INICIAR SESIÓN"Pfftt...!" "Buahahaha, astaga... seriusan, lu gak lagi ngarang cerita komedi, kan?" Maya tertawa lepas hingga harus memegangi perutnya yang mendadak mulas, merasa geli mendengar berita mengejutkan yang baru saja dilontarkan rekannya itu. "Dih, malah diketawain! Ini beneran, Beb!" sahut Risa gemas. "Gak mungkin, ah! Jangan ngadi-ngadi lu..." Maya masih bersikeras menggeleng, menolak percaya. Yah, Bagaimana bisa Maya percaya begitu saja? Maya adalah orang yang paling tahu bahwa standar selera Leon jauh lebih matang—pria itu menyukai wanita dewasa, bukan tipe centil kekanakan, manja yang haus perhatian. "Kalau lu gak percaya, nih lihat sendiri akun sosial medianya si Celline. Udah dua kali loh, dia pamer foto dinner romantis berdua sama Pak Leon," ujar Dina sambil menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Maya. "What?!" Mata Maya sontak membelalak. Ia merampas ponsel dari tangan Dina, meneliti dua postingan berbeda di mana Celline mengambil foto selfie dengan latar belakan
Tok, tok. Ketukan pintu ruang kerja CEO terdengar di pagi yang baru. Leon, yang baru saja tiba di kantor dengan sisa-sisa kepenatan dan mata merah kurang tidur, mendongak dari meja kerjanya. "Masuk," sahut Leon, sembari sibuk menatap layar laptopnya. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Celine yang melangkah masuk dengan wajah amat lesu. Wanita itu melangkah mendekati meja kerja Leon, kemudian meletakkan selembar kertas di atasnya. Seketika, mata Leon membelalak saat menyadari tulisan yang tertera pada kertas tersebut. Sebuah surat pengunduran diri dari Celline. "Apa Ini?" desis Leon, menatap tajam ke arah Celine dengan rahang mengeras. Celine langsung mendengus sinis. Pertahanan dan kesabarannya yang sudah habis selama dua minggu terakhir akhirnya meledak begitu saja. Ia sudah tidak peduli lagi pada ancaman atau kemarahan sang bos. "Maksud saya jelas, Pak! Saya may resign!" sembur Celine. "Saya udah nggak sanggup lagi kerja di sini! Selama dua minggu terakhir jadi asiste
Sebenarnya, di dalam hati Kevin yang paling dalam, ia sama sekali tidak sudi melihat Zaskia—wanita yang sedang mengandung anaknya menikah dengan pria lain, sekalipun pria itu adalah atasannya sendiri. Kevin sengaja berpura-pura menuruti sandiwara Zaskia hanya sembari diam-diam menyusun rencana matang untuk waktu yang tepat, demi menyelamatkan kariernya sekaligus mendapatkan Zaskia dan anaknya. "Pak Leon sedang tidak sehat malam ini. Beliau butuh istirahat," ujar Kevin penuh penekanan, mencoba menarik lengan tunangannya itu mundur. "Urusan tanggal pernikahan dan pertemuan keluarga besar bisa dibicarakan besok bersama Pak Edward dan Bu Liliana. Tolong jangan membuat kondisi Pak Leon makin drop." "Tapi Kev—" "Aku yang akan atur semuanya besok. Serahkan semuanya padaku, Nona," bisik Kevin tegas tepat di samping telinga Zaskia, memberi sinyal tersembunyi agar wanita itu menuruti perintahnya sekarang. Zaskia menghentakkan kakinya kesal, melirik Leon yang bahkan tak mau memandangnya
"Pembohong! Saya gak percaya!" Leon bersikukuh, kedua tangannya mengepal erat di atas lutut untuk meredam gemetar emosinya. "Hubungan kita nyata, Maya! Saya bisa merasakannya, dan kau jelas-jelas udah jatuh cinta padaku!" "Tolong, Anda... jangan terus-terusan memaksa saya!" "Panggil nama saya! Panggil aku seperti waktu kita berdua!!" rengek Leon frustrasi. Maya mendengus kesal. Sifat keras kepala dan pemaksa inilah yang paling ia benci dari pria muda di hadapannya itu. "Cukup! Saya harus kembali bekerja," ucapnya final sambil bangkit berdiri dari sofa. Namun Leon sama sekali tidak berniat membiarkannya pergi begitu saja. Setelah dua minggu mati-matian mencari celah untuk bicara berdua, ia tidak akan melepaskannya semudah itu. Dengan gerakan kilat, ia menarik tangan Maya hingga tubuh wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas pangkuannya. "Le-lepasin saya!" teriak Maya panik, meronta-ronta saat kedua lengan kekar Leon melingkar erat mengunci tubuhnya. "
Sesampainya di gedung kantor. "Makasih banyak ya buat traktirannya, Pak... eh, maksudnya, Robby," ucap Maya terbata-bata. Lidahnya masih terasa kelu memanggil nama depan atasannya itu secara langsung. Sudah tiga tahun mereka bekerja di satu gedung yang sama, rasanya jadi canggung sekali. "Besok-besok kalau kita makan siang bareng lagi, gantian kamu ya yang traktir aku," balas Robby dengan senyum sumringah. "Siap, gampang itu!" serunya riang. Robby memang sudah bulat tekad untuk tidak ragu lagi pada Maya. Toh, Maya tidak punya kekasih, dan dirinya pun masih melajang. Jadi, tidak ada salahnya mulai mendekati wanita itu secara perlahan. Cekrek. Dengan sopan, Robby membukakan pintu kaca ruangan kerja dan mempersilakan Maya masuk terlebih dahulu. "Makasih, ya," ucap Maya sambil mengulum senyum, lalu melangkah masuk. "Jangan lupa janji traktirannya loh," kekeh Robby yang berjalan tepat di sampingnya. "Duh, gak sabar banget deh! Tunggu tanggal gajian ya, nanti aku traktir s
Tok, tok. Ketukan pelan di partisi meja membuat Maya mendongak. Sosok Robby sudah berdiri di sana dengan senyum ramah yang selalu bisa diandalkannya. "Maya," sapa Robby lembut. Maya tersenyum tipis, merapikan beberapa lembar kertas terakhir. "Eh, Pak Robby. Ada apa, Pak?" Robby berdehem pelan, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya mendekati meja Maya. Dalam hati, pria itu sebenarnya menyimpan rasa iba yang teramat sangat. Mengingat kembali bagaimana Maya tiba-tiba digantikan posisinya oleh Celine—sosok asisten berpenampilan mencolok ala cabe-cabean yang kerjanya hanya bisa mengeluh—serta desas-desus bagaimana sang bos muda, Leon, sempat memperlakukan Maya secara tidak wajar hingga wanita itu memilih mundur sebagai asistennya. Robby berasumsi, karena Maya tegas menolak dan menghindar, posisinya akhirnya direbut paksa oleh Celine yang baru bekerja. Bagi Robby, Maya adalah korban dari atasan mereka yang arogan dan semena-mena. "Hmm... jam istirahat ini, bisa ikut aku sebentar







