ログイン"I just want to ask you one question before you walk away Hailey. How loud do you think you'll scream when I fuck you”? My name is Hailey King, and I’m living a lie. I’ve hidden the truth from everyone including my own brothers just to keep what I do and who I really am a secret. It’s not that I want to lie, it's just that I don't have a choice. I thought I was holding it all together, thought I was strong until I saw Jayden Knight last New Year’s Eve. He stripped me bare—emotionally and physically. Jayden is everything I want but everything I know I can’t have. We’ve known each other most of our lives, but I’ve kept my distance since I turned eighteen, because I knew deep down he was dangerous to my carefully built façade. And I was right. After that night we spent together, I haven’t been able to stop thinking about him or how completely he ignited something in me I didn’t know still existed. Now, I crave Jayden like he’s a drug I can’t quit… and that one unforgettable night still haunts me. But I'm in for a surprise the next morning.
もっと見る“Seratus juta! Saya lepas seratus juta!” seru seorang pria paruh baya lantang, menyebut harga untuk Kalea—putrinya yang kini menggigil ketakutan di belakang punggungnya.
Dion sudah gelap mata. Tumpukan utang akibat keranjingan judi online semakin mencekik. Semua jalan sudah buntu. Dia tak lagi tahu harus bagaimana menyelesaikan jeratan setan itu.
Segala yang dimilikinya telah habis. Rumah tergadai, harta benda ludes, pekerjaan pun hilang. Satu-satunya cara yang terlintas di pikirannya hanyalah mengorbankan Kalea. Putrinya sendiri.
“Bagaimana, Bos?”
Seorang pengawal berbadan besar yang berdiri di depan Dion menoleh pada tuannya. Dia sedikit membungkuk penuh hormat pada pria jangkung yang duduk bersilang kaki di kursi bersandaran tinggi.
Pria bertampang dingin itu tak segera menjawab. Matanya yang tajam melirik Kalea, yang terus berusaha menyembunyikan diri di balik tubuh ayahnya.
“Apa kelebihan putrimu, sampai berani-beraninya kamu datang padaku?” tanyanya dengan suara rendah namun menekan.
“Putri saya cantik, Tuan. Sangat cantik! Dan saya jamin seratus persen, Kalea masih segelan. Dia belum pernah disentuh lelaki mana pun. Masih suci. Pacaran saja belum pernah. Bonusnya, dia masih segar, masih muda, baru saja lulus SMA tahun ini. Dia pasti bisa memuaskan Anda.” Dion buru-buru menjelaskan, lalu menarik Kalea dan mendorongnya ke hadapan pria itu.
Dion tak ingin kesempatan ini hilang. Dia sudah bersusah payah menggunakan berbagai cara agar bisa bertemu langsung dengan pengusaha muda kaya raya bernama Hamish ini.
Baginya, tak ada orang yang lebih cocok untuk membeli Kalea selain Hamish. Bukan hanya karena uangnya tak berseri, tapi juga karena kegemarannya mengoleksi perempuan sudah terdengar ke mana-mana.
Kabar yang beredar, Hamish memiliki kediaman khusus berisi wanita-wanita simpanannya. Dion ingin Kalea menjadi salah satunya, agar kelak putrinya itu bisa berguna sebagai mesin uang.
“Aku tak yakin….” Hamish bersedekap, menilai Kalea. Gadis itu gemetar dengan pakaian sangat terbuka. Crop top tanpa lengan dan celana super mini, mengekspos kulit putih bersihnya.
Riasannya begitu mencolok. Bibirnya dilapisi lipstik merah terang, bedak tebal menutupi wajahnya, ditambah pemerah pipi yang tampak seperti bekas tamparan.
Hamish mendengkus. Senyum sinis muncul di bibirnya. Gadis di depannya jelas bukan seleranya.
Baginya, Kalea masih terlalu hijau. Apalagi usianya terlalu jauh dibanding dirinya yang sudah tiga puluh lima tahun.
Melihat ekspresi Hamish, sang pengawal langsung menyimpulkan.
“Pergilah! Bosku tidak suka anakmu!”
“Apa?” Dion terperangah.
“T-tapi… oh, Tuan! Lihatlah sekali lagi. Kalea cantik, tubuhnya bagus. Lihatlah!” Dion menarik tangan Kalea, berusaha melucuti pakaian putrinya.
“Jangan, Bapak! Jangan!” Kalea meronta dan menangis keras. Tapi Dion sudah tumpul rasa kemanusiaannya. Dia tak peduli, tak punya iba sedikit pun.
“Sudah kubilang! Berpakaian yang benar! Yang seksi! Tunjukkan tubuhmu pada Tuan Hamish!” Dion menggeram, memaksa melepaskan pakaian putrinya.
“Jangan, Pak!” Kalea meronta, terus melawan, hingga tanpa sengaja tangannya menampar wajah sang ayah.
“Kurang ajar kamu, Kalea!” Dion murka. Dia mendorong Kalea hingga jatuh tersungkur, lalu mengepalkan tangannya hendak memukul.
“Ampun, Pak! Jangan!” Kalea memohon dengan air mata bercucuran. Tubuhnya gemetar melihat tangan ayahnya yang siap menghantam.
Tepat sebelum tangan itu mendarat ke tubuhnya, Hamish tiba-tiba saja bersuara. “Berhenti!”
Tangan Dion langsung menggantung di udara.
“Berani-beraninya membuat keributan di tempatku. Kau kira siapa dirimu?” Hamish menggeretakkan gigi.
“A-ampun, Tuan!” Dion tersadar, lalu bersimpuh meminta maaf.
Hamish menghela napas kasar. Tatapannya berpindah ke Kalea yang menangis tersedu, memeluk dirinya sendiri.
“Jordi!” Hamish menoleh pada pengawal pribadinya, lalu memberikan kode lewat anggukan kepala.
Jordi mengangguk, lalu keluar. Tak sampai lima menit, dia kembali membawa sebuah paper bag cokelat. Saat Hamish mengayunkan dagunya, Jordi pun melemparkan paper bag cokelat itu ke lantai, tepat di hadapan Dion.
Bergepok-gepok uang di dalamnya pun terburai.
“Aku beli dia. Seratus lima puluh juta.”
Melihat itu, Dion tersenyum semringah. Wajahnya langsung berseri-seri saat dirinya berlutut dan mulai mengumpulkan uang yang berhamburan di lantai itu.
Saat Dion selesai mendapatkan uangnya, Hamish pun berkata, “Pergi, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Anakmu sudah jadi milikku. Jangan sekali pun mencarinya, atau kau akan menanggung akibatnya.”
“Hah? Ah! B-baik, Tuan! Baik!” balas Dion seraya cepat-cepat pergi. Tanpa menoleh, dia meninggalkan Kalea yang menangis gemetar.
Kalea beringsut. Wajahnya pucat saat Hamish berdiri menjulang di depannya. Dengan tangan gemetar, dia berusaha menarik celana pendeknya lebih ke bawah, sementara tangan lain menutupi bagian atas tubuhnya.
“A-ampun, Tuan,” ucapnya lirih ketika Hamish berjongkok dan menatapnya dengan begitu lekat.
Gadis itu memejam. Air mata jatuh membasahi pipinya. Dia sangat takut.
“Siapa namamu?” tanya Hamish.
“K-Kalea,” jawabnya terbata. Lidahnya kelu saking tak sanggupnya berhadapan dengan Hamish.
“Berapa usiamu?”
“D-delapan belas.”
Hamish menatapnya dalam. Dari dekat, dia melihat lebam samar di balik bedak tebal Kalea, juga di beberapa bagian tubuh.
“Jangan menangis, Lea.”
Kalea tertegun mendengar panggilan yang Hamish gunakan untuknya.
Lea... ah, dia sangat merindukan panggilan itu.
Sejak ibunya meninggal, tak ada lagi yang memanggilnya begitu.
Perlahan, Kalea membuka mata, memberanikan diri menatap Hamish. Dan di saat itulah, dia terpana. Baru kali ini dia melihat wajah pria itu dengan jelas. Kontur tegas, hidung mancung, dan sepasang iris cokelat terang.
Jadi, dia yang bernama Tuan Hamish….
Pria itu tampan dan berkarisma. Tak heran banyak wanita rela menyerahkan diri padanya.
“Jangan takut. Aku bukan monster.” Hamish menatap tubuh Kalea yang masih gemetar. Dia melepas jasnya, lalu menyodorkannya.
“Pakailah. Tutupi tubuhmu.”
Dengan takut-takut, Kalea menerima jas itu, lalu memakainya. Aroma parfum maskulin dengan sentuhan woody dan musk langsung menyergap inderanya.
“Aku ada meeting jam dua dengan orang pertambangan. Panggil asistenku dan siapkan mobil,” perintah Hamish.
“Baik, Tuan,” jawab Jordi sambil mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
“Oh iya, Tuan…”
“Apa?” Hamish menoleh singkat.
“Kalea. Maksud saya, Nona Kalea… Anda akan tempatkan di kediaman yang mana?”
“Di dapur.”
“D-dapur?” Jordi terkejut.
“Ya. Suruh saja dia jadi tukang cuci piring, atau apa pun terserah.”
“Bukan untuk dijadikan wanita…?” Ucapan Jordi menggantung.
Hamish berdecak pelan.
“Aku tak berminat. Dia terlalu muda. Terlalu polos. Aku membayarnya hanya karena kemanusiaan. Kalau tidak, ayahnya pasti tetap menjualnya, dan mungkin hidupnya akan berakhir jauh lebih buruk.”
Jordi terdiam, lalu mengangguk paham. Diam-diam dia melirik majikannya, menyimpan rasa heran. Tak pernah disangka, di balik sikap dingin itu, Hamish masih menyimpan secuil rasa iba pada orang asing.
Hal ini pun membuat Jordi bertanya-tanya, apa… hubungan Kalea dan Hamish hanya akan berhenti sebatas majikan dan pelayan saja?
Dengan alis tertaut, Jordi membatin, ‘Rasanya … tidak akan sesederhana itu ….’
"My parents died in a car accident years ago, so there is just me, Debby, and my three brothers. They all know. Jett told them. Since he got injured on the last mission, he did not have much of a choice. I think they are all trying to get information from different sources. I could not wait any longer. I came to ask Marcus to help when we kept hitting obstacles from conventional methods. I did not realize he had never told anyone but Blake about PRO. Pretty much all of their covers were exposed." "Only to some of the governments," Christine responded. "Basically the very people they did not want to know about them. Our government did not leak the information to the public, so Marcus did not have to tell Aileen or the rest of the family." I thought about how worried this woman probably was about her husband, and I felt guilty. "I am sorry. Really, none of the Roberts family should have had to get involved." "I do not blame you," Christine replied in a quiet voice. "If I had a siblin
I knew the former Special Forces Roberts brother had married a previous FBI agent. My brother, Jett, kept me updated on Roberts family news since he had been a teammate of Marcus's for several years. He had mentioned the unlikely pair of lovers once or twice. "I am Sophia Bennett. My sister is the reason your husband is not home right now." Christine nodded toward the cabin. "Come in, please. I will get you something warm to drink. You look like you are freezing." She turned and gestured for the dog to go back to the house, and I followed her. We were settled into the large but welcoming cabin before she spoke again while she was making coffee. Not knowing what else to do, I sat at the table in the small dining area. "I am sorry about your sister," Christine said kindly. "It is terrible when an innocent person gets caught up in the madness of the world." I sighed. "Your brother in law, Marcus, said that Debby knew what she was getting into, and she knew the dangers. He was corre
SOPHIA Still feeling confused and worried, I had grabbed my jacket and put on a pair of hiking boots not long after Blake left my room, needing to be somewhere that I did not feel trapped with my own thoughts. Unfortunately, I had not been able to escape my mind, and I was just as anxious several hours later, even after I felt like I had walked for miles. I was an experienced hiker, but I realized that I had thrown every rule of hiking and navigation out the window as I had walked in a daze, paying no attention to anything except my internal thoughts. Damn it. I finally became aware of where I was, and eyed the snow that was still on the ground. Spring was coming, but it had not arrived yet, and I was cold, following a path that seemed like it led nowhere. Pine trees lined the concrete road, and I kept moving when I saw smoke in the distance, quite certain it was someone's fireplace, so there had to be people ahead. I kept moving. Even after hours of thought, I was not any clo
I smiled at her. "I still consider myself the luckiest bastard on the planet to have been your first." "I am glad it was you," she said in a serious tone. I could not say that Sophia was the only woman I had ever been with. I had been a horny young man before I met her, but I could say being with her had deeply changed me. After Sophia, and the way I had felt with her, no woman could ever touch my soul in the same way. Jealous emotions seized my heart, squeezing it like a clamp as I thought about Sophia being with any other man. It did not matter if thirteen years had gone by without me seeing her. What was it that made me feel like she belonged to me just because I had once made her scream and tremble in a powerful release? Seeing her again was making me lose my fucking mind. I stood up suddenly, worried that I could not control my primal instincts to drag Sophia away as my very delayed reward. I was a respected public servant, and all I could think about was getting Sophia na
“Because I need the reassurance that you’re fucking really alive and getting better,” he told her with effort. “This whole thing, your disappearance, the long search, the endless days of wondering where you were and what the hell had happened to you, wondering if you were dead or alive and it scare
Marcus rolled his eyes. “Observation. The few times I’ve seen them together since Zane left Rocky Springs, it was obvious. I’ve seen the way they look at each other. I don’t doubt that Ellie truly cares about Zane. It’s not hero worship. She’s always liked him. He’s always liked her. I’m surprised
Ellie had met with the police, and she had given a statement but since the man responsible was dead, they accepted her short explanation without the full details and closed the case. Zane had felt relieved, even though he knew that one day she would have to face her demons by talking about it. May
He was quiet for a moment, as if thinking about her question. Finally, he said, “Not really. That was when I realized I was better off without a relationship. Now I just fuck and forget about anything long term.” He tried to sound casual, but Ellie could hear the sadness under his words. The girl






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビュー