Home / Romansa / Boss Mafia Tak Terjamah / 9. Keturunan Ninja

Share

9. Keturunan Ninja

Author: Freyaa
last update Petsa ng paglalathala: 2023-09-26 21:54:58

Langley mengambil pisau yang terselip di samping pahanya dan langsung melemparkannya ke arah Jordan.

Namun ...

Maximus yang sudah terlatih merasakan bahaya, menoleh dan menangkap pisau dengan telapak tangannya yang langsung dia genggam erat selama beberapa detik. Lalu membalikkan dan melemparkan pisau itu kembali ke arah Langley yang menancap di atas jantung pria itu. 

"Achk!!"

Satu tangan Langley memegangi pisau di dadanya dan satu lagi terulur maju ke arah Jordan yang sudah dipapah berdiri oleh Maximus. Tetapi tidak ada kata yang terucap keluar dari mulut Langley selain suara napasnya yang mendidih dan beberapa detik kemudian tubuhnya ambruk ke belakang, jatuh berguling-guling pada tangga batu dan mendarat melintang dengan posisi kepala tertekuk ke depan dadanya. 

"Tunggu!" Jordan menahan langkah Maximus yang hendak mengangkat tubuhnya seperti anak-anak untuk melangkahi mayat Langley. 

Jordan berusaha menahan perih pada punggungnya untuk membungkuk, mengangkat sedikit tubuh bagian atas Langley dan membaringkan kepalanya lurus pada tangga batu. 

"Bagaimanapun kamu telah memberikan banyak pelajaran padaku. Semoga Tuhan mengampunimu, Langley." gumam Jordan pelan, lalu mendoakan pria itu dengan mengucapkan beberapa kalimat suci. 

Kelopak mata Maximus tidak bisa tidak mengerjap melihat apa yang Jordan lakukan pada Langley. 

"Kita harus segera pergi, sebelum ada yang menyadari apa yang telah terjadi di sini!" 

Maximus menarik pangkal lengan Jordan dan menyeret pria muda yang masih terluka pada punggungnya itu untuk dia bawa menuju kapal di bagian bawah bangunan penjara batu. 

Hanya ada satu perahu Maximus yang tersisa masih tertambat di depan pintu masuk penjara pulau. 

"Terima kasih, saya Jasper ...saya akan mengingat budi baik Anda selama saya hidup. Jangan sungkan meminta bantuan pada saya Jasper dari Orebro." 

Salah satu tahanan sengaja menunggu Maximus dan Jordan untuk berterima kasih, juga lima orang pria yang telah berada di dalam kapal kecil melambaikan tangan dan tinju di dada pada Maximus serta Jordan sebagai bentuk penghormatan. 

Maximus mengangguk cepat tanpa membalas ucapan Jasper, lalu dia membawa Jordan masuk ke dalam kapalnya. 

Senyum di mata Jasper tetap tidak hilang, terus melihat kapal Maximus dan Jordan berlayar lebih dulu dari kapalnya bersama teman-temannya. 

"Ku dengar pria itu mencari nama Jordan Smith Watanabe sebelumnya ..." cetus salah satu pria di dalam kapal pada Jasper saat pria itu masuk ke dalam kapal dan mereka berlayar ke arah yang berbeda dengan kapal Maximus. 

"Ya, pria yang terluka itu adalah Jordan Smith Watanabe." sahut Jasper, mematri nama tersebut masuk ke dalam kepalanya untuk dia ingat sepanjang usianya. 

Jasper bersama kelima temannya tersebut telah berada di penjara batu selama sepuluh tahun lebih karena aksi mereka merampok pengusaha kaya ketahuan aparat polisi. Sehingga mereka semua dibuang ke penjara batu tanpa pernah menghadiri pengadilan sama seperti Jordan alami. 

--

"Siggy ..." panggil Mary Helena pada asistennya yang telah datang ke rumah pedesaan, tempatnya tinggal.

Pastur Lukas menempati sebuah rumah berbeda dan tidak jauh dari rumah Mary Helena tempati. 

