MasukWaktu mungkin berlalu, tetapi pesona dan kecerdasan Keluarga Adiraja tak pernah memudar. Selamat datang di Chemistry Chapter Season 2! Kali ini, kita tidak hanya akan disuguhi debat panas nan romantis antara Sadewa dan Zea yang rumah tangganya selalu penuh kejutan. Bersiaplah untuk mengikuti kisah cinta dari tiga bersaudara Adiraja. Dengan genetik bibit unggul dari ayah dan ibunya, ketiga remaja ini punya pesona yang mematikan, tapi juga kisah cinta yang tak kalah mendebarkan! Biar feel-nya lebih dapet dan tahu gimana Chemistry bisa terbentuk di antara Dewa dan Zea saat masih di bangku kuliah, yuk baca CHEMISTRY CHAPTER Season 1 sebelum lanjut ke sini! Dan jangan lupa follow ig : yoongina_0305 untuk lihat visual para tokoh di novel
Lihat lebih banyakMendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. "Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. "Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men
Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un
Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa
"Assalamualaikum." Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. "Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. "Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.