LOGINClaire, seorang mahasiswi seni rupa, melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Awalnya, ia hanya ingin merasakan satu malam kebebasan setelah dipaksa menikah dengan pria tua demi melunasi hutang adiknya — semua karena desakan orang tuanya. Pria yang tidur dengannya di malam itu ternyata Devon Atmawidjaya, seorang pematung yang jadi dosen tamu selama dua semester di fakultas seni rupa tempat Claire berkuliah. Mati-matian, Claire menampik pesona Devon, tetapi semuanya sia-sia. Dia jatuh juga ke pelukan dosennya sendiri, padahal Claire sudah bertunangan dengan pria pilihan orangtuanya! Mereka lantas terperosok ke dalam hubungan rahasia yang berbahaya. Ketika Claire sudah mempercayai Devon sepenuh hati, sebuah rahasia di masa lalu pria itu terkuak. Rahasia yang mampu menghancurkan hubungan mereka. “Seumur hidup, aku belum pernah tidur dengan sembarang wanita." Pria itu mengedipkan satu matanya. “Dan ini,” pria itu lalu mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya, menaruhnya di atas selimut yang membungkus tubuh Claire. “Hanya segitu uang cash yang kupunya. Kalau ternyata kurang, tulis saja nomor rekeningmu, nanti aku transfer. Thanks for last night. Servismu memuaskan,” Kedua bola mata Claire langsung melebar. “Hei! Aku bukan pelacur!”
View More“Dasar anak nggak tahu diuntung!”
Plak!
Tamparan keras itu mendarat di pipi Claire. Dada perempuan itu sesak, bukan hanya dipenuhi amarah, tapi juga kekecewaan yang mendalam.
Dengan pipi yang basah, Claire menengadah, menatap Ahmad, ayahnya yang berwajah masam.
“Selama ini apa salahku?! Aku nggak pernah berbuat onar seperti Brian yang nggak berguna itu!” Claire terisak sambil memegangi pipinya yang panas.
“Berani-beraninya kamu berkata seperti itu pada kakakmu!” Suara Ahmad kembali meninggi.
“Sudah!” Mirian, ibunya Claire, langsung menahan laju tangan suaminya yang hendak menampar Claire lagi. Lantas, wanita setengah baya itu menatap putri satu-satunya. “Claire… tolonglah… kamu harus bisa memahami situasinya, Nak. Hanya kamu yang bisa menolong keluarga kita…”
“Memahami situasi bagaimana maksud Ibu? Tiba-tiba aku harus menikah dengan pria tua bangka demi melunasi utang pinjol Brian, begitu? Kenapa lagi-lagi aku yang harus berkorban, Bu? Kenapa?!”
“Dia bukan pria tua bangka, Claire! Jaga mulutmu!” Kedua mata Ahmad melotot. “Dia adalah pria penyelamat keluarga kita! Seharusnya kamu bersyukur, ada pria kaya yang mau menikahimu. Lagi pula kita sudah membicarakan soal pertunangan sejak bulan lalu.”
“Tapi aku nggak pernah menyetujuinya, Yah! Kenapa Ayah dan Ibu seenaknya menerima pertunangan ini, tanpa persetujuanku?!”
“Pokoknya, pertunangan kalian akan dilangsungkan bulan depan.”
Claire berdecak, melempar tatapan muak pada ayahnya. Dia sudah tak peduli lagi kalau dirinya dicap sebagai anak durhaka.
“Kalian nggak berhak mengatur hidupku!” Pekik Claire. Air matanya kembali jatuh.
“Claire, tunggu!” Mirian berusaha mengejar putrinya, tapi Ahmad sontak menahan.
Brak! Claire membanting pintu rumah keras-keras.
“Sudahlah. Biarkan saja dia pergi,” ucap Ahmad. “Aku yakin dia tak akan kabur. Anak itu tak mungkin tahan hidup di jalanan.”
***
Claire menenggak satu sloki wiski ke dalam mulutnya.
“Menikah? Dengan pria tua bangka itu?” Gumamnya kesal. Sedari dulu, dia selalu jadi kambing hitam kesalahan yang dilakukan Brian, kakaknya, yang delapan tahun lebih tua darinya.
Seharusnya, Claire bisa melanjutkan kuliah di luar negeri, tapi karena Brian terjerat kasus narkoba dan harus berurusan dengan hukum, maka Claire harus merelakan tabungan pendidikannya untuk membayar pengacara Brian.
Seharusnya, Claire tenang di kosannya dengan uang saku yang lebih dari cukup. Tapi karena Brian–lagi-lagi–dipecat dari pekerjaannya, maka uang saku Claire dipotong setengahnya dan dia harus pulang ke rumah karena uang ayahnya harus dialokasikan demi menghidupi Brian beserta istri dan anaknya.
Dan sekarang, Claire harus jadi tumbal perjodohan paksa demi melunasi utang pinjol Brian.
“Enak saja. Dasar Brian brengsek!” Jeritannya teredam suara musik yang keras.
Claire lantas menenggak wiski itu langsung dari botolnya. Lalu dengan percaya diri, dia turun ke lantai dansa, meliukkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang menghentak.
Dia tak peduli lagi dengan hidupnya, apalagi dengan keluarganya yang brengsek itu. Malam ini dia hanya ingin bersenang-senang!
Beberapa lelaki mulai mendekatinya, membisikkan kata-kata mesum, merayunya untuk menari bersama dan melakukan lebih. Tapi Claire menolak. Sampai akhirnya matanya tertumbuk pada sosok yang duduk di meja yang tak jauh dari lantai dansa.
“Sendirian?” Goda Claire tanpa basa basi di pinggir meja pria itu.
Pria itu melirik acuh setelah menenggak minumannya. “Ya.”
“Harimu berat ya?” Claire memperhatikan dua botol miras yang kosong di atas meja.
“Begitulah,” dia mengedikkan bahu.
“Mau kutemani? Hariku juga berat. Rasanya aku pengen menghilang tau,” Claire cekikikan sambil duduk di samping pria itu.
Pria itu menelengkan wajahnya, menatap Claire yang mabuk. Suasana kelab yang remang membuat Claire tak bisa menangkap maksud tatapan itu. Apakah pria itu menginginkannya atau tidak. Tapi satu yang pasti, Claire menginginkan pria tampan ini.
Tiba-tiba saja Claire merengkuh dagu kasar pria itu dan melumat bibirnya. Claire merasakan sedikit rasa pahit di mulutnya, anehnya rasa itu malah membuat dirinya semakin terangsang.
“Wow, wow—” ucap pria itu dengan napas terengah saat Claire menghentikan ciumannya karena kehabisan napas. “Kamu gila?”
“Gila?” Claire berdecak. “Aku nggak gila, Tampan. Aku hanya… sedikit mabuk.” Claire bersendawa kecil. Napasnya yang bau alkohol berembus ke pipi pria di hadapannya.
“Kamu mabuk dan kamu gila,” pria itu menyimpulkan. “Pergilah jauh-jauh jika tak mau bermasalah.”
Claire tertawa renyah. “Aku nggak peduli, sih. Mau aku mabuk atau gila, yang pasti… Tidur denganku yuk?…” jemari lentik Claire kembali meraih dagu pria itu.
Bola mata Claire bergerak menelusuri rahang milik lelaki itu, menatap sorot mata menggodanya, juga bibirnya yang seksi.
Seketika tubuh Claire terasa panas. Dadanya berdebar kencang. Entah karena alkohol yang sudah menguasai tubuhnya, atau memang karena nafsu membara.
“Asal kamu tahu…” jemari Claire kini mendarat di bibir tebal pria itu. “Miliki aku semuanya…” Claire berujar dengan nada rendah–bahkan terdengar sedikit memohon–sambil mengerlingkan matanya.
Jakun pria itu bergerak pelan. Ditatapnya lekat-lekat perempuan asing di depannya ini. Sepasang mata bulat perempuan itu nampak sayu. Pipinya merona merah.
“Yakin?” Tanyanya dengan menantang. “Saat kamu sudah berada dalam dekapanku, maka aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja.”
Claire mengangguk sambil menjilat bibir merahnya. “Miliki aku sepenuhnya,” Belum sempat Claire menyelesaikan kalimatnya, pria itu keburu menarik tubuhnya mendekat. “Sampai tak ada yang tersisa untuk tua bangka itu.”
Bibir mereka kembali bersentuhan. Kali ini pria itu yang bergerak begitu liar, mendesak tubuh Claire ke permukaan sofa.
Ciuman mereka pun bergulir semakin panas. Sampai akhirnya, pria itu menyudahi ciumannya dan menarik lengan Claire.
Di pagi yang cerah, Claire melangkah masuk ke galeri nasional. Ada semacam perasaan bahagia yang membuncah di hatinya saat akhirnya di mengunjungi galeri ini lagi setelah sekian lama.Bangunan megah itu menyambutnya dengan aroma ruang pameran yang khas. Perlahan, Claire menyusuri lorong utama.Dinding besar itu memamerkan deretan lukisan dari berbagai aliran. Ada lukisan ekspresionis yang liar dan berani, lukisan realis yang menenangkan mata dan lain sebagainya.“Ruang pameran patung…” gumam Claire, membaca petunjuk yang mengarah ke pameran berikutnya. Entah kenapa saat memasuki ruangan ini, dada Claire sedikit berdebar. Inilah dunianya, dunia yang dulu pernah dia tinggalkan sejenak.Cahaya di ruangan itu sedikit melembut dengan beberapa sorot lampu yang lebih terang mengarah ke permukaan patung yang terbuat dari marmer, perunggu, kayu bahkan tanah liat.Claire menelusuri karya-karya itu satu per satu sampai akhirnya jam di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul sebelas siang.
Claire mengerjapkan matanya berkali-kali. Mulutnya sedikit menganga karena saking kagetnya.Sosok yang berdiri tak jauh dari hadapannya itu pun sama terkejutnya. Namun, sorot mata orang itu nampak begitu sendu.“Claire…” Dia langsung menghambur, memeluk erat tubuh Claire. Sedetik kemudian, tangis terdengar.“Ma-Marsha… Astaga…” Claire membalas pelukan itu. “Jangan nangis, Marsha…” Claire coba menenangkan histeria sahabatnya yang semakin menjadi. “Claire, maafin gue ya… maafin gue…” tukasnya sambil terus tersedu.Kening Claire mengernyit dalam. “Maaf? Untuk apa? Seharusnya gue yang minta maaf karena menghilang begitu saja. Gue tahu pasti lo cemas sama keadaan gue kan?”“Gue yang salah, Claire… Gue…” ucapan Marsha mulai tersendat.Claire melepas pelukannya, menatap wajah Marsha yang terlihat kacau. “Marsha, tenang. Gue baik-baik aja. Dan gue akan mulai kuliah lagi, menyusul angkatan kita yang udah lulus duluan!”Senyum bangga tersemat di wajah Claire.Namun Marsha malah menggigit bibir
Claire menatap selembar kertas di hadapannya. Tangannya sedikit gemetar saat memegangnya. Tak bisa dipungkiri, jantungnya kini berdebar begitu cepat.Bola mata Claire bergerak, meneliti satu per satu tulisan yang ada di kertas itu. Sampai akhirnya dia sampai ke bagian kesimpulan. Sembilan puluh delapan persen.Hasil tes DNA itu jelas menyatakan bahwa Claire benar-benar anak kandung Maya. Dia adalah anak bayi malang itu, yang dititipkan Maya dua puluh dua tahun lalu di Panti Asuhan Ceria Kasih.“Aku sudah menduganya…” Suara Maya terdengar sedikit tercekat. “Sejak aku melihat tanda lahirmu, aku yakin… kamu adalah anak kandungku.”Claire masih mematung. Pikirannya begitu kacau sekarang. Cahaya matahari sore yang masuk dari jendela klinik menyinari wajah Claire yang dingin. Dan Maya menyadari hal itu.Ketakutan akan Claire yang membenci dirinya semakin nyata.Perlahan, Maya bergerak mendekat, hendak meremas tangan anaknya. Namun saat kulit mereka bersentuhan, Claire segera menepis tangan
Malam menjelang begitu akhirnya Claire kembali duduk berhadapan dengan Maya di teras belakang. Di atas sana, bulan penuh nampak bersinar terang. Malam yang sebenarnya damai kalau saja sore tadi Maya tak mengucapkan hal yang membuat Claire gundah.“Kamu adalah anakku.” Perkataan itu terus menggantung di kepala Claire saat dia sedang mengurus Dante. Anak yang dulu wanita itu tinggalkan di panti asuhan yang sama dengannya.“Maafkan aku,” Maya memulai percakapan dengan tatapan yang menerawang ke halaman belakang rumahnya yang temaram. “Aku paham kamu pasti kaget dengan semua ini… Tapi, memang seperti itu kenyataannya, Claire.” Maya menengadah, memberanikan diri menatap Claire. “Ka-Kamu… adalah anakku…”“Mbak, jangan bercanda. Mana mungkin aku ini anak Mbak Maya?” Suara Claire terdengar menukik lebih tinggi dari biasanya. “Apa hanya gara-gara kami ditinggalkan di panti asuhan yang sama dua puluh dua tahun lalu??”“Tanda lahir itu…” tandas Maya pada akhirnya. “Tanda lahir di belakang pundak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.