekam dari biasanya," elak Jordan.Sampai detik ini, Jordan memang belum menceritakan tentang keberadaan Zero pada Maximus ataupun siapa pun di rumah ini.Langkah kaki Jordan kembali bergerak santai, berjalan beriringan kembali ke kediaman dengan Maximus yang matanya tetap waspada, memindai hutan gelap di sekeliling mereka."Lagertha tadi pagi nanya tentang mobil sport i

  • Boss Mafia Tak Terjamah   69

    Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Angin dini hari berembus pelan, membuat dedaunan berdesir lembut di tengah sunyinya hutan. "Apakah kau tak memiliki tempat tinggal? Atau Mister Bough memang tak mampu membayarmu, sampai setiap malam kau datang berkeliaran di hutan ini?" tegur Jordan dingin. Di atas salah satu dahan pohon besar, Zero yang sejak tadi berbaring malas membuka sebelah matanya memandang Jordan di bawahnya. Senyum tipis muncul di balik topeng yang menutupi wajah pria itu. Dengan gerakan ringan, Zero melompat turun dan mendarat tepat tiga langkah di depan Jordan. "Kenapa?" tanyanya santai, "Kau berniat memberiku kamar di kediamanmu untukku tinggal?" Zero memiringkan kepala, "Aku juga tidak keberatan jika kau memintaku tidur sekamar dengan Lagertha, istri kesayanganmu itu." tambahnya dengan nada mencemooh. Jordan tersenyum sinis dan jari-jemarinya terkepal kuat pada sisi tubuh. "Teruslah bermimpi sampai ..." kalimat Jordan terputus dan tubuhnya sudah b

  • Boss Mafia Tak Terjamah   68.

    Sementara itu, di kediaman Jola, malam terasa jauh lebih tenang di permukaan, namun tidak bagi Jordan.Sudah lima hari Jordan tak pernah lagi menapakkan kaki memasuki hutan di belakang kediamannya. Bukan karena ia didera ketakutan, melainkan karena ia tahu, ada seseorang yang selalu datang dan menunggunya di sana.Bahkan, setiap tengah malam, Jordan bisa mendengar suara kecil seperti kerikil yang dilempar pelan ke jendela kamar. Lalu diikuti desingan halus tubuh yang melompat turun dari balkon, nyaris tanpa suara yang tak bisa terdeteksi oleh pendengaran orang biasa, tetapi Jordan bisa menangkap semua kode tersebut. Jordan tak perlu mengintip untuk tahu siapa pelakunya.Zero!Ninja bertopeng yang secara terang-terangan pernah mengatakan bahwa ia akan membunuh Jordan …jika suatu hari kemampuan bela diri mereka berada pada tingkat yang setara.Di atas ranjang, sebuah gerakan kecil membuyarkan lamunan Jordan. Lagertha menggeliat pelan, jemarinya mencengkeram tepian celana Jordan, seolah

  • Boss Mafia Tak Terjamah   67. Dua Bidak

    Amarah Ben Horik meledak seketika saat tubuh asisten kepercayaannya yang sebelumnya mengantarkan dokter pergi keluar dari kediaman setelah memberikan perawatan pada Yuri, kini jatuh terjerembab ke lantai marmer.Suara benturan itu menggema pendek, disusul pemandangan yang membuat seluruh ruangan membeku. Darah hitam kental merembes deras dari hidung, mulut dan telinga sang asisten, mengalir tanpa kendali seperti tinta pekat yang menodai lantai.Sang dokter, sebelum tewas, berhasil menyuntikkan racun mematikan ke dalam tubuh asisten itu. Sebuah prinsip terakhir yang keji, jika ia tak bisa keluar hidup-hidup dari kediaman Ben Horik, maka orang yang menghalanginya juga tak berhak bertahan hidup.Napas Ben Horik mendadak berat. Dada bidang tebalnya naik turun kasar, seolah amarah yang menggelegak di dalam tubuhnya menekan paru-parunya sendiri. Urat di pelipisnya menegang, rahangnya mengatup keras hingga terdengar bunyi berderak halus.Ben melangkah keluar dari ruangan menuju ruang kerjany

  • Boss Mafia Tak Terjamah   66. Lanjut?

    Di ruang bawah tanah sebuah restoran mewah, Mister Bough duduk bersama Tiger, asisten setianya, mengelilingi meja bundar bersama dua pejabat tinggi pemerintahan yang tadi juga ikut rapat bersama Menteri Dalam Negeri. Hidangan di atas meja sudah dingin, hampir tak disentuh. Sebaliknya, minuman keras terus dituang, ke setiap gelas jika sudah tinggal setengah, seolah percakapan yang berlangsung jauh lebih berat daripada rasa lapar mereka."Ceritakan tentang Jordan, bagaimana pria itu bisa membuat Ben Horik membelot?" tanya pejabat yang lebih muda dengan sikap tenang. Pejabat di sebelahnya, yang usianya lebih tua dari Mister Bough, menyalakan cerutu. Pria itu menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap perlahan sambil menatap tajam ke arah Mister Bough dan Tiger, seolah matanya bisa menilai."Saya ragu jika Ben membelot ...tapi pria itu menanam lalat di sekitar kita." ucap Mister Bough dengan nada suara rendah, setelah menyesap seteguk minuman di gelasnya. “Lalu bagaimana mu

  • Boss Mafia Tak Terjamah   5. Keajaiban & Penyiksaan

    Jordan menengadah ke atas kaca bening di langit-langit ruangannya dan kembali memperhatikan jika air merembas dari langit-langit ke dinding. Titik air yang sebelumnya menimpa kepalanya sudah tidak ada, namun dinding batu ruangannya masih sangat lembab."Jika ruangan ini paling atas dan bisa meliha

  • Boss Mafia Tak Terjamah   4. Secuil Info dari Langley

    “Aku tidak berzina dan juga bukan pembunuh!” tegas Jordan dengan bibir berdesis yang dicengkeram kuat oleh Langley. Langley tertawa terbahak sangat nyaring bergema yang kemudian melepaskan cengkeramannya pada dagu Jordan. “Kau pikir siapa dirimu, Jordan? Ben Horik memerintahkan untuk mengeksekusi

  • Boss Mafia Tak Terjamah   2. Di Penjara

    Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. “Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya m

  • Boss Mafia Tak Terjamah   1. Jebakan dan Fitnah

    Jordan terbangun saat mendengar suara langkah kaki dan keributan orang di luar pintu kamarnya. Namun betapa terkejutnya pria muda itu saat mendapati ada tubuh wanita telanjang di sebelahnya yang dia mendapati dirinya juga tanpa ada pakaian satu helai benangpun menutupi tubuhnya selain selimut tipis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status