Share

Jeremy Baran

last update publish date: 2026-07-18 08:11:52

Bram menatap layar ponselnya dengan dada yang mendadak lowbat. Napasnya tertahan. Pesan singkat dari nomor tak dikenal itu terasa seperti vonis mati.

‘Wanitamu ada di tangan kami sekarang. Jika ingin dia selamat, bawa seluruh data enkripsi Anindya Karya ke dermaga tua Mainkai dalam waktu tiga puluh menit, atau kamu hanya akan menerima jasadnya.’

"Bram? Ada apa? Wajahmu kok tiba-tiba pucat begitu?" Laura menyentuh lengan tuksedo Bram, mencoba mencari perhatian setelah drama tamparan Kiana tadi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Brondongku Psikopat   Runtuhnya Hadiwijaya

    Darah segar merembes makin deras di atas lantai semen gudang yang dingin.Bram mendadak mematung. Matanya terbelalak menatap dua tubuh yang tak bergeming di depannya."Tim... TIMOTHY!" jerit Bram histeris.Ia melompat maju, menendang kasar tubuh Tirto yang terkulai tak bernyawa dengan luka tembak tepat di kepala. Di sampingnya, Timothy terbaring memegang perutnya yang memuntahkan cairan merah pekat."Gua... gua berhasil kan, Bram?" bisik Timothy lirih. Bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum tipis."Lu gila! Kenapa lu keluar dari mobil, bangsat?!" bentak Bram. Tangannya gemetar hebat menekan luka di perut Timothy. "Jer! JEREMY! PANGGIL AMBULANS!"Timothy menahan lengan Bram pelan. "Gak... gak sempat, Bram...""Diem lu! Jangan banyak omong!" potong Bram, air mata membakar sudut matanya."Bram... dengerin gua..." lirih Timothy, genggamannya kian melemah. "Om Tirto udah mati... Klan Hadiwijaya... hancur di tangan dia sendiri...""Tim, bertahan! Lu harus tetap hidup!""Tolong... janji s

  • Brondongku Psikopat   Pengorbanan Timothy

    SUV hitam yang dikendarai Jeremy menerobos pekatnya malam menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Suasana di dalam mobil benar-benar mencekam. Hanya ada suara deru mesin dan napas memburu dari tiga pria di dalamnya."Jer, udah lu send semua file-nya ke polisi?" tanya Bram dingin. Tangannya tak berhenti memutar-mutar flashdisk hitam di genggamannya."Sudah, Bram. Pengacara lu juga udah standby sama tim reskrim," sahut Jeremy sambil melirik spion tengah. "Tapi jujur, ini Tanjung Priok, area kekuasaannya Tirto.""Biarin," pangkas Bram singkat. "Gua nggak peduli tempat siapa ini."Timothy yang duduk di samping Bram menyenggol lengan pria itu pelan. Wajahnya pucat pasi. "Bram... kalau Om Tirto tahu kita bawa berkas kejahatan dia, Kak Tania sama Ibu bakal makin dalam bahaya. Lu yakin mau pakai cara ini?"Bram menoleh perlahan. Tatapannya tajam menusuk. "Terus lu mau gua nyerah gitu aja? Nyerahin semua bukti, terus nunggu dia habisi kita satu per satu?"Timothy bungkam. Ia menunduk, meremas jemariny

  • Brondongku Psikopat   Bidak Catur Hadiwijaya

    "Pak Tirto! Maksud Anda apa, hah?!" bentak Bram. Suaranya rendah tapi penuh dengan letupan amarah.Suara tawa pelan Tirto kembali terdengar di seberang telepon. "Jangan emosi dulu, Bramantya. Kamu harusnya berterima kasih. Lewat saya, kamu berhasil jatuhin Tasya tanpa perlu bikin tangan kamu berdarah secara langsung.""Anda manfaatin saya buat nyingkirin keponakan Anda sendiri!" Bram menatap tajam ke luar jendela gedung, dadanya naik turun menahan emosi."Mereka berdua terlalu serakah dan bodoh, Bram," sahut Tirto dingin. "Tasya pikir dia bisa menguasai seluruh Hadiwijaya Group sendirian. Dia lupa siapa yang membangun pondasinya. Sebagai paman yang baik, saya nggak mungkin membunuh darah daging saya sendiri. Tapi kalau ada orang luar yang menyingkirkan mereka... bukankah itu skenario yang sempurna?"Bram memejamkan mata rapat-rapat. Seluruh potongan teka-teki mendadak tersusun rapi di kepalanya. Sejak awal, Tirto sengaja membocorkan informasi pergerakan Tasya padanya. Tirto sengaja me

  • Brondongku Psikopat   Menang Telak

    Ponsel di genggaman Bram bergetar hebat. Layar digital itu menampilkan satu baris pesan yang seolah mengejek seluruh harga dirinya.Bram menatap layar itu tanpa berkedip. Mata elangnya meredup, menyisakan kilat kemarahan yang tertahan."Bram! Sistem kita kebuka total!" seru Jeremy panik. Jemarinya menari liar di atas kibor, mencoba menghentikan aliran data yang keluar. "Server utama kita terkoneksi langsung ke jaringan luar! Semuanya... data saham, proyek rahasia, sampai rekening internal kita ikut terserap!"Timothy yang masih terduduk di lantai mendongak bingung. Tangisnya terhenti, menyisakan rasa syok yang menjalar. "K-kalian ngomongin apa? Dokumen itu... cuma dokumen biasa!""Diem lu, Tim!" bentak Jeremy tanpa menoleh. "Map yang lu bawa itu dipasangi chip malware frekuensi rendah! Kakak lu nggak cuma numbalin lu, dia pake lu sebagai kuda Troya!"Timothy membeku. Wajahnya semakin pucat. "Nggak... nggak mungkin..."Bram melempar ponselnya ke atas sofa. Langkahnya tenang, namun seti

  • Brondongku Psikopat   Pertempuran Sengit

    Suasana di dalam bar mewah kawasan SCBD yang semula hangat oleh aroma wiski mahal dan kepuasan instan, mendadak mencekam. Seringai tipis di wajah Bramantya Yudha berbanding terbalik dengan kepanikan yang terpancar dari mata Jeremy."Bram, lu nggak bercanda kan? Ini bursa London, bukan pasar malam! Gimana bisa Tasya bergerak secepat ini?" Jeremy menatap layar tabletnya yang terus berkedip merah, menampilkan grafik saham Mahardika yang terjun bebas.Bram terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke sofa kulit. "Jer, lu lupa siapa Tasya Hadiwijaya? Perempuan itu nggak akan nunggu besok buat balas dendam. Begitu Timothy nangis di kakinya, dia udah tahu saham mereka kita pegang.""Tapi tuduhan pencucian uang ini bisa bikin kita beku total, Bram! Kalau media lokal sampai tahu, reputasi Mahardika Nusantara bakal hancur dalam hitungan jam!" Jeremy mengusap wajahnya kasar, frustrasi melihat ketenangan partnernya."Biarin aja," sahut Bram tenang. Ia menyesap wiskinya perlahan, membiarkan cairan

  • Brondongku Psikopat   Tania Hadiwijaya

    Tania Hadiwijaya terdiam. Namun, keheningan wanita itu justru seratus kali lebih mengerikan daripada bentakan histerisnya yang baru saja mereda. Tatapannya lurus, menusuk tepat ke manik mata Timothy yang kini sudah berlutut di atas pecahan keripik cangkir teh di lantai."Berdiri," ucap Tania. Suaranya kembali tenang, teramat tenang, seperti permukaan danau purba yang menyimpan monster di dasarnya.Timothy menggeleng gemetar, air matanya menetes. "Gua minta maaf, Tania... Bram tahu semuanya. Dia tahu soal kasino, dia tahu soal proyek Theo..."Tania melangkah mendekat. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang konstan. Tuk. Tuk. Tuk. Ia berjongkok di depan adiknya, meraih dagu Timothy dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga memutih."Lu tahu kan, Tim? Dari kita kecil, siapa yang selalu beresin mainan lu yang rusak?" bisik Tania, matanya menatap Timothy dengan binar penuh kepedulihan, sebuah topeng simpati yang biasa ia gunakan untuk menjebak mangsanya. "Siapa yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status