Share

BAB 7

“APA KAMU BILANG?! Dasar wanita kampung tidak tau diri! Belajarlah menata rumahmu supaya kamu bisa menata hidupmu yang tidak jelas itu.”

Tangan Naomi terkepal hingga buku-buku tangannya memutih, menahan luapan amarah yang ingin ia tumpahkan pada mertuanya yang suka ikut campur itu. Ingin sekali Naomi mengungkap kelakuan bejat putranya yang selalu dibangga-banggakannya itu. Tapi untuk apa? Mertuanya pasti akan tutup mata akan hal itu dan malah balas menyerang Naomi.

“Sudahlah tidak ada gunanya berbicara denganmu, jadilah istri yang baik kalau kamu masih ingin menjadi menantuku.” Kamila mendengus, menatap sinis ke arah Naomi lalu beranjak pergi sambil menutup pintu masuk kuat-kuat.

Naomi sontak tersentak. Hatinya yang sudah hancur berkeping-keping karena Pandu kini semakin remuk tak bersisa karena mertuanya.

Sejak pertama kali bertemu dengan Naomi, Kamila memang sudah tidak menyukainya. Sebab Naomi bukanlah anak dari keluarga kaya melainkan dari keluarga sederhana di desa. Kamila tidak menyetujui hubungan Pandu dengan Naomi. Karena itu Kamila selalu bersikap buruk kepada Naomi di belakang Pandu.

Bulir demi bulir air mata mengalir deras, menyuarakan kepedihan di hati Naomi. Sudah cukup sabar Naomi selama ini menahan semua luka yang ditorehkan Kamila padanya demi menghargai Pandu. Tapi ternyata Pandu juga malah menyakitinya.

Naomi bertanya-tanya apa kekurangannya atau apa kesalahannya hingga Pandu harus berselingkuh darinya? Naomi tidak mengerti.

“Kakak pucet banget, apa kakak sakit?” tanya Hana yang merupakan karyawan kepercayaan Naomi.

Naomi hanya membereskan rumahnya dan langsung pergi ke butik. Ia tidak tahan berdiam diri di rumah lama-lama meskipun tubuhnya sangat lemas.

“Kamu ga perlu khawatir. Oh ya pesanan Pak Anton sudah dikirim?” tanya Naomi mengalihkan pembicaraan.

“Sudah kak. Oh ya tadi ada yang mengantarkan ini untuk kakak.” Hana memberikan dua buah kantung kepada Naomi.

Harum! Itu yang terbersit di benak Naomi begitu Hana memberikan kantung itu padanya. Ternyata saat dilihat salah kantung itu berisi donat dan pastry yang terlihat sangat lezat hingga membuat perut Naomi keroncongan seketika. Kantung yang lain berisi beberapa vitamin dan obat lambung.

“Dari siapa ini?”

“Aku belum pernah melihatnya kak tapi dia seumuran kak Pandu...” tiba-tiba Hana menghentikan ucapannya, ia malah tersipu malu dan tersenyum-senyum. “Dia tampan dan wangi kak.”

Kening Naomi berkerut. Naomi tidak memiliki banyak teman pria apalagi setelah lulus kuliah dia hampir tidak pernah berhubungan dengan teman-teman prianya. Pria mana yang sangat perhatian memberinya camilan serta obat-obatan itu?

Di tengah-tengah waktu berpikirnya tiba-tiba gawai Naomi berbunyi singkat tanda pesan baru saja masuk.

“Makanlah dan minum vitaminnya dengan teratur. Tidak perlu khawatir obat itu aku beli dengan resep dari dokter semalam.”

Pesan itu dari Dimas. Lagi-lagi pria itu. Selera makan Naomi mendadak menguap. Bukan Naomi tidak menghargai kebaikan pria itu, tapi Naomi merasa yakin kalau semua ini Dimas lakukan demi membujuknya agar mau bekerja sama untuk membalas dendam pada Pandu dan Maya.

“Bawa saja untuk camilan kamu dan yang lainnya.” Naomi kembali memberikan salah satu kantung berisi donat dan pastry.

“Tentu saja kakak tidak akan memakannya kalau bukan dari kak Pandu. Kalau gitu makasih ya kak.”

Setelah itu Hana keluar dari ruangan Naomi dengan perasaan riang karena mendapat camilan gratis. Sangat berbanding terbalik dengan Naomi yang terlihat kesal. Naomi kembali merogoh gawainya dan langsung menghubungi Dimas.

Mau bagaimana pun Naomi harus menghentikan Dimas karena yang ia lakukan tidaklah benar.

“Berhentilah menggodaku, aku tidak akan berubah pikiran dan berselingkuh denganmu!” cecar Naomi begitu panggilannya terhubung dengan Dimas.

Suara kekehan dari pria itu terdengar dari ujung sana. “Sepertinya kamu lupa apa yang aku katakan sebelum kita berpisah pagi ini.”

“Untuk apa juga—.”

“Tapi berhubung kamu terus mengaitkan semua hal dengan rencana gilaku itu aku jadi ingin mewujudkannya—.”

“Dimas kamu hanya emosi—.”

“Kita lihat seberapa kuat dirimu untuk tidak bekerja sama denganku. Aku akan membuatmu melakukannya dengan suka rela, lihat saja nanti.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status