LOGINPatah hati akibat pengkhianatan mantan suami dan sahabat sendiri, Maya melampiaskan rasa hancurnya di sebuah klub malam. Sang Janda terjerat malam panas bersama seorang pria muda berparas tampan—melewati percintaan liar yang tak pernah ia bayangkan. "Anggap ini bayaran untuk semalam. Dan ini ... uang muka supaya kamu mau menemaniku ke pernikahan mantanku besok. Kalau kurang? Nanti aku tambah!" cetus Maya nekat pada pria yang masih terbaring santai di ranjang hotel bersamanya. Pria muda itu hanya menyunggingkan senyum misterius dan menyanggupi tawaran gila tersebut. Maya pikir inilah jalan keluar terbaik untuk membalaskan dendam pada mantannya. Namun, dunia Maya seketika runtuh saat melangkah ke tempat kerja. Leon, pria muda tampan yang ia sewa, datang kepadanya dengan setelan jas rapi. "Uang sewamu sudah habis, Maya. Sekarang ... waktunya kamu membayar sisa malam gila kita."
View More"Dasar pengkhianat!"
"Dasar perempuan murahan!" Suara Maya nyaris tenggelam di balik dentuman musik remix yang menggetarkan seluruh penjuru klub malam. Lampu strobe berkelip liar, menyapu lautan manusia yang larut dalam euforia. Sebagian berjoget mengikuti irama musik, sebagian lagi bersulang dengan gelas-gelas berisi minuman keras. Di sudut ruangan yang sedikit lebih lengang, Maya mengangkat sebotol bir ke bibirnya. Tanpa ragu, ia menenggak habis isi botol hijau yang tinggal separuh itu dalam beberapa tegukan panjang, seolah berharap alkohol mampu menenggelamkan rasa sesak di dadanya. Brak! Botol kosong itu menghantam meja kaca cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung didekitaran Maya menoleh. "Berani-beraninya dia kirim undangan pernikahan padaku!" geram Maya dengan mata merah menyala. "Setelah dia merebut suamiku, sekarang dia masih ingin aku datang ke pesta pernikahannya! Dasar ular betina!" Diana, sahabat sekaligus rekan kerja Maya, hanya bisa mengembuskan napas panjang. Tatapannya beralih pada tiga botol bir kosong yang berjajar di atas meja. Ia tahu, tiga botol itu belum akan menjadi yang terakhir malam ini. "May ... udah. Jangan diminum lagi," bujuk Diana dengan nada cemas. "Aku belum mabuk!" "Mukamu saja sudah merah kayak tomat, May!" ujar Diana sambil berusaha merebut botol dari tangan Maya. Namun, Maya menepis tangan sahabatnya itu, "Aku masih kuat, aku harus kuat hadapi kenyataan menyebalkan ini!" Jemari Maya meraih sebuah amplop rose gold bernuansa keemasan yang sejak tadi tergeletak kaku di meja. Matanya menatap tajam dua nama yang tercetak indah berwarna emas di sana—'Rendy Pratama & Sheila Amanda'. Dada Maya kembali terasa sesak. Jemarinya mencengkeram undangan itu erat hingga sedikit kusut. Dengan senyum getir, ia mengangkatnya ke hadapan Diana. "Lihat ... Mewah banget, kan? Dekorasinya pasti megah. Maklum, ayahnya Sheila kan pengusaha kaya. Pasti ini pesta pernikahan mereka, heboh banget." Senyum pahit itu perlahan memudar dari bibirnya, berganti dengan kilat tatapan penuh kebencian. "Tapi secantik dan semewah apa pun pestanya, pengantin wanitanya tetap aja pelakor!" Maya mengembuskan napas kasar, matanya memerah menahan panas yang membakar dadanya. "Perempuan bangsat yang tega merebut suami sahabatnya sendiri!" Diana langsung menahan tangan Maya. "Ssstt, pelankan suaramu May. Malu diliat orang banyak, kita sedang di tempat umum," bisik Diana panik, matanya menyapu sekeliling ruangan yang makin ramai. "Biarin semua orang lihat! Biar satu klub ini tahu kalau Sheila Amanda itu ular berbisa!" Suara Maya pecah, melengking tinggi menembus dentuman musik DJ. Maya sudah tak lagi peduli pada harga dirinya. Malam ini, penampilannya benar-benar jauh dari kata rapi. Maskara hitam yang menghiasi matanya telah luntur, meninggalkan noda di pipi yang basah oleh air mata. Matanya memerah dan terasa perih, tetapi ia tak peduli. Rambut yang semula tertata rapi kini berantakan. Beberapa helainya bahkan menutupi wajah, akibat berkali-kali ia jambak sendiri untuk melampiaskan rasa frustrasi dan sakit yang memenuhi kepalanya. Namun, dari semua yang berantakan pada dirinya, hatinyalah yang paling hancur. Mengetahui pria yang pernah begitu dicintainya kini bersiap melangkah ke pelaminan bersama sahabat yang paling ia percaya terasa seperti siksaan yang tak kunjung berakhir. Tubuh Maya akhirnya kehilangan seluruh tenaga. Ia ambruk terlentang di atas sofa, membiarkan air matanya terus mengalir tanpa lagi berniat menghapusnya. Ratapan pilunya membumbung menyayat hati, bercampur dengan tawa sumbang yang frustrasi—tanpa peduli sedikit pun pada tatapan aneh orang-orang yang melintas di sekitarnya. "Aku kurang apa? Hah?! Kurang apa aku?!" raungnya serak, menepuk-nepuk dadanya sendiri yang terasa amat sempit. "Aku kerja siang malam untuknya ... Aku rela hidup miskin pas Rendy belum punya apa-apa! Aku rela tahan lapar, rela gak beli skincare, cuma buat bayar uang kuliah S2-nya dia!" Sambil terbaring merana, Maya memeluk fisiknya sendiri yang gemetar hebat. "Tapi begitu dia lulus ... begitu dia kerja naik jabatan ... aku malah dibuang kayak sampah! Sakit banget ... Aku capek ... Aku hancur..." ucapnya lirih. Diana hanya bisa terdiam. Kalimat itu adalah kalimat merana yang sama yang selalu ia dengar sejak setahun terakhir. Sebagai sahabat yang menyaksikan setiap jengkal perjalanan hidup Maya—mulai dari masa-masa sulit mengumpulkan rupiah demi rupiah, hingga detik-detik kehancurannya saat perceraian—Diana benar-benar kehabisan kata-kata. Tidak ada nasihat atau kalimat penghibur yang cukup kuat untuk menambal hati Maya yang sudah hancur berkeping-keping. Satu-satunya hal yang bisa Diana lakukan hanyalah merengkuh kepala sahabatnya. Jemarinya yang gemetar mengelus lembut puncak kepala dan rambut acak-acakan Maya, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan di tengah dinginnya rasa sakit yang merayapi jiwa wanita itu. "Kamu gak salah, May," tegas Diana seraya menggenggam erat tangan sahabatnya yang dingin. "Yang brengsek itu Rendy dan Sheila. Mereka gak tahu diri dan gak tahu terimakasih." Maya menggeleng pelan. "Kalau aku nggak salah ... kenapa yang dibuang malah aku?" Tangisnya akhirnya pecah. Bukan lagi tangisan yang ditahan, melainkan tangisan pilu seorang perempuan yang terlalu lama berpura-pura kuat. Melihat kondisi Maya yang sudah terkulai lemas tanpa sisa tenaga, Diana sadar mereka tidak bisa terus berada di tempat ini. Ia merapikan tasnya, lalu menepuk pelan bahu Maya. "Tunggu sebentar ya, May, Aku panggil taksi dulu di luar. Kita pulang, ya." ujar Diana lembut dekat telinga Maya. Maya tidak menjawab, hanya mengangguk lemah dengan mata yang terpejam pasrah. Diana pun berdiri, melangkah tergesa-gesa membelah kerumunan pengunjung klub malam demi memesan taksi untuk membawa sahabatnya pulang. Dan di sofa remang-remang itu, Maya mengusap air matanya secara asal. Namun, pusing di kepalanya mendadak berputar hebat, membuat isi perutnya mual bukan main. "Ugh ... aku ... mau muntah," gumam Maya pelan. Dengan sisa-sisa tenaga, ia memaksakan diri bangkit dari sofa tanpa memedulikan panggil panik Diana. Langkahnya limbung, pandangannya berbayang, dan dunia di sekitarnya terasa berputar liar. Satu... dua... tiga langkah... Maya menyusuri lorong remang-remang yang mengarah ke toilet VIP. Tepat di persimpangan lorong, tubuhnya kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Bruk! Maya menabrak dada keras seseorang yang baru saja melangkah keluar dari ruangan VIP. "Ma ... maaf ...." gumam Maya dengan suara serak yang nyaris tenggelam. Belum sempat tubuh lemasnya menghantam lantai dingin, sebuah tangan kokoh bertaut lingkaran tegas di pinggangnya—menahan tubuh Maya yang terkulai tepat pada waktunya. Dengan mata sayu, Maya mengangkat wajahnya perlahan. Di bawah temaram lampu lorong, bayangan seorang pria berpostur tegap dengan rahang tegas menatapnya lurus. Tatapan mereka terkunci selama beberapa detik—Tanpa Maya sadari, ketidaksengajaan di lorong remang ini adalah awal dari benang takdir gila yang akan mengikat seluruh hidupnya.Sinar matahari pagi memantul megah di kaca-kaca gedung pencakar langit Wiratama Group. Sebuah limousine hitam mengilap perlahan membelah area drop-off, lalu berhenti tepat di depan pintu lobi utama. Sebelum pintu mobil sempat terbuka, sepuluh orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas serbahitam, mengenakan earpiece di telinga mereka, sudah berbaris rapi—lima di sisi kiri dan lima di sisi kanan. Pintu mobil terbuka. Leon melangkah keluar dengan sepatu kulitnya yang mengilap. Namun, bukannya terkesan, langkahnya justru terhenti saat matanya menangkap jajaran bodyguard yang berdiri kaku di sekelilingnya. Dahinya berkerut dalam. Leon menoleh ke arah Kevin—asisten pribadinya yang melangkah cepat berdiri di sampingnya. "Apa-apaan ini?" cecar Leon. Kevin membenarkan posisi kacamata di hidungnya sebelum menjawab tenang, "Tuan baru saja resmi menjabat sebagai Direktur Utama hari ini. Jadi, sesuai standar protokol keamanan perusahaan untuk jajaran direksi baru—" "Tidak perlu!"
