LOGINTiara Magdalena Friedrich mendapat penolakan terus pada skripsinya dari Bima Wicaksana, dosen pembimbingnya yang terkenal killer. Suatu ketika, Tiara malah terlibat cinta satu malam dengan Bima dan akhirnya dia harus terjebak dengan permainan gila dosennya itu demi mendapatkan acc skripsinya dan lulus tahun ini. Namun, di tengah permainan itu, rupanya Angelina Tan, istri Bima, datang dan berusaha untuk menghancurkan mereka.
View More“Kamu benar-benar … perkasa!”
Tiara mendesah. Napasnya tersengal. Dia tenggelam dalam permainan seorang pria kekar dan tampan yang kini berada di atas tubuhnya. Penerangan di kamar hotel nomor 111 sengaja dipadamkan. Namun cahaya rembulan masuk melalui jendela yang terbuka, menciptakan siluet indah sepasang kekasih dadakan. Si pria tampan terus menggerakkan pinggulnya. Sosoknya terlihat semakin seksi. “Kamu yakin nggak akan menyesal kalau kita teruskan permainan hot ini?” Wajah Tiara merona merah. Dia menggelengkan kepala sambil memeluk tubuh pria itu dengan erat. Tiara mendesah, “Aaahhh …” Keduanya terus bergerak mengikuti irama musik orkestra yang diputar pada layar TV. “Punya kamu ini … ternyata masih disegel, ya,” gumam si pria. Malam semakin larut. Mereka kelelahan dan tertidur pulas setelah bermain tiga ronde. Keesokan paginya. Tiara terbangun karena cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Perlahan, Tiara membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjap sebentar. Muncul ingatan tentang semalam. Saat itu juga, dia tersadar. Tiara menatap tangan besar yang melingkar di atas perutnya. “Ini … tangan siapa?” Tiara terkejut mengetahui bahwa dia berada di sebuah kamar hotel bersama pria yang tidak dikenalnya. Dengan rasa penasaran yang bergejolak, Tiara menoleh. Dia ingin tahu, pria mana yang sedang tidur di sampingnya! ‘Astaga! Pak Bima?!’ pekik Tiara di dalam hati. ‘Kok dia bisa di sini?!’ Tiara menyingkirkan tangan Bima dengan sangat lembut, khawatir akan membangunnya. Sambil menahan nyeri pada bagian kewanitaan, Tiara bangkit dari ranjang besar. Dia mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai dengan cepat. “Astaga! Badanku rasanya mau rontok,” keluh Tiara, pelan. Dalam hitungan dua menit, Tiara selesai mengenakan pakaiannya. Lalu, merapikan rambutnya sebentar dan mengambil tas tangan di atas meja. ‘Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?’ jeritnya dalam hati. ‘Bodohnya aku!’ Saat Tiara hendak melangkah pergi, Bima mencengkram lengan Tiara dengan erat. “Kamu mau ke mana, Tiara?” tanya Bima, ketus. Mata Tiara melotot. ‘Mampus aku!’ Tiara kemudian menoleh. Tampak tubuh Bima yang kekar hanya mengenakan celana boxernya. Ototnya begitu nyata. Kulitnya yang putih dan tegap, dengan sorot matanya yang tajam membuat Tiara terpana hingga membayangkan kejadian semalam. Tiara begitu terpesona dengan ketampanan dosen pembimbingnya itu. ‘Sayangnya, tubuh Pak Bima tidak mungkin kumiliki!’ Tiara terkejut dengan pikirannya sendiri. Dia menepuk-nepuk kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran aneh itu. Lalu, Tiara meringis. “P-pak Bima, maafkan saya. Saya mohon. Anggap semalam tidak ada kejadian apa-apa.” Sebelah alis Bima naik. “Bagaimana bisa saya melupakan permainan kita semalam? Kamu begitu …” Bima kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Tiara. “Perkasa.” Tiara bergidik mendengarnya. Namun, Bima justru menyeringai. Tiba-tiba Tiara ingat mengatakan kalimat itu dengan suara yang menggoda semalam. Tiara menggeleng, mencoba mengusir semua bayangan yang muncul di dalam pikirannya. Tiara menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya. “Saya mohon, Pak. Maafkan saya. Saya tidak ingat bagaimana kita bisa berakhir di sini berdua. Tolong, maafkan saya dan lupakan kejadian ini, Pak.” Melihat Tiara memelas dengan sangat, Bima pun menyetujuinya dengan cepat. Sepertinya, dia memiliki ide yang cemerlang. “Kalau begitu,” ucap Bima sambil memegang kedua lengan Tiara. Bima membalikkan badan Tiara dengan cepat. Lalu, menduduki Tiara di pangkuannya. Tanpa segan, dia mendekatkan wajahnya di telinga Tiara dari belakang. Bima berbisik, “Kamu harus terus mengikuti permainan saya.” Tiara kembali bergidik. Sekarang lebih kepada geli karena suara dan napas Bima begitu jelas di telinganya. “T-tapi, Pak–” Baru saja Tiara mau nyerocos, Bima sudah langsung memotong kalimatnya. “Tidak ada tapi-tapian. Kalau tidak, skripsi kamu saya batalkan semester ini. Jadi, kamu harus mengulangnya tahun depan dari nol! Bagaimana? Kamu sendiri yang menentukan pilihan, loh.” Wajah Tiara cemberut. “Pak …” Bima berdiri, membiarkan Tiara berperang dengan perasaan dan akal sehatnya sendiri. Dia mengambil pakaiannya yang juga tercecer di mana-mana. Dan memakainya dengan cepat. Bima mengancingkan lengan kemejanya. “Jangan lama-lama mikirnya, Tiara!” Tiara bingung. Dia tidak mungkin mengikuti permainan Bima yang jelas-jelas sudah beristri. Tiara tidak mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang. Apalagi, Bima adalah Dosen pembimbingnya sendiri. Tapi, Tiara juga tidak ingin skripsinya dibatalkan. Pilihan ini benar-benar membuat Tiara bingung! Tiara harus segera lulus agar bisa segera bekerja dan meneruskan bisnis ayahnya. Dia tidak mungkin menunda skripsi, karena ayahnya sedang sakit. “P-pak,” ucap Tiara setelah bergelut dengan pikirannya sendiri. “Saya akan mengikuti permainan Bapak.” ‘Sudah kepalang basah, sekalian aja nyebur!’ pekiknya dalam hati. Bima tersenyum sinis. “Bagus. Kalau begitu, sekarang kamu boleh pulang. Dan besok, temui saya di kubikel jam 8 pagi.” “B-baik, Pak,” sahut Tiara tanpa ada jeda. Tiara pamit meninggalkan Bima dengan gelisah. Sesampainya di luar kamar hotel, Tiara memastikan tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Tiara berjalan dengan perlahan sambil celingukan. “Kalau kejadian ini sampai viral, bisa-bisa aku dilabrak istrinya Pak Bima, bahkan dikeluarkan dari kampus,” ujar Tiara, pelan. Setelah sampai di lobi depan, Tiara, segera menghampiri taksi yang sedang terparkir rapi. Tiara membuka pintu mobil. “Jalan Garuda no. 19 ya, Pak!” Sopir taksi mengangguk. Taksi melaju bebas di jalan raya. Di dalam taksi, Tiara menepuk dahinya. Dia menyadari kebodohannya. ‘Apa-apaan, sih? Kenapa aku jadi terjebak begini?!’“Maaf, Pak, saya terlambat,” ucap Tiara sambil ngos-ngosan. Jarak antara kantornya dengan café Secret Garden sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi kalau harus naik kendaraan, jalan yang diambil harus memutar karena jalan di sana merupakan jalan satu arah. Jadi, Tiara lebih memilih berlari agar cepat sampai. Bima sedang menikmati makan siangnya. “Duduklah!”Tiara menggeserkan kursi dan kemudian duduk. Bima melambaikan tangannya kepada pelayan. Dan pelayan pun segera datang menghampirinya. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya pelayan tersebut. Bima menyerahkan menu kepada Tiara. “Kamu pesan makanan dulu. Kita bisa bicara setelah ini.”Tiara menerima buku menu dengan bingung. Tapi, dia tetap memesan makanan sesuai perintah Bima. “Saya mau Pasta Vongole satu dan Butter Garlic Shrimp satu. Minumnya es kelapa satu. Terima kasih,” ucap Tiara. Pelayan mencatat dan membacakan pesanan lagi untuk memastikan pesanannya benar. Setelah itu, pelayan segera kembali ke dalam. “Jadi kamu bekerj
“Baik, Mbak. Selamat pagi, Pak Guntur dan Pak Bima. Perkenalkan, saya Tono Hartono, Kepala Perencanaan Tur,” ucap Tono membuka presentasi. Tono menjelaskan rencana kegiatan selama di Pulau Samara selama 3 hari 2 malam. Semua menyimak dengan baik, kecuali Bima dan Tiara. Mereka tampak tidak nyaman dan menyembunyikan perasaan masing-masing. Sesekali mereka saling lirik. Namun, seketika langsung membuang muka dan berpura-pura melakukan hal lain. ‘Kenapa harus ketemu Pak Bima di sini sih?’ tanya Tiara dalam hati. ‘Ternyata, dia kerja di sini,’ ucap Bima dalam hatinya. ‘Kenapa si Guntur bisa nyasar ke sini sih?’Rupanya Tono sudah selesai mempresentasikan rencana kegiatan. Lalu, dia mempersilakan Tiara untuk melanjutkan diskusi. Namun, Tiara masih tenggelam dalam lamunannya. “Mbak, Mbak Tiara!” panggil Tono membuyarkan lamunan Tiara. Tiara tersentak. “Eh, ya? Maaf, maaf, sampai mana tadi?”Tono memberi isyarat kepada Tiara untuk maju ke depan. Tiara segera beranjak dan merapikan pak
“Setidaknya aku lebih bisa berargumen dan menggunakan logika dalam setiap situasi,” sangga Septha. Tiara dan Septha memang selalu ribut setiap bertemu. Tetapi justru itulah cara mereka menunjukkan kasih sayang mereka. Karena kalau salah satu dari mereka marah, yang tersisa hanyalah keheningan yang cukup lama. Pernah mereka ribut karena masalah kamar mandi. Siapa yang lebih dulu harus mandi. Dan berakhir saling diam sampai satu bulan lamanya. “Silakan menikmati hidangannya, Nona-nona.” Seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka.Wangi saus truffle yang begitu memikat, membuat perut Tiara semakin keroncongan. Seketika Tiara dan Septha menghentikan perdebatan mereka dan tenggelam dengan kenikmatan santapan malam. Lidah mereka termanjakan. Dan perut mereka puas kekenyangan. “Ayo, Kak, kita pulang!” ajak Septha begitu mereka selesai makan.Mereka pun bergegas pulang. Rumah orang tua Tiara berada di komplek perumahan yang letaknya sangat strategis. Pasar, pusat perbelanjaan, fas
“Iya, Bun, aku juga terus berusaha kok, agar skripsiku cepat selesai,” ucap Tiara lemas. Seorang pramusaji mengantarkan pesanan mereka. Tiara langsung menyedot minumannya. Mia memperhatikan anak sulungnya. Tidak seperti biasa, Tiara agak tertutup hari itu. “Ada apa, Nak?” tanya Bunda lembut. Tiara tersentak. “K-kenapa Bun?”Mia menggeleng pelan. Lalu menggenggam tangan Tiara. “Maafkan Bunda ya, Kak, sudah memberikan beban yang besar bagi Kakak.”Meskipun Mia terlihat kuat dari luar, tapi Tiara tahu betapa rapuhnya di dalam. Itulah yang membuat Tiara harus bisa menjadi pelindung bagi keluarganya. Tiara harus segera mengambil alih bisnis ayahnya. Meskipun Mia pernah memberikan pilihan untuk menyerahkan kepemimpinan kepada tenaga profesional. Tapi bisnis yang Jeremy bangun adalah mimpinya yang baru bisa terlaksana setelah Jeremy pensiun mengajar. Dan Tiara ingin menjaga dan melindungi mimpi ayahnya itu. “Bunda nggak usah khawatir. Ini juga mimpi Tiara kok, Bun,” kata Tiara. “Bund












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews