LOGINEileen never chose this life—sold to a dangerous mafia family as a child to save her mother’s life. Years later, she escapes, finding fleeting happiness and love in the arms of a gentle man. But her past isn’t finished with her. Dragged back into the clutches of José Santiago—the man who claims to own her—Eileen must navigate a world of brutal control, twisted power, and secrets that could destroy the only people she’s ever cared about. He wants her body, her obedience, her soul. But he doesn't get to have her heart. To protect her son and the family she left behind, Eileen must play the game. But as she plots her revenge and buries her grief, the line between survival and surrender begins to blur. She’s no longer the girl who was taken. She’s the woman who will burn everything down to take her life back. A dark romance of obsession, betrayal, and the fight for freedom.
View MoreTerlihat sebuah mobil sport mewah Lamborghini Aventador, memasuki kawasan mansion bergaya American Classic.
Bak adegan slowmo di film-film, seorang remaja perempuan keluar dari mobil kesayangannya itu. Alam seolah mendukungnya, dengan menghembuskan angin kearahnya sehingga menerbangkan rambutnya yang indah berkilau. Remaja perempuan itu memiliki paras yang menawan dengan kulit putih bersih, mata besar, alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, pipi yang sedikit chubby, memiliki kumis tipis, serta bentuk mulut mungil berwarna merah cherry. Belum lagi dengan tubuhnya yang tinggi semampai mencapai 167 cm, kaki jenjang dan pinggang yang ramping, dilengkapi pula dengan rambutnya yang berwarna gray perpaduan violet, berkilau dan bergelombang sepinggang yang terlihat sangat halus dan lembut. Ia membuka kacamata hitam yang sedari tadi bertengger manis dipangkal hidungnya dan meletakannya di kepala. Remaja perempuan itu berjalan memasuki mansion dengan percaya diri dan dagu terangkat. Terlihat suasana mansion yang tidak jauh beda dari sebelum ia memutuskan pergi dari rumah ini, rumah yang memiliki banyak kenangan masa kecilnya. Ia melewati air mancur yang menjadi penghias depan mansion mewah itu. Sekelebat ia mengingat kenangan masa kecilnya, dimana ia yang sedang belajar bermain sepeda diajari Daddy dan Mommy-nya. Saat itu, ia merasa sebagai anak paling beruntung di dunia. Sampai akhirnya semuanya berakhir, kebahagiannya direbut paksa, oleh orang-orang bajingan yang rakus akan harta. Dia berhenti di depan pintu masuk mansion itu, dan menekan bel-nya. Tidak lama setelah itu, pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita dengan mengenakan pakaian seorang maid. "Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya maid itu dengan sopan. "Saya ingin bertemu dengan Reynald Lucio Archer" Jawab nya dengan nada yang datar. "Apakah sebelumnya sudah berbuat janji terlebih dahulu?" Tanya maid itu lagi. "Sudah." ujarnya berbohong. "Baiklah, atas namanya siapa?". "Nancy Marcella Griselle." ~~~ "Nona bisa menunggu disini sebentar, selagi saya memanggil tuan Reynald." Ucap maid, dan dijawab anggukan singkat oleh Nancy, dia tidak terlalu perduli dengan maid itu, sedari tadi netra nya tidak berhenti melihat interior bagian dalam mansion mewah itu. Setelahnya maid itu pamit meninggalkan Nancy untuk memanggil tuannya. Nancy tidak berhenti memperhatikan sekitarnya sedari masuk ke dalam mansion, dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sekarang ia berada di foyer mansion itu yang terlihat sangat mewah, ruangan itu terpajang beberapa foto dan lukisan. Lantai nya full marmer dan di salah satu sisi dinding ruangan itu, terdapat rak besar untuk memajang banyaknya piala perhargaan beserta piagam, semuanya disusun dengan rapi. Dia berjalan pelan mengelilingi foyer, sembari mengamati ruang tunggu itu. Nancy berhenti di sebuah sisi dinding yang hanya terpajang satu foto berukuran besar yang berisi foto keluarga. Sepasang orang dewasa beserta ketiga anaknya, dengan si bungsu yang berada ditengah, dipangku oleh sepasang orang dewasa tersebut. Mereka, terlihat sangat bahagia di dalam foto resmi itu. Nancy mengamati foto berukuran sangat besar itu dengan ekspresi datar dan tatapan yang sulit diartikan, ntah apa yang sedang ia pikirkan. Dia tersadar dari keterpakuannya memandangi foto besar itu, setelah terdengar beberapa langkah kaki yang mendekati dirinya. "Nancy?" Suara itu, adalah suara yang sangat dia rindukan, namun juga sangat dia benci. Nancy membalikkan tubuhnya kebelakang, terlihat sepasang orang dewasa dan anak perempuan berusia tiga tahun. "Hello Reynald, long time no see, yeah." Ujar Nancy dengan ekspresi wajahnya yang tidak berubah, namun jika di perhatikan lebih teliti, senyum smirk