"Kamar kos?" sindir Leon seraya terkekeh rendah, menatap sekeliling ruangan yang mewah. "Pemandangan hotel bintang lima begini kayaknya beda jauh sama kamar kosmu, Nona." "Tutup mulutmu!" bentak Maya dengan suara bergetar. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Ia melangkah lebar menghampiri tepi ranjang, menatap Leon dengan sorot mata penuh kebencian. "Kamu pikir ini lucu, Hah?! Kamu itu cuma pria asing yang sudah memanfaatkan keadaanku yang lagi mabuk! Kamu brengsek!" Leon yang awalnya terkekeh pelan mendadak menghentikan tawanya. Pria muda itu menegakkan posisinya, menatap Maya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajah tampannya. "Memanfaatkan?" ulang Leon dengan nada dingin yang menohok. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Maya dengan nyalang. "Nona, tolong ingatanmu dijernihkan sedikit. Semalam kamu yang menabrakku, kamu yang mendoroku, sampai akhirnya muntah di atas jas mahalku. Bukan cuma itu, kamu juga yang terus merangkul leherku sambil mendesah memo
"Ini ... ini bukan mimpi!" Seketika, kesadaran Maya terhempas kembali ke bumi. Udara dingin hotel, aroma maskulin pria di atasnya, dan rasa sakit yang nyata membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Isak tangis Maya pecah seketika di tengah pergumulan mereka. Kenyataannya terlalu menghantam ia sedang menyerahkan dirinya pada seorang pria asing! Leon yang makin tenggelam dalam gairah bergerak kian agresif, hingga ranjang berukuran king size itu bergetar hebat. Seisi kamar dipenuhi desah napas bersahutan. Irama yang makin cepat dan gejolak kenikmatan yang memuncak akhirnya membawa mereka berdua ke ambang pelepasan tiada tara. "Aaagghh!" jerit batin Maya saat merasakan sensasi hangat memenuhi rahimnya. Beruntung kesadarannya yang tersisa mengingat bahwa malam ini bukan masa suburnya—jika tidak, nasibnya akan jauh lebih fatal. Leon langsung ambruk, merebahkan tubuh tegapnya di atas tubuh Maya. Deru napasnya yang tersengal-sengal memburu hangat di sekitar telinga Maya. Denga
"Tuan ...," panggil Kevin pelan, memecah keheningan. "Lalu ... apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa saya perlu panggilkan dokter? Atau ... pelayan wanita hotel untuk mengganti pakaiannya?" Leon masih bergeming, memperhatikan raut wajah Maya yang tampak begitu hancur namun menggemaskan. "Tidak usah. Kamu bisa keluar sekarang, Kevin." Kevin membelalak kaget. "Saya keluar?! Tuan serius mau tinggal berduaan di kamar ini sama wanita yang tidak dikenal? Gimana kalau Nyonya Besar bertanya kenapa Tuan tidak pulang ke rumah malam ini? Bisa-bisa saya dikuliti hidup-hidup, Tuan!" Leon menoleh santai, menatap asistennya dengan sorot mata yang membuat Kevin mendadak mengkerut. "Kalau Ibuku bertanya, bilang saja aku ada meeting mendadak dengan klien luar negeri sampai larut malam," ujar Leon dingin. "M-meeting luar negeri jam dua pagi di hotel?!" cicit Kevin panik. "Tuan, Ibu Tuan itu mantan diplomat! Beliau tidak semudah itu dibohongi!" "Kevin," potong Leon tegas, penuh ancaman. "






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.