"Ya, Nyonya. Saya di sini," 

Siggy buru-buru menghampiri Mary Helena yang duduk pada kursi di teras belakang rumah. 

"Tanya Pastur, apakah Jordan sudah dalam perjalanan ..."

"Ya, Jordan sudah dalam perjalanan." Pastur Lukas yang baru datang hendak memeriksa keadaan Mary Helena dan mendengar ucapan wanita itu, langsung menjawab memotong perkataannya dimana kondisi kesehatannya semakin menurun melemah. 

Mary Helena menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Pastur Lukas. 

"Terima kasih, Pastur. Bahkan jika Anda berbohong pun, saya akan tetap berterima kasih." ucap Mary Helena seraya menyusut cairan bening pada sudut matanya dengan saputangan yang diberikan Siggy. 

"Itu benar, Nyonya. Saya membaca berita pagi ini, aparat polisi menemukan beberapa mayat di penjara tengah pulau. Juga ada beberapa wanita yang terperangkap di sana. Beritanya viral beberapa jam lalu tapi sekarang sudah menghilang. Sepertinya ditutupi." Marco turut berbicara meyakinkan Mary Helena. 

Mary Helena tersenyum tipis dengan kelopak mata hendak jatuh berkedip lemah. Sedangkan Pastur Lukas yang belum mengetahui berita tentang penjara tengah pulau tersebut dan ucapannya pada Mary Helena sebelumnya hanyalah untuk menggembirakan hati wanita itu, langsung membuat simbol berdoa dengan tangannya memuji Tuhan. 

"Marco ...tolong urus semua surat-surat harta keluargaku dan berikan semuanya seperti yang ku katakan sebelumnya untuk Maximus." tutur Mary Helena terbata-bata dan sangat lirih. 

"Sudah saya siapkan, Nyonya. Jangan kuatir,"

Kepala Mary Helena mengangguk, lalu dia menoleh ke arah Siggy, "Selamat atas pernikahan kalian. Sebagai hadiahnya ...ku berikan semua perhiasanku yang terkubur di samping makam suamiku." ujarnya seakan memberikan wasiat terakhirnya pada orang-orang yang dia percaya. 

"Pastur, aku ingin membuat pengakuan dosa," lanjut Mary Helena yang tatapannya telah beralih pada Pastur Lukas. 

Pastur Lukas mengangguk. Siggy dan Marco segera menyingkir dari sisi Mary Helena agar majikan mereka itu bisa leluasa membuat pengakuan dosanya pada Pastur Lukas. 

--

Sudah tengah malam di pedesaan, suara binatang hutan tidak ada terdengar. Malam terasa sangat sunyi saat Siggy baru saja keluar dari kamar Mary Helena untuk melihat keadaan majikannya tersebut. 

"Owh!" Siggy terpekik terkejut ketika melihat ada dua siluet di depan matanya sudah membuka pintu rumah. 

"S-si-siapa kalian?" tanya Siggy berdesis dan terbata seraya bergerak melangkah mundur.

"Siggy!" panggil Jordan langsung mengenali suara pelayan Mamanya. 

Siggy semakin mundur ke belakang beberapa langkah, menyipitkan matanya untuk memperhatikan wajah pria yang terlihat dekil dan sangat tua di depannya tersebut. 

"Dimana Mamaku, Siggy?" tanya Jordan to the point.

"M-mama?! Och Tuan Muda! Jordan ...!"

Siggy berteriak yang terdengar nyaring pada tengah malam, berhambur memeluk tubuh Jordan yang meskipun kotor, tetap dia sayangi. 

"Siggy ...dimana Jordan?" terdengar suara Mary Helena bertanya dan membuka pintu kamarnya. 

Marco juga keluar dari kamarnya, menghidupkan lampu di dalam ruangan tengah yang sebelumnya telah dimatikan oleh Siggy, untuk melihat apa yang telah terjadi.

"Mama ...!" 

Jordan langsung menjatuhkan kedua lututnya, bersimpuh di depan kaki Mary Helena dan menciumnya tanpa sungkan. 

"Bangun, Sayang ..." Mary Helena merengkuh pundak Jordan untuk membawa putranya itu berdiri. 

Maximus yang sejak awal berdiri diam di samping Jordan, berjalan ke arah teras belakang dan mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi. Entah kenapa hati pria itu merasa seperti di tusuk jarum saat melihat Jordan begitu memuliakan Mamanya. 

"Terima kasih!" Pastur Lukas menepuk pundak Maximus pelan, lalu duduk di depan adik lelakinya tersebut. 

Pastur Lukas mendengar teriakan Siggy sebelumnya, segera datang tergopoh-gopoh ke rumah tempat Mary Helena. 

Di ruang tengah, tangan Mary Helena bergetar membelai wajah Jordan yang terlihat hitam dan dekil. Sedangkan Siggy bersama Marco menyiapkan minuman serta makanan untuk Jordan dan Maximus yang sepertinya sangat kelaparan. 

Siggy juga menyiapkan air mandi hangat untuk kedua tamu yang sangat Mary Helena tunggu-tunggu kedatangannya tersebut. 

"Maafkan aku ..." bisik Jordan sembari mengecup telapak tangan Mary Helena saat Mamanya itu tidak berhenti membelai wajahnya. Mereka telah pindah duduk ke sofa. 

"Mama tau, kamu tidak salah. Jangan meminta maaf." ujar Mary Helena yang mata indahnya mengerjap berkali-kali agar lebih jelas melihat Jordan, karena airmata juga telah membanjir turun. 

Airmata bahagia!

Malam itu Jordan akhirnya bisa bertemu dan tidur memeluk Mary Helena yang merasa telah sembuh dari semua rasa sakit dalam tubuhnya. 

Sudah satu minggu berlalu sejak Mary Helena bertemu dengan Jordan, dan dia benar-benar terlihat telah sembuh total.

Mary Helena membuatkan makanan kesukaan putranya tersebut serta membantu menggosok tubuhnya saat dia mandi. Pun juga turut merapikan janggut dan cambang pada sisi wajah Jordan yang jauh lebih terlihat tampan dari awal mereka bertemu.

Sementara Maximus yang masih enggan pergi seakan menikmati waktu liburannya di pedesaan, tinggal bersama Pastur Lukas, baru saja datang ke teras belakang rumah Mary Helena sambil membaca pesan di ponselnya dari bosnya. 

"Carikan ninja yang tampan untuk menjadi pengawal Lagertha. Ingat, selain jago beladiri, dia juga harus tampan!" 

Tatapan mata Maximus tertumbuk pada Jordan yang sedang berlatih beladiri di halaman berumput ilalang, didampingi Mary Helena yang seperti memberi petunjuk gerakan pada putranya itu. 

Kulit Jordan telah kembali putih bersih dan wajahnya benar-benar sangat tampan. Pria yang terlihat matang tersebut adalah keturunan terakhir dari pemimpin ninja hebat Jepang, Keigo Watanabe dengan wanita tercantik seantero Swedia, Mary Helena. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
senja_awan
emaknya aja wanita tercantik seantero Swedia guyssss... kabayang kan tampannya hhaaahha
goodnovel comment avatar
Fika R
waah akhirnya Jordan ketemu sama ibunya. habis ini bakal ketemu sama lagertha ya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Boss Mafia Tak Terjamah   71.

    Berhari-hari telah berlalu, namun Jordan tetap tidak merasakan sedikit pun keberadaan Zero mendatangi kediamannya maupun berkeliaran di dalam hutan belakang kediaman Jola.Ninja itu seolah menguap ditelan bumi.Meskipun begitu, Jordan tidak ingin lengah. Ia memanfaatkan waktunya untuk berlatih fisik jauh lebih keras dari biasanya."Kenapa sih kau berlatih sekeras ini? Lihat, tanganmu sampai tergores begini!" omel Lagertha lembut sambil meringis pelan saat mengoleskan cairan antiseptik ke lengan Jordan.Akibat latihan keras dan meniru gerakan tupai serta hewan-hewan yang Jordan itu, lengan Jordan juga sedikit mengalami keseleo. Imbasnya, ia agak kesulitan untuk menggendong Joshua.Sementara itu, sang bayi tampan sedari tadi hanya memandangnya dari kereta bayi dengan tatapan polos nan tajam. Kelopak mata bulat Joshua hampir tak berkedip dan bibir mungilnya menolak tertawa renyah karena belum mendapatkan perhatian dari Jordan."Sayang, tolong ambilkan kain gendongan. Aku mau menggendong

  • Boss Mafia Tak Terjamah   70.

    Setelah makan malam, Jordan melakukan rutinitasnya seperti biasa, berpatroli mengelilingi kediaman Jola. Namun, begitu langkah kakinya tiba jauh ke dalam pekatnya hutan belakang, ia hanya merasakan kesunyian yang ganjil.Tak ada tanda-tanda Zero sedang bersembunyi di atas dahan. Hanya ada suara jangkrik dan binatang malam yang aktif berceloteh, saling bersahutan di sekelilingnya."Ada apa?"Suara berat itu memecah lamunan Jordan. Maximus rupanya berjalan menyusul, mengikuti Jordan dari belakang. Langkah Maximus yang besar kini berhenti tepat di samping Jordan."Gak ada apa-apa. Hanya saja, kesunyiannya terasa lebih mencekam dari biasanya," elak Jordan.Sampai detik ini, Jordan memang belum menceritakan tentang keberadaan Zero pada Maximus ataupun siapa pun di rumah ini.Langkah kaki Jordan kembali bergerak santai, berjalan beriringan kembali ke kediaman dengan Maximus yang matanya tetap waspada, memindai hutan gelap di sekeliling mereka."Lagertha tadi pagi nanya tentang mobil sport i

  • Boss Mafia Tak Terjamah   69

    Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Angin dini hari berembus pelan, membuat dedaunan berdesir lembut di tengah sunyinya hutan. "Apakah kau tak memiliki tempat tinggal? Atau Mister Bough memang tak mampu membayarmu, sampai setiap malam kau datang berkeliaran di hutan ini?" tegur Jordan dingin. Di atas salah satu dahan pohon besar, Zero yang sejak tadi berbaring malas membuka sebelah matanya memandang Jordan di bawahnya. Senyum tipis muncul di balik topeng yang menutupi wajah pria itu. Dengan gerakan ringan, Zero melompat turun dan mendarat tepat tiga langkah di depan Jordan. "Kenapa?" tanyanya santai, "Kau berniat memberiku kamar di kediamanmu untukku tinggal?" Zero memiringkan kepala, "Aku juga tidak keberatan jika kau memintaku tidur sekamar dengan Lagertha, istri kesayanganmu itu." tambahnya dengan nada mencemooh. Jordan tersenyum sinis dan jari-jemarinya terkepal kuat pada sisi tubuh. "Teruslah bermimpi sampai ..." kalimat Jordan terputus dan tubuhnya sudah b

  • Boss Mafia Tak Terjamah   68.

    Sementara itu, di kediaman Jola, malam terasa jauh lebih tenang di permukaan, namun tidak bagi Jordan.Sudah lima hari Jordan tak pernah lagi menapakkan kaki memasuki hutan di belakang kediamannya. Bukan karena ia didera ketakutan, melainkan karena ia tahu, ada seseorang yang selalu datang dan menunggunya di sana.Bahkan, setiap tengah malam, Jordan bisa mendengar suara kecil seperti kerikil yang dilempar pelan ke jendela kamar. Lalu diikuti desingan halus tubuh yang melompat turun dari balkon, nyaris tanpa suara yang tak bisa terdeteksi oleh pendengaran orang biasa, tetapi Jordan bisa menangkap semua kode tersebut. Jordan tak perlu mengintip untuk tahu siapa pelakunya.Zero!Ninja bertopeng yang secara terang-terangan pernah mengatakan bahwa ia akan membunuh Jordan …jika suatu hari kemampuan bela diri mereka berada pada tingkat yang setara.Di atas ranjang, sebuah gerakan kecil membuyarkan lamunan Jordan. Lagertha menggeliat pelan, jemarinya mencengkeram tepian celana Jordan, seolah

  • Boss Mafia Tak Terjamah   67. Dua Bidak

    Amarah Ben Horik meledak seketika saat tubuh asisten kepercayaannya yang sebelumnya mengantarkan dokter pergi keluar dari kediaman setelah memberikan perawatan pada Yuri, kini jatuh terjerembab ke lantai marmer.Suara benturan itu menggema pendek, disusul pemandangan yang membuat seluruh ruangan membeku. Darah hitam kental merembes deras dari hidung, mulut dan telinga sang asisten, mengalir tanpa kendali seperti tinta pekat yang menodai lantai.Sang dokter, sebelum tewas, berhasil menyuntikkan racun mematikan ke dalam tubuh asisten itu. Sebuah prinsip terakhir yang keji, jika ia tak bisa keluar hidup-hidup dari kediaman Ben Horik, maka orang yang menghalanginya juga tak berhak bertahan hidup.Napas Ben Horik mendadak berat. Dada bidang tebalnya naik turun kasar, seolah amarah yang menggelegak di dalam tubuhnya menekan paru-parunya sendiri. Urat di pelipisnya menegang, rahangnya mengatup keras hingga terdengar bunyi berderak halus.Ben melangkah keluar dari ruangan menuju ruang kerjany

  • Boss Mafia Tak Terjamah   66. Lanjut?

    Di ruang bawah tanah sebuah restoran mewah, Mister Bough duduk bersama Tiger, asisten setianya, mengelilingi meja bundar bersama dua pejabat tinggi pemerintahan yang tadi juga ikut rapat bersama Menteri Dalam Negeri. Hidangan di atas meja sudah dingin, hampir tak disentuh. Sebaliknya, minuman keras terus dituang, ke setiap gelas jika sudah tinggal setengah, seolah percakapan yang berlangsung jauh lebih berat daripada rasa lapar mereka."Ceritakan tentang Jordan, bagaimana pria itu bisa membuat Ben Horik membelot?" tanya pejabat yang lebih muda dengan sikap tenang. Pejabat di sebelahnya, yang usianya lebih tua dari Mister Bough, menyalakan cerutu. Pria itu menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap perlahan sambil menatap tajam ke arah Mister Bough dan Tiger, seolah matanya bisa menilai."Saya ragu jika Ben membelot ...tapi pria itu menanam lalat di sekitar kita." ucap Mister Bough dengan nada suara rendah, setelah menyesap seteguk minuman di gelasnya. “Lalu bagaimana mu

  • Boss Mafia Tak Terjamah   2. Di Penjara

    Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. “Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya m

  • Boss Mafia Tak Terjamah   1. Jebakan dan Fitnah

    Jordan terbangun saat mendengar suara langkah kaki dan keributan orang di luar pintu kamarnya. Namun betapa terkejutnya pria muda itu saat mendapati ada tubuh wanita telanjang di sebelahnya yang dia mendapati dirinya juga tanpa ada pakaian satu helai benangpun menutupi tubuhnya selain selimut tipis

  • Boss Mafia Tak Terjamah   8. Pembebasan

    Jordan kembali mendapat hadiah cambukan ke dua puluh tujuh. Ya, pria malang itu telah berada di penjara batu dalam pulau selama lima tahun. Langley semakin menggila mencambuki punggung Jordan. Tetapi Jordan sudah tidak berteriak lagi juga tidak melantunkan firman Tuhan. Sebaliknya Jordan justru te

  • Boss Mafia Tak Terjamah   7. Putri Sang Bos Mafia

    "Papa!" Lagertha meloncati beberapa anak tangga dan berlari masuk ke ruangan makan sambil memanggil Papanya yang sedang duduk hendak sarapan. "Och, pakaian apa yang kamu pakai, Young Lady?!" protes Priskila pada putrinya yang memakai pakaian serba mini, hanya terlihat menutupi bagian penting pad

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status