Kiana buru-buru memalingkan wajah saat mendengar derap langkah mendekat. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Ketika Arya duduk kembali di kursinya dengan senyum tanpa dosa, Kiana buru-buru menyeruput sisa red wine-nya hingga tandas, berusaha membasahi tenggorokannya yang mendadak kering."Hei, kamu kenapa? Kok mukanya pucat banget?" tanya Arya, dahi pria itu berkerut penuh perhatian. Tangannya terulur, berniat menyentuh kening Kiana.Kiana refleks menghindar dengan berpura-pura membetulkan posisi rambutnya. "Ah, nggak apa-apa. Tiba-tiba pusing aja. Kayaknya efek angin malam."Arya langsung melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap ponselnya yang sudah kembali gelap di atas meja. Kiana menahan napas, menunggu reaksi Arya jika pria itu memeriksa ponselnya. Namun, Arya hanya memasukkan ponsel itu ke saku celananya tanpa melihat layarnya sama sekali."Ya sudah, kita pulang sekarang ya? Aku antar," kata Arya lembu
Last Updated : 2026-07-08 Read more