ログインKiana merasa telah menemukan sosok pendamping ideal dalam diri Arya, pria yang lebih muda, mapan, dan penuh perhatian. Namun, hubungan romantis yang ia bangun selama setahun runtuh seketika saat sebuah panggilan masuk tak terduga menyingkap identitas asli Arya dan rahasia kelam di balik hidupnya. Ternyata, pria yang ia cintai adalah sosok berbahaya yang menyimpan dendam masa lalu dan terobsesi menjadikan Kiana sebagai pusat dari rencana gelapnya. Terjebak dalam permainan psikologis yang manipulatif serta ancaman nyata, Kiana kini harus berjuang keras untuk melarikan diri dari cengkeraman pria yang ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
もっと見る"Sungguh, aku tak menyangka akan menghabiskan satu tahun dengan pria yang sepuluh tahun lebih muda dariku," ucap Kiana tiba-tiba, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.
Tadinya hanya terdengar alunan musik akustik bertempo lambat mengalun lembut di sudut kafe bernuansa kayu yang hangat ini. Aroma kopi dan aroma hujan yang baru saja membasahi jalanan Jakarta menciptakan atmosfer yang begitu syahdu.Kiana menyesap red wine-nya perlahan, matanya menatap pria di seberang meja yang sedang sibuk memotong steak dengan begitu telaten. Gerakan tangannya tenang dan teratur. Pria itu mengenakan kaos berkerah berwarna biru tua yang membuat kulit coklatnya terlihat kontras di bawah lampu temaram.
Arya menghentikan gerakan pisau dan garpunya. Ia mendongak, menatap Kiana dengan sepasang mata elangnya yang selalu berhasil membuat Kiana salah tingkah, bahkan setelah satu tahun berlalu. Pria dua puluh sembilan tahun itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dulu sempat Kiana anggap sebagai senjata untuk menggoda semua perempuan.
"Kenapa? Masih merasa jalan sama anak kemarin sore?" goda Arya, suaranya yang berat dan bariton terdengar begitu seksi di telinga Kiana.
Kiana terkekeh, menggelengkan kepalanya. "Bukan gitu. Cuma... kalau ingat awal kita kenal di DM I*******m setahun lalu, rasanya masih agak absurd. Ingat nggak waktu kamu panggil aku 'Kak'?"
"Ingat," Arya meletakkan alat makannya, lalu menopang dagu dengan satu tangan, menatap Kiana lekat-lekat. "Dan ingat banget gimana ketusnya kamu waktu itu. Bilang kalau pria umur dua puluh sembilan itu biasanya cuma sibuk main game atau cari jati diri."
"Ya wajar, kan? Aku tiga puluh tujuh tahun, Arya. Aku realistis, nggak punya waktu buat main-main," bela Kiana sambil mengerucutkan bibirnya tanpa sadar.
"Tapi malam itu di sini, kamu akhirnya tahu kalau aku nggak sedang main-main," balas Arya dengan nada penuh percaya diri khas seorang provider. Arya datang membawa draf analisis proyeksi kawasan industry di tabletnya, dan membayar semua bill makan malam kemudian mengantar Kiana pulang.
Kiana tersenyum, pipinya mendadak terasa hangat. "Iya, iya. Pria matang yang paling tahu cara bikin perempuan bertekuk lutut."
"Bukan cuma soal uang atau proyek, Kiana. Aku serius tertarik sama kamu," ucap Arya lembut, tangannya terulur di atas meja, menggenggam jemari Kiana yang terasa dingin. Kehangatan tangan Arya langsung menjalar, membuat hati Kiana terasa hangat juga.
Selama satu tahun ini, hubungan mereka memang tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan usia satu dekade sering kali mendatangkan riak kecil, terutama dari ketakutan-ketakutan internal Kiana sendiri. Kiana ingat betul momen enam bulan lalu, saat dia mendadak insecure karena melihat Arya dikelilingi oleh rekan-rekan kerja wanita yang jauh lebih muda, modis, dan seumuran dengan pria itu. Malam itu, Kiana meminta putus lewat pesan singkat, tiba-tiba, tanpa aba-aba.
"Ingat nggak waktu aku tiba-tiba chat minta putus?" tanya Kiana lirih.
Arya menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Malam di mana kamu tiba-tiba mematikan ponsel dan mengunci diri di apartemen? Tentu saja aku ingat."
"Aku benar-benar takut waktu itu, Arya. Aku merasa kita jalan di dua dunia yang berbeda. Aku dan kamu."
"Dan apa yang aku lakukan?" Arya menuntut jawaban dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Kamu nekat menyetir dari Bekasi ke apartemenku jam dua pagi tembus hujan lebat. Kamu berdiri di depan pintuku sampai basah kuyup, cuma buat bilang kalau umur itu cuma angka di KTP, dan satu-satunya wanita yang kamu inginkan saat itu cuma aku." Kiana tersenyum haru mengingat kejadian itu. Sisi protektif dan matang dari Arya malam itu benar-benar mengunci hatinya rapat-rapat.
"Aku nggak pernah main-main dengan kata-kataku, Kiana," ujar Arya mantap, meremas pelan jemari wanita itu. "Satu tahun ini baru permulaan. Aku sudah menyiapkan banyak hal untuk masa depan kita. Termasuk rencana investasi rumah yang kemarin kita lihat di daerah BSD."
“Kenapa?” Kiana bertanya lagi. “Kamu pikir aku akan dengan mudah melepaskan perempuan yang aku dekati susah payah, yang membuat hidupku kembali berwarna, yang membuatku menjadi seorang pria yang tidak hanya dibutuhkan karena menghasillkan?” Ucap Arya panjang.Kiana menatap Arya dengan binar mata penuh cinta. Pria di depannya ini benar-benar sosok provider idaman. Dia misterius tentang beberapa hal pribadi keluarganya, tapi dia selalu terbuka dan luar biasa konkret jika menyangkut kesejahteraan dan kebahagiaan Kiana. Dia lebih banyak aksi daripada bicara.
"Terima kasih ya, Arya. Sudah mau menerima dan bertahan sama aku selama satu tahun ini," ucap Kiana tulus.
"Sama-sama, Sayang. Sebentar ya, aku ke toilet dulu," pamit Arya seraya berdiri dari kursinya. Ia mengusap rambut Kiana pelan sebelum melangkah pergi menuju bagian belakang kafe.
Kiana menatap punggung tegap Arya yang menjauh dengan perasaan lega yang membuncah. Dia merasa sangat beruntung. Ketakutannya tentang "pria yang lebih muda" perlahan-lahan menguap. Arya membuktikannya bahwa kedewasaan tidak diukur dari umur, melainkan dari tanggung jawab dan cara memperlakukan wanita.
Kiana melirik ke atas meja kayu di depannya. Dompet kulit hitam Arya dan ponselnya tergeletak di sana, tepat di sebelah gelas lilin yang bergoyang ditiup angin malam.
Tiba-tiba, layar ponsel Arya menyala terang. Ponsel itu bergetar di atas meja, memecah kesyahduan musik akustik kafe.
Kiana awalnya berniat mengabaikannya, mengira itu hanya telepon dari rekan bisnis atau grup pekerjaan Arya yang biasa berisik di malam hari. Namun, karena getarannya tak kunjung berhenti, mata Kiana tanpa sengaja melirik ke arah layar digital tersebut.
Detik itu juga, napas Kiana seolah tercekat di tenggorokan. Seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa dingin membeku.
Di layar ponsel Arya, sebuah panggilan video masuk dari sebuah kontak yang disimpan dengan nama yang sangat jelas, tanpa kode, tanpa inisial:
“ISTRIKU”
Tiniiiiiiittttt!Suara klakson panjang yang memekakkan telinga merobek kesunyian, disusul oleh hantaman logam yang sangat dahsyat. Tubuh Kiana terlempar hebat ke depan. Pandangannya mendadak memutih, diselimuti rasa sakit yang teramat sangat, sebelum akhirnya segalanya berubah menjadi kegelapan total.Tidak, aku tidak mau berakhir seperti ini... Kalimat terakhir itu terus bergema di dalam kepalanya, berputar seperti kaset rusak di tengah kehampaan."Kiana! Woii, Ki! Malah bengong. Sadar, Sis!"Sebuah tepukan keras di bahu mengejutkan Kiana. Ia tersentak, napasnya memburu seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam. Kiana menoleh dengan panik, matanya bergerak liar menyapu sekeliling.Tidak ada truk kontainer. Tidak ada SUV hitam. Tidak ada Bram.Kiana mendapati dirinya sedang duduk di sebuah kafe semi-terbuka yang sangat familier di dekat kampusnya Depok. Di hadapannya, berserakan beberapa gelas es kopi susu yang sudah mencair, camilan kentang goreng setengah habis, d
Percikan daya listrik biru keunguan menyengat udara, memantul di dinding ruang tamu yang kosong. Kiana refleks memejamkan mata, merapatkan tubuhnya ke dinding beton yang dingin. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya."Bram... jangan..." bisik Kiana lirih, suaranya habis tertahan di tenggorokan.Bram menghentikan jarinya yang menekan tombol alat kejut listrik itu. Suara bising itu hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Bram berlutut tepat di hadapan Kiana, jarak wajah mereka hanya sejauh sejengkal. Aroma parfum maskulinnya bercampur dengan bau debu ruangan."Kamu takut?" tanya Bram datar. Ia memasukkan kembali alat itu ke dalam saku celananya. "Jangan takut. Aku nggak akan pakai ini ke kamu, kecuali kamu coba-coba lari lagi. Aku cuma mau kamu dengerin aku, Kiana. Duduk tenang, dan dengerin."Kiana hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya menetes melewati pipi. Logikanya berteriak untuk melawan, tapi tubuhnya lumpuh oleh ketakutan.Bram menunjuk ke arah deretan foto di dal
Deru mesin SUV hitam itu menggelegar di dalam basemen yang sunyi. Kiana tersentak ke belakang saat mobil mendadak melesat maju, ban mobil mencicit keras bergesekan dengan lantai beton."Bram! Kamu gila, ya?! Buka pintunya! Aku mau turun!" teriak Kiana, tangannya panik menggedor kaca jendela.Bram tidak menjawab. Wajahnya yang semula tenang kini mengeras. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mobil dengan cepat melewati palang pintu parkir otomatis dan meluncur masuk ke jalan raya, membelah arus lalu lintas yang mulai padat."Bramantya! Kamu denger aku nggak sih?! Hentikan mobilnya!" Kiana meraih gagang pintu, mencoba membukanya paksa, namun sistem auto-lock menguncinya rapat."Tenang, Kiana," ucap Bram. Suaranya tidak lagi melembut seperti tadi. Nada suaranya datar, dingin, dan penuh perintah. "Kita perlu tempat yang lebih tenang untuk bicara. Di sini terlalu bising.""Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan! Kamu udah bohongin aku seta
Suasana di telepon mendadak sunyi total. Kiana hanya bisa mendengar suara napasnya yang gemetar. "Kiana..."Suara di seberang sana akhirnya terdengar kembali. Nada bariton yang biasanya terdengar seksi dan menenangkan kini berubah, merendah dengan getaran berat yang menahan sesuatu. Tidak ada kepanikan yang meledak-ledak. Pria itu terlalu matang untuk langsung kehilangan kendali logika."Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Arya atau Bram dengan suara yang mendadak begitu datar, menguras ketenangan yang coba Kiana bangun sejak pagi.Kiana tersenyum hambar, masih dengan air matanya yang mengalir membasahi pipinya. "Bramantya Yudha. Nama yang bagus. Sangat maskulin untuk seorang pria yang punya dua kehidupan berbeda, bukan?""Aku di depan kantor kamu," potong Bram cepat, nadanya mutlak tanpa bantahan. "Turun sekarang. Kita bicara di mobil. Nggak lucu kalau kita bahas ini di telepon.""Aku sibuk, Arya ah atau Bram?" Kiana sengaja menekankan nama asli pria itu, merasakan sensasi perih yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.