Chapter: Bab 30 Menantang JunaBella menyeringai, sebuah ekspresi yang mendadak membuat Juna mengerutkan dahi. Amarah yang tadi meluap di mata gadis itu kini berganti menjadi kilatan licik.Akhirnya Bella paham apa maksud dari perkataan Juleha tempo hari tentang cara menggoda pria. Ternyata benar, ia tidak perlu melakukan banyak usaha untuk membuat pria seperti Juna kehilangan kendali. Cukup dengan sedikit permainan mental, dan keadaan bisa berbalik seratus delapan puluh derajat.Bella sengaja tidak memberontak saat tangan berat Juna masih mengunci bahunya. Sebaliknya, ia justru membiarkan tubuhnya melemas, sedikit condong ke arah dada Juna yang panas. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata gelap pria itu dengan tatapan yang kini sayu namun menantang."Oh, jadi kau ingin aku bersikap 'sopan', Juna?" bisik Bella, suaranya sengaja dibuat rendah dan mengalun manja, sangat kontras dengan teriakan kemarahannya tadi.Bella bisa melihat jakun Juna bergerak saat pria itu menelan ludah. Dalam hati, Bella bersorak. Ter
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Bab 29 Diluar Hujan Didalam PanasBella tersentak, wajahnya seketika panas karena tertangkap basah. Ia segera menarik napas tajam dan berusaha mengembalikan ketenangannya dengan cara menyerang balik."Jangan terlalu percaya diri, Juna! Dan kenapa kau suka sekali membuatku terdengar seolah aku ini gadis yang sangat nakal?" balas Bella sengit, mencoba menutupi kegugupannya.Juna akhirnya menoleh perlahan. Seringai tipisnya muncul di balik temaram api, terlihat sangat provokatif. "Tidak sulit kok meyakinkanmu tentang fakta itu. Tapi aku tidak tahu kenapa kau terlalu meributkannya. Kau hanya benci karena aku mengatakan hal yang benar, kan?" ucap Juna santai."Yang aku benci adalah kebiasaan burukmu yang selalu ikut campur dalam urusanku!" semprot Bella. Ia merapatkan kain wol di tubuhnya, berdiri dengan wajah cemberut. "Urusanku dengan calon suamiku, urusan rambutku, bahkan cara aku menatapmu saja ... itu sama sekali bukan urusanmu, Tukang Kebun!""Jadi benar, kan? Kau memang suka menatapku," goda Juna dengan nada suara y
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Bab 28 BerteduhSuara gemuruh petir seolah membelah langit saat Juna menarik tali kekang Apollo menuju sebuah pondok kayu tua. Pondok itu tampak kokoh meski dimakan usia, tempat para penebang kayu biasanya beristirahat. Setelah memastikan Apollo aman di bawah atap tumpukan kayu, Juna menyambar pergelangan tangan Bella dan membawanya masuk ke dalam pondok."Duduk lah di sana," perintah Juna pendek, menunjuk sebuah kursi kecil kayu tua yang tertutup jerami kering.Bella menurut tanpa bantahan. Giginya bergelatuk, pakaian tipisnya basah kuyup hingga menempel di kulit, mencetak lekuk tubuhnya dengan jelas. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang mustahil didapatkan dari udara hutan yang basah.Juna tidak segera mendekat. Dengan gerakan tangkas, ia mengumpulkan sisa-sisa kayu kering di pojok ruangan. Ia berjongkok, fokus menyalakan api. Bella hanya bisa memperhatikan punggung lebar pria itu yang bergerak ritmis. Otot-otot di balik kemeja basahnya menegang setiap kali ia memicu percika
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Bab 27 Badai di Balik Kata-KataKeheningan menyelimuti mereka selama lebih dari lima menit, hanya menyisakan deru air sungai dan napas yang perlahan mulai stabil. Juna berdeham, memecah kesunyian dengan nada yang tidak biasa—ada keraguan di sana. "Apakah ... aku sudah menyakiti perasaanmu?" Bella mendengus, matanya masih menatap riak air. "Memangnya kau peduli?" "Aku tidak berniat membuatmu menangis, Bella," gumam Juna. Namun, ia segera menambahkan dengan nada menyelidik, "Tapi perubahan suasana hatimu ini ... apa karena ucapanku, atau calon suamimu juga mengomentari rambutmu? Apa itu yang membuatmu mendadak sesensitif ini?" "Aku tidak bad mood!" Bella berbalik dengan kilat amarah di matanya. "Dan dia tidak mengomentari rambutku. Hanya kau yang tidak bermoral sampai tega menghina warna rambutku!" Juna terkekeh hambar, sebuah suara yang dipaksakan agar tetap tenang. "Jelas sekali kau sedang kesal. Dan soal moral? Aku sudah sekuat tenaga menjaga tanganku agar tidak menyentuhmu, bukan? Apa kau menyiratkan aku
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 26 Lidah Tajam Tukang Kebun"Apapun akan lebih baik daripada berada di dekatmu," desis Bella, berusaha mengembalikan kewibawaannya. "Apakah tadi aku sudah menyebutkan 'keras kepala'?" tanya Juna sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah meratapi nasibnya harus berurusan dengan Bella. "Itu sudah tercakup dalam 'kepala batu'!" balas Bella ketus. "Dan aku tahu satu lagi yang aku lupakan: menjengkelkan! Sekarang, menjauh dariku." "Aku tidak mau." "Apa?!" "Bella sekarang kita sudah pergi jauh lebih dari satu mil dari rumahmu, lagipula aku bukan pria yang tega meninggalkan gadis bodoh sepertimu sendirian di hutan," Juna berujar, suaranya rendah dan menjengkelkan. "Lagi pula, jangan berbohong ... aku tahu kau menikmati setiap detik saat tubuhmu menempel padaku di atas Apollo tadi." Bella tertawa hambar. "Percaya diri sekali dirimu. Duduk di depanmu tadi tak lebih dari sekadar keharusan agar aku tidak jatuh ke tanah. Jangan pernah mengira sekejap pun bahwa aku menikmatinya." "Mundur! Lima meter dari tempa
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 25 Sama-sama MeledakJalur setapak menuju puncak pegunungan mulai menyempit, diapit oleh deretan pohon pinus yang menjulang tinggi. Udara dingin dataran tinggi mulai menusuk, namun Bella justru merasa gerah. Punggungnya menangkap setiap debaran jantung Juna yang merambat melalui kemeja tipis pria itu. "Kau terlalu tegang, Bella. Ikuti ayunan langkah Apollo," bisik Juna lagi. Suaranya berat, bergetar tepat di tengkuk Bella, mengirimkan sengatan halus yang membuat bulu kudunya meremang. Tangan kekar Juna yang memegang tali kekang di sisi tubuh Bella seolah mengurungnya dalam dekapan tak kasat mata. Setiap kali Apollo melompati gundukan tanah, tubuh mereka bergesekan—keras dan lembut yang menyatu dalam ritme yang berbahaya. "Aku bisa jatuh kalau kau terus menempel padaku seperti ini," desis Bella, meski jemarinya justru meremas surai Apollo lebih kuat, mencari pegangan. Juna terkekeh, sengaja memajukan tubuhnya, menghapus sisa jarak yang ada hingga dada bidangnya menekan sempurna pada punggung Bella. "J
Last Updated: 2026-04-01

Aku Bukan Istrimu Lagi
Katakan padaku kalau dia ini adalah anakku!" tegas Sagara dengan sorot mata nyalang itu, ia terus menuntut jawaban yang pasti dari mantan istrinya, Tiara.
Nafas Tiara tertahan, dadanya terasa amat sesak saat mantan suaminya melontarkan pertanyaan itu, kedua tangannya mengepal kencang, ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk terus melanjutkan kebohongan yang menyakitkan ini.
"Dia bukan anakmu! Dia anak Rangga," tegasnya, dengan mata yang berkaca-kaca.
Dulu Tiara sangatlah mencintai mantan suaminya, Sagara. Namun naas kebahagiaan pernikahan yang baru dijalani selama setahun lebih, harus berakhir dengan penuh air mata.
Sagara telah melakukan tindak KDRT terhadapnya, hingga Tiara sudah tidak tahan lagi dan memilih bercerai.
Namun semesta mempertemukan mereka kembali, tentu saja oleh sang buah hati yang disembunyikan.
Apakah mereka akan bersatu kembali setelah bercerai ?? Akankah Tiara memilih tetap setia kepada Rangga suami keduanya, walaupun memiliki anak dari Sagara.
Read
Chapter: Bab 118 Akhir Yang Bahagia Tut....Tut...Tut....Tut. suara alat rekam jantung di rumah sakit, Roger terbaring lemah di ranjang rumah sakit, untuk bernafas saja butuh tabung oksigen, pelan-pelan ia membuka kelopak matanya, lalu melihat sekeliling. Matanya membulat saat melihat sosok mantan istrinya duduk di sebelah sedang menatapnya sinis, "Ini di rumah sakit!! Apa Anakku sudah di tangkap polisi? Apa yang sebenarnya terjadi?" ucapnya pelan menatap Grace mantan istrinya. "Kamu ini!! Semakin tua malah semakin jahat!! Tega sekali kamu, ingin memenjarakan putramu sendiri, apa kau sudah tidak waras...!! Mau membunuh menantu juga cucumu!!" umpat Grace dengan kemarahan membuncah. Ingin sekali ia mengakhiri kehidupan si tua bangka yang sedang tidak berdaya ini, agar tidak lagi-lagi mengganggu kehidupan pernikahan putranya. "Apa maksudmu! Sagara tidak jadi dipenjara!" ujarnya dengan suara parau. BUGH...!! Grace memukul perutnya dengan keras Tit....tit....tit.....tit....tit!!! Alat rekam jantung langsung b
Last Updated: 2024-12-08
Chapter: Bab 117 Kelahiran Anak Kedua Mobil sedan di laju dengan kecepatan tinggi, Alfred berupaya sampai secepatnya mungkin di rumah sakit terdekat. Tiara menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa sakit yang semakin intens. "Aaaggh... Sakit sekali." pekik Tiara, berkeringat sangat banyak. Sagara pun panik, ia terus menggenggam erat tangan Tiara. "Tenang, Honey, sebentar lagi akan sampai..." ucap Sagara dengan suara penuh ketegangan, hatinya terus berdebar-debar. Alfred memacu kendaraan menuju rumah sakit dengan hati yang cemas namun penuh harapan. Sepanjang perjalanan, Tiara menggenggam tangan Sagara erat, mencoba mencari kenyamanan dalam sentuhan suaminya. ***** Malam ini, Rangga, tengah menjalani shift malam di rumah sakit. Akhir-akhir ini baik pekerjaan dan hubungan dengan sang istri sedang berjalan dengan baik, Rangga bisa lembur seperti dulu, karena Sonya mulai sering menemani putrinya. Namun tiba-tiba telepon dari ruang perawatan datang. Kring... Kring... Kring... "Dokter Rangga!! Kami membutuhkan
Last Updated: 2024-12-08
Chapter: Bab 116 Rencana Licik Sagara "Teganya paman! Kenapa berbuat seperti ini!! dasar penghianat!!" teriak Tiara, saat di bawa paksa oleh paman Alfred untuk masuk ke dalam bangunan istana Roger. "Ssstt... Maafkan paman Tiara, paman terpaksa melakukan ini semua, tolong jangan melawan dan banyak bergerak, ingat kondisi bayi dalam perutmu." ujar Alfred mengingatkan. "Hiks hiks hiks." Tiara terus menangis, berharap sang paman bisa menolong suaminya. Eh!! dirinya malah terjebak, ternyata paman Alfred kembali berpihak pada ayah mertuanya yang bejat, dan itu semua ia lakukan demi harta kekayaan yang dijanjikan oleh Roger. Sangat tidak di sangka-sangka jerat harta kekayaan memang bisa mengubah hati dan pikiran seseorang yang tadinya baik jadi nekad. Sambil menahan Tiara di ruangan lain, Alfred menghela nafas panjang, saat ini Tiara sangat membencinya, namun ya... terpaksa ia lakukan, hanya untuk sementara waktu, kalau bukan karena Sagara yang merancang semua rencana ini, ia tidak akan mau terlibat lagi dengan rencana ja
Last Updated: 2024-12-08
Chapter: Bab 115 Kekejaman Roger Kediaman Roger yang bagaikan sebuah istana kerajaan, pilar-pilar menjulang tinggi di sepanjang lorong pintu masuk rumahnya, suasana gelap dan dingin, tidak ada kehangatan di rumah ini. Tuk...tuk...tuk. Suara tongkat Roger, karena kondisi kesehatan yang semakin memburuk kini dirinya harus berjalan dengan menggunakan tongkat. Lalu keempat bodyguard bertubuh besar mengikutinya di belakang, dua diantaranya sedang menggotong tubuh putranya yang masih pingsan. "Beraninya dia mengelabui ku selama ini, dasar anak tidak tahu diuntung!!" pekiknya sembari memasuki sebuah ruangan kamar. Bruk...!! Tubuh Sagara di jatuhkan di lantai, Roger duduk di kursi sambil memandangi putranya dengan perasaan marah, sudah lama ia menahan diri untuk merasakan momen ini, kalau bukan karena Alfred ia tidak akan menahan dirinya. Beberapa saat... Sagara mulai membuka kelopak matanya pelan-pelan, saat kesadarannya kembali, ia mengerejap berkali-kali mencoba menetralkan penglihatannya. Sungguh terkejut
Last Updated: 2024-12-08
Chapter: Bab 114 Sagara di CulikWaktu berlalu cepat, kini usia kandungan Tiara mulai memasuki usia 9 bulan, perutnya sudah sangat besar, ia menikmati masa kehamilannya dengan damai bersama suami, satria dan keluarganya. Layaknya sebuah keluarga yang bahagia tanpa ada gangguan. "Halo adik cantikku..., jangan lama-lama di dalam, kamu tidak pegal di dalam sana, pasti sempit kan, lebih baik temani kakakmu main puzzle disini..." celoteh Satria, terus saja berbicara pada adiknya sambil mengelus perut ibunya. "Sabar nak, bulan depan, adikmu baru keluar dari perut mama, sayang." Tiara tertawa geli, gemas sekali melihat tingkah lucu Satria yang penuh semangat menyambut adik perempuannya. "Satia udah gak sabar mama, bosen main sendirian terus, papa juga sibuk kerja, mama juga gak bisa temani Satria main gara-gara dedek bayi masih di dalam perut," keluh Satria, mengerutkan dahi. "Sabar ya Nak, Papa kamu lagi ada proyek besar, kalau kamu bosan kamu kan bisa ajak teman sekolahmu main kesini atau kamu main ke rumah dia, na
Last Updated: 2024-12-07
Chapter: Bab 113 Rasa PiluBUGH...!! BUGH...!! BUGH...!! Sagara dan Rangga saling baku hantam. "Hentikan aduh!!" teriak Tiara yang panik, mau melerai tapi takut, karena dirinya sedang hamil. "Huhuhu, huaa...hiks." Satria menangis sambil memeluk ibunya. Sonya segera mencari petugas hotel, meminta bantuan agar ada yang memisahkan mereka. "Apa sih masalahmu!" kedua tangan Sagara menahan kepalan tangan Rangga yang mau mendarat di wajahnya. Rangga yang tidak menyerah menjatuhkan diri, lalu keduanya berguling-guling di lantai. BUGH!! Kali ini Sagara berhasil menghajar balik Rangga. Rangga terhuyung lalu berusaha berdiri, "Kamu gak pantas, untuknya...!!" teriak Rangga, menatap Sagara dengan penuh kebencian. "Apa hak-mu melarang Tiara rujuk lagi denganku, terimakasih kamu sudah berselingkuh, aku dan Tiara jadi bisa menikah!" umpat Sagara. "Aaagghh!!" teriakkan kekesalan Rangga membuncah, dengan cepat menyerang balik orang yang paling ia benci. "Uugghh...!! Sagara berhasil menangkis pukulan, n
Last Updated: 2024-12-07