Mag-log in"Jangan sentuh aku, Kak!" "Kenapa? Bukankah suamimu itu, tidak pernah menyentuh kamu seperti ini kan? Dan sekarang, tugas suamimu akan aku gantikan." Arsela tidak menyangka, dalam keadaan terpuruk, ia malah menghabiskan malam dengan pria yang berstatus sebagai kakak angkatnya, Kaindra Justin. Seorang pria yang pernah Arsela cintai di masa lampu, sebelum akhirnya ia memutuskan pergi menjauh dari Kaindra Justin, saat merasa tidak pantas mencintainya. Dengan berjalannya waktu, Arsela merasa nyaman dengan Kaindra Justin. Yang ternyata juga mencintainya. Namun, saat keduanya nyaman dengan hubungan yang terjadi. Ada hal baru yang tidak Arsela ketahui tentang Kaindra Justin. Apa itu? Dan apakah Arsela akan tetap bersama Kaindra Justin, saat tahu siapa sebenarnya kakak angkatnya tersebut?
view moreBrian benar-benar tidak tenang berada di ruang rapat yang biasanya selalu ia kuasai. Ruangan itu, dengan meja panjang yang selama ini menjadi saksi bagaimana ia memimpin, memberi instruksi, dan menekan bawahan dengan penuh percaya diri.Namun, pagi ini semua terasa berbeda. Udara seakan menekan dadanya, membuat napasnya berat.Bukan hanya karena Kai duduk di ujung meja dengan sikap santai namun penuh wibawa, terus menatapnya dengan sorot tajam. Lebih dari itu, fakta yang baru saja ia ketahui terasa seperti tamparan keras. Pemilik perusahaan tempatnya bekerja dengan jabatan mentereng, perusahaan yang selama ini ia kira milik Pak Barata, ternyata adalah milik Kai.Pria yang selama ini ia anggap hanya sebagai kakak angkat Sela.Pikiran Brian berputar kacau. Selama ini ia merasa aman. Jabatan manajer yang ia sandang memberinya kuasa, koneksi, dan rasa superior. Ia merasa tidak tersentuh. Namun kini, ia sadar betapa rapuh posisinya. Jika Kai adalah pemilik perusahaan ini, maka satu kata s
Sela seperti terhipnotis, sentuhan awal Kai memang terasa kasar baginya. Tapi dengan berjalannya detak jarum jam yang terus berputar. Sentuhan itu terasa seperti candu bagi Sela.Kamar yang awalnya mencengkam karena perdebatan dua orang Kakak beradik tanpa ikatan darah itu, kini di penuhi dengan gairah. Cinta yang ada pada diri keduanya menjadi saksi kisah terlarang yang sedang Kai lakukan diatas ranjang bersama Sela.Hentakan penuh gairah yang Kai lakukan diatas tubuh Sela yang di sambut baik, menciptakan suara merdu yang keluar dari bibir keduanya saling bersahutan.Sela yang awalnya memberontak dengan apa yang Kai lakukan, kini membuatnya hanyut dalam gairah. Sentuhan demi sentuhan yang Kai lakukan, begitu nikmat, kenikmatan yang tidak pernah Sela rasakan sebelumnya bersama sang suami."Kak, emmm." suara Sela yang indah benar-benar membuat Kai tidak bisa menghentikan aktivitasnya. Kai kini menghentikan aktivitasnya sejenak, dengan tubuh masih menyatu dan nafas keduanya memburu,
"Untuk apa aku cemburu?" Sela menimpali ucapan Kai sambil tersenyum. Senyum itu tipis, rapuh, dan jelas dipaksakan. Ada luka lama yang bergetar di baliknya. "Dan ya, lepas tanganku, Kak." pintanya pelan, tapi tegas.Kai terdiam sesaat sebelum akhirnya melepas genggamannya. Namun, bukannya memberi jarak, pria itu justru menarik pinggang Sela dan memeluknya erat. Tubuh mereka saling berhadapan, jarak wajah hanya sejengkal. Napas Kai terasa hangat di kulit Sela."Aku tidak akan melepas kamu, Sel," ucap Kai dengan suara bergetar. "Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi."Jantung Sela berdetak tidak beraturan. Ia mencoba mendorong tubuh Kai, tapi pelukan itu terlalu erat. "Kak, lepas. Aku tidak ingin Calista melihat kita seperti ini," katanya lirih, nyaris seperti bisikan."Tapi kamu jangan pergi," balas Kai cepat, seolah takut kata itu benar-benar terjadi."Ya," sahut Sela singkat, hanya agar Kai mau melepasnya.Dengan berat hati, Kai menurunkan tangannya dari pinggang Sela. "Aku sudah me
Sela segera melepas tangan Kai yang masih menggenggam tangannya. Sentuhan itu terasa terlalu hangat, terlalu berbahaya untuk perasaan yang selama ini ia paksa mati."Tidak bisa, Kak." ucap Sela lirih namun tegas, menimpali pengakuan Kai yang baru saja meluncur dari bibir pria itu.Ia beranjak dari duduknya di pinggiran tempat tidur. Dadanya terasa sesak. Sela tidak ingin berlama-lama berada sedekat ini dengan Kai. Ia tahu, semakin lama ia tinggal, semakin sulit baginya untuk berpura-pura bahwa hatinya sudah benar-benar kosong. Perasaan yang selama ini ia kubur dalam-dalam, pelan-pelan menggeliat, seolah menuntut untuk diakui kembali.Kai ikut berdiri, langkahnya mendekat. "Kenapa tidak bisa, Sel? Aku mencintaimu. Begitu juga kamu. Kamu juga mencintaiku."Ucapan itu seperti tamparan pelan bagi Sela. Ia menelan ludah, memalingkan wajah agar Kai tidak melihat kilatan rapuh di matanya."Siapa bilang aku mencintai Kak Kai?" ucap Sela berusaha setenang mungkin. "Kakak sudah aku anggap sebag






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu