LOGINShe signed the contract to save her life. She didn't know she was signing it to lose her freedom. When her brother steals from the wrong empire, she becomes the price. Delivered as collateral to a man no one dares to name out loud, Dante Moretti. A billionaire who rules both the corporate world and a violent underground empire where loyalty is enforced in blood. Cold. Strategic. Untouchable. A man who doesn't forgive. A man who doesn't let go. He offers her a deal: Marry him. Live under his rules. Obey without question. Or watch her entire family disappear. She expects cruelty. She expects violence. She expects to be broken. What she doesn't expect is the truth. Her brother didn't just steal money. He stole something that could destroy Dante's entire empire. And the only person who knows where it is, is her. She doesn't remember. But someone wants to make sure she never does. Now she's trapped between the man who owns her and the enemies hunting her. Dante says he'll protect her. But protection comes with a price. And in his world, everything costs blood.
View MorePada pagi hari dia bangun dengan tubuh yang sama seperti yang dia lihat semalam.
Lusiana duduk termenung di tepi ranjang, dia mencoba memahami semua yang baru saja terjadi padanya. Pertama-tama dia meraba pipinya, kulitnya terasa sangat jauh berbeda. Saat melihat ke pantulan cermin yang diletakkan di sudut ruangan, matanya spontan melotot. “I-ini... siapa wanita yang ada di dalam cermin? Itu bukan aku!” ujarnya dengan ekspresi terkejut. Yang dilihatnya bukan wajah cantik artis modern Lusiana, melainkan wajah bulat dengan pipi tembam, kulit kusam, dan bekas jerawat yang memenuhi seluruh permukaan kulit wajahnya. Rambutnya terasa kusut-kering, acak-acakan, berantakan, jauh dari gaya mewah artis papan atas. Lusiana melangkah mundur dari depan cermin dengan wajah pucat. “Apa maksudnya semua ini? Aku... Kenapa-kenapa wajahku jadi jelek sekali?!” dia masih tidak percaya dengan semuanya. Kemarin dia berpikir semua ini hanya mimpi dan dia akan bangun dengan parasnya yang cantik. Satu persatu ingatan di dalam tubuh barunya mulai muncul di dalam benaknya, semuanya tumpang tindih dan berbaur menjadi sebuah peristiwa yang menyebabkan dirinya sampai seperti ini. Sebelum Lusiana memakan racun, dia menerima tamu pagi ini. Andi seorang pangeran dari negara tetangga datang mengunjunginya. Yudistira bilang mereka akan segera menikah dan resmi menjadi pasangan suami-istri. Lusiana tentu saja sangat senang dengan keputusan itu mengingat Andi memiliki paras yang sangat tampan sementara dirinya sendiri memiliki tubuh gendut dan muka jelek. Kulitnya juga sangat kusam dan terlihat tidak terawat, banyak bekas benjolan dan jerawat di wajahnya. Lusiana duduk menemaninya di taman tapi Andi berkata padanya bahwa ada hal yang harus dia lakukan dan dia datang ke kerajaan Yudistira bukan hanya untuk pergi menemuinya. “Aku memiliki sesuatu yang penting untuk dilakukan, aku sudah datang untuk menyapamu jadi aku harus pergi,” pamitnya. Andi tidak mau melihat wajah Lusiana dan pria itu sejak tadi hanya membuang muka ke arah lain. Lusiana menganggukkan kepalanya, dia mengukir senyum senang. Dia tidak memikirkan apa pun selain Andi akan menikahinya dan menjadi suaminya di masa depan. Akan tetapi, dia melihat Andi ternyata pergi ke kolam mandi istana, di sana dia bertemu dengan Rena secara rahasia. Rena tidak memiliki rasa malu dan hanya mengenakan baju mandi tipis yang hampir menunjukkan seluruh lekuk tubuhnya. Andi adalah pria yang normal dan dia memiliki ketertarikan untuk menyentuh wanita cantik. Mereka berpelukan di sana, Rena menyentuh leher Andi dengan berani lalu menyentuh pipinya. “Aku akan menikahimu, Rena, kita akan resmi menjadi pasangan!” “Pangeran Andi, jangan bercanda, Anda akan menikah dan resmi menjadi suami Kakak Lusi,” ujarnya dengan bibir cemberut. “Aku hanya menginginkanmu! Bukan Lusiana yang jelek dan buruk rupa! Meski aku akan menikahinya, tapi kamu juga akan tetap menjadi istriku, kamu satu-satunya yang akan menjadi wanitaku,” Lusiana melihat dengan mata kepalanya sendiri, perkataan ini sangat menyedihkan dan melukai perasaannya. Dia pikir Andi adalah pria yang tulus tapi ternyata semua itu hanya kedok palsu. Rena memeluk dan terus merayu sampai dua orang itu berciuman dan melanjutkan dengan melakukan hubungan suami-istri. Lusiana masuk ke dalam dan langsung berteriak pada mereka. “Andi, Rena! Kalian tega sekali padaku!” Rena yang sedang bergelayut mesra memeluk Andi langsung melepaskannya dan sibuk menutupi tubuhnya yang telanjang. “Aku sangat membenci kalian! Aku benci kalian!” Lusiana berlari sambil menangis meninggalkan kolam mandi. Sementara Andi, juga terkejut dan dia berniat mengejar Lusiana untuk memberikan penjelasan padanya. “Lusiana, ini salah paham! Tunggu aku!” *** Ini adalah ingatan yang sangat membekas di dalam kepalanya. Di ranjang, Lusiana menggenggam kain selimut. Ingatannya masih terus membayang, dunia modern dan dunia kuno terus bertabrakan di kepalanya. “Apakah aku... masuk ke dalam tubuh putri gendut jelek ini?” Lusiana memiliki beberapa ingatan tentang masa lalu di mana dirinya mulai sekarang lalu mati. Gadis dengan tubuh gemuk dan jelek dilihat di dalam ingatannya. Dadanya tiba-tiba terasa sangat sakit dan sesak. “Lusiana cemburu dengan seseorang? Pangeran .... Andi?” Lusiana memukul sisi kepalanya sendiri karena merasa pusing dengan ingatan yang terus menyergap dan menjadi tumpang tindih. “O-oke! Jadi sekarang aku hidup di zaman kuno? Dan aku berada di dalam tubuh ini? Apakah ini zaman kultivasi?” Lusiana memutar kembali ingatan di dalam kepalanya, terus berusaha mengingat lebih banyak. Dia kembali melihat Lusiana yang terus menangis tanpa henti, hatinya sangat terluka, dia tidak mengira dua orang yang sangat dia percaya berkhianat di belakangnya. Dia tidak sanggup menahan rasa sakit hati dan dia pergi mengambil obat di klinik kerajaan. Di ruang khusus ada sebuah tempat yang digunakan untuk menyimpan racun, dengan meminum racun itu maka denyut jantungnya akan berhenti. Dia pernah mendengar tabib istana membahas tentang racun itu secara rahasia. Sambil menangis Lusiana berlari membawa botol racun dan saat tiba di kamarnya dia langsung meminumnya. Beberapa jam dia masih bernapas tapi lama-kelamaan tubuhnya mulai kebas dan lumpuh. Urat syaraf di tubuhnya tidak berfungsi, dadanya terasa sesak dan tertekan. Pelayan datang dan mengetahui kondisinya, Lusiana sudah tidak bisa bicara dan perlahan kehilangan indra pendengarnya. Kondisinya sekarat dan dia mati. Lusiana memikirkan semua yang terjadi termasuk perselingkuhan yang dilakukan Rena dengan Andi. Bukannya sedih dan merasa kasihan pada gadis gendut jelek yang sekarang dia tempati tubuhnya, dia malah merasa sangat lucu. Kemalangan itu sama sekali tidak ada artinya bagi Lusiana yang sekarang hidup di dalam tubuhnya. “Hahahahaha! Meskipun aku hidup di zaman kuno, menurutku mati karena pria yang dijodohkan denganku direbut orang lain adalah hal mustahil! Aku tidak mungkin bunuh diri seperti wanita bodoh itu! Hahaha! Sekarang waktunya untuk menghadapi mereka!” Sebelumnya, dia masih tidur dan pelayan mengetuk pintu kamarnya. Mereka mengatakan pada Lusiana bahwa Andi dan Rena ingin bertemu pagi ini untuk melihat keadaannya. Lusiana mencuci wajahnya, dia melihat beberapa kosmetik di meja. Ketika membuka tutupnya dia tahu benda-benda itu sama sekali tidak akan berguna untuk menghilangkan jerawat dan noda-noda hitam di kulitnya. Lusiana tahu komposisi yang cocok untuk kulitnya. “Pantas saja kulit wajahnya hancur, benda-benda ini akan menutup pori-pori kulit dan menyebabkan jerawat, memakainya setebal satu sampai dua senti juga tidak akan berguna, ini memperburuk kulitku!” Lusiana berdiri dari kursi meja rias. Dia keluar dari dalam kamar dan ingin pelayan membawakan untuknya. “Pelayan!” Salah satu dari mereka datang dan menghadap padanya. “Iya, Yang-mulia!” Lusiana menuliskan catatan lalu memberikan padanya. “Bawakan aku semua jenis ini dan bawa secepatnya ke kamarku!” Pelayan itu tidak tahu apa maksud jenis-jenis obat itu, tulisan tangan Lusiana pun berubah menjadi lebih bagus dan lebih rapi mirip seorang jurnalis terkenal di Kota Merpati. Lusiana melihatnya melamun dan tidak segera pergi. Lusiana menyunggingkan senyum aneh dan tatapan kejam. Dia melipat kedua tangannya lalu berjalan mendekatinya. “Kenapa masih di sini? Kamu tidak segera pergi?!” tanyanya dengan aura dingin penuh penindasan. “Ti-tidak! Ampun Yang-mulia, saya akan pergi untuk mengambilkannya! Ta-tapi saya tidak tahu di mana harus mencari obat-obat langka ini, selain itu ....” pelayan tersebut tidak berani melanjutkan perkataannya. “Selain itu? Apa maksudmu?” “Yang-mulia, tulisan Anda menjadi sangat bagus dan rapi, seperti seorang jurnalis, Anda tahu kita pernah pergi melihat pameran puisi, Anda sangat suka dengan puisi dan kata-kata bagus, Anda memiliki banyak koleksi dari para sarjana terkenal! Tulisan tangan Anda ini sangat cantik dan pasti akan dihargai jika ikut perlombaan di akademi, tapi ....” pelayan itu kembali berhenti dan ekspresinya terlihat penuh keraguan. “Tapi apa? Katakan padaku?” “Tahun lalu Yang-mulia berusaha keras untuk masuk ke dalam akademi, dan Yang-mulia telah gagal dalam seleksi, saya ragu kali ini akan berhasil,” gumam pelayan itu dengan hati-hati. Lusiana menyipitkan matanya lalu menatap wajah pelayan itu dengan lebih dekat. “Tahun ini daftarkan saja namaku! Entah lomba melukis atau lomba membuat puisi! Aku akan memenangkan semuanya! Para sarjana terkenal itu akan aku kalahkan! Hahahahaha! Cepat pergilah!” Sisil menggaruk kepalanya sendiri, dia merasa Lusiana memang sudah gila dan kerasukan roh jahat. Majikannya itu meminta dirinya untuk mendaftarkan lomba di akademi, bahkan saat ikut tes kecil Lusiana tidak mampu menuliskannya, tangan gendutnya terus gemetar dan tulisannya menjadi jelek mirip coretan kaki ayam. Lusiana berhenti tertawa dan berkacak pinggang. “Kenapa kamu belum pergi?” “Obat-obat ini ke mana saya harus mengambilnya?” Sisil bertanya sambil menggigit bibirnya. “Berikan pada Tabib Alex, saat melihat catatan ini dia akan segera datang ke sini untuk mengantarkannya!” Di atas kertas di bawah catatan obat, Lusiana sengaja memberikan sebuah coretan gambar boneka kecil mirip gambar setan yang digorok lehernya. Lusiana tahu tabib itu sangat percaya dengan makhluk halus dan roh jahat. Ketika Alex melihat ancaman itu dia pasti akan ketakutan dan memberikan semua obat mahal yang Lusiana inginkan. *** Sementara itu, pelayan-pelayan di luar ruangan masih membicarakan kebangkitan Lusiana dari kematian. Rumor cepat menyebar, sang putri yang seharusnya mati karena racun kini hidup kembali. Sebagian menyebutnya keajaiban, sebagian lagi yakin bahwa dirinya telah dirasuki roh jahat.ELARA'S POVThe furious heat in my chest didn't dissipate, but the relentless, brick-wall resistance in Caleb’s eyes suddenly vanished. His shoulders dropped, the tension bleeding out of his tall frame in a long, weary exhalation that sounded like defeat."Fine," he said quietly, his voice hollowed out. "Fine, Elara. You win."I blinked, taking a cautious step back, my muscles still coiled to fight or bolt up the stone stairs. "What?""I said you win." Caleb ran a calloused hand over his face, looking exhausted beyond his years. He stepped aside, clearing the path to the chute. "If you’re so convinced I’m just an obstacle keeping you from Dante, then go. I won't drag you back down here again. I won't be your jailer."A wave of relief, so sharp it almost made me lightheaded, swept through me. "You're... you're letting me go?""I am." He walked over to the wooden crate, setting his oil rag down, then picked up a tin cup sitting beside the gas lamp. He poured clear liquid into it from a
ELARA'S POV Caleb had turned back to his rifle, the steady, rhythmic scrape of his oil rag against cold steel filling the silence. But in my mind, the quiet was deafening.What is wrong with him?I stared at the back of his broad shoulders, my jaw clenched so hard my teeth hurt. What was he playing at? He spoke like a tactical genius, but keeping me trapped under ten feet of rock while the sun was blazing outside was sheer madness. Broad daylight meant visibility—it meant I could actually see a thermal scope lens glinting in the treeline before I walked into its range. It meant I could navigate the ridge without snapping an ankle in a hidden snow pit. Moving at midnight was a death sentence; navigating frozen granite in total darkness would only slow me down, making me an easy target for whoever was waiting in the shadows.He wasn't protecting me. He was hoarding me.A sudden, sharp wave of conviction washed over me, burning away the lingering weakness in my limbs. My arm was healed.
ELARA'S POV Seven days in a ten-foot bunker will strip away whatever sanity you have left.The scent of damp granite, wet wool, and stale tea had settled into my skin like a second layer of clothing. The gas lamp flickered on the wall, its steady hiss the only sound marking the agonizingly slow crawl of time.I stood by the wooden table, my right hand pulling the knot tight on my improvised pack. I flexed my left arm the splint was gone, replaced by a tight cloth wrap. The sharp, blinding fire in my collarbone had finally faded; the bone was set, healed enough that I could move without gasping for air. Outside the high, tiny air vent near the ceiling, pale winter sunlight was streaming in.It was bright out. It was time."You're making noise," Caleb's voice cut through the dim room, low and warning.He was sitting near the stone stairs, methodically cleaning the bolt mechanism of his rifle with an oiled rag. He hadn't looked up, but he didn't need to. He knew every breath I took in t
DANTE'S POVThe heavy wooden door rattled at the far end of the corridor.My chest caved in as a small, familiar figure stepped out into the dim hallway. Her dark hair fell around her shoulders, her pale face illuminated by the flashing red emergency lights."Dante!" she gasped, her voice echoing soft and clear over the blare of the sirens."Elara!"I dropped my rifle to its sling, closing the distance between us in three long strides. I threw my arms around her, pulling her tight against my chest, breathing in the scent of her. Relief flooded through my veins so hard my knees almost buckled. I had her. After seven days of absolute hell, she was finally in my arms."I'm here," I whispered into her hair, my hands shaking as I held her. "I've got you, Elara. I'm taking you home."She didn't answer.She didn't wrap her arms around my neck. She didn't cry.I pulled back half an inch to look at her face, but my hands caught on thin air.I blinked hard, the red lights flickering in my eyes.
DANTE’S POVThe door bursts open before my guard can announce it.My hand moves to my gun instantly. No hesitation. No thought.Every man in the room reacts the same way, weapons drawn, bodies shifting into formation. Control is everything, and control has just been interrupted.The man who stumble
DANTE'S POVI watched her struggle with the decision. I watched the tears stream down her face. I watched her look at her pathetic brother on the floor and back at me.She would sign. They always did when you gave them no other choice.But something about her face kept pulling at my memory. Somethi
ELARA'S POVThe night air hit my face as I stepped out of the hospital's back exit. I pulled my jacket tighter around myself and checked my phone again.Eight fifteen. I still had forty-five minutes before I needed to be at that warehouse.My stomach twisted with fear every time I thought about it.
ELARA'S POVI couldn't just sit there. Not with Matteo in danger. Not with those men having him.I jumped off the couch, nearly tripping over my own feet as I grabbed my bag and keys. My hands were still shaking so badly I could barely grip them properly.I had to find him. Had to do something. I


![Fallen From Grace [Married to the Mafia Novel]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews