Chapter: Misi Bandung (2)Dua minggu berlalu dengan cepat. Kiana berhasil memasukkan proposalnya sebagai salah satu senior pencari bakat untuk program beasiswa dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendidikan tempat temannya bekerja. Dengan dokumen resmi di tangan, Kiana kembali mendatangi SMA tempat Bram bersekolah.Sore itu, setelah membuat janji melalui pihak bimbingan konseling sekolah, Kiana duduk di salah satu bangku taman sekolah yang mulai sepi. Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat."Permisi, Kak Kiana dari Yayasan Lentera?"Kiana menoleh. Bram berdiri di sana, masih mengenakan seragam sekolah dengan tas ransel yang tampak berat di punggungnya. Ia tampak bingung saat mengenali wajah Kiana."Eh? Kakak ini yang di minimarket waktu itu, kan?" tanya Bram, matanya menyipit penuh selidik.Kiana berdiri dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum profesional. "Halo, Bramantya. Iya, betul. Ternyata takdir lucu ya, kita ketemu lagi. Saya Kiana, perwakilan dari program Beasiswa Cipta Bangsa. Pihak s
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Misi BandungDika menepuk dahi, merasa frustrasi melihat sikap Kiana yang mendadak berubah keras kepala. "Ya udah terserah lo deh, Ki. Pokoknya kalau lo berubah pikiran, langsung kabarin gue. Jangan sampai nyesel liburan seru kita hangus.""Iya, gampang," jawab Kiana pendek.Begitu Dika melangkah menjauh, Kiana langsung mengeluarkan ponselnya. Rencana membatalkan liburan lewat Dika jelas gagal total. Satu-satunya jalan rasanya ia memang harus berangkat lebih awal ke Bandung sendirian. Ia harus melacak Bramantya Yudha di sekolahnya sebelum libur akhir tahun dimulai.Tiga hari kemudian, Kiana sudah berada di Bandung. Bermodalkan sisa uang tabungan magangnya, ia menyewa kamar murah di daerah Dago, tidak jauh dari alamat SMA negeri unggulan yang ia temukan di artikel Google kemarin.Siang itu, hujan turun cukup deras mengguyur kota Bandung. Kiana berdiri di depan sebuah minimarket yang terletak tepat di seberang gerbang sekolah yang ia cari. Ia memegang segelas cokelat hangat, matanya tidak lepas mena
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Puzzle PertamaTiniiiiiiittttt!Suara klakson panjang yang memekakkan telinga merobek kesunyian, disusul oleh hantaman logam yang sangat dahsyat. Tubuh Kiana terlempar hebat ke depan. Pandangannya mendadak memutih, diselimuti rasa sakit yang teramat sangat, sebelum akhirnya segalanya berubah menjadi kegelapan total.Tidak, aku tidak mau berakhir seperti ini... Kalimat terakhir itu terus bergema di dalam kepalanya, berputar seperti kaset rusak di tengah kehampaan."Kiana! Woii, Ki! Malah bengong. Sadar, Sis!"Sebuah tepukan keras di bahu mengejutkan Kiana. Ia tersentak, napasnya memburu seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam. Kiana menoleh dengan panik, matanya bergerak liar menyapu sekeliling.Tidak ada truk kontainer. Tidak ada SUV hitam. Tidak ada Bram.Kiana mendapati dirinya sedang duduk di sebuah kafe semi-terbuka yang sangat familier di dekat kampusnya Depok. Di hadapannya, berserakan beberapa gelas es kopi susu yang sudah mencair, camilan kentang goreng setengah habis, d
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Awal dari AkhirPercikan daya listrik biru keunguan menyengat udara, memantul di dinding ruang tamu yang kosong. Kiana refleks memejamkan mata, merapatkan tubuhnya ke dinding beton yang dingin. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya."Bram... jangan..." bisik Kiana lirih, suaranya habis tertahan di tenggorokan.Bram menghentikan jarinya yang menekan tombol alat kejut listrik itu. Suara bising itu hilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Bram berlutut tepat di hadapan Kiana, jarak wajah mereka hanya sejauh sejengkal. Aroma parfum maskulinnya bercampur dengan bau debu ruangan."Kamu takut?" tanya Bram datar. Ia memasukkan kembali alat itu ke dalam saku celananya. "Jangan takut. Aku nggak akan pakai ini ke kamu, kecuali kamu coba-coba lari lagi. Aku cuma mau kamu dengerin aku, Kiana. Duduk tenang, dan dengerin."Kiana hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya menetes melewati pipi. Logikanya berteriak untuk melawan, tapi tubuhnya lumpuh oleh ketakutan.Bram menunjuk ke arah deretan foto di dal
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Ruang DebuDeru mesin SUV hitam itu menggelegar di dalam basemen yang sunyi. Kiana tersentak ke belakang saat mobil mendadak melesat maju, ban mobil mencicit keras bergesekan dengan lantai beton."Bram! Kamu gila, ya?! Buka pintunya! Aku mau turun!" teriak Kiana, tangannya panik menggedor kaca jendela.Bram tidak menjawab. Wajahnya yang semula tenang kini mengeras. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mobil dengan cepat melewati palang pintu parkir otomatis dan meluncur masuk ke jalan raya, membelah arus lalu lintas yang mulai padat."Bramantya! Kamu denger aku nggak sih?! Hentikan mobilnya!" Kiana meraih gagang pintu, mencoba membukanya paksa, namun sistem auto-lock menguncinya rapat."Tenang, Kiana," ucap Bram. Suaranya tidak lagi melembut seperti tadi. Nada suaranya datar, dingin, dan penuh perintah. "Kita perlu tempat yang lebih tenang untuk bicara. Di sini terlalu bising.""Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan! Kamu udah bohongin aku seta
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Logika CintaSuasana di telepon mendadak sunyi total. Kiana hanya bisa mendengar suara napasnya yang gemetar. "Kiana..."Suara di seberang sana akhirnya terdengar kembali. Nada bariton yang biasanya terdengar seksi dan menenangkan kini berubah, merendah dengan getaran berat yang menahan sesuatu. Tidak ada kepanikan yang meledak-ledak. Pria itu terlalu matang untuk langsung kehilangan kendali logika."Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Arya atau Bram dengan suara yang mendadak begitu datar, menguras ketenangan yang coba Kiana bangun sejak pagi.Kiana tersenyum hambar, masih dengan air matanya yang mengalir membasahi pipinya. "Bramantya Yudha. Nama yang bagus. Sangat maskulin untuk seorang pria yang punya dua kehidupan berbeda, bukan?""Aku di depan kantor kamu," potong Bram cepat, nadanya mutlak tanpa bantahan. "Turun sekarang. Kita bicara di mobil. Nggak lucu kalau kita bahas ini di telepon.""Aku sibuk, Arya ah atau Bram?" Kiana sengaja menekankan nama asli pria itu, merasakan sensasi perih yang
Last Updated: 2026-07-08