terpatri diwajah cantiknya. Sungguh, dia sangat menikmati ekspresi terkejut dari sepasang orang dewasa itu. "How are you Reynald?" Tanya Nancy dengan tak acuh dengan sedikit menggerakan dagunya dan alisnya ke atas penuh dengan keangkuhan di wajah datarnya. Pertanyaannya tidak mendapatkan balasan, mereka hanya terpaku memandangi dirinya dengan ekspresi terkejut. "And you," netranya beralih kepada seorang wanita dewasa di samping Reynald. "You looks so shining, Luna," lanjutnya sembari melihat wanita dewasa itu dari atas hingga bawah. "Managed to extort my father money's, huh?" Tanya Nancy dengan masih memasang ekspresi datarnya yang seakan meremehkan. "Nancy!" Sentak pria dewasa itu dengan nada yang sedikit meninggi. Namun tak dihiraukan oleh sang pemilik nama, Nancy malah beralih menatap seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang digandeng oleh Reynald. "She is your child?" Tanya Nancy, seperti biasa dengan nada datar sehingga terdengar bukan seperti sebuah pertanyaan. "From the womb, of a bitch." Lanjutnya dengan nada mengejek yang terdengar seperti sebuah pernyataan yang menjengkelkan, tak lupa senyum mengejek yang tetap mempertahankan keangkuhannya. "Nancy!" Bentak Reynald dengan wajah yang mulai mengeras. "What?!" Balas Nancy cepat dengan nada tinggi juga. Hening menyelimuti mereka beberapa saat, mereka hanya saling menatap tajam dengan diam. Terdengar helaan napas dari Reynald sambil memejamkan mata, dia mencoba untuk tetap bersabar. Setelahnya wajah Reynald terlihat lebih tenang dan membuka matanya, kembali menatap Nancy. "Please, don't spoil it any more." Ucap Reynald dengan lirih. Yang membuat Nancy mengangkat kedua alisnya. "Daddy sangat merindukanmu, honey." Lanjutnya dengan wajah sendu. "Ouh, really?" Tanya Nancy dengan tak percaya. "But, you look so happy with your new family." Lanjut Nancy pelan dengan menatap mata pria dewasa yang mengaku ayah nya itu. Namun, dapat Reynald lihat, terdapat kekosongan di mata Nancy. "This is your family too, honey." Ujar Reynald pelan, perasaanya campur aduk melihat anaknya kembali setelan sekian tahun berpisah. "Ouh, no thanks." Sanggah Nancy, dengan senyuman anggkuh. "I don't want to have a crazy family." Terlihat Reynald yang ingin membalas perkataan Nancy, namun harus terhenti karena Nancy kembali berbicara yang membuat percakapan mereka selesai. "Ouhh, Im so tired, I have to go to my room." Ujar Nancy, setelahnya dia berlalu begitu saja tanpa berpamitan. Melewati mereka yang diam terpaku, dengan jalur ke tengah dimana mereka berdiri, sehingga membuat mereka terpisah berjarak. ~~~ Nancy membuka sebuah pintu besar di lantai dua mansion, dan setelahnya dia masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat sebuah kamar tidur miliknya yang tidak ada perubahan sedikitpun sejak dia memutuskan pergi dari mansion itu. Kamar tidur besar dengan dominan warna putih gading dan peach yang terlihat sangat nyaman dan elegan. Dindingnya dipenuhi banyaknya foto dan hasil karyanya sedari kecil, mulai dari gambar acak-acakan hingga lukisan yang indah. Bukan hanya lukisan saja, banyak lagi karyanya yang lain, yang dirinya buat saat ia merasa bosan dan tidak ada kegiatan. Tempat tidur berukuran Queen size yang menempel dengan dinding yang juga terdapat jendela dan pintu balkon. Di sisi lain ranjang itu, terdapat sebuah nakas yang diatasnya diletakkan lampu dan jam tidur. Dua rak sedang yang berdampingan di salah satu sisi ruangan yang berisikan buku, piala penghargaan miliknya, beserta beberapa koleksi kaca yang berbagai macam bentuk, dan beberapa mini flower. Disebelahnya terdapat meja belajar yang terdapat lampu belajar dan beberapa tumbuhan kaktus mini di atasnya. Disalah satu sisi kamar terdapat pintu yang menghubungkannya dengan bathroom yang berfasilitas lengkap toilet, bathtub, wastafel beserta cermin, showroom, dan juga Walk in Closet, yang di dalamnya terdapat banyak lemari diseluruh sisinya, dan juga terdapat meja rias dengan lampu yang mengelilingi kacanya, beserta rak skincare dan makeup di sebelahnya. Di sudut lain kamar itu, terdapat sebuah piano berwarna putih dan beberapa alat musik lainnya seperti biola, gitar dan kalimba acrylic. Di balkonnya juga terdapat dua kursi nyaman yang ditengahnya meja, untuk bersantai. ~~~ Setelah pergi meninggalkan mereka, Nancy menyempatkan untuk berkeliling mansion sembari mengenang masa kecilnya yang bahagia. Dan setelah dirinya puas dia berakhir disini, dikamar miliknya yang begitu nyaman. Nancy meletakan tas jinjing bermerek miliknya dan terduduk di atas kasur. Kamarnya terlihat sangat bersih meskipun sudah enam tahun dia tinggalkan, sepertinya benar, bibi Hailey tidak akan membiarkan debu mengotori kamarnya sedikitpun. Dia tidak membawa apapun kesini, tujuannya adalah untuk mengemasi barangnya agar dipindahkan ke apartemen milik mendiang Mommy-nya, esok hari oleh jasa pengangkut barang yang telah ia sewa. Dia merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu, dengan tangan terbentang dan kaki menjuntai kelantai. Ia hanya terdiam dengan pandangan kosong sembari menenangkan pikirannya. Cukup lelah memang setelah duduk di pesawat selama 24 jam, dan langsung ke rumah lamanya tanpa beristirahat terlebih dahulu. Sepertinya dia harus menginap semalam di mansion ini, meskipun sangat malas rasanya.Did you do what I asked?” José asked the moment he walked in. His voice held that familiar sharpness, that commanding tone that always made Eilleen’s stomach tighten.Eilleen let out a tired sigh. “Yes,” she replied quietly.“That’s my girl,” José said with a smirk as he reached for her, patting her head like she was some obedient pet. “You see? It wasn’t that hard.”Eilleen felt disgust rise through her as she watched him through the mirror. She was sitting in front of her vanity, brushing her hair slowly, trying so hard to keep her face neutral. José stepped behind her, lifting her hair and pressing a kiss against her neck.“You see,” he whispered smugly, “you are a Santiago after all.”“No.” She pushed him away instantly. “I’m not.”She stood quickly and went straight into the bathroom, locking the door behind her. Inside, she leaned her forehead against the cool wood and closed her eyes, trying not to cry.José didn’t bother coming after her. She heard the bed creak, then silence.
The drive was a little more than thirty minutes, yet to Eilleen, it felt like an entire hour of suffocating silence. Her fingers tightened around the steering wheel each time she imagined what she was about to do. Every lie she rehearsed sounded worse than the last, but she had no choice—not if she wanted to keep her son safe.When she finally pulled into the quiet compound, her heart thudded painfully. The house was a small, neat bungalow with a garden full of colorful flowers blooming at the front. Hibiscus, roses, lilies—she wasn’t sure—but their beauty made her throat tighten even more. A home this peaceful did not deserve the kind of news she carried in her chest.On the porch, a woman sat with glasses perched on her nose, speaking softly into her phone. Eileen recognized her immediately—Jocelyn’s mother. Seeing her in person felt like being struck in the stomach. She was thinner than Eileen expected, with worry lines around her eyes. A woman who had carried too many burdens for
That evening, Eilleen slept earlier than usual. Her body was exhausted, but her mind carried a heavy weight that refused to rest. Josh had also retired to his room not long after dinner, quietly sketching and drawing.The soft creak of the door stirred her from her sleep. She turned slightly, blinking against the dim light. Jose walked in, the faint scent of his cologne mixing with the sharp smell of alcohol and gun oil. He carried his briefcase, setting it on the table beside the bed. He slipped off his shoes gently and placed them neatly on the shoe rack behind the cupboard.“Where’s Josh?” he asked, his tone flat as he pulled off his shirt.“In his room,” Eilleen murmured, her voice still heavy with sleep.“Okay,” Jose said simply, giving a small nod.He sat on the edge of the bed, scrolling through his phone for a moment. The blue light illuminated his sharp features, his expression unreadable. Then he turned toward her. “I need you to do something for me tomorrow.”Eilleen slowly
As soon as José and his men left, Eilleen slipped quietly into the kitchen. Her hands trembled as she grabbed her phone and typed a quick message to Detective Alvarez:Eilleen: They’re onto you. You need to be careful.It didn’t take long before a reply came.Alvarez: I know they are, but I can take care of myself.She sighed and texted again, Are the men talking yet?Alvarez: They are, but they aren’t saying anything to implicate José yet.Eilleen’s shoulders slumped. She knew this would be difficult. José’s men were fiercely loyal to him, bound not just by money, but fear. No one dared betray José Santiago.Just then, the sound of hurried footsteps echoed from the stairs. Josh came running down, his yellow soccer ball in hand.“You’re not ready yet!” he exclaimed as soon as he spotted her still in her white robe.Eilleen blinked, confused. “What?”“Mom, I told you I had practice this morning!”Her eyes widened. “What? Really? Oh my God…. I’m sorry, honey. I’ll change right now!”She
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews